NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perhatian

kampus Eastbridge

Matahari pagi menyorot lantai balkon. Lisa berdiri bersama tiga mahasiswi lain, termasuk satu wajah baru: Dara. Rambut nya tergerai rapi di bahu, gayanya tenang.

Lisa baru saja berkenalan dengan Dara. "Jadi lo anak transferan ya, Dara?"

"Betul," jawab Dara sambil tersenyum tipis. "Salam kenal, Lisa."

Obrolan mereka terputus oleh suara knalpot motor yang dimatikan. Jayden muncul dari ujung koridor. Kaosnya masih sama seperti kemarin, rambutnya acak-acakan.

Ia berhenti tepat di depan gerombolan itu. Matanya langsung menyapu satu-satu, mencari Cheyrin.

"Eh Lisa, Cheyrin mana?" tanya Jayden langsung, tanpa basa-basi.

Lisa menunjuk ke arah gedung kelas. "Di kelas, Jay. Katanya masih ada tugas yang belum dia beresin."

"Oh, oke," Jayden mengangguk cepat. "Thanks ya."

Sepintas matanya melirik Dara, senyum tipis, namun hanya sekadar senyum basa-basi.

Ia langsung berbalik dan berjalan cepat menuju tangga.

Dara hanya diam. Rambutnya tergerai tertiup angin balkon. Senyumnya tetap ada, tapi matanya mengikuti punggung Jayden sampai menghilang di balik pintu.

Lisa dan gadis-gadis lain saling melirik. Suasana canggung 2 detik.

"Dia... selalu segesit itu ya kalau urusan Cheyrin?" bisik salah satu temannya.

Dara hanya mendengarkan. Sambil meneguk es tehnya pelan.

"Udah ah, laper gue. Ke kantin yuk. Dar ikut ya, kenalin kantin kita. Makanan nya enak banget." Ucap Lisa memecahkan kecanggungan.

"Boleh," Dara mengangguk. Rambutnya tergerai tertiup angin. "Makasih, Lis."

Mereka berempat berjalan meninggalkan balkon. Percakapan beralih ke menu kantin. Tidak ada kecanggungan, tidak ada tatapan yang berarti.

Jayden tiba di depan kelas Cheyrin. Dari celah pintu, ia melihat Cheyrin duduk di meja paling depan. Laptop terbuka, tumpukan buku di sampingnya. Wajahnya fokus, alisnya sedikit berkerut.

Jayden masuk tanpa mengetuk. "Cil, makan dulu. Udah jam segini."

Cheyrin menoleh sebentar, lalu kembali ke layar. "Nggak dulu, Jay. Gue masih ngerjain tugas. Nanti aja."

"Jam segini belum makan? Nggak sehat tau," Jayden mengomel layaknya seorang pacar. Ia mendekat dan menarik tangan Cheyrin. "Udah, ikut gue ke kantin."

Cheyrin sedikit meringis. Ternyata ada luka di pergelangan tangannya. Bekas luka yang sudah mengering tapi masih sakit. Luka itu ia dapat saat bekerja di L'Evanne beberapa hari lalu.

Jayden langsung panik. Matanya menatap luka itu lekat-lekat. "Lah ini kenapa? Kok nggak bilang?"

Tanpa banyak bicara ia memaksa Cheyrin berdiri. "Udah, stop dulu tugasnya. Kita ke UKS sekarang."

Cheyrin mencoba menarik tangannya. "Jayden, gue bisa sendiri—"

"Ngomelnya nanti. Sekarang jalan," potong Jayden, nadanya tegas tapi khawatir.

Ruang UKS Kampus

Petugas UKS, Bu Nia, menatap pergelangan tangan Cheyrin, lalu melirik Jayden yang berdiri gelisah di sampingnya.

"Lukanya kecil kok, dek. Udah mengering juga," kata Bu Nia sambil tertawa kecil. Ia mengambil kapas dan betadine. "Nggak usah panik begitu."

Jayden menggaruk belakang kepalanya, masih belum tenang. "Tapi dia bilang sakit, Bu."

"Sakit wajar, kena gesekan dikit," Bu Nia mengoleskan betadine pelan. "Cheyrin ini kerja rodi banget sih. Istirahat makan dulu sana."

Cheyrin meringis kecil pas betadine kena luka. "Tuh kan, Jay. Lebay banget lo."

