Orielle Celeste mati bersama bayi yang tak sempat ia lahirkan. Semua orang mengira wanita lemah yang selalu menangis itu akhirnya menyerah pada hidup. Mereka tidak tahu… Tubuhnya kini dihuni oleh Celeste Seraphina, mantan bodyguard profesional yang cerewet, dan ahli bela diri. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka mata bukanlah menangis. Ia menandatangani surat cerai, menghajar mantan suaminya hingga bersimbah darah, lalu meninggalkan rumah neraka itu tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, perceraian hanyalah awal. Namun, bahkan Celeste tidak menyangka seseorang telah menunggunya. Caspian Orion Devereux. Pria yang dijuluki sebagai villain paling berbahaya. Sosok yang bahkan dunia bawah pun enggan menyentuhnya. Tanpa banyak basa-basi, Caspian meletakkan sebuah kontrak pernikahan di hadapannya. “Menikahlah denganku.” “Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu… dan siapa pun yang pernah menyakitimu menerima balasan yang setimpal.” Kesepakatan yang terdengar menguntungkan. Sayangnya, bermain-main dengan seorang villain tidak pernah berakhir sederhana. Terlebih ketika pernikahan yang semula hanya sebuah kontrak perlahan berubah menjadi obsesi. Dan sang villain memutuskan bahwa wanita itu… adalah miliknya
Noh yg suka bini yg jijik liat suami pas Transmigrasi nohhhh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penegasan
Mansion Caspian menyambut mereka dengan kemegahan yang luar biasa. Pilar-pilar marmer putih menjulang tinggi, diapit oleh taman luas yang tertata rapi ala Victorian, dengan puluhan pelayan dan pengawal berjas rapi berbaris menyambut di sepanjang koridor masuk, menunduk hormat dengan kepala tertunduk dalam.
(Wah, gila... ini mah istana Dracula versi modern,) batin Celeste terpukau sejenak, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut interior yang memancarkan kekayaan tak bertepi. (Tapi lumayan juga, kalau fasilitasnya semewah ini, jadi nyonya kontrak di sini nggak bakal rugi.)
Caspian melirik sekilas ke arah Celeste yang tampak sibuk mengamati sekitar tanpa secercah pun rasa gentar atau canggung. Pria itu mengangkat dagunya sedikit, lalu memberi isyarat kepada Serena yang ternyata sudah dijemput dan dibawa lebih dulu oleh pengawal lain ke mansion tersebut untuk mendekat dan membimbing Celeste ke kamar utama.
"Nona Orielle," Serena mendekat dengan napas sedikit terengah, tampak takjub bercampur gugup melihat tempat baru mereka. "Mari saya antar ke kamar."
Celeste mengangguk pada Serena. Namun, sebelum ia melangkah mengikuti pelayan setianya itu, sebuah tangan besar tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya dengan mantap.
Celeste menoleh. Ia mendapati Caspian berdiri tepat di sampingnya, menatapnya dengan iris kelam yang sulit diartikan.
"Kau tidak tidur di kamar tamu," suara berat Caspian terdengar rendah, menginterupsi langkah Celeste. "Kamar utama ada di lantai atas, bersamaku."
Mata Celeste langsung membelalak lebar. Ia menarik pergelangan tangannya pelan, menatap sang villain dengan kernyitan di dahi.
"Eh, tunggu dulu lo!" protes Celeste, lupa sejenak pada ancaman aturan bahasa yang baru saja dibahas di dalam mobil. "Di kontrak poin ke-empat jelas-jelas bilang kalau kita cuma nikah status doang! Nggak ada pasal yang nyebutin kita harus sekamar, apalagi sekasur, Om!"
Tangan besar Caspian bergerak dengan cepat. Pria itu menarik pinggang ramping Celeste dengan kuat, membuat tubuh gadis itu menabrak langsung ke dadanya yang keras.
Celeste terkesiap, kedua tangannya secara refleks menahan dada Caspian agar tidak semakin menempel. Namun, Caspian tidak memberinya ruang bergerak.
Pria itu menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya tepat di daun telinga Celeste, lalu berbisik dengan suara berat yang sarat akan ancaman berbahaya.
