NovelToon NovelToon
Incaran Sang Dokter Bedah

Incaran Sang Dokter Bedah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.

Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.

Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.

Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!

"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Kesempatan yang Dihancurkan

Vando terkekeh pendek.

Tawa yang terdengar sinis, tetapi dipenuhi rasa gelisah.

"Kamu pikir aku akan percaya omong kosongmu?"

Milka menatap Vando sejenak. Ia pun menarik satu map cokelat yang berada di atas meja. Jemarinya membuka pengait map itu secara perlahan.

Suara gesekan kertas memenuhi ruang tamu yang telah berubah menjadi sunyi.

"Apa sekarang kamu mau main sandiwara?" cibir Vando. "Kamu itu seorang polisi. Bikin bukti palsu pasti gampang bagimu."

Kalimat itu tidak membuat tangan Milka berhenti. Ia mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna hitam, lalu meletakkannya di atas meja.

Disusul mengeluarkan ponselnya sendiri.

Kemudian sebuah kantong plastik bening yang berisi sebuah kemeja yang telah tersegel dengan rapi.

Semua dilakukan dengan satu per satu, tanpa tergesa sedikit pun. Bagi Milka, setiap benda memiliki waktunya sendiri untuk berbicara.

Tatapan Vando mulai bergerak mengikuti semua benda itu.

Perlahan, dadanya mendadak terasa sesak.

"Kamu tahu, Mas ..." ucap Milka lirih. "Seorang penyidik tidak pernah datang membawa tuduhan."

Ia mengangkat flashdisk itu. "Kami selalu datang dengan membawa bukti."

Klik.

Televisi ruang tamu menyala. Flashdisk telah terpasang.

Beberapa detik kemudian, video yang direkam oleh Milka pun berputar.

Vando yang semula berdiri tegak, perlahan kehilangan keseimbangannya.

Di layar televisi canggih itu, tampak Irana yang berusaha memanjat jendela. Tangan Vando tanpa canggung memegangi pinggang Irana.

"Nanti kuhubungi lagi," bisik Vando melambaikan tangan. Dengan cepat, Vando menutup jendela lalu menurunkan korden dengan rapi.

Video pun berhenti. Ruangan kembali sunyi.

"I-itu ..." bibir Vando bergerak pelan.

"Itu tak seperti yang kamu pikirkan. Kami kan tak ngapa-ngapain. Sudah terbukti pakaian kami masih utuh."

"Belum selesai," potong Milka dengan tenang.

Video berikutnya diputar. Kali ini bukan gambar. Hanya suara. Namun suara itu begitu jelas.

Irana: "Bagaimana ya, jika istrimu melihat kita sering ketemu di sini?"

Vando: "Ah, mana mungkin."

Vando: "Dia tak memiliki kepentingan datang ke kantor ini. Kalau pun datang, dia pasti akan memberitahuku."

Irana: "Aah ... Aaahh ..." Terdengar suara kecupan, ringisan, dan desahan Irana.

Vando: "Yang penting, kita harus bisa menutup rapat mengenai 'uang itu' dari perusahaan ini. Jika kita berhasil, kita tak perlu lagi bekerja di sini. Aku capek."

Vando: "Sejak menikah dengan Milka, orang-orang selalu bilang aku cuma numpang nama di keluarga Wijaya."

Vando: "Seolah semua yang kumiliki berasal dari istriku."

Vando: "Aku muak."

Irana: "Makanya kita harus mendapatkan uangnya."

Vando: "Begitu semua uangnya cair, aku nggak perlu lagi bekerja di bawah mereka."

Vando: "Kalau sampai polisi menemukan arsip penting kita di ruangan ini ... habislah kita."

Milka mematikan rekaman. Ia tidak memandang Vando. Hingga tak menyadari wajah Vando yang telah memutih mendengarkan sendiri percakapan mereka kembali.

"Ka-kamu? Ja-jadi orang itu beneran kamu?" Vando teringat kembali pada wanita yang berseragam kebersihan, menumpahkan air di ruang arsip beberapa waktu lalu.

Bukan hanya ketahuan selingkuh, Vando juga ketahuan sedang menyembunyikan kecurangannya.

Tatapan Milka masih lurus pada televisi yang mulai menghitam kembali. "Aku mendengar semuanya, dan benar ... orang yang kalian tegur itu, aku."

Suasana berubah hening.

Tak ada lagi suara selain napas Vando yang mulai memburu.

"Mas tahu ..."

"Apa yang paling menyakitkan?"

Baru kali ini Milka menatap mata suaminya. Vando sungguh gelisah dan ketakutan.

"Bukan karena Mas mencintai perempuan lain."

"Bukan juga karena Mas tidur dengan perempuan lain."

"Tapi ..." Suaranya sempat terhenti.

"... karena kamu menghina aku. Kamu bilang Irana lebih segalanya dari aku. Bahkan, dengan teganya kamu membandingkan fisik aku dengannya?"

Kalimat itu meluncur pelan. Tanpa tangisan.

Justru ketenangan itulah yang membuat dada Vando terasa ditekan sesuatu.

“Aku mendengar kalian membicarakan tubuhku. Membandingkanku dengan Irana. Menjadikan kehidupan rumah tangga kita jadi bahan tertawaan.”

