"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Pesawat komersial yang ditumpangi Clara dan Anya membelah langit malam menuju Jakarta. Di dalam kabin, Anya tertidur lelap dengan earphone terpasang di telinga, sementara Clara menatap keluar jendela kaca yang gelap.
Senyum puas terukir di bibirnya. Rencananya berjalan sempurna. Dia berhasil menyelinap ke bandara tanpa sepengetahuan Elzio setelah berpura-pura pamit kembali ke vila untuk "istirahat". Clara yakin, pria arogan itu pasti mengamuk di vilanya saat menyadari barang-barangnya sudah kosong.
"Selamat tinggal, CEO gila," gumam Clara pelan, memeluk tas tangannya dengan perasaan lega yang membuncah. "Gue bebas."
...****************...
Tiga hari kemudian, Jakarta.
Clara berdiri di depan cermin kamar kontrakan barunya yang sederhana namun bersih di daerah Jakarta Selatan. Dia merapikan blus putih elegan dan rok pensil hitam yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. Rambut panjangnya disanggul rapi.
Hari ini adalah hari wawancara kerja terakhir untuk posisi Asisten Eksekutif di PT Nusantara Media—sebuah anak perusahaan skala menengah yang bergerak di bidang penerbitan dan media digital.
"Murni hasil kerja keras gue sendiri," bisik Clara pada pantulan cermin, menyemangati dirinya sendiri. "Nggak ada Ardan, nggak ada koneksi keluarga, dan nggak ada bayang-bayang Elzio."
Dengan percaya diri, Clara melangkah keluar menuju gedung PT Nusantara Media. Proses wawancara tahap pertama hingga tes tertulis berjalan sangat mulus. Semua pewawancara terkesima dengan rekam jejak, kecerdasan, dan ketegasan Clara dalam menjawab setiap pertanyaan strategis.
"Kualifikasi Anda luar biasa, Mbak Clara," ujar Manajer HRD dengan senyum lebar sambil membolak-balik berkas CV Clara. "Jujur, kemampuan Anda bahkan terlalu tinggi untuk skala perusahaan kami. Karena itu, pimpinan tertinggi kami ingin melakukan wawancara akhir secara langsung."
Clara tersenyum sopan. "Terima kasih, Pak. Saya sangat siap."
"Mari saya antarkan ke ruang Direktur Utama di lantai teratas."
Clara mengangguk dan mengikuti langkah Manajer HRD masuk ke dalam lift khusus. Dadanya berdebar penuh antisipasi positif. Ini adalah langkah pertamanya untuk membangun kembali hidupnya yang sempat hancur.
Lift berhenti di lantai 12. Koridor lantai ini sangat tenang, dilapisi karpet tebal bernuansa abu-abu mewah dan dinding kaca yang menyajikan pemandangan lanskap kota Jakarta.
Manajer HRD mengetuk pintu kayu jati berukuran besar di ujung koridor, lalu membukanya sedikit. "Pak, kandidat Asisten Eksekutif atas nama Clara sudah tiba."
"Panggil dia masuk, dan tinggalkan kami," sahut sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan sangat familier dari dalam ruangan.
DEG.
Jantung Clara mendadak berhenti berdetak. Tubuhnya membeku seketika di tempat. Suara itu... tidak mungkin.
Sebelum Clara sempat memutar badan untuk berlari, Manajer HRD sudah tersenyum dan mempersilakannya masuk. "Silakan masuk, Mbak Clara. Semoga berhasil."
Pintu kayu tebal itu terdorong penuh.
Di balik meja kerja mahoni yang megah, seorang pria bersetelan jas hitam elegan sedang duduk dengan tenang. Kursi kulitnya diputar menghadap jendela besar, namun begitu mendengar langkah kaki Clara, kursi itu perlahan berputar.
Elzio Mahendra.
Pria itu menyandarkan punggungnya, melipat tangan di atas meja, dan menatap Clara dengan binar mata pekat yang sarat akan kemenangan mutlak. Di sudut bibirnya, terukir sebuah seringai tipis yang sangat berbahaya.
"Selamat pagi, Candidate Clara," panggil Elzio, suaranya mengalun rendah menyapu keheningan ruangan. "Senang melihat kamu tepat waktu."
"Lu..." suara Clara tercekat di tenggorokan. Lututnya mendadak lemas. "Ng... ngapain lu di sini?!"
Elzio berdiri perlahan dari kursinya. Langkah kakinya yang tegap dan berwibawa mengikis jarak di antara mereka, membuat aura dominasi di ruangan itu mendadak begitu pekat hingga Clara merasa sesak bernapas.
"Ini kantor saya, Clara," ujar Elzio santai, menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di depan Clara. "Lebih tepatnya, ini adalah salah satu dari puluhan anak perusahaan Mahendra Group."