"Kau mau kita bercinta di sini, sekarang, karena panggilan dan gaya bicara seperti itu, Nyonya Devereux?"
Xanderion, yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka, spontan menelan ludah dan pura-pura melihat ke arah taman luar, berusaha tidak ikut campur dalam perdebatan domestik atasan barunya.
Celeste mendongak perlahan, menatap tajam ke dalam iris kelam Caspian yang menatapnya penuh tantangan dari jarak yang sangat dekat. Otaknya berputar cepat, menimbang-nimbang antara ingin mendebat lagi atau menyelamatkan harga diri (dan kewarasannya) dari ancaman gila di hadapannya ini.
"Gila nih om-om, kalo berdua gue mau, ini banyak yang liat anjir, Eh"
"Bagaimana?" bisik Caspian lagi, ibu jarinya perlahan mengusap pinggang Celeste dengan gerakan melingkar yang menghanyutkan. "Masih ingin mendebat aturan rumah ini, atau kau memilih naik ke kamar bersama suamimu secara baik-baik?"
Celeste mendengus tertahan, berusaha menepis gugup yang tiba-tiba menyerang perutnya. Dengan sisa-sisa keberanian dan sifat keras kepalanya, ia menatap lurus mata Caspian, lalu sengaja mendesis pelan,
"Ck... dasar diktator."
Meski begitu, ia tidak lagi melawan saat Caspian melepaskan cengkeramannya dan beralih menggenggam jemarinya dengan erat, menuntunnya melangkah melewati barisan pelayan yang masih menunduk hormat menuju tangga utama.
Serena, yang sedari tadi berdiri mematung di dekat pintu masuk sambil menahan napas, buru-buru mengekor di belakang mereka dengan langkah pelan, sama sekali tidak berani bersuara melihat dinamika berbahaya antara tuan dan nyonya baru di mansion tersebut.
Langkah kaki mereka menggema pelan di sepanjang koridor lantai atas yang luas dan mewah, hingga akhirnya Caspian berhenti di depan sebuah pintu ganda besar berukir kayu mahoni tua dengan aksen emas—kamar utama sang penguasa Devereux.
"Ingat, Nyonya Devereux. Di kontrak itu tidak melarang seorang suami memastikan istrinya tetap berada dalam pengawasannya. Aku bukan orang kolot yang jijik dengan keberadaan istriku sendiri"
"Kamar utama memiliki tempat tidur yang cukup luas untuk kita berdua, istriku. Kecuali... kau takut tidak bisa menahan diri saat tidur di sebelahku?"
Celeste mendengus tertahan, rasa kesalnya langsung mendominasi.
Sifat keras kepalanya mendadak tersulut. "Takut? Yang benar saja!"
Ia menarik napas panjang, menegakkan punggungnya, lalu menatap langsung ke dalam mata kelam Caspian dengan senyum paling manis yang ia miliki senyum palsu yang menyebalkan.
"Baiklah, Suamiku tercinta" ucap Celeste sengaja mendramatisir setiap suku kata, menggunakan panggilan formal yang diminta Caspian sekaligus menantang pria itu secara terang-terangan. "Kalau itu mau tuan besar, jangan nangis ya kalau tengah malem nanti kamu malah keganggu sama kebiasaan tidurku."
Caspian terpaku sejenak, menatap kilatan penuh percaya diri di mata abu Celeste.
Sudut bibir pria itu justru tertarik ke atas membentuk sebuah seringai tipis yang nyaris tak terlihat.
"Kita buktikan nanti siapa yang akan terganggu," balas Caspian.
Xanderion, yang setia mengekor di belakang mereka, dengan sigap mendorong daun pintu tersebut hingga terbuka lebar, menampilkan interior kamar yang jauh melampaui bayangan Celeste.
Ruangan itu sangat luas, bernuansa monokrom mewah dengan dominasi warna hitam arang, abu-abu baja, dan sentuhan aksen emas tua. Sebuah tempat tidur berukuran raksasa berdiri kokoh di tengah ruangan, dikelilingi oleh jendela kaca besar dari lantai ke langit-langit yang langsung menyuguhkan pemandangan cakrawala kota dari ketinggian.
Di sisi lain, terdapat meja kerja minimalis, sofa panjang berbahan kulit hitam, serta pintu tersembunyi yang mengarah ke walk-in closet dan kamar mandi pribadi mewah berlapis marmer hitam.