Milka menatapnya lurus.

“Aku mendengar bagaimana kalian menjadikan aku bahan ejekan.”

Milka berhenti sejenak.

Tatapannya turun pada tangannya sendiri, sebelum kembali terangkat menatap Vando.

“Padahal ...”

Ada jeda pendek. Bukan karena kehabisan kata.

Melainkan karena merasa begitu bodoh pernah memberikan kesempatan kepada pernikahan yang sejak awal yang tidak dibangun atas dasar cinta.

“Sejak awal, pernikahan ini bukan lah karena cinta, Mas.”

Wajah Vando menegang.

“Tapi aku tetap mencoba.” Milka tersenyum tipis yang terasa ambar.

“Aku mencoba menghargai pilihan Papa. Aku mencoba menjadi istri yang baik. Aku mencoba percaya bahwa mungkin, suatu hari nanti ... perasaan itu bisa tumbuh.”

Jari-jari Milka perlahan mengepal di sisi tubuhnya.

“Aku bahkan sengaja mengambil cuti. Berusaha meluangkan waktu untuk lebih dekat denganmu sebagai suamiku.”

“Dan ternyata ...”

Ia mengembuskan napas pelan.

“... sebelum aku sempat benar-benar membuka hati, kamu sudah lebih dulu membuka tempat bagi wanita lain, yang tak lain sahabatku sendiri.”

Vando membuka mulut, tetapi Milka mengangkat tangan.

“Jangan.” Satu kata yang pelan.

Namun cukup untuk membuat Vando kembali bungkam.

“Apa pernah secuil ucapanku merendahkanmu karena harta keluargaku?”

Milka melangkah mendekat.

“Apa pernah aku mempermasalahkan ketika kamu hanya mengajakku tinggal di rumah kecil ini tanpa pelayan?”

“Pernahkah aku menertawakanmu karena keluargamu tidak memiliki kekayaan seperti keluargaku?”

Vando menelan ludah. Tidak ada jawaban.

“Tidak.” Milka menggeleng pelan.

“Karena aku tidak pernah menikahimu untuk harta.” Tatapannya mengeras.

“Aku menikahimu karena aku percaya pada pilihan Papa.”

“Dan setelah menikah, aku tetap berusaha menghargai laki-laki yang sudah menjadi suamiku.”

Milka menunjuk layar televisi yang kini telah menghitam.

“Tapi kamu?”

“Kamu justru menjadikan aku bahan tertawaan bersama perempuan lain.”

Vando semakin gelisah.

“Jadi jangan berdiri di depanku dan bicara seolah-olah kamulah satu-satunya orang yang terluka dalam pernikahan ini.”

Suara Milka tetap tenang, tanpa teriakan, tanpa getaran.

Namun justru ketenangan itu membuat setiap katanya terasa semakin tajam.

“Karena yang kamu hancurkan bukan hanya kepercayaanku.” Milka menatap lurus ke mata Vando.

“Kamu menghancurkan kesempatan yang bahkan belum sempat aku berikan sepenuhnya kepadamu.”

*bersambung*

1
MomyWa
plin plan amat lu jang, cemen
MomyWa
apa yg kau takutkan vando? lu udah bikin anak, tp egoisnya masih mau sm prawan
MomyWa
namanya yg haram emang gitu
MomyWa
lokasi dikawal penuh sama theo
MomyWa
emang kapan kamu nangis?
Dewi kunti
dah tak bagi vote ya,up lagi dong
Dewi kunti: aamiin,,semangaaaattt
total 2 replies
Anbu Hasna
karma beut ya...
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣
Anbu Hasna: Anda yg bikin Theo jadi merepotkan diri 🤣🤣
total 2 replies
Dewi kunti
berpapasan,jangan dipisah itu bukan pengulangan kata pas😤
SoVay: iye iye, ini udeh dganti buguyu 🙈
total 3 replies
MomyWa
main tebak2an siapa yg duduk itu? si black cobra apa white scalpel?
MomyWa
wkwkwkw...gombalannya mameeen, pengen diinget terus
MomyWa
bagi Milka, Theo 'B' aja 😂
Aidil Kenzie Zie
Naga di suruh awasi Bu Polisi malah kehilangan jejaknya 😡😡😡 siap-siap kena amuk Bos mu 🤭🤭🤭
SoVay: pasti dijagain juwita hatiku ❤️
total 1 replies
MomyWa
ke mana dong milka setelah kabur dr rumah?
SoVay: ke suatu tempat ❤️
total 1 replies
MomyWa
gmn nih, kok smpai kecolongan?
MomyWa
hahaha, senyam senyum dia
MomyWa
tidak semudah itu ferguso
Dewi kunti
klo dinovel mafia nya ganteng2 ,body bagus2, klo didunia nyata ganteng standar perut buncit🙈🙈🙈🙈🙈
Dewi kunti: yg selera yg pingin dunia nya aman🙈🙈🙈🙈
total 4 replies
MomyWa
suka karakter cewennya gak menye2.. perselingkuhan dibuat kayk myelidikin ksus pmbunuhan 🤪
MomyWa
pengen nyanyi: maju tak gentar, mengusir sitanggang 🤪
MomyWa
gak jd dapat, cerai ja, mumpung baru seumur jagung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!