Gwiyomi Allura, wanita yang kesuciannya harus terenggut oleh pria yang tidak dikenal dan meninggalkannya begitu saja. Ia hancur dan kehilangan seluruh masa depannya saat dirinya dinyatakan positif hamil sebelum menikah.
Hingga uluran tangan Hazel datang dengan sukarela mau menikahinya meski tahu dirinya sudah ternoda.
Lantas, siapakah yang sebenarnya telah menghamili Gwiyomi?
******
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN SUBSCRIBE YA KAK UNTUK MENDUKUNG KARYA AUTHOR!
Follow Ig : putriaayu_98
FB : Putria R.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Terbesar.
Rain memenuhi janjinya dengan menghancurkan seluruh hidupnya. Hatinya yang patah hati ditambah luka yang ditorehkan keluarganya membuat Rain terjerumus dalam obat-obatan terlarang, dimana ia bisa lupa akan masalah hidup yang sangat-sangat menyakitkan.
"Lu jangan coba-coba lah, ini bisa kecanduan kalau udah pernah pakai."
Pertama kali Rain mendatangi Brian sepupunya untuk meminta obat itu. Ia sudah tidak tahan lagi terus berpura-pura tegar saat hatinya sangat rapuh.
"Gue nggak perduli, kalau bisa yang efeknya lebih dari ini," ujar Rain nekat membeli sabu seberat 1 gram awalnya.
Namun, seperti kata Brian, obat itu membuat dirinya ketergantungan. Ia tidak bisa tidur jika tidak meminumnya, ditambah belakangan itu keadaan Ibunya yang memburuk tapi Ayahnya tidak mau datang membuat Rain membeli barang haram itu dengan jumlah yang banyak.
Selama dua bulan lebih Rain hidup dalam ketergantungan obat, ia ingin selalu terlihat baik-baik saja di depan Ibunya. Tapi karena rasa sakit hati yang dirasakan Ibunya terlalu dalam, wanita itu tidak sanggup bertahan hingga menyerah kepangkuan sang penguasa.
"Puas Ayah sekarang? Ibu sudah mati, sekarang Ayah puaskan? Tidak perlu peduli lagi padaku, lebih baik Ayah pergi dari kehidupanku selamanya, mulai detik ini aku tidak punya Ayah!" Rain kembali meluapkan amarahnya kepada sang Ayah karena gara-gara pria itu Ibunya meninggal.
Semenjak kepergian Ibunya juga Rain sudah tidak memiliki tujuan hidup. Ia tidak pernah bekerja dan malah sibuk pesta narkoba bersama teman-temannya. Dosis yang dipakainya bukan sekedar sabu dan sebagainya, ia setiap malam menyuntik tangannya sendiri dengan inex yang membuat dirinya bisa berhalusinasi indah.
"Rain, lu udah teler gini. Pulang gih, malam ini jangan nginep disini." Brian mengingatkan Rain yang terlihat menikmati rokoknya dengan tangan yang tertusuk jarum suntik.
"Nggak usah ngatur gue, hidup gini aja udah indah," ujar Rain melantur kemana-mana, dalam imajinasinya, ia membayangkan sedang bergumul dengan panas dengan Jingga hingga membuat sesuatu dalam dirinya bangkit.
"Jingga ... " Rain seperti melihat Jingga mendatanginya dan melempar senyuman yang sangat manis.
Perlahan Rain bangkit dari duduknya, ia berjalan sempoyongan untuk menyusul Jingga yang kini berjalan menjauh. Sekilas ia lihat Jingga tiba-tiba ditarik oleh seorang pria kedalam toilet dan wanita itu menjerit minta tolong.
"Jingga!" Rain berteriak keras, ia segera berjalan menyusul mereka dan melihat kini Jingga sedang dipaksa oleh seseorang dilantai toilet. Melihat hal itu tentu Rain marah, ia segera melibas pria yang ingin melecehkan Jingga.
"Jingga, maafkan aku Jingga." Rain mencoba membangunkan wanita yang ia anggap Jingga, tapi efek obat yang disuntikkan ke tangannya malah membuat ia seperti kebingungan sendiri.
Setelah itu entah apa yang terjadi, ia hanya melihat sekilas kalau wanita itu bukanlah Jingga, tapi juga tidak begitu jelas.
Flashback Off.
Rain mengusap wajahnya kasar, sekarang ia baru sadar kalau wanita itu adalah Gwiyomi. Andai saja ia tidak ngeflay waktu itu, mungkin ia masih ingat apa yang terjadi.
"Waktu itu, apakah aku melakukannya?" Satu hal yang menjadi pertanyaan dalam benak Rain, ia tidak tahu apakah dia menyentuh Gwiyomi atau tidak.
Apalagi ditambah ucapan Brian beberapa waktu lalu jika Gwiyomi hamil dari pria yang tidak jelas dan Hazel menikahinya hanya karena taruhan.
"Apa sekarang dia hamil anakku?" gumam Rain sangat-sangat penasaran, ia ingin mencaritahu, tapi bagaimana caranya?
"Jika Gwiyomi hamil anakku, maka aku harus mengambilnya dari sisi Hazel. Aku tidak akan membiarkan ba ji ngan itu merawat anakku," ujar Rain mengepalkan tangannya erat, ia tidak terima karena Hazel bukanlah pria yang baik, pria itu justru ba ji ngan yang berkedok sebagai penolong bagi Gwiyomi.
