NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Terakhir

"Adit?!"

"Pap...papa?!" Aku sangat terkejut melihat papa didepan ku. Aku berharap bisa menemuinya di ruangan besar miliknya. Aku yakin disana akan lebih privasi dan aku bisa menyiapkan hati sebelum memutuskan mengetuk pintu ruangan nya.

"Masuk! Ikut papa!" Tanpa menjeda lebih lama, pak Dhika langsung menarik tangan ku masuk kedalam lift bersamanya. Aku hanya bisa menurut dan bergeming.

Beberapa fakta tentang papa yang kudengar dari kak Ivan maupun mama membuatku merasa canggung berdua-an dengan nya. Ada rasa takut, kecewa dan yang paling parah aku merasa khawatir papa akan mencelakakan aku.

Ting!!!

Lift terbuka tepat di lantai 10 gedung ini dan sesuai dengan info dari kakak resepsionis tadi, papa pun mengambil jalan kekanan menuju pintu sebelah kanan dan membuka nya. Aku hanya mengekor di belakangnya tanpa berani mengucapkan apapun.

"Duduk." Dengan suara tegasnya, papa menunjuk satu sofa panjang di ruangan nya dan meminta ku untuk duduk.

Sementara dirinya mengambil minuman di kotak pendingin kecil yang ada di ruangan ini.

"Minum." Masih dengan sikap dingin nya papa duduk disampingku dan menyodorkan satu kaleng soft drink yang sangat kutahu terdapat kandungan soda didalamnya. Minuman yang dulu sangat kusuka namun sangat kuhindari akhir-akhir ini.

"Terimakasih Pah,,, tapi Adit nggak bisa minum ini lagi..." Aku sengaja memelankan suaraku. Aku tidak boleh membuat kecanggungan ini semakin menguasai kami.

Ada jeda cukup panjang diantara kami, papa hanya terdiam namun matanya menatap wajahku dengan sangat serius. Bahkan beberapa kali beliau melanjutkan tatapannya pada anggota tubuhku yang lain. Aku tidak merasa risih sama sekali, tapi aku ingin tahu kenapa beliau menatapku seperti itu...

"Pah,,, A-adit udah tahu semuanya. Dari kak Ivan juga dari mama..." Aku menjeda ucapanku dan beralih menatapnya lembut. Ada geliat kekagetan di gestur tubuh papa, tapi beliau masih bisa mempertahankan wajah datar yang sedari tadi terus menghiasinya.

"Jadi?!" Aku ingin melanjutkan ucapanku kembali dengan semua cerita tentang bagaimana aku mengetahui semua ini, tapi suara berat papa membuatku menelan semuanya kembali.

"Jadi... Jadi Adit ingin pergi dari sini." Aku mengatakan nya tanpa beban. Jika sesuai rancangan yang sudah kususun seharusnya hal ini kusampaikan di akhir, dan mendahulukan permintaan kembali nya papa ke rumah. Tapi entahlah semua yang telah kususun seakan menjadi berserakan kembali.

"Pergilah..." Tanpa jeda yang lama bahkan terkesan terburu-buru papa langsung merespon permintaan ku. Aku tercengang menatapnya tidak percaya.

Ada rasa sakit di hati ini.

Semudah itukah baginya untuk membuang ku?!

"Ini kartu debit untuk kamu. Pin nya tanggal lahir kamu. Tiap bulan papa akan bertanggungjawab untuk memberikan hak kamu menerima uang dari papa." Papa memberikan kartu debit berwana hitam itu padaku. Aku belum bereaksi apapun saat papa melanjutkan ucapannya.

"Jangan pernah kamu tolak ini, papa tidak ingin menjadi orangtua yang tidak bertanggungjawab." Ucapan tegasnya kembali kudengar.

"Pah,,, Adit mau cerita. Papa mau dengar?" Aku berusaha menahan semua sesak di dada ini. Aku merasa benar-benar di buang oleh papa. Semudah itu beliau melepaskan ku bahkan sudah beliau persiapkan bekal untuk kepergian ku.

"Satu jam. Papa punya waktu satu jam sebelum jam istirahat nanti."

