NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Sepanjang perjalanan pulang, Arslan melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya. Jalanan sore itu padat, namun baginya semua terasa kabur. Lampu merah, deretan kendaraan, suara klakson—tak satu pun benar-benar ia dengar. Pikirannya hanya dipenuhi satu hal, yaitu Zulfa.

Tatapan istrinya di mall tadi terus terbayang jelas. Bukan tatapan marah. Bukan juga tangisan. Justru tatapan yang terlihat terlalu tenang.

Dan Arslan tahu betul—ketenangan Zulfa saat terluka jauh lebih berbahaya daripada ledakan emosinya.

Ia meraih ponsel di dashboard, menekan nama istrinya. Arslan hanya ingin memastikan kalau istrinya sudah benar-benar pulang.

Namun panggilan pertama, tak diangkat, lalu Arslan mencoba lagi hasilnya tetap sama.

Panggilan ketiga berakhir sia-sia. Arslan mengembuskan napas kasar, lalu melempar ponsel kembali ke kursi sebelah.

"Damn..." Arslan mengumpat.

Untuk pertama kalinya, ia merasa gugup pulang ke rumahnya sendiri.

Seorang security membuka gerbang saat mobil majikannya sudah berada di depan, mobil Arslan masuk perlahan ke halaman. Rumah megah yang biasanya memberinya rasa tenang sore ini justru terasa mencekam. Entah karena terasa sepi atau karna pikirannya mengarah pada sang istri.

Arslan turun dengan cepat, menyerahkan kunci pada satpam, lalu melangkah panjang masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu ia tak melihat siapa-siapa, lalu berpindah menuju dapur, di sana pun sepi lalu Arslan berbalik ke taman belakang.

Ia tak menemukan ada istrinya di sana. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di ambang ruang makan.

Ternyata Zulfa ada di sana. Ia tengah duduk sendirian di kursi panjang, menghadap jendela. Di hadapannya hanya secangkir teh yang tampaknya sudah dingin sejak lama.

Perempuan itu mengenakan pakaian rumah sederhana, rambutnya digulung asal, wajahnya tenang, bahkan terlalu tenang.

Arslan berjalan mendekat.

"Zulfa..."

Tak ada jawaban. Zulfa hanya menyesap tehnya pelan. Arslan menarik kursi di hadapannya lalu duduk.

"Tumben jam segini sudah pulang."

Zulfa mengangkat pandangannya sekilas. Tidak biasanya Arslan tiba di rumah sebelum pukul empat sore. Biasanya, di jam seperti ini, suaminya masih berkutat dengan rapat, berkas, dan urusan kantor yang tak ada habisnya.

"Aku mau jelasin sesuatu," ujar Arslan pelan.

"Kenapa harus buru-buru sekali jelasinnya?" sahut Zulfa santai. "Nanti malam juga masih bisa."

Ia kembali menyeruput teh hangat di tangannya, lalu menunduk lagi pada novel yang sejak tadi dibacanya. Sikapnya terlihat biasa saja.

Bahkan terlalu biasa. Dan justru itu yang membuat Arslan semakin gelisah.

"Aku minta maaf karna aku makan siang dengan Fathiya tanpa meminta ijin padamu terlebih dahulu." Arslan tahu apa yang perlu ia katakan lebih dulu.

"Aku nggak punya hak ngatur kamu makan siang dengan siapa."

"Jangan ngomong kayak begitu." Sahut Arslan cepat.

"Terus aku harus ngomong gimana?" Nada suara Zulfa masih tenang, namun ada sesuatu yang menekan di setiap katanya. "Setidaknya beritahu aku kalau kamu akan makan siang dengannya."

"Bukannya aku nggak mau kasih tahu kamu, tapi semua terjadi begitu cepat. Fathiya tiba-tiba datang ke kantor tanpa memberitahuku dulu. Dia sudah membawa berkas-berkas itu, dan Bu Risma juga sudah menunggu Fathiya di restoran itu, lalu Fathiya menawarkanku untuk makan siang bersama mereka." Zulfa terlihat tak menanggapi penjelasan suaminya.

