Namaku Saliya, aku disukai seorang pria bernama Rizal, yang menurutku terlalu sempurna, aku sempat menolak saat ia mengajakku menjalin hubungan serius sampai ke jenjang pernikahan. Aku justru memilih mantan pacarku, tapi Rizal tidak menyerah hingga akhirnya kami menikah.
namun, kebahagiaan rumah tanggaku ternyata menyedihkan.
Ayo baca kisah ku di sini, ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Liar
Bunga Liar
“Coba tebak, aku bawa apa?” katanya, aku penasaran. Aku lihat tangannya menyembunyikan sesuatu di belakang punggung.
“Bawa apa?” aku balik bertanya sambil duduk untuk melihat ke belakang punggung Rizal.
Tangannya bergerak cepat ke depan, menunjukkan sebuah rangkaian bunga sederhana, sebelum aku sempat menengok ke belakangnya.
“Aku lihat banyak bunga bagus tadi di pinggir jalan!” katanya, sambil menyodorkan beberapa bunga dengan aneka warna itu ke hadapanku. Aku sendiri tidak tahu, bunga apa itu.
“Ini cuma bunga liar, maaf, ya?” katanya lagi sambil menggenggam tanganku erat.
“Iya!” hanya kata itu yang keluar dari bibirku karena aku tidak tahu harus menjawab apa. Ini juga sangat indah dan manis bagiku.
Aku memang ingin dicintai dengan cara yang sederhana, karena hal sederhana itulah yang justru membuatku bahagia. Kalau hal-hal yang terlalu mewah maka kebahagiaanku akan diliputi rasa bersalah. Dia menerimaku apa adanya saja itu sudah cukup.
Air mataku tiba-tiba meleleh, membuat Rizal berdiri tegak dan heran, ia pun bertanya.
“Kenapa kamu nangis? Kamu nggak suka ya, sama bunga luar itu? Nanti kalau aku ke kota, aku beliin deh, kapan-kapan!”
“Riz, jangan salah paham!” aku bicara sambil mengusap air mata dari pipiku, “Aku bukannya nggak suka, tapi aku justru seneng banget!”
“Oh ya?” katanya, lalu ia pergi ke luar kamar lagi dan kembali dengan membawa bungkusan kresek putih, kalau dilihat dari bentuknya aku pikir isinya buah-buahan.
“Nah! Kalau ini, kamu pasti suka!” katanya sambil membuka bungkusan itu di atas karpet kecil yang terhampar di sisi tempat tidur.
Benar saja, tebakanku benar. Aku tersenyum lebar karena senang ada tiga buah mangga muda yang cukup besar dalam kantong keresek yang dibawanya.
Rizal mengambil pisau dan mengupasnya, lalu membelah buah itu dengan potongan kecil. Ia mengambil garam halus, yang baru saja ia beli di warung sisi jalan. Ia terpikirkan untuk membeli garam setelah mendapatkan mangga itu dari rumah kepala desa. Rizal yang menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan semuanya.
Walaupun, masa mengidamku sudah lewat, tapi kalau disuguhi buah-buahan seperti itu, tentu saja aku tidak bisa menolak. Apalagi ini hadiah dari suami sendiri. Pria yang semakin lama semakin aku cintai. Aku memakannya dengan semangat, hilang sudah rasa penat dan marah karena ada wanita yang mengganggunya.
“Jadi, gimana Naria, Bang? Sudah punya rumah kos sekarang?”
“Sudah!” jawab suamiku singkat, ia sedikit tidak semangat saat aku membahas Naria, soalnya, kan, aku penasaran. Aku pun diam dan tidak ingin mengganggu semangatnya.
“Besok berangkat jam berapa?”
“Biasanya Raga jemput jam delapan.”
“Siapa Raga?”
“ Besook aku kenalin, dia temen kantor di sini, lucu banget orangnya!” kata Rizal, seperti mempromosikan orang yang bernama Raga padaku.
Aku tidak tertarik, siapa pun pria di luar sana, walau mereka lebih tampan dan kaya, bagiku Rizal tetap yang terbaik.
Keesokan harinya, aku tahu dari orang yang bernama Raga, bahwa Naria sekarang tinggal di kontrakan dekat rumah kepala desa. Rizal sudah mengenalkan temannya itu padaku saat datang. Dialah yang menjadi ajudan untuk mengantar jemput suamiku pulang pergi.
Aku mengusir rasa tidak enak dengan menyibukkan diri dengan melihat-lihat media sosial. Rasa yang disebabkan adanya Naria yang akan bekerja dalam satu kegiatan bersama suamiku.
Rizal sering mengingatkan tentang sikap tenang, ramah, menjaga diri yang ada pada manusia, bersumber dari keimanan. Jadi, aku mencoba tenang dengan menyandarkan diri pada Allah. Aku juga tahu bahwa, kepercayaanku pada suami pun bersandar pula pada-Nya. Sebab apa pun yang terjadii atas kuasa-Nya. Mustahil bahwa Allah yang maha melihat tidak tahu akan apa yang dilakukan suamiku.
Aku berada di desa itu selama satu pekan penuh dan kami pulang setelah pakaian kotor kami menumpuk. Selama di sana, aku tidak pernah bekerja seperti mencuci atau memasak sebab Rizal selalu membawa pulang makanan atau makan bersama di restoran sederhana yang ada di desa. Pekerjaan tetapku hanya menyapu dan melayaninya saja.