Serena, yang berdiri di samping Celeste, sampai harus menutup mulutnya karena takjub melihat kemegahan ruangan tersebut.
"Nona... kamar ini..." bisik Serena tak percaya.
Celeste sendiri hanya bersidekap dada, melirik sekeliling dengan mata menyipit menilai. (Not bad,) batinnya mengangguk-ngangguk setuju. (Setidaknya kalau harus jadi istri kontrak, fasilitas tidurnya nggak main-main.)
Caspian melangkah masuk lebih dulu, melepas jas arangnya dan melemparnya santai ke atas sofa tunggal, lalu berbalik menatap Celeste yang masih berdiri di ambang pintu.
"Disebelah kiri adalah ruangan pakaianmu, dan lemari di sebelah kanan sudah diisi penuh dengan apa pun yang kau butuhkan," ucap Caspian dengan suara baritonnya yang tenang.
Ia melirik Serena sekilas. "Pelayanmu bisa menempati kamar di lantai bawah. Sekarang, keluar."
Perintah singkat itu ditujukan kepada Serena dan Xanderion. Tanpa perlu menunggu aba-aba kedua kalinya, Xanderion membungkuk hormat, lalu memberi isyarat kepada Serena untuk mengikuti langkahnya keluar, menutup pintu ganda itu rapat-rapat dan meninggalkan Celeste berdua saja dengan sang suami.
Suasana di dalam kamar mendadak berubah hening. Udara terasa lebih padat, dipenuhi oleh aura maskulin yang menguar dari sosok Caspian.
Celeste tidak lantas gentar. Ia berjalan santai ke tengah ruangan, mengedarkan pandangan ke luar jendela besar sebelum akhirnya berbalik menghadap Caspian yang kini berdiri menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja, menatapnya tajam.
"Jadi..." Celeste memulai pembicaraan, memecah keheningan dengan nada santai sambil mengangkat sebelah alisnya. "Mengingat kita sekarang resmi jadi suami istri versi kontrak, kira-kira apa agenda wajib pertama kita? Harus pamer kemesraan di depan media, atau aku harus pura-pura jadi nyonya lembut yang patuh?"
Caspian melangkah maju perlahan. Setiap langkahnya terasa mantap, memberikan tekanan psikologis yang sengaja ia bangun untuk melihat seberapa jauh gadis di hadapannya ini bisa bertahan.
"Tidak ada media," jawab Caspian rendah, berhenti tepat satu langkah di depan Celeste. "Dunia luar tidak perlu tahu detail pernikahan kita, setidaknya untuk saat ini. Yang harus kau lakukan hanyalah tetap berada di sisiku, dan membiarkan aku membersihkan sampah-sampah masa lalumu."
Mendengar kata 'sampah', manik mata Celeste sedikit menyipit. Bayangan wajah Lucian yang penuh kesombongan dan Viona yang licik langsung melintas di benaknya. Rasa dingin yang memuakkan itu kembali bergejolak, namun segera ia redam di balik senyuman tipis penuh percaya diri.
"Soal sampah itu..." Celeste mendongak, menatap lurus ke dalam iris kelam Caspian tanpa rasa takut sedikit pun. "...aku sebenarnya punya rencana sendiri buat ngasih mereka pelajaran spesial. Jadi, jangan harap kamu bisa merebut mangsaku semudah itu, Suami."
Caspian terdiam sejenak. Alih-alih kesal karena dipotong ucapannya, sudut bibir pria itu justru terangkat membentuk sebuah seringai tipis yang mematikan. Ada kilat kekaguman yang tersembunyi di balik tatapan dingin sang villain—sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia temukan pada wanita mana pun di dunia ini.
Tangan besar Caspian tiba-tiba terulur, meraih jemari Celeste dan menarik tubuh gadis itu hingga menempel pas di dadanya yang bidang. Sentuhan itu begitu mendadak, membuat Celeste sempat menahan napas sepersekian detik.
(Anjir... beneran keras kayak dinding beton! Boleh pegang nggak ya) batin Celeste histeris saat dadanya berbenturan dengan dada bidang Caspian. (Ini otot semua apa pakai rompi anti peluru sih?)
