Kalin Arsila Cayapata gadis 18 tahun yang punya pacar mata duitan, hubungan backstreet dari orangtua membuatnya harus bertemu sang pacar seperti maling, ngendap-ngendap sampai akhirnya dia bertemu denga Raksa Kamaludin, karyawan swasta biasa yang sampai umur 27 tahun belum juga nikah, yanh menyadarkan dia bahwa punya pacar matre itu bukan hanya bikin kantong bolong tapi bikin pengen nonjok.
Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kertas Coretan
Reno pergi dari toilet ninggalin abangnya yang bikin dia gedeg dengan sok jadi orang baik, nyatanya dia yang bikin Reno sakit hati. Sedangkan Arkan hanya bisa ngelus dadanya, ngeliat kelakuan Reno yang makin hari makin nggak dikenali.
Dengan hitungan sepersekian detik, Reno mengubah raut wajahnya menjadi sangat tenang dan juga ceria.
"Sorry ya, jadi cepet-cepet keluarnya..." kata Reno pada Melody.
"Iya nyantai aja kali,"
"Reno? lo disini juga, Arkan masih di dalem?" tiba-tiba Vela nongol.
"Kurang tau. Kita duluan yah?" Reno dengan seadanya, dia lalu menarik Melody menjauh dari gadis yang udah direbut abangnya.
Melody yang digandeng Reno mah iya iya aja, Reno nggak ngajakin Melody makan malem. Moodnya kacau abis. Sepanjang perjalanan, Reno juga nggak banyak ngomong. Dia sesekali aja ngejawab pertanyaan melody yang menjurus ke arah pribadinya.
"Maaf ya, kita nggak jadi makan malem. Soalnya gue mendadak ada urusan..." ucap reno setelah berhenti dan menurunkan Melody tepat di depan gerbang rumahnya.
"nggak apa-apa. Kan lain kali kita bisa jalan lagi," sahut melody.
"Kenapa nggak gue anterin masuk ke dalem, kalau nurunin disini gue kayak tukang ojeg tau!" seloroh Reno, dia berusaha asik.
"Nggak apa-apa, kan lo tadi ada urusan. Ntar lo kemaleman lagi. Jadi nggak apa-apa gue turun disini, lagian mana ada tukang ojeg seganteng dan sekeren kamu..." puji Melody.
"Deeuuuh, bisa aja lo, Mel. Gue kan jadi GR nih..."
Dan mereka pun ketawa kecil.
"Ya udah, gue balik, yaaak?" Reno pake helmnya lagi setelah sempat dia lepas tadi.
Cowok ganteng idaman cewek sejuta umat itu pun menarik gas dan pergi menjauh dri rumah di kawasan elit itu. Dan kebetulan dia berpapasan dengan sebuah mobil super mewah yang Reno lihat masuk ke arah rumah Melody.
"Fix horang kayahhh! gue mending mepet sama yang ini dulu," Reno bergumam.
Sementara di tempat lain, Kalin udah selesai mandi dan ganti baju.
"Tumben nggak WA gue. Apa dia nggak buka-buka hape?" Kalin menggosok rambutnya dengan handuk, dia ngelempar hape ke atas ranjang. Semnbari terus ngeringin rambut dengan mesin pengering.
"Ujian makin deket, apa mungkin dia lagi ngebatesin komunikasi sama gue dan fokus belajar?" Kalin berpikiran positif.
Drrrrrrttt!!!
Drrrrttttt!!
Ada suara getar dari hape Kalin, buru-buru dia matiin mesin pengering rambutnya dan nyambar tuh hape.
"Halo, Ren!" kalin dengan cepat nyaut sebelum liat siapa yang meneleponnya.
"Gue Raksa. Gue cuma mau bilang kalau, besok hari senen. Biasanya gue sibuk dan suka lupa buat makan siang. Jadi tugas lo besok, beliin gue makanan dan anterin ke kantor!" suruh Raksa.
"Oh ya, gue nggak suka pedes! nanti gue kasih tau, makanan apa yang gue pengen!
"tapi kan gue sekolaah---"
Tuuuuttt tuuuuttt!
Raksa memutus sambungan telepon itu secara sepihak.
"Seetaaaaaannn!! kenapa juga nyuruh gue? apa dia nggak kenal yang namanya deliverry order? setan emang abangnya si Nova!!!" Kalin uring-uringan.
"Katanya nggak ngutangin, tapi malah nyuruh gue beliin makanan. dasar om-om labil!" Kalin duduk di tepi ranjangnya kesel.