"Nggak mungkin..." Clara menggelengkan kepala, mundur satu langkah dengan wajah pucat pasi. "Gue sengaja milih perusahaan kecil! Perusahaan ini nggak ada nama Mahendra Group-nya!"
"Tentu saja tidak ada di nama depan," terkekeh Elzio pelan, menatap kepanikan di wajah Clara dengan gemas. "Tapi 95 persen saham PT Nusantara Media dipegang penuh oleh Mahendra Corp. Kamu sangat cerdas memilih perusahaan, sweetheart... sayangnya, semua anak perusahaan media di kota ini adalah wilayah kekuasaan saya."
Clara mengepalkan tangannya kencang, rasa panik dan amarah mendadak membakar dadanya. "Lu sengaja kan?! Lu jebak gue?!"
"Saya tidak menjebak kamu," balas Elzio tenang. Dia mengeluarkan berkas kontrak kerja yang sudah tersusun rapi, dan meletakkannya di atas meja. "Kamu yang mengirimkan CV kamu ke sini dengan sukarela. Dan berdasarkan hasil evaluasi tim HRD, kamu adalah kandidat terbaik."
"Gue batalin!" bentak Clara galak, matanya menyala penuh perlawanan. "Gue tarik lamaran gue! Gue enggak sudi kerja di bawah pria gila kaya lu!"
Clara membalikkan badan dengan cepat, hendak meraih gagang pintu untuk keluar dari ruangan beracun itu.
SRET!
Satu tangan kokoh Elzio terulur melewati bahu Clara, menahan pintu kayu itu dengan dentuman pelan. Tubuh tegap Elzio kini memenjarakan Clara dari belakang, mengirimkan hawa panas dari dada bidangnya yang menempel tipis di punggung Clara.
"Tunggu dulu, Clara. Jangan terburu-buru," bisik Elzio tepat di dekat telinga Clara. Napas hangatnya membuat bulu kuduk Clara berdiri seketika. "Kamu belum membaca klausul khusus di halaman belakang lembar lamaran yang kamu tanda tangani secara digital kemarin."
Clara menegang. "Klausul apa?!"
Elzio meraih lembar dokumen di meja tanpa menggeser tubuhnya yang mengurung Clara. "Di halaman syarat dan ketentuan umum anak perusahaan Mahendra Group, tertera jelas bahwa kandidat yang sudah lolos hingga tahap wawancara akhir dan mengundurkan diri secara sepihak tanpa alasan medis, wajib membayar denda penalti atas kerugian operasional."
Clara memutar tubuhnya kasar, menatap Elzio dari jarak yang sangat dekat. "Berapa dendanya?! Gue bakal bayar! Gue usahain bayar!"
Elzio menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam iris mata Clara dengan tatapan posesif yang tak terbantahkan.
"Dendanya adalah lima miliar rupiah, Clara," bisik Elzio dengan senyum dingin yang menawan. "Atau... kamu menyetujui kontrak kerja selama tiga tahun sebagai Asisten Eksekutif pribadi saya, dengan gaji sepuluh kali lipat dari standar industri."
"Lima miliar?!" jerit Clara, matanya membelalak lebar tak percaya. "Lu gila! Itu pemerasan! Itu ilegal!"
"Itu hukum bisnis, Clara. Dan kamu sudah menyetujui syarat digitalnya saat mengirimkan berkas," balas Elzio santai, mengambil pulpen bernuansa emas dari saku jasnya dan menyodorkannya ke tangan Clara.
Clara menatap pulpen itu, lalu menatap Elzio dengan napas memburu. Dia merasa terjebak di dalam jaring laba-laba yang sudah dirancang dengan sangat rapi dan tanpa celah. Pria di depannya ini tidak hanya menggunakan kekayaan, tapi juga kekuasaan dan kecerdasannya untuk mengunci Clara.
"Kenapa, Elzio?" suara Clara mendadak melunak, bercampur dengan nada frustrasi yang mendalam. "Kenapa lu se-obsesif ini sama gue? Cuma karena malam itu?! Cuma karena gue galak sama lu?!"
Elzio menatap Clara dengan kelembutan yang sangat asing, mengelus pipi mulus Clara dengan ujung jarinya yang hangat.
"Karena sejak malam pertama kamu berani memarahi saya di restoran itu, kamu sudah menyita seluruh pikiran saya, Clara," ujar Elzio rendah dan jujur. "Dan setelah apa yang terjadi di antara kita... saya tidak akan pernah membiarkan wanita lain menggantikan posisi kamu."
Clara membeku. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur, bukan hanya karena takut, tapi karena kejujuran intens yang terpancar dari mata Elzio.
"Tanda tangani kontraknya, Clara," bisik Elzio lembut namun tegas. "Atau kamu mau membayar lima miliar itu sekarang?"
Clara meremas pulpen di tangannya kencang-kencang, menatap kertas kontrak di depannya dengan perasaan campur aduk. Dia tahu, permainannya baru saja dimulai.