NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal yang tak pernah di inginkan

Napas Chensi terasa berat dan berbau alkohol yang menyengat. Tatapannya yang biasanya tajam dan dingin kini terlihat kabur, namun ada sinar aneh yang menyala di baliknya—campuran keinginan, kebingungan, dan rasa ingin tahu yang sudah lama terpendam. Ia terus melangkah mendekat, membuat Annisa terpaksa mundur selangkah demi selangkah sampai punggungnya tersandung pinggir meja rias.

“Tuan Chensi, tolong tenanglah,” ucap Annisa dengan suara bergetar, tangannya memegang erat ujung nampan seolah itu bisa menjadi perisai. “Tuan sedang mabuk. Mari saya bantu Tuan berbaring, besok pagi semuanya akan terasa lebih baik.”

Chensi menggeleng pelan, senyum miring yang tidak biasa terukir di bibirnya. “Mabuk? Mungkin… tapi justru saat begini aku bisa melihat lebih jelas. Aku baru sadar, selama ini aku dikelilingi wanita‑wanita yang hanya menginginkan harta dan kekuasaanku. Mereka memamerkan tubuhnya, tersenyum manis, tapi hati mereka kotor dan penuh dusta.”

Tangannya terulur perlahan, lalu tanpa peringatan, ia menangkap pergelangan tangan Annisa dengan cengkeraman yang kuat namun tidak menyakitkan.

“Tapi kau… kau berbeda,” lanjutnya dengan suara serak. “Selalu tertutup rapat, tidak pernah mencari perhatian, tidak pernah meminta apa‑apa. Kau menjaga dirimu sendiri seolah itu harta paling berharga. Siapa yang tidak ingin memiliki wanita sepertimu?”

Annisa meronta pelan, matanya berkaca‑kaca karena ketakutan. “Tuan, lepaskan saya! Saya hanya pelayan, tidak pantas Tuan bicara seperti ini. Saya mohon, hargai diri saya juga!”

Namun kata‑kata itu seolah tidak sampai ke telinga Chensi. Alkohol telah mematikan akal sehatnya, sementara rasa penasaran dan keinginan yang selama ini ia tahan kini meledak tak terkendali. Ia menarik tubuh Annisa mendekat, memeluknya erat hingga gadis itu tidak bisa bergerak lagi.

“Jika milikku sudah terjamah orang lain aku anggap sampah… tapi kau? Kau masih murni, masih terjaga sempurna. Kalau begitu, kenapa tidak menjadi milikku saja?” bisiknya tepat di telinga Annisa, suaranya terdengar mengerikan namun juga penuh hasrat yang membutakan.

“Tidak! Jangan, Tuan!” teriak Annisa pelan sambil berusaha mendorong tubuh Chensi, namun tenaga lelaki itu jauh lebih besar dan kuat.

Perjuangan Annisa sia‑sia. Dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri, Chensi tidak mendengarkan permohonan apa pun. Ia melampiaskan keinginannya secara paksa, menghilangkan kesucian yang selama ini dijaga gadis itu dengan segenap jiwa dan raga. Tangis dan rintihan Annisa tenggelam dalam kegelapan malam, diiringi suara hujan yang kembali turun deras, seolah alam pun ikut menangisi nasib gadis malang itu.

Saat semuanya berakhir, Chensi terlelap dalam tidur yang dalam karena pengaruh alkohol. Ia tergeletak miring di atas tempat tidur, napasnya teratur, tanpa sadar apa yang baru saja ia perbuat.

Di sisi lain, Annisa terbaring lemah di tepi ranjang. Tubuhnya terasa sakit dan lemas, hatinya hancur berkeping‑keping. Air matanya terus mengalir tanpa henti, membasahi bantal dan sprei. Ia memeluk tubuhnya sendiri erat‑erat, merasa kotor, hancur, dan tidak berharga lagi. Semua harapan, ketenangan, dan rasa aman yang ia bawa dari tanah air seolah hilang ditelan kejadian malam ini.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumamnya dalam hati yang terluka. “Aku telah kehilangan segalanya… Kehormatan yang aku jaga untuk masa depan, untuk ibuku, untuk adikku… semuanya direnggut paksa oleh orang yang paling berkuasa di tempat ini.”