"Kamu juga tahu dari tadi aku ada di sana," katanya lagi. "Terus kenapa kamu nggak nyamperin aku?"

"Takut ganggu." 

Jawaban itu keluar singkat, datar, tanpa menoleh sedikit pun. Pandangannya masih terpaku pada deretan huruf di halaman buku.

Arslan menarik napas pendek, mencoba menahan kesal sekaligus gugup. Ia lalu menyodorkan map yang sejak tadi dibawanya.

"Tadi kami membahas ini."

Zulfa menoleh sekilas ke arah map tersebut.

"Proposal rumah sakit," lanjut Arslan. "Aku baru saja menyetujui bantuan dana untuk perluasan gedung dan penambahan alat-alat medis yang dibutuhkan.  Bu Risma turut menangani proyek itu. Sekalian beliau juga ingin bertemu denganku untuk menjelaskan lebih detail tentang rencana pembangunan rumah sakit itu.

Itu sebabnya aku menerima tawaran makan siang darinya. Kamu tahu kan, kalau aku dulu pernah di tipu oleh pihak penyelenggara donasi, dan aku hanya ingin memastikan kalau kali ini aku bertemu orang yang tepat, Sebab uang yang akan aku donasikan ini tidak sedikit jumlahnya." Arslan berusaha menjelaskan panjang lebar.

Zulfa menutup bukunya perlahan, lalu meletakkannya di meja.

"Itu rumah sakit tempat Fathiya kerja?" tanya Zulfa dengan penuh selidik.

"Iya."

Arslan sempat ragu untuk melanjutkan, namun ia tahu semua ini harus dijelaskan sekarang juga.

"Fathiya baru ditunjuk sebagai wakil direktur di sana. Dia ikut bertanggung jawab mencari donatur untuk pengembangan rumah sakit itu."

"Wah..." Zulfa mengangguk kecil. "Hebat sekali. Masih muda sudah dapat jabatan sepenting itu."

Kalimatnya terdengar seperti pujian, tetapi nada suaranya menyimpan sesuatu yang tajam.

Ia lalu menyandarkan tubuh ke kursi dan menatap Arslan lurus-lurus.

"Kalau nggak salah, orang tua kamu juga salah satu pendiri rumah sakit itu, kan?"

Arslan terdiam.

"Pantas saja jalannya mulus," lanjut Zulfa sambil tersenyum tipis. "Ternyata masih ada jalur orang dalam."

Senyum itu tipis. Namun cukup membuat rahang Arslan menegang. Ia menggertakkan gigi, menahan emosi yang mulai naik ke permukaan.

"Fathiya itu dokter spesialis," ucapnya tegas. "Dia punya pengalaman medis, dan juga mengerti manajemen rumah sakit. Jadi menurutku sangat wajar kalau jabatan itu diberikan padanya."

"Begitu?" Sudut bibir Zulfa terangkat, "kamu benar-benar tahu banyak tentangnya." 

"Aku tahu dari mama tanpa lebih dulu mencari tahunya." Jelas Arslan.

"Tapi kenapa dia yang harus minta donasi ke kamu?" tanyanya lagi. "Kenapa nggak langsung ke orang tua kamu aja? Bukankah mereka pendiri rumah sakit itu?"

"Karena Mama menyerahkan urusan itu padaku."

Jawaban itu justru membuat segalanya semakin jelas di kepala Zulfa.

Farah.

Lagi-lagi perempuan itu.

Ibu mertuanya rupanya memang sedang membuka jalan agar putranya kembali dekat dengan masa lalunya.

Arslan melihat perubahan di wajah istrinya dan segera mendekat.

"Ayolah, Zulfa... jangan berpikir macam-macam."

Ia berjongkok di hadapan istrinya, berusaha menangkap tatapan yang terus menghindar.

"Aku sudah bilang sama kamu, hubunganku dengan Fathiya sudah lama selesai. Tolong... jangan menaruh curiga pada kami."

Zulfa akhirnya menatapnya dengan tatapan tenang. Namun ada luka yang tak bisa disembunyikan.

"Bukannya aku menaruh curiga," katanya pelan.

Ia menarik napas, lalu melanjutkan dengan suara yang jauh lebih menusuk.