"Gue lebay? Lo yang kerja terus nggak peduli badan," Jayden duduk di kursi sebelahnya, menyilangkan kaki. "Habis ini wajib makan. Titik."

Bu Nia menutup botol betadine sambil senyum. "Iya iya, Jay. Jagoan banget. Udah kayak bapak-bapak khawatir anaknya."

Jayden menggandeng tangan Cheyrin dari ruang UKS sampai ke kantin. Genggamannya tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk memastikan Cheyrin tidak melepaskannya. Sikapnya manis dan penuh perhatian sejak mereka melangkah masuk.

Ia menarikkan kursi untuk Cheyrin, lalu meletakkan tas selempang Cheyrin dengan hati-hati di sandaran kursi. "Duduk. Jangan banyak gerak dulu," ucapnya pelan.

Cheyrin mendengus kecil sambil duduk. "Apa sih, gue nggak cedera, Jay. Cuma luka kecil."

"Bodo amat," Jayden sudah berbalik ke arah kasir. "Nasi ayam geprek satu, es teh manis dingin satu, kerupuk dua. Pedesnya sedang ya, Mbak."

Sambil menunggu pesanan, ia kembali ke meja dan mengambil tisu. Dengan teliti ia menyeka meja yang sedikit basah, lalu menaruh tisu itu di dekat piring Cheyrin. Memperlakukan Cheyrin layaknya pacar. Wajar, alami, tanpa dibuat-buat.

Pesanan datang. Jayden langsung memindahkan ayam geprek ke piring Cheyrin dan memisahkan cabainya. "Yang ini bagian nggak pedes. Makan yang ini dulu."

Cheyrin menatapnya, setengah gemas setengah malas. "Lo tuh udah kayak emak-emak tau gak."

"Emak-emak yang sayang sama lo," jawab Jayden santai sambil menyodorkan gelas es teh. Ia bahkan menyeka bibir gelas itu dengan tisu sebelum memberikannya. "Minum. Habis ngerjain tugas pasti haus."

Sementara di meja pojok, Dara duduk bersama Lisa dan dua temannya. Sendok di tangannya berhenti di tengah jalan. Tawa Lisa dan obrolan tentang harga kantin masuk ke telinganya, tapi pikirannya jauh.

Dari sudut sana Dara memperhatikan mereka. Ia melihat cara Jayden meniup uap nasi sebelum menyodorkannya ke Cheyrin. Melihat cara Jayden merapikan rambut Cheyrin yang jatuh ke dahi. Melihat cara Jayden sesekali menyentuh punggung tangan Cheyrin untuk memastikan suapannya masuk.

Di meja itu, Jayden bersikap normal ke semua orang. Tapi ke Cheyrin, dia selalu punya perhatian lebih. Beda. Lembut. Seolah dunia hanya mereka berdua.

Dara menunduk. Ia mengaduk es tehnya pelan sampai es batunya beradu dengan dinding gelas. Tidak ada yang menyadari tatapannya. Tidak ada yang tahu dadanya sesak.

Karena hanya Dara yang menyimpan ceritanya sendiri.

Dara meletakkan sendoknya. Ia melirik ke arah Jayden dan Cheyrin sekali lagi, lalu menoleh ke Lisa.

"Lisa," panggilnya pelan.

Hening dua detik. Dara memberanikan diri. "Cheyrin sama Jayden pacaran ya?"

Lisa mengangkat alis, lalu mengunyah nasi gorengnya. "Setau gue sih nggak ya," katanya. "Tapi Jayden nya aja yang kecintaan."

Dara terdiam. Jarinya kembali memainkan sedotan. "Tapi kayanya Cheyrin juga tuh," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri.

Lisa terkekeh kecil. Ia mencondongkan badan ke arah Dara. "Ya lo pikir aja lah," katanya. "Cewek mana yang ga baper di gituin."

Lisa menoleh. Ia memperhatikan sorot mata Dara yang memandang ke arah Jayden dan Cheyrin. Tatapan itu tidak biasa. Ada sesuatu yang ditahan di sana.

"Lo kenal Jayden ya?" tanya Lisa tiba-tiba, setengah bercanda setengah serius.

Dara mengangguk. "Temen SMA gue," jawabnya singkat.

Lisa mengangguk mengerti. Dan melanjutkan makannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!