NovelToon NovelToon
Secangkir Kopi Tanpa Gula

Secangkir Kopi Tanpa Gula

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Atik's

Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Bima tersenyum sambil menggenggam tangan istrinya.

“Bukankah ini bidangmu, Sayang? Kamu tahu betul cara menaklukkan hati seorang laki-laki. Lihat saja, dulu aku pun akhirnya luluh dan jatuh cinta padamu. Kita pun dulu dijodohkan, bukan saling mengenal lebih dulu. Sekarang ajari Laras, bagaimana cara menaklukkan hati suaminya agar tidak bisa berpaling darinya,” ujar Bima sambil mengingat kisah pernikahan mereka sendiri.

“Tapi apakah berhasil? Kamu tahu betul sifat keras kepala anak kita itu. Kadang bikin pusing saja menghadapinya,” keluh Sari.

“Aku percaya padamu. Mulai hari ini dampingi dan bimbing Laras, agar dia bisa menjadi istri yang sesuai dengan kriteria Raka. Kamu tahu persis tipe wanita yang disukai putra kita,” kata Bima sambil menepuk tangan istrinya memberi semangat.

Sari mengangguk setuju. Ia yakin Laras adalah pasangan yang tepat untuk Raka, hanya perlu sedikit bimbingan agar bisa menyesuaikan diri.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa dari tangga. Keduanya menoleh dan melihat Laras turun dengan terburu-buru.

“Hati-hati, Nak. Jangan lari, nanti jatuh,” tegur Sari lembut.

Bima hanya tersenyum melihat tingkah menantunya yang lucu. Penampilannya masih berantakan, jelas baru saja bangun dan belum sempat merapikan diri. Seketika teringat pada putri kecil yang tak sempat mereka besarkan, yang seumuran dengan Laras jika masih hidup. Namun ia segera menepis rasa sedih itu, cukup ikhlas karena anak itu sudah tenang di tempat yang lebih baik.

“Kenapa buru-buru sekali, Nak? Ini minum dulu,” kata Sari sambil menyodorkan segelas air putih.

Laras langsung menerimanya dan meminumnya dengan lahap, tenggorokannya memang terasa kering setelah bangun tidur.

“Kak Raka sudah berangkat, Ma?” tanyanya dengan napas yang belum tenang.

“Sudah. Sudah berangkat ke kantor tadi,” jawab Bima.

Wajah Laras seketika terlihat murung. Di hari pertama setelah bulan madu, ia malah terlambat bangun. Padahal semalam sudah berniat bangun lebih awal untuk menyiapkan segala kebutuhan suaminya. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan gadis manja seperti yang selalu dituduhkan Raka.

Melihat perubahan raut wajah menantunya, Bima memberi isyarat agar Sari menenangkan.

“Jangan sedih. Kami tahu kamu pasti sangat lelah setelah perjalanan jauh kemarin. Tidak apa-apa, besok bisa bangun lebih pagi dan menyiapkan kebutuhan suamimu,” ujar Sari sambil mengusap punggung Laras yang terlihat lesu.

Setelah Bima berangkat ke kantor, tinggalah Sari dan Laras di rumah. Keduanya duduk santai di taman belakang sambil menikmati teh yang baru diantar pembantu. Di sekeliling mereka bermekaran bunga-bunga indah yang selalu dipelihara Sari dengan telaten.

“Raka pernah bersikap tidak enak atau bikin hatimu sakit, Nak?” tanya Sari lembut, ingin tahu bagaimana keadaan hubungan keduanya.

Mendengar pertanyaan itu, wajah Laras seketika memerah malu. Ia tak menyangka ketidakharmonisan dalam rumah tangganya bisa terlihat begitu jelas sampai orang lain pun bisa menebaknya.

“Jangan malu, kami paham benar kalau hati Raka belum terbuka sepenuhnya. Maafkan Mama dan Papa yang melibatkanmu dalam pernikahan ini tanpa persiapan yang cukup. Tapi Mama janji, aku akan bantu agar kamu bisa mendapatkan hatinya,” ujar Sari menenangkan.

Kata-kata itu terasa seperti angin segar bagi Laras. Mendapat dukungan dari mertua membuat beban di dadanya terasa jauh lebih ringan.

“Terima kasih, Ma. Aku memang butuh sekali arahan dan bantuan Mama saat ini,” jawabnya sambil tersenyum tulus.

“Baiklah, katakan saja apa yang paling kamu butuhkan sekarang?” tanya Sari dengan antusias.

Melihat keraguan di wajah menantunya, Sari pun tahu apa yang harus dilakukan. Ia akan ajari Laras mengurus segala kebutuhan rumah tangga, mengingat selama ini Raka selalu menganggapnya gadis manja yang tak bisa berbuat apa-apa.

“Ayo ikut Mama,” ajak Sari sambil menarik tangan Laras.

“Kita mau kemana, Ma?” tanya Laras dengan wajah bingung.

“Kalau ingin membuat suami luluh dan menghargaimu, harus tahu caranya. Sekarang Mama ajari langkah pertama yang paling penting,” jawab Sari dengan semangat.

Sesampainya di dapur, Sari segera menata peralatan dan bahan masakan. Sebaliknya, Laras hanya berdiri diam, tampak bingung dan tak tahu harus mulai dari mana.

“Kita akan masak makanan kesukaan Raka untuk makan siang nanti,” ujar Sari.

Laras menunduk malu, “Maaf, Ma… aku belum pernah sama sekali memegang peralatan masak. Belum tahu caranya.”

“Tidak apa-apa, Nak. Semua orang bisa belajar. Mulai hari ini, Mama ajari satu per satu. Ayo, jangan ragu,” semangat Sari.

Dengan langkah yang masih agak ragu, Laras mendekat dan melihat baik-baik setiap gerakan yang dicontohkan mertuanya.

“Coba sekarang lakukan seperti yang Mama tunjukkan tadi,” suruh Sari sambil menyerahkan bahan yang sudah disiapkan.

“Baik, Ma,” jawab Laras, lalu mulai mencoba membersihkan dan mengolah bahan sesuai arahan.

“Kita buat hidangan yang paling disukai Raka. Ingat, hati laki-laki tidak hanya tertarik pada wajah cantik saja. Banyak yang justru luluh ketika istrinya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk menyajikan makanan yang enak dan penuh perhatian,” nasihat Sari sambil terus mengawasi.

“Suamimu memang tipe laki-laki seperti itu. Sejak kecil dia sudah melihat Papa selalu dilayani Mama, jadi mungkin saja dia menginginkan istri yang bisa mengurus semua kebutuhannya. Ayo, kita buktikan kalau kamu bisa membuatnya bucin lewat masakan,” ujar Sari sambil memberi semangat.

Keduanya terus sibuk menyiapkan makan siang. Nanti Sari akan mengantar ke kantor Bima, dan Laras pun berniat mengantar untuk Raka. Bagi Sari hal ini sudah biasa dilakukan sejak lama. Selama Bima tidak ada jadwal makan bersama rekan kerja, dia selalu meminta makanan dibawa dari rumah.

Sambil mengaduk sayur dan mengatur bumbu, Laras menyimak setiap cerita yang disampaikan mertuanya. Dia tak ingin melewatkan satu pun kebiasaan atau kesukaan Raka. Sejak tadi obrolan mereka hanya berputar soal Raka.

Semakin banyak yang dia dengar, semakin jelas gambaran tentang suaminya. Dengan bantuan dan arahan Sari, keyakinan Laras tumbuh besar. Dia yakin perlahan bisa meruntuhkan tembok dingin yang dibangun Raka.

1
helena
lanjuttt thor😍
Atik's: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!