"Pertama, Adit mau papa tahu satu fakta ini. Mungkin papa ingat sekitar dua tahun lalu Adit pernah ditemukan terkapar di toilet sekolah tetangga yang menjadi tempat sparing basket Adit. Disitulah yang menjadi awal Adit terserang virus mematikan ini. Jika papa ingat kembali bagaimana kondisi Adit saat itu, papa yang bercerita ke Adit saat itu Adit ditemukan dengan sejumlah tusukan jarum di sekujur tubuh Adit yang bahkan beberapa jarum nya masih menancap di lengan Adit. Itu semualah yang menjadi awal Adit terinfeksi ini. Adit nggak tahu di jarum manakah yang menjadi media penularan virus ini. Tapi yang jelas, orang yang melakukan itu setahun lalu meninggal karena penyakit AIDS. Dia lawan tanding Adit pah. Adit bahkan nggak merasa punya salah apapun padanya, kami bahkan tidak akrab sama sekali. Tapi beberapa kali Adit memang berhasil mengalahkan nya di tanding basket. Saat itu Adit yang nggak curiga sama sekali menerima minuman dingin dari nya dan setelah minum itu Adit diserang mual hebat sampai muntah-muntah di toilet. Tiba-tiba dia datang dengan beberapa temannya langsung keroyokan mukulin Adit disitu. Dan disitu jugalah masing-masing dari mereka tiba-tiba mengeluarkan jarum suntik dan melanjutkan menusuk tubuh Adit yang sudah terkapar dengan jarum itu sampai Adit pingsan sepertinya, karena saat Adit bangun sudah ada di rumah sakit." Aku menghentikan ceritaku dan menatap papa kembali. Wajah itu masih datar namun binar mata nya telah berubah, ada embun disana. Meski masih tipis, aku bisa melihatnya dengan jelas.

"Yang kedua, Adit juga mau papa tau tentang kondisi mama saat ini. Kata kak Ivan Mama depresi berat sejak papa pergi. Mama nggak bisa tidur tanpa bantuan obat tidur pah. Dan setiap hari pun ada obat penenang yang harus mama minum. Mama kangen sama papa, Adit yakin jika papa nggak pergi kondisi mama akan semakin membaik. Adit berharap paling lambat besok papa bisa tinggal lagi dengan mama. Biar Adit yang pergi..." Kembali kuhela nafas pelan sebelum melanjutkan ucapan ku. Ada yang berkecamuk di dalam sini, setidaknya dengan helaan nafasku ini cukup bisa membuat jeda untuk menetralkan hati ini.

"Adit janji, besok setelah Adit mendapatkan ijasah dari sekolah. Adit akan langsung pergi. Papa bisa membuat cerita ke mama dan yang lainnya kalau Adit melanjutkan studi Adit ke luar negeri atau kemanapun terserah papa." Aku melanjutkan dengan nafas yang sedikit tersengal, rasanya berat mengucapkan ini. Tapi aku yakin inilah keputusan terbaiknya.

Masih belum ada respon apapun dari papa, tapi aku bersyukur karena papa benar-benar memperhatikan semua yang kuucapkan.

"Yang terakhir, Adit mohon papa jangan berikan hukuman apapun ke kak Ivan atau mama karena keputusan Adit ini. Adit yang memutuskan untuk menghentikan semua uji coba ARV ini. Kak Ivan sudah menemukan yang terbaiknya, dan Adit akan selalu berusaha menjaga diri Adit sendiri dengan mengkonsumsi obat itu mungkin selamanya. Kak Ivan sudah sangat baik rela menjaga menemani siaga dengan segala efek samping yang Adit rasakan karena ARV itu. Adit mohon jangan papa berikan hukuman apapun. Kalau papa mau memberikan hukuman, hukum saja Adit. Adit rela nggak dapat pasokan uang bulanan dari papa, Adit siap menghilang dari kehidupan disini, Adit siap menerima hukuman apapun dari papa. Jangan hukum kak Ivan dan jangan juga mama. Maafkan Adit nggak bisa mendukung program uji ARV ini. Adit takut tubuh Adit nggak sanggup menanggung segala efek sampingnya. Adit masih punya cita-cita." Aku menatap tajam mata papa dengan penuh harapan. Aku butuh persetujuannya untuk point' terakhir ini. Aku harus bisa memastikan mama dan kak Ivan akan baik-baik saja sepeninggalku nanti.

"Papa janji, papa akan turuti semua kemauanmu. Papa juga akan uruskan kepindahan mu keluar negeri untuk melanjutkan kuliah disana." Suara berat papa membuatku lega.

"Adit pergi sendiri pah, Adit ingin pergi dari semua orang-orang yang Adit kenal. Adit ingin melanjutkan semuanya sendiri tanpa orang yg Adit kenal disini. Termasuk mama dan papa." Aku bingung mengungkapkan hal ini, tapi setidaknya inilah keputusan yang ingin kuambil.

"Kemana?"

"Adit belum tahu. Tapi nggak jauh. Adit nggak akan keluar negeri. Adit ingin tetap di Indonesia meskipun belum tahu akan dimana. Adit harap papa nggak perlu cari-cari Adit lagi. Nggak perlu mengintai Adit ada dimana. Adit ingin bisa menjalani kehidupan selanjutnya tanpa bayang-bayang orang-orang yang tahu bahwa tubuh Adit bervirus." Aku menatap lekat wajah papa yang sekarang terlihat gusar.

"Kabari papa kamu tinggal dimana dan papa nggak akan mengintai kehidupan kamu selanjutnya." Aku menggeleng pelan, aku benar-benar ingin berdiri sendiri tidak dengan mata-mata mengintai disekelilingku.

