NovelToon NovelToon
Dangerous Obsession : Undercover Love

Dangerous Obsession : Undercover Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:130.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hais Tauahh

Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.

Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.

Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 | Predator di Balik Gerbang Kampus

Elara menghilang ke dalam gang-gang gelap kota, napasnya tersengal. Luka di perutnya terasa perih, namun adrenalin memaksanya untuk tetap bergerak. Begitu ia merasa cukup jauh, ia menggunakan ponsel enkripsi daruratnya untuk menghubungi Dave, rekan setimnya yang merupakan ahli teknologi di agensi.

​"Dave jemput aku di koordinat yang kukirim sekarang. Kondisi darurat," bisik Elara.

​Tak lama, mobil SUV hitam tanpa lampu berhenti di depannya Dave segera menariknya masuk. "Elara? Kau berdarah?"

​"Jalan! Jangan banyak tanya," Elara bersandar, tangannya mendekap Perutnya yang terlindung rompi anti-peluru. Beruntung, peluru itu hanya memberikan efek shock yang hebat, namun rompinya menahan penetrasi.

​"Siapa yang melakukan ini? Misi pengintaian Dante Moretti seharusnya berjalan lancar," tanya Julian, matanya terpaku pada jalan.

​"Dante dia tahu Dave Dia tahu siapa aku sejak awal," jawab Elara dengan suara dingin. "Dia bermain denganku. Dia membiarkanku masuk hanya untuk menghancurkanku dari dalam."

​Sesampainya di apartemen rahasianya, Elara segera melepas Pakaiannya yang berlumuran darah. Ia membuang napas lega saat menyadari rompi antipelurunya telah menyelamatkan nyawanya. Namun, saat ia hendak membuang gaun malamnya yang robek, ia merasakan sesuatu yang keras terselip di balik saku tersembunyi gaun itu.

​Jantung Elara berhenti sejenak. Ia menarik keluar sebuah benda mikro berukuran sebesar ujung jari sebuah tracker GPS kelas militer dengan logo simbol ular melingkar lambang sindikat Moretti.

​"Sialan," umpat Elara.

​Dante tidak hanya melukainya; pria itu telah menandainya. Pria itu sudah memasukkan alat pelacak ini saat ia 'menolongnya' tadi di tempat kejadian. Dante tidak membiarkannya lolos ia sengaja membiarkannya pergi agar bisa melacak markas rahasia Elara.

​Di sisi lain kota, di Penthouse Pribadinya yang gelap, Dante Moretti sedang menatap layar lebar di dinding. Titik merah kecil bergerak perlahan di peta kota, menuju ke sebuah apartemen di distrik pusat.

​Dante menyesap wiskinya, menatap titik merah itu dengan seringai buas. Ia tidak terburu-buru. Ia membiarkan Elara merasa aman, membiarkan gadis itu berpikir ia berhasil kabur.

​"Kau bisa lari sejauh yang kau mau, Elara," gumam Dante pelan, suaranya memenuhi ruangan yang sunyi. "Tapi kau adalah milikku. Setiap langkahmu, setiap napasmu, adalah bagian dari permainanku sekarang."

​Dante meletakkan gelasnya, lalu mengambil pistol Glock dari meja. Ia tidak berniat memanggil anak buahnya. Kali ini, ia akan menjemput 'Propertinya' sendiri.

​Elara, yang kini sedang membersihkan lukanya di kamar mandi, tiba-tiba merasakan firasat buruk. Bulu kuduknya berdiri. Ia mematikan lampu apartemen dan meraih senjatanya. Ia sadar, tracker itu hanyalah pembuka. Dante Moretti sudah dalam perjalanan, dan malam ini tidak akan berakhir sampai salah satu dari mereka hancur.

●●●

Sinar matahari pagi yang menusuk menembus tirai kamar membuat Elara terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Kenangan semalam darah, tembakan, dan tatapan dingin Dante Moretti masih membekas jelas.