"Aku ini istri... yang sedang khawatir dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di rumah tangga kita."

Untuk sesaat, tak ada satu kata pun yang mampu keluar.

Arslan tahu jika Zulfa marah, ia bisa menenangkan.

Jika Zulfa menangis, ia bisa memeluk.

Tapi jika Zulfa sudah bicara setenang ini—

artinya luka itu sudah terlalu dalam.

Arslan  menggenggam jemari istrinya.

"Lihat aku."

Zulfa menatapnya pelan.

"Aku nggak pernah cari dia."

"Aku tahu." Sahut Zulfa.

"Aku nggak pernah punya perasaan apa pun lagi buat dia."

Kali ini Zulfa ragu, namun ia memilih untuk mengatakan, "Aku juga tahu itu."

"Terus kenapa kamu dingin begini?"

Mata Zulfa berkaca-kaca.

"Karena aku takut suatu hari nanti... kamu sadar kalau hidup sama aku terlalu berat."

Kalimat itu membuat dada Arslan seperti dihantam sesuatu.

Ia menggenggam tangan Zulfa lebih erat.

"Dengar aku baik-baik." Suaranya rendah dan tegas. "Yang berat itu bukan hidup sama kamu."

Arslan menelan ludah.

"Yang berat adalah lihat kamu terus nyalahin diri sendiri."

Air mata Zulfa jatuh tanpa suara.

Arslan bangkit, memeluk istrinya erat.

Kali ini Zulfa tak langsung membalas.

Tubuhnya kaku beberapa detik.

Lalu perlahan runtuh dalam pelukan itu.

Tangis yang sejak tadi mati-matian ditahan akhirnya pecah di dada suaminya. Tubuh Zulfa bergetar dalam pelukan itu, seolah seluruh beban yang selama ini dipendam runtuh dalam satu waktu. Isakannya tertahan, namun justru terdengar lebih menyayat.

Arslan memeluknya semakin erat. Telapak tangannya mengusap lembut punggung istrinya yang berguncang, naik turun perlahan, berusaha menyalurkan ketenangan melalui sentuhan yang hangat.

Ia menunduk, menempelkan bibirnya di puncak kepala Zulfa.

"Maaf..." bisiknya lirih. "Maaf kalau aku sering bikin kamu merasa sedih."

Zulfa semakin terisak.

Air matanya membasahi kemeja Arslan, namun pria itu tak bergeming sedikit pun. Baginya, biarlah bajunya basah, asal hati istrinya bisa sedikit lebih lega.

Arslan mengangkat wajah Zulfa perlahan, menatap kedua mata yang sembab itu dengan penuh penyesalan.

"Mulai sekarang aku janji," ucapnya tegas, namun lembut. "Aku akan selalu mengabarimu. Di mana pun aku berada... dan dengan siapa pun aku pergi."

Jemarinya mengusap sisa air mata di pipi istrinya.

"Aku nggak mau ada lagi hal kecil yang bikin kamu terluka."

Zulfa menatapnya dalam diam.

Tatapan itu masih menyimpan sisa sakit, namun juga ada kepercayaan yang perlahan kembali tumbuh.

Arslan mencium keningnya lama.

"Kamu itu rumahku, Zulfa," bisiknya. "Dan aku nggak mau kehilangan jalan untuk pulang."

Selama ini Arslan selalu berhasil menghindar dari semua wanita yang dikirim ibunya untuk menggodanya.

Tapi setelah bertemu dengan cinta pertamanya, Zulfa sadar ada satu perempuan yang bahkan tak perlu merayu untuk merebut hati seorang pria.

Dia hanya perlu muncul kembali... dan membiarkan kenangan melakukan sisanya. Saat itulah Zulfa mulai bertanya dalam hati, mampukah ia menang melawan perempuan yang pernah menjadi alasan suaminya belajar mencintai?

***

Di sisi lain, Fathiya masih berada di dalam mobilnya yang terparkir di basement pusat perbelanjaan itu.

Mesin sudah lama mati.

Namun ia belum juga pergi.