"Nggak pah, Adit ingin sendiri menjalaninya. Adit janji akan terus bertahan. Adit janji akan berusaha mengikuti prosedur penggunaan ARV dengan baik, agar Adit tetap bisa bertahan. Dan Adit janji akan kembali lagi entah berapa tahun lagi atau bahkan berapa puluh tahun lagi." Tanpa benar-benar menyadarinya aku membuka tutup soft drink didepanku dan mulai meminumnya. Tenggorokan ku yang kering mulai terbasahi. Rasanya segar, apalagi soft drink ini masih dalam suhu dingin nya.

"Kamu harus bawa ini. Papa janji tiap bulan akan selalu mengisi saldonya. Kamu boleh menghabiskan berapapun yang ada didalamnya." Papa menyodorkan kembali kartu debit berwarna hitam yang masih teronggok manis diatas meja. Aku pun menerimanya dan segera menyimpannya didalam weist bag berwarna beige ku.

Aku ingin mengucapkan terimakasih, tapi kram diperutku menghentikan semua gerakan ku.

Astaghfirullah...

Ada apa lagi sekarang?!

"Ssshhh..."

Aku memejamkan mata berusaha menormalkan kram dan kaku di perutku.

"Pah, izin ke toilet." Tanpa menunggu respon papa, Aku bergegas menyeret tubuhku ini kedalam toilet di ruangan papa. Di dalam toilet aku hanya bisa duduk dan mengelus pelan perutku. Aku berharap rasa kram ini segera hilang, rasanya sangat menyakitkan. Entah kelenturan perutku terhalan oleh apa, aku benar-benar tersiksa dengan keadaan ini.

Kupaksakan untuk terbatuk karena nafasku yang mulai sesak, setelah sekian detik berusaha akhirnya aku benar-benar terbatuk bahkan tanpa persiapan tiba-tiba mulutku menyemburkan semua cairan yang ada dalam perutku.

Rasanya pahit.

"Huekkk!!!"

Aku masih muntah-muntah setelahnya dan kurasa semua makanan dan minuman yang ada dalam perutku telah terkuras habis.

Aku sudah bisa bernafas lega sekarang, perutku pun telah terasa lentur kembali.

Astaghfirullah...

Sungguh menit-menit yang sangat menyakitkan. Aku membasuh wajahku dan berkumur-kumur untuk menghilangkan sensasi pahit di lidahku ini. Pusing ini masih ada, tapi aku cukup lega karena kelenturan perutku kembali. Segera kubereskan semua kekacauan tadi, dinding toilet yang terkena semburanku langsung kusiram agar terlihat bersih kembali. Lantai toilet ini pun tidak luput dari usahaku membereskan semua kekacauan yang telah kubuat.

Segera aku keluar dari toilet setelah toilet ini cukup bersih dan aku dikejutkan oleh keberadaan papa yang tepat berada di balik pintu toilet ini.

"Papah... Maaf Adit lama. Papa nungguin ya?" Aku berusaha menetralkan keterkejutan ku dengan menyapa papa terlebih dahulu.

"Kamu baik-baik saja? Apa tadi kamu sampai muntah?" Aku terdiam beberapa saat bingung akan bagaimna merespon nya.

"Hmm,, baik pah. Adit baik-baik aja."

Kami melangkah kembali ke sofa di ruangan ini. Mataku langsung tertuju pada kaleng soft drink yang mungkin isinya tinggal setengah.

Betapa teledornya aku?!

Padahal kak Ivan sudah ingatkan untuk menjauhi minuman ringan kalengan seperti ini.

Pantas saja tiba-tiba perut ini kram seperti tadi.

"Besok jam berapa kamu akan berangkat?" Suara berat papa kembali terdengar setelah beberapa detik terlewati hanya oleh keheningan.

"Belum tau pah. Adit mau ke sekolah dulu ambil ijasah dan mungkin setelahnya langsung ke terminal atau stasiun."

"Papa akan minta seseorang ikutin kamu sampai terminal atau stasiun. Setelah itu papa percaya kamu bisa menjaga diri kamu sendiri. Jangan sungkan menghubungi papa jika menemukan kesulitan di tempat baru kamu nanti." Aku hanya mengangguk menyetujuinya.

Biarlah aku masih dalam pengawasan papa sampai di terminal atau stasiun nanti.

"Papa malam ini pulang bisa?" Aku berusaha mengungkapkan keinginan terakhirku ini padanya. Aku ingin merasakan malam bersama kedua orangtuaku sebelum aku benar-benar pergi.

"Siang ini papa akan pulang, papa akan berikan kejutan untuk mama kamu. Papa tahu sekarang mama nggak ada di rumah tapi sore nanti pasti mama sudah pulang dan papa akan berusaha memberikan kejutan terbaik." Aku tersenyum menanggapinya.

Papa...

I love you...

Papa adalah orangtua terbaikku..

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!