Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu masa lalu
"Mbak aku pergi dulu ya!" teriak Sena di depan rumah.
Alya mengelengkan kepalanya, dia segera ke depan membawa segelas susu hangat.
"Bahkan hari minggu kamu tetap bekerja?" tanya Alya yang memperhatikan Sena memasang sepatunya secara terburu-buru. Bukankah seharusnya orang yang berpamitan sudah siap? Kenapa Sena berbeda?
"Bukan kerja Mbak, tapi mau jalan sama teman," sahut Sena masih fokus pada tali sepatunya, duduk di teras.
"Cowok apa cewek?"
"Arkana."
"Ouh Arkana." Alya mengulum senyum, akhir-akhir ini memang Sena sering kali pergi bersama Arkana. Biasanya pamitan karena kerjaan, tetapi hari ini sudah terang-terangan. "Hati-hati kalau gitu. Jaim dikit lah biar ada yang kecantol sama kamu tuh," candanya.
"Ih Mbak. Kalau cowok beneran suka mah, mau aku cosplay jadi kuntilanak juga tetap sayang."
Dan kedua perempuan itu tertawa sebelum akhirnya berpisah karena kegiatan.
Alya menutup pintu kontrakannya dan memilih kesibukan di dalam rumah. Dan pikirannya tertuju pada pembicaraanya dengan Adrian beberapa hari lalu di mobil.
Adrian terus memohon padanya agar menerima biaya yang sudah dia bayarkan hingga persalinan. Juga tidak menolak sekiranya Adrian memberikan bantuan berupa belanjaan anak.
Alya menyetujuinya dengan syarat semuanya dalam bentuk barang, bukan uang atau saldo.
"Astaga anak itu lupa apa lagi," gumam Alya ketika mendengar ketukan pintu yang menyadarkannya dari lamunan.
Dia langsung membuka pintu dan terkejut bukan Sena yang kembali, tetapi Dipta. Kali ini pakaian pria itu tidak terlalu formal, bisa dibilang sangat santai. Hanya memakai kemeja berwarna brown dipadukan celana pendek putih. Kancing kemeja paling atasnya dibiarkan terbuka.
"Mas Dipta?"
"Uhm kamu sibuk?" tanya Dipta.
"Kenapa memangnya mas?"
"Saya suntuk dirumah mau jalan-jalan tapi nggak punya teman. Ada sih satu, tapi lagi jalan sama cewek."
"Arka ya?" Alya mengulum senyum. "Lagi jalan sama Sena."
"Itu tau, jadi boleh kan ditemenin?"
"Uhm." Alya tampak berpikir sebelum akhirnya menyetujui.
Dia meminta untuk Pradipta menunggu beberapa menit. Padahal tanpa disuruh, Pradipta sudah menunggunya cukup lama. Mungkin sekitar lima bulan tanpa kepastian?
Dipta duduk di teras rumah sembari memainkan ponselnya, karena memang hanya benda itu dan sebuah dompet di saku celana. Eh satu lagi, kunci mobil.
Sebenarnya terlihat gabut, apalagi dia tidak merokok seperti teman-temannya. Bahkan sering diejek cemen, banci dan apalah, tetapi ia tidak pernah terbawa gengsi untuk melakukan itu semua demi kesehatannya.
Apa lagi sekarang dia sedang berusaha mendekati ibu hamil, dimana harus super bersih agar tidak menganggu janinnya.
"Ayo mas."
Dipta langsung berdiri dan membalik tubuhnya. Dia mengerjap pelan melihat penampilan Alya yang selalu membuatnya terpukau.
Alya tampak angun dengan balutan mantel pendek di bawah lutut, berwarna putih gading dengan potongan cape yang jatuh lembut menutupi bahunya. Di balik mantelnya, lengan panjang dengan potongan rapi menyelimuti lengannya.
Rambutnya seperti biasa dibiarkan tergerai sehingga terlihat manis.
Tanpa sadar Dipta tersenyum tipis, outfit mereka couple tanpa didiskusikan.
"Ayo." Dipta meraih tangan Alya untuk digenggam.
Namun, tidak bertahan lama karena wanita itu menariknya. "Saya bisa jalan sendiri mas."
Sial, dia baru saja ditolak dengan senyuman hangat. Dipta bisa gila lama-lama.
"Tenang Dipta, sekarang nggak boleh ugal-ugalan. Nanti setelah melahirkan dan Alya resmi bercerai!" batin Dipta berteriak demi menyadarkan dirinya sendiri.
"Perkiraan kamu melahirkan dua bulan lagi ya? Rencana kedepannya bagaimana?" tanya Dipta agar tidak canggung di dalam mobil.