​"Nona, sudah jam delapan," suara pelayan membuyarkan lamunannya.

​Elara tersentak. Ia memiliki jadwal kuliah pagi di University of Washington. Ia segera menyambar asal pakaian di lemari; kaus Putih Polos dan celana jeans. Tanpa sempat merias diri, ia melangkah terburu-buru menuju ruang makan.

​Namun, langkahnya terhenti. Di sana, duduk dengan santai sambil menyesap kopi, adalah Julian Vance, kakaknya yang juga menjabat sebagai Petinggi di agensi.

​"Apa yang kau lakukan di sini?" Elara bertanya dengan nada tajam, rasa Paniknya memuncak.

​julian menatapnya tenang. "Aku harus memastikan adikku tidak melakukan hal bodoh. Kau tampak lelah, Elara. Apa ada sesuatu yang ingin kau ceritakan mengenai kejadian semalam?"

​Elara mengabaikan pertanyaannya, menyambar kunci mobil, dan keluar dengan membanting pintu. "Aku tidak punya waktu untuk interogasi pagi!"

​Sesampainya di kampus, Elara terlambat lima belas menit. Ia mencoba menyelinap masuk ke kelas Strategi Global, namun engsel pintu kayu tua itu mengeluarkan derit yang menyayat telinga.

​SREKKK.

​Seluruh kelas menoleh. Professor Evans menatapnya dengan pandangan dingin dari balik kacamata.

​"Ms. Vance, ini ketiga kalinya minggu ini. Apa alasan klise kali ini?"

​Elara berdiri tegak, menyusun kebohongan yang paling tidak masuk akal agar mereka tidak curiga bahwa ia baru saja berhadapan dengan mafia. "Professor, saya terjebak dalam kemacetan panjang karena ada penangkapan sindikat kriminal di jalur utama. Saya terpaksa memutar jalan dan hampir menjadi saksi mata. Saya rasa itu alasan yang cukup valid untuk keamanan nasional?"

​Seisi kelas terdiam. Professor Evans memijat Pelipisnya, tampak tidak berdaya melawan argumen Elara. "Duduk, Ms. Vance. Jangan ulangi lagi."

​Elara melangkah menuju bangkunya di samping Kasey, sahabat karibnya.

​"Alasanmu tadi sangat buruk," bisik Kasey, menahan tawa. "Kau terlihat pucat sekali. Apa kau benar-benar sedang dikejar penjahat, atau kau hanya kurang tidur setelah pesta semalam?"

​"Aku tidak bisa tidur, Kasey," bisik Elara kembali, matanya melirik ke luar jendela dengan waspada.

​"Ms. Vance! Coba selesaikan persamaan di layar ini sekarang," suara Professor Evans kembali menginterupsi.

​Elara menatap layar, otaknya bekerja secepat kilat. Ia menjawab dengan benar dalam hitungan detik. Ia memang jenius, dan itulah satu-satunya hal yang menjaganya tetap terlihat "normal" di mata publik.

​Namun saat ia kembali menatap ke luar jendela, ia merasa seolah ada sepasang mata yang mengawasinya dari mobil hitam yang terparkir jauh di area parkir. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba menenangkan diri Dante tidak akan mungkin bisa melacaknya secepat ini.

​Ia harus percaya bahwa identitasnya tetap aman, setidaknya sampai ia berhasil menyelesaikan misi ini atau sampai Dante Moretti memutuskan untuk datang menjemputnya.

Setelah kelas berakhir, Elara dan Kasey melangkah keluar menuju pelataran parkir yang terik. Suasana kampus yang biasanya riuh mendadak berubah menjadi hening. Mahasiswi-mahasiswi di sekitar mereka berhenti berjalan, membisikkan sesuatu sambil menatap ke arah gerbang utama dengan tatapan memuja sekaligus ngeri.