Sepanjang sisa malam itu, Annisa tidak bisa tidur. Ia hanya duduk bersila di sudut ruangan, memeluk lututnya, memikirkan nasibnya yang kini terasa semakin gelap. Ia takut, bingung, dan tidak tahu harus ke mana atau meminta bantuan pada siapa pun. Di negeri asing ini, ia hanyalah orang asing yang lemah, tanpa keluarga, tanpa perlindungan, dan kini tanpa harga diri.

Saat matahari mulai menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, Chensi perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berdenyut nyeri akibat terlalu banyak minum. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.

Namun begitu pandangannya jatuh ke sudut ruangan, dan melihat sosok Annisa yang duduk membeku dengan wajah pucat pasi, mata bengkak karena menangis, serta pakaian yang berantakan, sepotong demi sepotong ingatan semalam datang menghantamnya.

Wajah Chensi seketika berubah. Ia duduk tegak, merasakan rasa bersalah yang tiba‑tiba menyerang dadanya, bercampur dengan rasa terkejut dan kekacauan. Ia menyadari, dalam keadaan mabuk, ia telah melakukan hal terburuk yang bisa ia perbuat—melukai wanita yang justru ia anggap berbeda dan ingin ia jaga.

Chensi duduk kaku di atas tempat tidur, jantungnya berdebar kencang bukan karena mabuk, melainkan karena ingatan semalam yang mulai terangkai jelas di kepalanya. Pandangannya tak lepas dari sosok Annisa yang masih duduk bersila di sudut ruangan, punggungnya terlihat membungkuk seolah menahan beban yang tak tertahankan. Wajahnya pucat seperti kertas, matanya bengkak dan merah, sementara lengan dan lehernya terlihat bekas cengkeraman yang samar namun cukup jelas.

Perasaan aneh menyergap dadanya—bukan rasa puas, bukan juga kemenangan, melainkan rasa sesak yang asing dan mengganggu. Ia baru sadar, dalam keadaan mabuk dan hilang kendali, ia telah melakukan hal yang selama ini ia anggap tabu: menyentuh dan merusak sesuatu yang ia anggap paling bersih dan terjaga.

“Annisa…” panggilnya lirih, suaranya terdengar asing bahkan untuk dirinya sendiri.

Gadis itu tidak menjawab, tidak juga menoleh. Ia hanya memeluk lututnya lebih erat, bahunya sesekali bergetar menahan isak tangis yang ingin meledak.

Chensi turun dari tempat tidur, melangkah perlahan mendekat. Setiap langkah terasa berat, seolah ada rantai yang mengikat kakinya. Saat ia berjarak satu meter saja, Annisa tiba‑tiba mendongak, matanya memandang penuh ketakutan dan kekecewaan yang mendalam. Ia segera mundur hingga punggungnya menempel ke dinding, seolah lelaki di hadapannya ini adalah binatang buas yang siap menerkamnya lagi.

“Jangan… jangan mendekat!” serunya dengan suara parau, tangan terangkat secara refleks melindungi dirinya. “Tolong… jangan sentuh saya lagi!”

Suara itu menusuk tepat ke hati Chensi. Ia berhenti melangkah, tangannya tergantung lemas di sisi tubuh. Ia merasa marah—bukan pada Annisa, tapi pada dirinya sendiri. Ia yang selalu mengatur segalanya, yang memiliki kendali atas nyawa dan harta orang lain, kini justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan merusak hal yang paling ia kagumi.

“Maafkan aku…” ucap Chensi pelan, kata‑kata yang jarang sekali keluar dari mulutnya. “Aku tidak sadar. Alkohol membuatku hilang akal sehat. Aku tidak bermaksud melukaimu.”

Annisa tertawa pahit, air matanya kembali mengalir deras. “Tidak bermaksud? Tapi kenyataannya sudah terjadi, Tuan! Kehormatan yang aku jaga selama ini, yang aku bawa jauh dari rumah untuk menjaga nama baik keluarga… semuanya direnggut dalam satu malam! Apa yang tersisa dariku sekarang? Aku hanyalah wanita kotor yang tidak berharga lagi!”