"Silakan lakukan apa pun yang kau mau pada mereka," bisik Caspian tepat di dekat telinga Celeste, suaranya terdengar begitu dalam dan memabukkan. "Tapi ingat batasannya... karena hidupmu, dendammu, dan seluruh duniamu saat ini berada di bawah kendaliku."
Caspian menangkup wajahnya. Pria itu menunduk dan langsung membungkam bibirnya dalam sebuah ciuman.
Celeste, yang awalnya sempat terkejut, tapi kemudian melepaskan tautan bibir mereka dengan sedikit dorongan di dada pria itu.
Celeste terengah-engah, dadanya naik-turun mengatur pasokan oksigen.
Ia mendongak menatap Caspian dengan sorot mata menyebalkan, lalu berucap dengan nada mengejek, "Kamu kayaknya pengen banget ciuman sama aku, ya?"
Caspian tidak tersinggung sama sekali. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis.
"Aku hanya sedang mendidikmu. Perhatikan baik-baik supaya kau cepat belajar cara berciuman dengan benar."
Sebelum Celeste sempat melontarkan makian, Caspian kembali menerkam bibirnya.
Tangan Caspian yang bebas merengkuh tengkuk dan pinggang Celeste dengan erat, tidak memberikan celah sedikit pun untuk gadis itu melarikan diri. Lidah Caspian merangsek masuk, memagut dan menghisap bibir Celeste dengan ritme menuntut yang membuat akal sehat wanita itu hancur seketika, tenggelam sepenuhnya dalam pusaran ciuman yang memabukkan.
Ciuman panas dan penuh tuntutan itu masih berlangsung sengit di ambang pintu kamar utama. Lidah Caspian merangsek masuk, menguasai rongga mulut Celeste dengan dominasi penuh yang membuat lutut gadis itu terasa lemas. Tangannya merengkuh pinggang Celeste semakin erat, menarik tubuh mereka hingga tak ada jarak sama sekali.
Namun, tepat di tengah pusaran ciuman yang semakin membara dan intens tersebut, ketukan tegas tiba-tiba bergemuruh di pintu ganda.
Tok, tok, tok.
"Tuan," panggil Xanderion dengan nada serius dari balik daun pintu yang tertutup rapat. "Ada masalah mendesak di distrik utara. Kita harus segera berangkat sekarang."
Caspian sontak menghentikan gerakannya. Ia melepaskan tautan bibir mereka dengan enggan, namun matanya langsung membelalak tajam penuh amarah. Aura membunuh yang pekat menguar seketika dari tubuhnya.
Ini adalah untuk kedua kalinya dalam waktu singkat pria kepercayaan setianya itu merusak momen intimnya dengan Celeste.
"Benar-benar mencari mati" Celeste tertawa kemudian mencoba menenangkan Caspian.
Caspian melirik Celeste, lalu mendengus kasar.
"Aku ada urusan sebentar," ucap Caspian datar sambil mengenakan kembali jas arangnya yang tadi ia lempar ke sofa.
"Jangan coba-coba kabur, istriku. Penjaga di luar tidak akan membiarkanmu keluar."
Sebelum melangkah pergi, Caspian menoleh kembali ke arah Celeste. Pria itu menangkup wajah Celeste dengan kedua tangannya, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut dan lama di kening gadis itu, turun mengecup sekilas bibirnya yang masih bengkak akibat ciuman brutal mereka barusan.
"Tunggu aku," bisik Caspian rendah tepat di telinga Celeste. "Aku akan kembali secepatnya."
Tanpa menunggu jawaban Celeste, Caspian membalikkan badan dan melangkah keluar kamar, mendapati Xanderion yang berdiri dengan dahi berkeringat dingin, sangat sadar bahwa ia baru saja nyaris kehilangan nyawanya hari itu. Suara deru mesin mobil mewah yang berlalu di halaman bawah lantas menandakan kepergian mereka.
POV cassian : bukan rejeki yg melebar tp kepala ma telinga saya yg melebar ,, 😒😒😒😒😒😒
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kasihan caspian di sekitar ny byk org2 di luar Nurul ,, termasuk sang istrii ,,
Kade di Kadek ,, 😂😂😂😂