"Mungkin setelah usia bayi saya dua-tiga bulan, saya akan kembali ke aktivitas dulu."
"Ouh kalau begitu tawaran saya masih berlaku untukmu."
Alya lantas menoleh. "Tawaran jadi MUA terkontark untuk Golden Promise?" dia memastikan.
"Hm, tapi sistemannya freelance. Kamu datang saat ada jadwal saja. Bisa sambil mengurus anakmu. Nanti terkait kontrak lebih jelasnya saya kirimkan. Soalnya memang Golden Promise sistemnya begitu jika menyangkut MUA yang sudah punya nama."
Alya mengangguk-anggukkan kepalanya, dia sedikit tertarik dengan tawaran Dipta.
Pembicaraan mereka seputar pekerjaan membuat mereka merasa perjalanan terlalu singkat.
"Tunggu saya di sini," ujar Pradipta yang membukakan pintu mobil untuk Alya.
Wanita itu mengangguk, berdiri di depan pintu mall menunggu Pradipta. Matanya sibuk melirik kanan dan kiri.
Dengan Pradipta, dia tidak pernah ditanya mau kemana dan akan kemana, tetapi tujuannya selalu sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran.
Padahal tadi Alya hanya mengatakan ingin belanja beberapa keperluan dan pria itu membawanya ke mall.
Alya mundur beberapa langkah agar tubuhnya sedikit terhalangi oleh pot bunga raksasa yang ada di luar pintu mall. Bukan tanpa alasan, dia baru saja melihat Adrian dan Safira turun dari mobil.
Safira tampak bahagia, mengamit lengan Adrian yang sibuk menerima telepon.
"Jangan dekat-dekat pot, takutnya kamu jatuh," ujar Dipta menarik matel tebal milik Alya.
"Refleks."
Wanita itu menyeimbangkan langkah Dipta memasuki mall sebab tangannya kembali digenggam. Kali ini dia tidak menolak. Dia kadang susah menjaga keseimbagan tubuhnya, dan dengan mengenggam tangan Dipta, dia tidak akan terjatuh jika tidak sengaja bersenggolan orang lain.
"Suka es krim?"
"Suka."
"Sama, coklat atau strawbery?"
"Biasanya coklat."
Dan ya Dipta langsung berhenti di depan penjual es krim. Alya kira Dipta hanya bertanya, bukan berniat untuk membeli.
"Terimakasih."
"Sama-sama ibu hamil."
Dan mereka kembali jalan-jalan mengelilingi mall, sesekali Dipta memperhatikan ekspresi Alya, memastikan wanita itu masih kuat berjalan atau mengeluh diam-diam.
"Sudah dapat belum yang kamu mau?"
"Belum Mas."
"Ya udah kita ke lantai tiga."
Dipta berjalan, kali ini langkahnya dibiarkan pelan untuk mengimbangi kaki kecil Alya. Berdiri di depan lift dan menunggunya terbuka.
Keheningan tercipta sesaat ketika pintu lift terbuka dan sepasang suami istri berada di dalam sana.
Alya refleks memundurkan langkahnya, melihat Adrian dan Safira di dalam sana. Dia enggang masuk, tetapi tangannya ditarik oleh Pradipta.
Jadilah dua pasang manusia berada di dalam lift itu. Tidak banyak pembicaraan dan lift seolah lambat berjalan, seakan lantai yang hendak dituju ribuan kilometer.
"Kamu sekarang tinggal dibandung Al?" Safira memulai pembicaraan. "Aku dan mas Adrian sedang liburan, bisa dibilang bulan madu kedua," lanjutnya lagi.
"Sayang, kamu mengenalnya?" tanya Dipta menatap Alya.
Dan bukan hanya Alya yang terkejut dengan pertanyaan itu. Adrian yang sejak tadi berusaha acuh puh ikut menoleh, apalagi Safira.
Terlalu ingin menyombongkan diri, Safira sampai tidak memperhatikan tangan Alya yang digenggam oleh Pradipta. Tadi dia hanya mengira CEO Golden Promise dan Alya hanya kebetulan bertemu saat menunggu lift terbuka.
"Nggak mas." Alya mengelengkan kepalanya.
"Ouh mungkin dia bukan bicara sama kita." Pradipta menarik Alya keluar dari lift setelah tiba di lantai tiga.
.
.
.
Dipta nih kayaknya kalau dapat Alya bakal petantang-petenteng😅
Jangan lupa like, komen dan subscribe. Dukungan kalian semangat author.
makin besar kepala aja diaa....
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya