"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Kursus Kilat
Serangan Pak Santoso memang sementara tertahan.
Rangga tahu mereka baru berhasil bertahan. Kemenangan masih jauh.
Kalau RSUD Harapan Bangsa ingin benar-benar naik kelas, tidak cukup hanya memiliki satu dokter yang bisa menyelesaikan hampir semua krisis. Rumah sakit bukan pertunjukan tunggal. Saat ia berada di RS Persatuan Nusantara setiap Sabtu, UGD tetap harus hidup. Ruang operasi tetap harus berjalan. Pasien tetap harus diselamatkan.
Jadi Senin pagi, Rangga melakukan sesuatu yang membuat seluruh dokter muda di UGD tegang.
Ia membuka kelas sederhana di ruang rapat kecil dengan papan tulis, beberapa marker, tumpukan rekam medis lama yang sudah dianonimkan, dan satu kalimat di layar proyektor:
Kegawatdaruratan Tidak Menunggu Dokter Jenius.
Pak Bambang berdiri di belakang ruangan, tangan terlipat, wajahnya seperti pengawas ujian.
dr. Yoga duduk paling depan.
dr. Alya duduk di sisi kiri dengan catatan rapi.
Dedi duduk di belakang sambil membawa kopi, tetapi matanya tidak bercanda seperti biasa.
Rangga berdiri di depan papan tulis.
"Saya tidak akan mengajari kalian trik ajaib," katanya. "Tidak ada jalan pintas. Yang bisa saya bagi adalah cara melihat, cara memutuskan prioritas, dan cara tidak membuang detik saat pasien kehilangan darah."
Ia menggambar tiga lingkaran besar.
Airway.
Breathing.
Circulation.
"Kalau kalian panik, kembali ke tiga ini. Kalau kasusnya terlihat rumit, pecah jadi tiga ini. Kalau senior berdebat, monitor berbunyi, keluarga menangis, dan kalian merasa otak kosong, kembali ke tiga ini."
Satu jam pertama, ia membahas triase.
Satu jam berikutnya, cara membaca tanda kecil sebelum pasien jatuh.
Siang hari, ia membuka rekaman kasus lama: infark miokard Pak Karto, ledakan Jalan Cahaya Bangsa, pasien kanker dengan perforasi, dan trauma mobil putih dari RS Mentari Global. Semua data pasien disamarkan, tetapi pola klinisnya dipertahankan.
dr. Yoga mengangkat tangan berkali-kali.
"Kalau perdarahan eksternal sudah berhenti tapi tekanan tetap turun, kapan kita curiga perdarahan internal, Bang?"
"Saat nadi tetap cepat, kulit dingin, laktat naik, dan respons cairan hanya sementara."
"Kalau harus pilih antara CT dan langsung operasi?"
"Tergantung hemodinamik. Pasien tidak stabil tidak boleh dikorbankan demi gambar yang indah."
Pertanyaan Yoga makin tajam.
Awalnya ia hanya mengikuti.
Lama-lama, ia mulai menebak langkah berikutnya sebelum Rangga menjelaskan.
Pak Bambang menyadarinya.
"Anak itu punya tangan bedah," gumamnya.
Rangga mendengar, tetapi tidak menoleh.
Ia sudah melihat hal yang sama.
Kemampuan Yoga berada jauh di bawah sistem dan intuisinya belum setajam Rangga dalam krisis. Tangannya tetap stabil, matanya fokus, dan ia menghormati anatomi.
Itu fondasi yang sulit diajarkan.
Sementara itu, dr. Alya berbeda.
Ia jarang mengejar pertanyaan tentang pisau atau jahitan. Saat kasus kabur dibahas, ia justru menangkap hubungan yang dilewatkan orang lain.
"Pasien trauma ini tidak hanya syok hemoragik," katanya saat membahas satu contoh. "Ada kemungkinan asidosis mulai masuk. Kalau hipotermia ikut, koagulasi akan makin buruk."
Rangga mengangguk.
"Tepat."
Alya menunduk mencatat, tetapi senyum tipisnya tidak sempat ia sembunyikan.
Di belakang, Dedi berbisik kepada dokter muda di sampingnya, "Kalau mereka berdua nanti gabung jadi satu otak, kita semua pensiun saja."
Pak Bambang langsung melempar tatapan.
Dedi pura-pura batuk.
Kelas berlangsung sampai sore.
Tidak ada tepuk tangan.
Tetapi ketika selesai, tidak ada satu pun dokter muda yang langsung pulang.
Mereka masih berdiri di sekitar papan tulis, memotret diagram, menyalin algoritma, dan berdebat kecil tentang skenario pasien.
Rangga melihat itu dan untuk pertama kalinya merasa sedikit lega.
Sistem bisa membuatnya melompat jauh.
Tetapi rumah sakit hanya bisa naik kalau banyak orang berjalan bersama.
Sabtu pagi, ia tiba di RS Persatuan Nusantara sebagai dokter tamu pertama kalinya.
Pak Prasetyo menjemput langsung di depan lobi.
"Selamat datang, Dokter Rangga. Hari ini jadwal Anda sudah penuh."
Rangga melihat daftar.