Kedua tangannya menggenggam setir erat, sementara pandangannya kosong menatap deretan mobil di depan. Sejak Arslan bergegas meninggalkan restoran tadi, dadanya justru terasa semakin sesak.

Ia tahu ke mana pria itu pergi. Ke tempat dimana ada kenyamanan di sana untuk menjelaskan semua pada istrinya.

Dan seharusnya itu hal yang wajar. Namun entah mengapa, ada bagian kecil dalam dirinya yang terasa perih.

Fathiya memejamkan mata. Bayangan beberapa menit lalu kembali berputar di kepalanya.

Zulfa berdiri tak jauh dari restoran, wajahnya pucat, matanya menyimpan luka yang berusaha disembunyikan. Lalu Arslan yang seketika berubah gelisah, meninggalkan semuanya tanpa ragu untuk menemui istrinya.

Sesederhana itu.

Tanpa pikir panjang.

Tanpa menimbang siapa pun.

Termasuk dirinya.

Fathiya tersenyum getir.

"Jadi... seperti itu rasanya dicintai sepenuh hati," gumamnya lirih.

Kalimat itu justru membuat tenggorokannya terasa tercekat.

Selama bertahun-tahun ia mengejar lelaki yang salah. Bertahan pada tunangan yang mengkhianatinya. Memohon dari seseorang yang tak pernah sungguh-sungguh menjaganya.

Sementara di hadapannya tadi—

ia melihat seorang pria yang rela meninggalkan meja penting, urusan bisnis, dan siapa pun... hanya demi menemui istrinya yang hatinya sedang terluka. Kemenangan kecil yang seharusnya ia rasakan hari ini justru terasa pahit.

Karena ia sadar—

setiap langkahnya yang mendekat pada Arslan, selalu dibayar dengan luka perempuan lain.

Air mata tiba-tiba jatuh tanpa aba-aba.

Fathiya buru-buru mengusapnya.

Ia marah pada dirinya sendiri.

Marah karena masih bisa merasa iri.

Marah karena hatinya mulai goyah oleh pria yang seharusnya tak boleh ia lihat dengan cara seperti itu.

Ponselnya bergetar.

Nama Yevi muncul di layar.

Dengan napas berat, Fathiya mengangkat panggilan itu.

"Sudah selesai makan siangnya?" suara Yevi terdengar tajam.

"Sudah." 

"Bagus. Gimana? Arslan mulai luluh?"

Pertanyaan itu membuat Fathiya terdiam beberapa detik.

Luluh?

Tidak.

Justru ia yang mulai goyah.

"Jawab, Fathiya."

"Aku nggak sedang menjalankan permainan, Tante. Aku bertemu dengan Arslan untuk membahas masalah kepentingan rumah sakit. Dan kami nggak hanya berdua saja makan siangnya."

"Itu juga bagian dari permainan, Fathiya!!" bentak Yevi. "Kamu harus sadar posisi, Kesempatan nggak datang dua kali. Tante Farah sudah buka jalan buat kamu. Tinggal bagaimana kamu mengambil hati Arslan."

Fathiya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

"Dia mencintai istrinya."

"Lama-lama perasaan itu bisa hilang." Sahut Yevi.

"Dan saya tidak mau jadi penyebabnya."

Yevi tertawa sinis dari seberang sana.

"Kamu terlalu munafik Lihat saja nanti. Kamu akan jadi pelaku utama, retaknya rumah tangga mereka."

Kalimat itu membuat dada Fathiya semakin sesak.

Ia menutup panggilan tanpa izin.

Tangannya gemetar.

Untuk pertama kalinya, Fathiya benar-benar melihat betapa jauh rencana ini melangkah.

Dan betapa dirinya sudah terseret terlalu dalam.

Fathiya menyandarkan kepala ke kursi, menahan tangis yang kembali pecah.

Ia tak tahu harus memihak siapa.

Pada wanita yang hatinya terluka, atau

Pada pria yang pernah ia tolak lamarannya.

Atau pada dirinya sendiri... yang sejak awal hanya ingin hidup tenang.

Namun satu hal kini ia tahu pasti—

semakin dekat ia pada Arslan,

semakin hancur hatinya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!