WARNING!!! Harap bijak membaca ya karena bikin panas dingin juga, hehehe
Hans seorang pria biasa yang masih memiliki seorang istri, terpaksa menerima tawaran seorang CEO cantik untuk menjadi suami kontraknya. Ia membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan putri kecilnya yang menderita penyakit kanker, sekaligus untuk memenuhi gaya hidup istrinya yang hedon.
Lantas, bagaimana Hans akan menjalani semua ini? Lalu kenapa sang Nona Ceo memilih Hans sebagai suami kontraknya? Padahal di luar sana banyak pria yang lebih hebat dari Hans.
Yukkkkk ikuti kisahnya yang nano-nano, hehehehe
IG @dydyailee536
FB Dydy Ailee
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Hasrat Menggebu
Kini keduanya sudah berendam di dalam bath up. Hans duduk dibelakang Raina. Ia menggosok lembut punggung Raina dengan scrub. Aktivitas intim yang sebelumnya tidak pernah di lakukan oleh Hans. Mengingat dirinya hanya orang biasa dan kamar mandinya tidak memiliki bath up. Raina terdiam sambil memeluk menelengkupkan kepala di kedua tangannya yang memeluk lututnya. Menikmati tangan Hans yang menggosok punggungnya dengan lembut. Hans pun tak banyak bicara dan membiarkan Raina menikmati sentuhannya.
"Hans," panggil Raina.
"Ya," sahutnya lembut.
"Hans kenapa kamu memilih menjadi seorang guru?"
"Karena itu adalah cita-citaku. Aku ingin memenuhi keinginan almarhum kedua orang tuaku. Mereka ingin melihatku menjadi seorang Pegawai Negeri. Karena Ayah ku dulu juga seorang guru. Ayahku ingin aku menjadi orang yang berguna dan bisa ikut mencerdaskan generasi penerus bangsa. Begitulah kata almarhum Ayah. Tapi aku tetap ikhlas mengabdi meskipun hanya sebagai guru honorer. Namun lambat laun pekerjaanku itu justru memicu masalah rumah tangga ku dengan Citra. Sejak putriku mulai masuk sekolah pertama kali, sejak itulah konflik mulai terjadi. Padahal sejak itu aku juga mengambil kerja part time di restoran. Gajiku dulu cuma 300 ribu dan setelah itu menjadi 600 ribu. Berkali-kali Citra memintaku untuk mencari pekerjaan lain tapi aku tetap mencoba bertahan. Toh aku juga sudah ada part time. Namun sejak dokter memvonis putriku sakit, akhirnya aku mencoba mencari pekerjaan lain."
"Lalu apa sikap istrimu langsung berubah?"
"Ya, tentu saja. Dia yang biasanya uring-uringan, menjadi lembut, hangat dan penuh perhatian. Bahkan dengan senang hati ia melayani aku di atas ranjang. Padahal sebelumnya saat aku meminta, dia selalu menolak. Mau melayani akupun dengan uring-uringan. Aku belum keluar saja, dia sudah memintaku untuk menghentikannya. Dan sekarang dia sama sekali tidak mau aku sentuh lagi karena semua hutang itu. Tiga bulan lebih aku merasa kosong, Raina. Aku butuh dukungan supaya semangat bekerja tapi dia malah selalu bersikap dingin dan ketus. Tapi ini semua memang salahku. Aku yang bodoh."
Raina kemudian mutar tubuhnya, berhadapan dengan Hans. Raina membelai wajah tampan itu.
"Kamu tidak bodoh, Hans. Tapi dia yang bodoh. Aku bisa bicara seperti ini karena aku pernah merasakan di posisi istrimu. Coba saja hidupnya tidak termakan gengsi, semuanya pasti baik-baik saja. Saat suamiku pengangguran pun, aku tidak malu untuk bekerja dan mengakui kekuranganku. Bahkan berapapun nafkah yang diberikan, aku tidak pernah mengeluh."
Hans tersenyum menatap Raina. Sosok wanita hebat namun tidak lupa akan kodratnya.
"Seandainya aku lebih dulu bertemu denganmu, Raina. Mungkin aku akan menjadi pria yang paling bahagia. Dan kita bisa memiliki keluarga yang bahagia."
"Sepertinya kamu mulai menyukai ku Hans? Semudah itu kah hatimu berpaling?" goda Raina dengan tatapan penuh selidik.
"Sepertinya begitu, Raina. Rasa yang muncul dengan sekejap. Aku sebenarnya bukan pria seperti itu. Tapi kamu dengan mudah menjeratku. Kamu memanfaatkan kelemahanku. Kamu memperlakukan aku dengan baik seperti manusia. Sedangkan istriku, selalu saja menghina dan menyalahkan aku saat aku butuh dukungannya."
"Tidak perlu berkecil hati, Hans. Kamu ini pria, masa lemah begini."
"Bersamamu, aku merasa lebih dihargai, Raina."
"Hans, sejujurnya aku yang langsung memilihmu menjadi gudang. Pertemuan pertama kita waktu itu, langsung membuatku jatuh cinta padamu. Aku menyerahkan tubuhku bukan semata karena nafsu tapi karena cinta juga. Karena aku tidak mau bercinta tanpa ada rasa cinta. Aku tidak peduli pasanganku cinta atau tidak, yang penting aku cinta dan hasratku terpuaskan."
"Aku tidak menyangka ada wanita yang begitu hebat jatuh cinta padaku. Padahal aku hanyalah pria yang amat sangat biasa, yang tidak pantas di miliki oleh mu."
"Sssttttttt," Raina menutup bibir Hans dengan telunjuknya.
"Kamu pantas untuk dimiliki." Raina lalu menangkup wajah Hans dan mengecup bibir Hans. Hans tanpa banyak berpikir langsung membalasnya. Hans kemudian mengangkat tubuh Raina keatas pangkuannya. Ciuman itu semakin panas. Tangan Raina menekan afur bath up yang berada di belakang Hans. Supaya genangan air dalam bathup tidak mengganggu fantasi bercintanya. Raina bisa merasakan junior Hans yang sudah berdiri, karena Raina tepat berada diatasnya.
"Hans, aku akan memasukkan milik mu tanpa menunggu milikku basah."
"Raina, apa tidak sakit?"
"Kita coba ya." Ucap Raina. Hans pun mengangguk. Raina mengangkat sedikit pinggulnya setelah itu mengarahkan junior Hans ke dalam liang senggamanya.
"Akkkkhhhhh....." teriak keduanya.
"Ohhhh nikmat sekali Hans."
"Ya, kamu memang sangat nikmat." Ucap Hans dengan senyum lebarnya. Dan air pun sudah menyusut.
"Saatnya women on top Hans."
"Ya, aku akan pasrah." Ucap Hans yang memberikan kebebasan pada Raina. Hans menyapu bibir Raina sembari Raina menaik turunkan pinggulnya. Hans memeluk erat Raina sambil sesekali memainkan bongkahan yang padat dan sintal itu. Raina lalu mencodongkan tubuhnya belakang, memberikan kesempatan bagi Hans untuk bermain dengan gunung kembarnya. Hans tentu saja tidak melewatkan kesempatan itu. Dan keduanya pun kembali melakukan permainan panas di dalam bath up. Hans seperti bukan dirinya. Ia merasa kini telah dikendalikan oleh hasrat Raina yang menggebu. Terlebih sikap Raina yang terbuka dan apa adanya membuat Hans dengan mudah terpikat oleh rayuannya. Seorang pria normal pun tidak ada yang bisa menolak seorang wanita seperti Raina.