NovelToon NovelToon
Teman Tapi Menikah

Teman Tapi Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.

​Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Penasaran

"Kan bisa panggil Abang," jawab Arsen.

Aira tidak bisa menahan tawa kecilnya mendengar jawaban protektif sang suami, "Iya, iya, Mas Arsen. Nanti kalau ada penjual keliling, aku panggil Abang atau Pak saja," sahut Aira seraya melangkah mendekat dan berniat mengambil jam tangan yang baru saja dilepas Arsen untuk diletakkan di atas nakas.

​Arsen tersenyum puas, merasa menang atas protes kecilnya. Ia langsung menarik Aira ke dalam pelukannya dari belakang, menumpukan dagunya di bahu Aira sembari menatap pantulan mereka berdua di cermin rias yang besar.

​"Begitu dong. Istriku ini cuma boleh panggil Mas ke satu pria di dunia ini yaitu aku," bisik Arsen lembut dan memberikan kecupan hangat di pipi Aira yang mulai merona.

​Meskipun hati Aira masih sedikit bergetar akibat bentakan Bapak Hilman beberapa menit yang lalu, pelukan Arsen yang begitu kokoh perlahan-lahan berhasil mengusir sisa rasa takut di dada Aira. Kenyamanan dan keamanan yang diberikan pria ini terasa begitu nyata, seolah menjadi perisai tak kasatmata yang melindungi dirinya dari segala macam ancaman di luar sana.

​"Mas Arsen sudah makan siang?" tanya Aira dan mencoba mengalihkan pembicaraan agar suaminya tidak menangkap sisa-sisa kegelisahan di matanya.

​"Belum, tadi terlalu fokus memeriksa data pengiriman alternatif bersama Gilang. Kamu sendiri sudah makan?" Arsen balik bertanya, kini membalikkan tubuh Aira agar mereka bisa saling berhadapan.

​"Belum juga, tadi cuma menemani Ibu sarapan bubur agak kesiangan, jadi belum terasa lapar. Kalau begitu, yuk turun ke bawah, kita makan siang sama-sama. Kayaknya Bu Sumi sudah menyiapkan lauk deh soalnya bau harumnya sampe sini," ajak Aira hangat.

​Arsen mengangguk setuju, ia menggandeng jemari Aira dengan erat dan menuntun langkah istrinya keluar dari kamar menuju lantai bawah. Sepanjang menuruni anak tangga, Arsen sesekali menceritakan perkiraan kapan kapal kargo dari Kalimantan akan merapat di Surabaya dengan nada santai, sama sekali tidak tampak seperti direktur bertangan besi yang beberapa jam lalu sempat membuat Gilang gemetar di ruang kerja.

​Di ruang makan, aroma harum sayur asem, sambal terasi dan ayam goreng bumbu kuning langsung menyambut indra penciuman mereka. Hidangan rumahan yang sengaja dipesan Arsen kepada Bu Sumi agar Aira dan ibunya tidak merasa asing dengan masakan ibu kota.

​"Wah, Bu Sumi tahu saja kalau saya sedang butuh yang segar-segar," ujar Arsen sembari mendudukkan diri di kursi utama.

​Aira dengan telaten mengambilkan nasi putih dan menyendokkan sayur asem ke dalam piring Arsen lalu menambahkan sepotong ayam goreng dan sesendok besar sambal terasi di pinggirnya, gerakan tangan Aira yang luwes dan penuh perhatian itu membuat tatapan mata Arsen semakin melembut.

​"Terima kasih, Istriku," ucap Arsen tulus sebelum mulai menyantap makanan dengan lahap.

​Di sela-sela suapannya, Arsen melirik Aira yang juga mulai makan dengan pelan. Pria itu mengamati raut wajah Aira dengan saksama, walaupun Aira bersikap sangat normal dan sesekali menanggapi ucapannya dengan senyuman manis, namun Arsen merasa ada sesuatu yang tidak beres.

​Ada sedikit gurat kelelahan yang berbeda di sudut mata Aira, serta jemari istrinya yang sesekali meremas pelan sendok makannya seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.

Namun, melihat bagaimana kerasnya usaha Aira untuk terlihat baik-baik saja di hadapannya, Arsen memilih untuk tidak mendesak sekarang karena ia tidak ingin merusak suasana makan siang mereka yang tenang.

​'Ada yang kamu sembunyikan dari aku, Ra?' batin Arsen menebak-nebak dalam hati, sembari terus menikmati masakan di piringnya.

.

​Malam harinya, Jakarta diguyur hujan deras. Suara rintik air yang menghantam kaca jendela kamar utama lantai dua menimbulkan irama konstan yang menenangkan.

​Arsen baru saja selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan celana kain hitam dan kaus oblong santai, mengeringkan rambutnya yang basah dengan selembar handuk kecil, matanya langsung tertuju pada Aira yang duduk bersandar di kepala ranjang.

​Ponsel Aira tergeletak di atas pangkuannya dalam kondisi layar mati, sementara pandangan wanita itu lurus menatap kosong ke arah pintu balkon yang tertutup rapat. Lamunan Aira tampak begitu dalam, hingga ia bahkan tidak menyadari langkah kaki Arsen yang mendekat.

​Arsen meletakkan handuknya di atas kursi, lalu naik ke atas ranjang dan merangkak pelan mendekati posisi Aira. Tanpa aba-aba, Arsen melingkarkan lengannya di pinggang Aira dan menarik tubuh istrinya hingga bersandar penuh pada dada bidangnya yang hangat.