Kling!
Awas hape jangan sampai mati! kalau nggak? kamu tau akibatnya!
Sementara di seberang sana, Raksa cengar-cengir setelah mendapatkan ide buat ngerjain bocah setan yang dua kali bikin dia gedeg.
"Emangnya enak? hah?" Raksa nyengir devil.
Ceklek!
"Dih, napa Bang? lo cengar-cengir sendiri?" Nova nggak ada angin nggak ada ujan main buka pintu aja, dengan kepla menyembul dari balik pintu.
"Heh, Nova! kalau mau masuk tuh ketok pintu dulu. Jangan asal main buka aja!" raksa yang semula duduk kini berdiri dan membuka pintu lebar.
"Sejak kapan lo ngintip begitu?" lanjutnya dia ngedorong jidat adeknya dengan telunjuk, supaya dia mundur beberapa langkah.
"Gue nggak nginti, gue cuma---"
"cuma apa? jelas-jelas kepala lo nongol disini! mau latian jadi kuyang?"
"Dihhh, abang, ih!! amit-amit ih, kalau ngomong suka asal jeplak deh!" Nova ngetok kepalanya sendiri dengan buku-buku jari.
"Gue tuh udh ketok, tapi abang nggak denger. Pas dibuka elah lagi cengar-cengir sendirian. Bikin ngeri..." Nova alasan, padahal dia nggak ngetok pintu sama sekali.
"Kayaknya lagi seneng nih? duit jajan dong!" Nova ngejembreng tangannya di depan Raksa.
Raksa yang dimintai duit adeknya pun segera merogoh saku celana pendeknya, "Nih..." dia ngasih duit 50 ribuan.
"Beliin gue nasgor, bentar lagi paling lewat depan rumah. sisanya buat lo jajan! nasgor spesial nggak pakai ati ayam, dan jangan pedes!" Raksa ngusir Nova buat keluar kamarnya.
Nova yang dapat perintah dadakan pun langsung buffering, agak ilang koneknya dia.
Tok!
Tok!
Buru-buru Nova ngetok pintu membuka handle pintu, " Eh, tapi bang---"
"Ada apa lagi?" Raksa balik badan dan naikin alisnya.
"Tapi gue kesini bukan buat ngebeliin nasgor buat abang, ada hal yang lebih penting dari itu..." ucap Nova.
"Hal penting apa?" Raksa mandang Nova bingung.
"Tadi gue nggak sengaja nemuin ini di kamar, ruang tengah...." ucap Nova sembari nunjukin satu kertas kecil.pada abangnya.
Dia ngeliat satu kertas coret-coretan gitu.
"Apa ini punya ibu ya, Bang? apa kondisi ekonomi keluarga ini semencekam itu? sampai ibu harus jual perhiasan?" Nova nanya sama bangnya yang masih fokus ngeliat jumlah yang tertera di kertas itu.
'Gue yakin ini punya si bocah setan!' Raksa dalam hatinya.
"Jangan-jangan ibu udah nggak punya duit lagi? kalau hal itu sampai kejadian, abang bersedia kan bayarin uang sekolah yang tinggal beberapa bulan lagi? belum lagi iuran diluar itu juga banyak. Ada iuran album buat kenang-kenangan satu angkatan juga. abang mau bayarin kan?" Nova cemas.
"Kan lo masih punya bapak! kenapa jadi gue yang bayarin sekolah lo? jangan ngadi-ngadi, deh..." raksa nyimpen coretan itu ke dalam sakunya.
"Lagian, belum tentu ini punya ibuk. dah sana, pikiran lo fokus sama belajar dan ujian. Nggak usah sok mikirin duit dan ekonomi keluarga ini, yang ada pikiran lo semrawut! sekarang mending lo keluar dan beliin gue nasgor, gue udah laper!" Raksa ngajak adeknya keluar dari kamarnya, dan nyuruh tuh bocah turun ke bawah.
Brukkk!!
Klek klek!!
Kali ini Raksa mengunci kamarnya, dia nggak mau si Nova nyelonong lagi.
Pria itu lantas merogoh sakunya lagi, "Bocil sekarang ngeri kalau udah bucin. Mau-mau aja dia diporotin sama cowok! atau dia nggak sadar kalau cowoknya itu cowok matre plus tukang ngibul?" gumam raksa yang kemudian menyimpan kertas itu ke dalam dompet yang dia simpan di tas kecilnya yang biasa dia bawa ke kantor.