Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL1
FLASHBACK
Tiga tahun sebelumnya.
Kalau saat itu ada yang bertanya kepada Hannah bagaimana rasanya menjadi seorang istri, mungkin perempuan itu akan menjawab sambil tersenyum bahwa hidupnya baik-baik saja.
Ia memiliki suami yang mencintainya, pekerjaan yang ia sukai, dan rumah sederhana yang selalu membuatnya ingin segera pulang setiap kali hari terasa melelahkan. Tidak mewah, memang. Namun baginya, kebahagiaan tidak pernah diukur dari seberapa besar rumah yang mereka tempati atau seberapa banyak tabungan yang mereka miliki. Selama ada Romi di sisinya, semuanya terasa cukup.
Begitu pula bagi Romi.
Sejak awal menikah, laki-laki itu tidak pernah memperlakukan Hannah sekadar sebagai istri. Hannah adalah teman berbicara, tempat berbagi lelah, sekaligus rumah yang selalu ingin ia datangi setelah menghabiskan waktu seharian di kantor. Mereka tidak pernah menjadi pasangan yang gemar mengumbar kemesraan di depan banyak orang, tetapi siapa pun yang melihat keduanya pasti tahu bahwa hubungan itu dibangun di atas rasa saling menghargai.
Tahun pertama pernikahan mereka berlalu tanpa banyak masalah.
Mereka masih sibuk menyesuaikan ritme hidup sebagai pasangan suami istri. Sesekali berbeda pendapat tentang hal-hal kecil, saling ngambek karena persoalan sepele, lalu tertawa lagi beberapa jam kemudian seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Sampai akhirnya, memasuki tahun kedua pernikahan, percakapan tentang anak mulai lebih sering hadir di antara mereka.
"Kalau nanti kita punya anak perempuan, kamu maunya mirip siapa?" tanya Hannah suatu malam sambil melipat pakaian yang baru selesai dijemur.
Romi yang sedang bersandar di kepala ranjang mengangkat wajah dari layar ponselnya.
"Mirip kamu."
Hannah tersenyum kecil.
"Kenapa?"
"Soalnya kalau mirip aku kasihan."
Hannah terkekeh.
"Memangnya kenapa kalau mirip kamu?"
"Nanti bandel."
"Bisa aja."
"Kalau mirip kamu, kan enak."
"Enak apanya?"
"Cantik."
Hannah melempar gulungan kaus kaki ke arah suaminya.
"Gombal."
Romi tertawa kecil sambil menangkap gulungan kaus kaki itu.
"Kan memang cantik."
Hannah hanya menggeleng pelan, tetapi sudut bibirnya tidak mampu menyembunyikan senyum yang perlahan mengembang.
Malam itu mereka kembali berbicara tentang banyak hal. Tentang nama anak, sekolah yang kelak ingin mereka pilih, sampai hal-hal sederhana seperti siapa yang akan lebih galak jika anak mereka nanti susah makan.
Tidak ada yang menyangka bahwa percakapan-percakapan kecil seperti itulah yang suatu hari nanti justru akan menjadi kenangan paling menyakitkan.
Bulan demi bulan berlalu.
Mereka menunggu.
Lalu menunggu lagi.
Namun kabar yang mereka harapkan tak kunjung datang.
Awalnya Hannah tidak terlalu memikirkannya. Ia percaya setiap anak memiliki waktunya sendiri untuk hadir. Bukankah banyak pasangan yang baru dikaruniai momongan setelah bertahun-tahun menikah? Karena itulah ia memilih menikmati prosesnya. Menjaga pola makan, mulai rutin berolahraga, mengurangi minuman berkafein, hingga mengatur jam istirahat sebaik mungkin. Semua ia lakukan tanpa merasa terbebani.
Ia yakin Tuhan sedang mempersiapkan waktu terbaik. Sayangnya, keyakinan itu perlahan mulai terkikis oleh suara-suara dari luar.
Sudah isi belum?
Kapan nih kasih cucu?
Jangan terlalu sibuk kerja.
Perempuan itu tugas utamanya kan melahirkan.
Awalnya Hannah masih bisa tersenyum setiap kali mendengar pertanyaan seperti itu. Ia menganggap semuanya hanya bentuk perhatian. Namun semakin sering mendengarnya, semakin sulit pula ia meyakinkan diri bahwa semua orang benar-benar sekadar peduli.
Terutama ketika pertanyaan yang sama mulai datang dari ibu mertuanya.
Ibu Ratih memang tidak pernah memarahinya. Tidak pernah membentaknya. Bahkan nada bicaranya selalu terdengar lembut. Namun justru kelembutan itulah yang kadang terasa jauh lebih menyakitkan.
"Na, kemarin ibu dengar ada terapi baru buat program hamil. Dicoba ya."
"Iya, Bu. Nanti saya cari informasinya."
"Kalau perlu ibu temani."
Hannah hanya mengangguk sambil tersenyum.
Percakapan seperti itu terus berulang setiap kali mereka bertemu.
Semula ia masih menganggapnya wajar. Sampai suatu sore, ketika Ibu Ratih kembali datang berkunjung.
"Na."
"Iya, Bu?"
"Kamu sudah coba semua cara, kan?"
"In syaa Allah sudah."
Ibu Ratih mengembuskan napas pelan.
"Mungkin kamu perlu usaha lebih keras lagi."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa, Hannah merasa seolah semua beban tiba-tiba diletakkan di pundaknya seorang diri.
"Aku dan Mas Romi sama-sama terus berusaha, Bu," jawabnya pelan.
"Ibu tahu."
Ibu Ratih mengangguk.
"Tapi ibu cuma pengin cepat gendong cucu."
Hannah tersenyum tipis.
"Iya, Bu."
Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Padahal di dalam dadanya, ada begitu banyak kalimat yang ingin ia ucapkan.
Bu... saya juga ingin menjadi ibu.
Saya juga ingin mendengar ada yang memanggil saya Mama.
Saya juga ingin merasakan bayi bergerak di dalam kandungan saya.
Tapi semua itu bukan sesuatu yang bisa saya minta lalu langsung diberikan.
Tidak satu pun kalimat itu berhasil keluar.
Hannah memilih diam.
Karena ia tahu, menjelaskan apa pun tidak akan mengubah harapan seorang ibu kepada anak semata wayangnya.
Dan sejak hari itu, pertanyaan tentang anak tidak lagi terdengar seperti basa-basi. Melainkan seperti pengingat bahwa sampai hari ini, ia masih gagal memenuhi satu harapan yang dianggap paling penting dalam pernikahannya.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