Dua operasi kompleks.
Satu konsultasi pascaoperasi.
Satu kasus ortopedi mendadak dari UGD.
"Penuh sekali," kata Rangga.
Pak Prasetyo tersenyum.
"Kami mencoba tidak menyia-nyiakan Sabtu."
Di ruang staf, beberapa dokter RS Persatuan Nusantara menatap Rangga dengan rasa ingin tahu yang ditahan. Mereka sudah membaca berita. Sudah melihat video. Sudah mendengar tentang Trombosin Plus dan Serum RegenoStem.
Tetapi di rumah sakit nasional, reputasi tidak cukup.
Tangan harus membuktikan sendiri.
Kasus pertama adalah revisi operasi abdomen yang rumit. Kasus kedua tumor jaringan lunak yang menempel dekat pembuluh besar. Rangga menyelesaikan keduanya tanpa gerakan pamer.
Tidak spektakuler.
Justru karena itu, dokter-dokter senior yang menonton makin diam.
Orang biasa bergerak besar untuk terlihat hebat.
Rangga bergerak kecil karena ia tahu persis bagian mana yang harus disentuh.
Menjelang sore, UGD RS Persatuan Nusantara mengirim panggilan.
Seorang pekerja jatuh dari lantai dua proyek renovasi. Tulang kering kanan hancur, fraktur terbuka, denyut di kaki melemah, jaringan sekitar mulai membengkak cepat.
Begitu Rangga melihat kaki pasien, suara sistem muncul dalam benaknya.
[Terdeteksi kasus ortopedi kompleks.]
[Fraktur kominutif terbuka dengan risiko iskemia ekstremitas.]
[Pilih mode check-in:]
[A. Check-in Normal — bantuan real-time, level teknik: Kelas Internasional.]
[B. Check-in Mandiri — tanpa bantuan real-time, terhitung progres Jalur Kemandirian.]
Rangga menatap pasien.
Ini hari pertamanya di rumah sakit nasional.
Banyak mata melihat.
Tatapan mereka tidak menentukan hasil pelatihan itu.
Yang paling penting adalah kaki pasien yang bisa hilang kalau ia salah menilai waktu.
Ia memilih dalam hati.
Check-in Normal.
[Check-in Normal aktif.]
[Teknik Bedah Ortopedi Kelas Internasional diperoleh.]
Peta tulang, jaringan lunak, pembuluh, fasia, dan jalur fiksasi masuk ke kepalanya. Ia langsung memberi instruksi.
"Debridement segera. Jangan tutup primer. Kita stabilkan tulang, bersihkan jaringan mati, pertahankan aliran darah, dan pantau kompartemen."
Seorang dokter ortopedi senior RS Persatuan Nusantara menatapnya.
"Anda mau ambil alih?"
"Saya pimpin. Dokter tetap sebagai operator pendamping. Pasien ini butuh tim."
Jawaban itu membuat suasana berubah.
Ia tidak datang untuk merampas panggung.
Ia datang untuk menyelamatkan anggota tubuh.
Operasi berjalan satu jam lebih sedikit.
Tulang yang pecah disusun stabil. Jaringan mati dibersihkan. Pembuluh yang tertekan dilepaskan. Fiksasi luar dipasang. Aliran darah ke kaki kembali teraba.
Ketika denyut perifer muncul lagi, dokter ortopedi senior itu menatap monitor doppler, lalu menatap Rangga.
"Kalau telat satu jam, kaki ini hilang."
"Jadi jangan telat satu jam," jawab Rangga.
Kalimat itu sederhana, tetapi seluruh ruang operasi mendengarnya.
Sore itu, setelah jadwal selesai, Pak Prasetyo membawa Rangga ke ruangannya.
"Saya akan jujur," katanya. "Kami ingin menambah hari praktik Anda."
Rangga sudah menduga.
"Pak Prasetyo, kesepakatan kita Sabtu."
"Dua hari. Honorarium bisa disesuaikan."
"Masalahnya bukan honorarium."
Pak Prasetyo tersenyum pahit.
"Saya tahu Anda akan mengatakan itu."
"Saya milik RSUD Harapan Bangsa. Di sini saya datang sebagai kerja sama."
"Anda benar-benar membuat kami sulit serakah."
"Itu kabar baik untuk pasien."
Pak Prasetyo tertawa pelan, lalu mengangkat tangan tanda menyerah.
"Setiap Sabtu dulu. Tapi kalau ada kasus yang benar-benar tidak bisa menunggu?"
"Hubungi Pak Hendra. Jalurnya tetap resmi."
"Setuju."
Rangga keluar dari RS Persatuan Nusantara saat langit mulai gelap.
Ponselnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Pesannya hanya dua baris.
Dokter Rangga, seseorang sedang menyiapkan aksi besar terhadap Anda dan RSUD Harapan Bangsa.
Hati-hati dengan RS Mentari Global.
Rangga mencoba menelepon balik.
Nomor tidak aktif.
Ia berdiri di halaman rumah sakit nasional yang terang, sementara di layar ponselnya, peringatan itu tampak seperti bayangan panjang yang jatuh dari tempat yang belum terlihat.