​Aira sedikit tersentak, napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya ia menoleh dan mendapati wajah Arsen yang sudah berada sangat dekat di samping pipinya.

​"Astaga, Mas... hobi banget sih muncul tiba-tiba terus ngagetin aku," cicit Aira pelan dan mencoba mengulas senyum tipis untuk menutupi keterkejutannya.

​Arsen tidak membalas dengan candaan seperti biasanya, ia justru meraih ponsel Aira dari pangkuan istrinya lalu meletakkannya di atas nakas dan menjauhkannya dari jangkauan mereka. Setelah itu, Arsen meraih kedua belah tangan Aira, menggenggam jemari mungil yang terasa sedikit dingin itu dan membawanya ke depan bibirnya untuk mengecupnya bergantian.

​"Ra," panggil Arsen, suaranya bariton berat, terdengar begitu serius namun sarat akan kelembutan.

​"I-iya, Mas? Ada apa?" tanya Aira gugup, mendadak merasa terintimidasi oleh tatapan mata tajam Arsen yang seolah bisa menembus langsung ke dalam isi kepalanya.

​Arsen menatap lekat-lekat manik mata Aira yang bergetar samar, "Dari siang tadi setelah aku keluar dari ruang kerja, aku perhatikan kamu sering melamun. Tatapan matamu kosong dan senyumanmu seperti dipaksakan untuk menyenangkan hatiku," tutur Arsen blak-blakan.

​Aira menelan ludahnya dengan susah payah, detak jantungnya kembali berpacu liar. "Nggak kok, Mas. Aku cuma... cuma masih sedikit penyesuaian saja dengan rumah besar ini, kan aku udah bilang tadi," elak Aira, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil.

​Arsen menggelengkan kepalanya perlahan, senyum tipis yang penuh pengertian terukir di wajah tampannya. Tangannya naik, mengusap lembut pipi Aira yang terasa halus dengan ibu jarinya.

"Beneran nggak ada apa-apa?" tanya Arsen memastikan.

"Beneran, Mas. Aku cuma butuh adaptasi aja," jawab Aira.

"Kalau ada apa-apa, kamu harus bilang loh ke aku," ucap Arsen.

"Iya, Mas Arsen," balas Aira.

"Sayang," panggil Arsen lembut.

"A-ada apa, Mas?" tanya Aira gugup saat mendengar panggilan Arsen untuknya.

"Kamu mau punya anak nggak?" tanya Arsen.

"Kok Mas Arsen tanya gitu?" tanya Aira.

"Ya, tanya aja. Aku penasaran," jawab Arsen.

"Ya, maulah Mas. Siapa sih yang nggak mau punya anak," ucap Aira.

"Banyak kan perempuan yang udah nikah nggak mau punya anak karena beberapa alasan," balas Arsen.

"Iya sih, tapi kalau aku pribadi sih, aku pengen punya anak karena aku merasa siap dan mau," balas Aira.

"Yaudah ayo! Kita kan belum malam pertama, kan? Lagipula kita nikah udah satu bulan lebih loh," ajak Arsen.

.

.

.

Bersambung.....

1
erviana erastus
giliran mau minta uang baru ngakuin ank kandung hilman2 sakit jiwakau
Allfa Rizky
kok bisa ya Arsen sampe secinta itu sama Aira,, apa Arsen sudah jatuh cinta sama Aira pas masih kuliah ya
Allfa Rizky
sampai sekarang belum ada cerita bagaimana Arsen bisa langsung memilih Aira jadi istrinya
Aidil Kenzie Zie
ada-ada aja caranya Arsen agar bisa belah duren 🤣🤣🤣🤣gas lah Ra kasihan suamimu dianggurin 1bln lebih lo🤭🤭🥰🥰
Felycia Fernandez
ya kali blom malam pertama..
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
Felycia Fernandez
bapak gila😡😡😡😡
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
Felycia Fernandez
good 👍
Felycia Fernandez
bawa gih Aira shopping ke mall Arsen
Felycia Fernandez
semoga nggak perselingkuhan ya kk Thor
Allfa Rizky
masih part gula-gula ya thor,, diabet aku🤭
Felycia Fernandez
dulu di buang suami,sekarang di muliakan menantu...💗
Aidil Kenzie Zie
penasaran Aira udah di unboxing belum ya🤔🤔🤔🤔
erviana erastus: jiwa kepoo meronta-ronta ya ka 🤭
total 1 replies
Allfa Rizky
manisnya Arsen kebangetan 🤭
Allfa Rizky
kisahnya bagus,, pahit d awal terus manis banget malah,, entah d tengah dan akhir cerita,, konfliknya jangan berat2,, apalagi d awal cerita siapa arsenio bagaimana masa lalunya belum ada cerita
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Allfa Rizky
manis banget🤭
Felycia Fernandez
gantian Bu,aku Yaang malah gugup ini,takut Aira tersakiti di jakarta...😞
Felycia Fernandez
Ntar jangan lupa renovasi rumah di kampung ini ya Arsen..
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
udah unboxing blom nih Aira 🤣🤣🤭
partini
orang kamu udah out ganti orang kota behhhh Lebih serem 10000x lipat
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal
erviana erastus
semoga didepan nnt nggak ada aral melintang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!