"Tapi, apakah Gwiyomi mau denganku?" Rain mendadak ragu saat memikirkan kedepannya, Gwiyomi pasti akan marah jika tahu dia yang telah merusak masa depannya.
"Sial! Kenapa semuanya jadi membingungkan seperti ini," umpat Rain menendang kursi kayu di depannya dengan kasar, setelah ini entah apa yang harus dilakukannya.
*****
Hazel dan Gwiyomi terlihat sedang menikmati malam mereka di puncak Bogor dengan ditemani jagung bakar. Cuaca dingin yang menyejukkan membuat mereka terlihat begitu nyaman menikmati malam dengan menatap bintang di langit.
"Kamu kedinginan nggak? Udah jam 10 nih," ujar Hazel duduk memeluk Gwiyomi dari belakang, ia terlihat sangat nyaman saat bisa berdekatan seperti ini.
"Nggak sih, tapi pengen jalan-jalan." Gwiyomi menyahut seraya menoleh.
Hazel langsung menyambutnya dengan ciuman bibir yang lembut, tidak lama lalu melepaskannya lagi.
"Jalan-jalan kemana? Udah malem banget, ya lain juga udah pada pergi," ujar Hazel melirik sekelilingnya yang mulai kehilangan pengunjung.
"Kemana aja, cari makanan sebelum pulang," kata Gwiyomi seraya bangkit dari duduknya.
"Baiklah, ayo bantu aku Nona." Hazel mengulurkan tangannya pada Gwiyomi lalu ikut bangkit dan memeluk pinggang wanita itu.
"Oh iya, aku punya tebakan buat kamu," ujar Hazel disela-sela mereka berjalan menyusuri jalan setapak.
"Tebakan apa?" Gwiyomi mengerutkan dahinya, ia menyadarkan kepalanya dipundak Hazel seraya menikmati perjalanan malam mereka.
"Mandi apa yang nggak basah?" ujar Hazel memberikan tebakan yang pertama.
"Mandi yang nggak basah? Mana ada, yang namanya mandi pasti basah," sahut Gwiyomi semakin menekuk wajahnya.
"Ada dong, Mandirikan rumah tangga dengan kamu," jawab Hazel seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Apasih, ada-ada aja." Gwiyomi tersipu-sipu mendengar jawaban itu.
"Tau nggak bedanya kamu sama modem?" ujar Hazel lagi.
"Ya bedalah, aku orang, sedangkan modem itu barang," tukas Gwiyomi.
"Salah."
"Terus?"
"Kalau modem itu terhubung ke internet, kalau kamu, terhubung di hati aku," bisik Hazel mencuri ciuman di pipi Gwiyomi yang memerah menggemaskan.
"Gombal banget," cetus Gwiyomi memukul pelan bahu suaminya.
"Satu hal yang bisa mendeskripsikan kamu Gwi," ujar Hazel masih belum berhenti melontarkan gombalan recehnya.
"Apa? Aku cantik?" jawab Gwiyomi dengan penuh percaya diri.
"Hahaha, itu memang salah satunya, tapi kamu adalah segalanya Gwi," ucap Hazel menghentikan langkahnya sejenak, ia menatap Gwiyomi dengan tatapan teduhnya. "Maukah kau berjanji satu hal padaku?" Hazel merapikan rambut Gwiyomi yang terlihat menutupi dahinya.
"Janji apa?" Gwiyomi terperangkap, ia hanya bisa balas menatap mata indah suaminya yang bergerak-gerak menatapnya.
"Jika ada orang yang mengatakan sesuatu yang buruk tentangku, tolong jangan percaya. Percayalah padaku, semua yang terjadi dalam hidupku hanya aku yang tahu, kau mau kan terus percaya padaku?" ujar Hazel menggenggam tangan Gwiyomi erat.
"Memangnya kenapa?" Gwiyomi sedikit bingung dengan permintaan itu.
"Aku hanya ingin kau percaya padaku, aku mencintaimu dan anak kita, selamanya akan selalu seperti itu, kau mengerti maksudku 'kan?" kata Hazel lagi.
Meski sedikit bingung, Gwiyomi hanya mengangguk pasrah, ia lalu masuk kedalam pelukan Hazel yang terbuka lebar untuknya.
"Aku mencintaimu Gwi, sangat mencintaimu," ucap Hazel memeluk Gwiyomi sangat erat, matanya berkaca-kaca karena kini hatinya terus diliputi ketakutan yang membuat ia sendiri kadang tidak bisa mengendalikannya.
Gwiyomi balas memeluk Hazel erat, Hazel seperti berubah sikap padanya. Satu hal yang membuat Gwiyomi heran, malam itu setelah mereka jalan-jalan, Hazel menyentuhnya dengan panas dan cukup kasar, pria itu juga tidak henti mengatakan kalau pria itu mencintainya.
Namun, Gwiyomi tidak terlalu memikirkannya, hatinya justru diliputi kebahagiaan yang membuncah karena diberikan cinta yang begitu besar.
Happy Reading.
TBC.
eyank kasih mawar cantik buat Gwi yaa