Kalimat itu membuat Chensi tertegun. Ia ingat betul apa yang pernah ia ucapkan soal hal yang sudah terjamah orang lain—ia anggap sampah, tidak bernilai. Namun sekarang, ia sendirilah yang telah merusak Annisa. Apakah ia harus menganggapnya tidak berharga dan membuangnya begitu saja? Atau justru ada perasaan lain yang menolak pikiran itu muncul di kepalanya?

“Dengarkan aku, Annisa,” kata Chensi dengan nada lebih tegas namun tetap lembut, berusaha menenangkan suasana. “Aku tahu aku telah berbuat salah besar. Aku tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang, tapi aku juga tidak akan membiarkanmu menderita sendirian.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat, seolah sedang membuat keputusan terbesar dalam hidupnya.

“Bagi orang lain, mungkin hal ini membuatmu terlihat berbeda. Tapi bagiku… aku yang melakukannya. Jadi, kau bukan lagi milik dirimu sendiri, bukan milik orang lain. Kau menjadi milikku sepenuhnya. Jika aku yang merusak, maka aku pula yang bertanggung jawab atasnya.”

Annisa menatapnya dengan tatapan bingung dan tak percaya. “Milik Tuan? Apa maksud Tuan? Apakah setelah mengambil segalanya, Tuan ingin membuangku seperti sampah seperti yang Tuan lakukan pada wanita lain?”

Chensi menggeleng tegas. “Tidak. Ailin dan yang lain berbeda. Mereka sudah memilih jalan mereka sendiri. Tapi kamu… aku yang memaksamu. Aku yang mengambil hakmu. Karena itu, aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Aku akan memastikan kamu tetap di sini, dan semua kebutuhanmu akan terpenuhi. Jangan khawatir soal gaji, soal biaya ibumu, atau sekolah adikmu—semuanya akan aku tanggung.”

Mendengar itu, Annisa merasa semakin hancur. Baginya, tawaran itu bukanlah kebaikan, melainkan bentuk perbudakan yang lebih halus. Ia kini terjebak sepenuhnya di bawah kekuasaan lelaki ini, tanpa jalan keluar.

“Saya tidak butuh uang Tuan! Saya hanya ingin kebebasan saya kembali!” teriaknya dengan sisa tenaga yang ada. “Biarkan saya pulang saja, biarkan saya menghadapi nasib saya sendiri!”

Namun Chensi hanya menggeleng kepala. “Itu tidak mungkin. Jika aku membiarkanmu pergi, lalu apa yang akan terjadi padamu? Kamu pulang dengan keadaan seperti ini, tanpa status, tanpa kejelasan. Lebih baik kamu tetap di sini, di bawah perlindunganku. Tidak ada yang berani menyakitimu selama aku ada.”

Ia berbalik hendak keluar kamar, namun sebelum melangkah, ia menoleh kembali.

“Istirahatlah hari ini. Jangan keluar ke mana pun. Aku akan memerintahkan Li Wei membawakanmu makanan dan obat‑obatan untuk mengurangi rasa sakit. Kita akan bicara lagi nanti saat kamu sudah lebih tenang.”

Pintu ditutup perlahan, meninggalkan Annisa sendirian lagi dalam ruangan yang terasa semakin sempit dan menyesakkan. Ia menyadari, peristiwa semalam tidak hanya merenggut kehormatannya, tapi juga mengikatnya selamanya pada nasib yang tidak ia duga—terjebak di sisi lelaki yang kejam, berkuasa, dan kini telah menjadi pemilik tubuhnya secara paksa.

Di luar kamar, Chensi berdiri mematung di lorong. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tidak pernah merasa bertanggung jawab sebesar ini atas siapa pun. Namun saat melihat penderitaan Annisa, hatinya terasa tertekan seolah ada batu besar yang menindihnya.

“Apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Jika aku sudah merusaknya, apakah aku harus memilikinya sepenuhnya? Atau justru hal ini akan membuat hidupku semakin rumit?” pikirnya, tanpa menyadari bahwa benih perasaan yang lebih dalam—di luar sekadar hasrat atau kewajiban—telah mulai tumbuh perlahan di hatinya yang dulu sekeras batu.

Bersambung....

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!