Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : Sah di Bawah Atap Sederhana
Hari Jumat yang penuh berkah akhirnya tiba. Di sebuah masjid jami kecil berarsitektur kayu kuno yang tidak jauh dari kediaman keluarga Sri, suasana sakral begitu terasa menembus kalbu. Tidak ada dekorasi mewah pesta pora bernilai ratusan juta, namun ruangan suci itu terasa sangat sejuk dan dipenuhi oleh untaian doa kebaikan. Bagus duduk bersila dengan tegap di depan meja akad yang dialasi kain putih murni. Jantungnya berdegup kencang memompa adrenalin, namun sorot matanya memancarkan ketenangan jiwa yang sangat matang berkat pilar Ilmu Tawakalan Ahadi yang melandasinya.
Di hadapan Bagus, Aryo Sukoco sudah duduk bersila dengan pembawaan yang berwibawa sebagai wali nikah. Di sisi kanan dan kirinya, tampak Mas Broto dan beberapa sesepuh bertindak sebagai saksi nikah yang sah. Sementara itu, Sri Rahayu duduk dengan sangat anggun di barisan belakang beralas karpet hijau, mengenakan kebaya putih bersahaja yang dibalut hijab mocca senada. Wajah ayunya tampak merona segar, memancarkan binar kebahagiaan murni manusia seutuhnya dari sepasang matanya yang indah.
Aryo Sukoco perlahan mengulurkan tangan kanannya, menjabat sangat erat telapak tangan Bagus. "Saudara Bagus Sanjaya bin Warsito, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Sri Rahayu, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan logam mulia sepuluh gram, dibayar tunai!"
Bagus menarik napas dalam-dalam, mengunci seluruh fokus sarafnya, lalu membalas jabatan tangan erat sang mertua dengan suara yang sangat lantang, tegap, dan berwibawa menembus seisi ruangan masjid. "Saya terima nikah dan kawinnya Sri Rahayu binti Ahmad Junaedi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?” ayah Sri.
"Sah! Sah! Alhamdulillah..." seru para saksi dan kerabat yang hadir serentak, memecah keheningan dengan senyum kelegaan yang luar biasa luas.
Gema doa keberkahan 'Baarakallahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair' berkumandang syahdu memenuhi langit-langit masjid. Sri perlahan melangkah maju mendekati posisi duduk Bagus. Dengan air mata kebahagiaan yang tidak bisa dibendung lagi menetes di pipinya, Sri meraih tangan kanan Bagus lalu mencium punggung tangan suaminya dengan khusyuk sebuah rasa hormat dan cinta yang tumbuh murni seratus persen dari lubuk sanubarinya tanpa ada paksaan mantra hitam mana pun. Bagus kemudian meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas ubun-ubun kepala Sri, membacakan doa perlindungan. Saat kulit mereka bersentuhan, mengalir sebuah hawa sejuk alami yang sangat mendalam memenuhi rongga dada mereka berdua.
Sore harinya, setelah seluruh prosesi sederhana di masjid selesai, Bagus membawa Sri pulang menuju tempat tinggalnya. Motor Beat karbu tua milik Bagus berhenti tepat di depan sebuah gang sempit, kompleks rumah kontrakan berderet yang pintunya saling berhadapan. Bagus menurunkan standar motornya, lalu menatap Sri dengan tatapan mata yang penuh rasa bersalah namun tulus.
"Sri... Mas cuma bisa bawa kamu ke rumah kontrakan yang sempit dan pengap seperti ini. Tempat ini jauh berbeda dengan kemewahan rumah bapakmu atau apartemen tempat kamu tinggal dulu. Apa kamu... beneran tidak menyesal?" tanya Bagus pelan, suaranya agak bergetar.
Sri tersenyum sangat manis, menggelengkan kepalanya tanpa ada keraguan sedikitpun. Ia melepas helm cadangannya, lalu menggandeng erat lengan jaket hijau ojol milik Bagus. "Mas Bagus bicara apa, sih? Kan Sri sendiri yang bilang sudah siap. Di mana pun Mas Bagus tinggal, di situlah rumah Sri sekarang. Sri cuma mau mengabdi dan menemani perjuangan hidup Mas dari bawah," jawab Sri dengan nada suara yang sangat lembut meneduhkan batin Bagus.
Bagus menarik nafas plong, rasa bahagia yang luar biasa membuncah di dadanya. Ia membuka pintu kayu kontrakannya yang sederhana. Di dalam ruangan sempit berlantai semen bersih yang hanya diterangi lampu neon watt kecil itu, Bagus menuntun Sri masuk. Ruangan itu tampak sangat rapi dan wangi, karena Mas Broto dan Mbak Yuni rupanya sudah membantu membersihkannya sejak pagi hari.
Malam pertama mereka sebagai suami-istri yang sah dilewati dengan suasana yang sangat hangat dan penuh tawa kecil yang bahagia. Mereka duduk berdua diatas kasur lantai yang tipis, saling bercerita tentang rencana masa depan mereka di kota tanpa ada sekat materi yang memisahkan. Sambil menatap wajah ceria istrinya di bawah temaram lampu kamar, Bagus bersumpah di dalam batinnya untuk bekerja sekeras mungkin demi memuliakan wanita yang dicintainya itu melalui jalur rezeki yang halal.
Esensi dari Ilmu Benteng Neroko Jasad yang mendarah daging di dalam diri Bagus yang bersumber dari kokohnya iman, bener-bener telah menjelma menjadi perisai pelindung yang luar biasa kokoh bagi ketenangan rumah tangga baru mereka. Kamar kontrakan yang sempit itu malam ini memancarkan aura kedamaian spiritual yang sangat kental dari jalur langit. Skenario terbaik milik Sang Pemilik Hati akhirnya bekerja dengan sangat sempurna bagi dua jiwa yang mau bersabar menempuh jalan yang halal. Malam berganti sunyi, mengunci kebahagiaan murni mereka di balik dinding kesederhanaan.
“Ketika selembar sajadah dan atap kontrakan yang sederhana telah sah disatukan oleh rida-Nya, kemilau kemewahan dunia takkan lagi mampu menggoda mata. Kebahagiaan sejati tidak pernah diukur dari luasnya singgasana materi, melainkan dari kedamaian hati sepasang hamba yang murni saling mencintai karena Allah.”
— Sang Alifas Yang Merumput