​Di sana, sebuah hypercar hitam dengan mesin yang menderu rendah terparkir menantang. Dan bersandar di pintu mobilnya, dengan setelan jas hitam yang tampak terlalu mewah untuk lingkungan universitas, adalah Dante Moretti.

​Elara membeku. Darahnya terasa dingin. Bagaimana mungkin dia bisa menemukannya secepat ini?

​"Ya Tuhan, Elara lihat pria itu," bisik Kasey, matanya berbinar. "Dia tampak seperti dewa kematian yang turun ke bumi. Siapa dia?"

​Elara tidak menjawab. Ia segera menarik lengan Kasey, memutar arah menuju jalan pintas di balik gedung perpustakaan. "Lupakan pria itu, Kasey. Kita harus pergi sekarang."

​"Hei, tunggu! Kenapa kau jadi gugup begini?" tanya Kasey bingung.

​Namun sebelum mereka sampai di tikungan, sebuah bayangan tinggi telah berdiri tegak di depan mereka, memotong jalan. Kecepatannya tidak manusiawi. Elara hampir menabrak dada bidang Dante yang keras seperti baja.

​Dante tidak menatap Kasey. Tatapan tajamnya, yang lebih tajam dari silet, terkunci pada Elara.

​"Kau melupakan sesuatu, Sayang," suara Dante merendah, berat, dan penuh aura otoritas yang membuat Kasey mundur ketakutan.

​"Kasey, lari!" perintah Elara tegas.

​Kasey, yang merasakan atmosfer mencekam di sekitar pria itu, tanpa pikir panjang langsung berlari menjauh, meninggalkan Elara sendirian menghadapi sang predator.

​Dante segera menarik pinggang Elara dengan Posesif, memutar tubuhnya hingga Punggung Elara menempel erat pada dada bidangnya. Dante mendekatkan wajahnya ke leher Elara, menghirup aroma tubuhnya dengan cara yang sangat intimidatif.

​"Jangan pernah mencoba lari dariku lagi," bisik Dante, suaranya sedingin es namun sarat dengan obsesi yang kental.

​Elara berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman Dante di pinggangnya tidak goyah sedikitpun.

"Apa maumu, Dante? Mau membunuhku di depan umum? Silakan lakukan, aku tidak takut!"

​Dante melepaskan pegangannya, membalikkan tubuh Elara hingga mereka berhadapan. Ia menatap ke arah perut Elara tempat di mana peluru semalam mengenai rompi antipelurunya.

​"Aku tidak datang untuk membunuhmu," Dante meraih tangan Elara dan menempelkannya di dada kirinya, tepat di mana jantungnya berdetak terlalu kuat, terlalu stabil. "Aku datang untuk memastikan bahwa properti berhargaku tidak rusak."

​Elara menatap Dante dengan horor. " kau benar-benar sakit jiwa."

​Dante tertawa, tawa yang tidak menyentuh matanya yang gelap gulita.

" Mungkin. Tapi ingat ini, Elara. Di manapun kau bersembunyi, di balik buku-buku kampusmu atau di balik lencana agenmu, aku selalu bisa melihatmu."

​Dante melepaskan tangannya, lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Sebelum mobil itu melesat pergi, ia sempat menoleh sejenak, memberikan tatapan yang membuat Elara gemetar bukan karena takut, melainkan karena ia menyadari bahwa permainannya dengan Dante baru saja memasuki tahap yang jauh lebih berbahaya.

●●●

1
Anonim
cieeee nyaman😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
pokoknya harus😍😍😍
Anonim
lanjut deh
Adalah
😍😍😍
Adalah
next😍😍😍
Adalah
lanjut😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍 pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
lama-lama jadi cinta😍😍
Biruku: terima kasih atas komentar😍😍
total 1 replies
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
pokoknya harus lanjut😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
cieee😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍
ada saja
ciee cemburu😍😍😍
ada saja
😍😍😍
Biruku: terimakasih👍👍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!