Tak terasa waktu berjalan selama satu pekan dan aku pun kembali pulang ke rumah. Seperti biasa Rizal hanya 2 hari saja bersama kami setelah itu ia akan kembali bagaimana ia bertugas.
Selang satu bulan setelah itu ia pun berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik dan kembali kerja seperti biasa di kantor pemerintah kabupaten kota di mana kami berada.
Hampir tujuh bulan lamanya dari sejak aku bertemu Naria di desa, dan aku tinggal di tempat kerja bersama Rizal.
Tidak ada yang terjadi padaku dan wanita itu karena kami memang tidak pernah bertemu, kecuali hari itu, di mana dia kebingungan mencari tempat kos. Aku percaya seluruhnya kepada suamiku bahwa, memang tidak ada hubungan apa-apa antara Rizal dan Naria.
Namun pada saat aku baru saja kembali dari pasar bersama ibu, hari ini, wanita itu terlihat berdiri di hadapan kami dengan wajah yang sedikit kelelahan. Banyak keringat berlelehan di wajahnya yang cantik itu. Bahkan, kulihat riasannya sedikit luntur. Entah kenapa bagiku ini seperti kebetulan. Dia sama seperti aku, sama-sama menjinjing kantung belanjaan. Namanya saja baru keluar dari pasar wajar, kalau orang bertemu sama-sama membawa keresek, setelah berbelanja.
“Naria?” tanya aku sedikit tak percaya.
Anehnya wanita itu tidak menjawabku, tatapannya sedikit kosong hingga kemudian kulihat dia memejamkan mata. Bersamaan dengan itu, beberapa barang belanjaan di tangannya terlepas begitu saja. Sekejap kemudian wanita itu limbung.
“Naria!” seruku sedikit terkejut, dengan gerakan tubuh lemasnya yang tiba-tiba.
Melihat hal itu, refleks aku pun melepaskan satu kantong belanjaan yang ada di tanganku, dan bergerak untuk menopang tubuh Naria yang jatuh tepat di badanku. Kakiku sedikit bergetar saat menerima bibit tubuh Naria. Namun, hanya sesaat aku mampu, setelah itu aku juga tidak kuat, mengingat aku juga tengah berbadan dua. Tentu aku tak sanggup menopang tubuhnya terlalu lama. Secara perlahan aku menekuk lututku ke tanah, dengan berpegangan pada ibu. Lalu, aku dan dia terjatuh secara bersamaan.
Sepertinya Naria pingsan. Untunglah aku sempat menahannya walau sedikit, hingga ia tidak terjerembab ke tanah terlalu keras.
Ibuku bergerak cepat untuk melepaskan tubuh Naria dari atas badanku, begitu juga dengan beberapa orang yang tengah lewat di sekitarku. Tentu saja mereka sama seperti aku, tidak menyangka kalau Naria akan pingsan.
Beberapa laki-laki mengangkat tubuh Naria ke pos penjaga pasar yang kebetulan tidak jauh dari tempat kami terjatuh tadi. Sementara aku di bantu ibuku dan seorang wanita penjual sayur, untuk berdiri kembali.
“Kamu nggak apa-apa, Mbak?” tanya wanita itu dan aku tersenyum, mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Aku berjalan cepat ke arah pos, di mana Naria di baringkan di tikar lusuh yang ada di pos petugas pasar itu. Aku sudah mengamankan tas dan kantong belanjaan Naria yang ternyata cukup banyak.
Beberapa orang yang ada di sana saling bertukar pendapat tentang, saat mereka melihat kejadian yang terjadi secara tak terduga itu. Aku memilih untuk istirahat dan duduk di salah satu kursi kayu panjang yang ada di depan pos. Aku akan menunggu sampai dia siuman. Ibuku sibuk mengoleskan minyak kayu putih di leher, kening dan hidung Naria. Wanita itu berbuat membantu, aku pun tidak tahu harus berbuat apa padanya.
“Ibu kenal sama perempuan itu?” tanya petugas pasar. Aku mengangguk pelan, tiba-tiba saja aku pun merasa lemas sesudah jatuh tertimpa tubuh Naria tadi.
“Mereka teman, Pak!” sahut ibuku yang duduk di sisi Naria. Rupanya ibu masih ingat tentang temanku semasa kuliah itu, aku jadi terharu. Diam-diam aku mendoakannya agar berumur panjang. Ingin rasanya membahagiakan wanita yang selalu ada setiap kali aku butuhkan. Ya Allah, aku belum bisa mm bahagiakannya, berikan aku kesempatan itu. Pintaku pada Sanga Maha atas segalanya.
“Gimana, Sal? Apa kita bawa dia ke rumah sakit saja?” tanya ibuku. Aku termenung, sambil melihat beberapa orang di sekitarku, sepertinya meminta jawaban yang sama dengan pertanyaannya.
Di saat yang sama suara telepon berbunyi dari dalam tas Naria. Aku membukanya setelah melihat pada ibu, karena tindakan kurang ajar ini harus mendapatkan saksi.
“Sebentar, Bu! Ini telepon dari hp Naria!” kataku.
Setelah aku punya keberanian untuk melanjutkan aksiku membuka tas orang, aku menerima panggilannya yang merupakan panggilan video.
Deg!
Apa itu suaminya, kenapa wajahnya sangat mirip dengan—ahk! Aku tak percaya kalau dia suami Naria!
❤️❤️❤️❤️