NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:99.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Sampah

Panas bulan Juli menggantung rendah di atas Kota Cakrawala.

Di depan gerbang RSUD Harapan Bangsa, Rangga Aditya Wijaya berdiri dengan satu tas ransel lusuh di bahu kiri dan map cokelat di tangan kanan. Kemeja putihnya sudah mulai lembap oleh keringat. Sepatu hitamnya bersih, tapi bagian solnya menipis. Dari luar, ia tampak seperti dokter muda lain yang datang untuk hari pertama kerja.

Hanya ia sendiri yang tahu, di dalam saku celananya, ponsel murah dengan layar retak menyimpan satu angka yang terasa lebih tajam daripada jarum suntik.

Saldo: Rp 1.930.000.

Kos-kosan dekat rumah sakit menelan Rp 800.000 per bulan. Uang makan, pulsa, ongkos ojol, dan sedikit kiriman untuk rumah di Kabupaten Sukamakmur harus diatur dari sisa itu. Ayahnya, Pak Slamet, masih bekerja sebagai buruh pabrik. Ibunya, Bu Suryani, selalu berkata jangan mengirim uang dulu, tapi suara batuk yang ia tahan setiap kali menelepon tidak bisa dibohongi.

Rangga mengunci layar ponsel.

"Mulai hari ini," gumamnya pelan, "jangan banyak mengeluh."

Ia melangkah masuk.

Aula RSUD Harapan Bangsa tidak mewah. Cat dindingnya mulai pudar, kipas angin berputar lambat di langit-langit, dan antrean pasien BPJS memenuhi kursi plastik biru di dekat loket. Bau disinfektan bercampur obat, keringat, dan kopi sachet dari kantin kecil di ujung lorong.

Di papan informasi tertulis jelas: RSUD Harapan Bangsa, Rumah Sakit Tipe C.

Tipe C.

Bagi sebagian orang, itu hanya rumah sakit daerah yang fasilitasnya terbatas. Bagi Rangga, tempat ini adalah pintu pertama untuk keluar dari hidup yang selalu sempit.

Ia menuju meja administrasi pegawai baru.

"Nama?" tanya petugas perempuan tanpa mengangkat kepala.

"Rangga Aditya Wijaya. Dokter muda, Bu. Hari ini mulai orientasi di UGD."

Petugas itu mengambil mapnya, memeriksa satu per satu berkas: fotokopi KTP, ijazah, surat pengantar dari kampus, bukti lulus tahap profesi. Tangannya bergerak datar, seolah setiap orang di hadapannya hanyalah nomor antrean.

"Duduk dulu. Nanti dipanggil."

"Baik, Bu."

Rangga baru hendak menepi ketika suara tawa yang terlalu keras terdengar dari pintu utama.

"Wah, wah. Lihat siapa ini."

Langkah Rangga berhenti.

Bimo Adiwirya Santoso masuk ke aula dengan kemeja mahal yang lengannya digulung rapi. Jam tangannya berkilat di bawah lampu. Di sampingnya berdiri Nadia Anggraini, rambutnya tertata halus, mengenakan blazer krem yang membuatnya tampak seperti bagian dari dunia yang tidak pernah benar-benar dimiliki Rangga.

Nadia melihat Rangga.

Sesaat, matanya goyah.

Lalu ia menunduk.

Bimo menangkap gerakan itu. Senyumnya melebar.

"Rangga?" Bimo melangkah mendekat, suaranya sengaja dibuat cukup keras agar orang-orang sekitar menoleh. "Gue kira lo masih sibuk cari kos murah. Ternyata beneran diterima di sini?"

Rangga menatapnya tenang. "Saya datang untuk melapor kerja."

"Saya?" Bimo tertawa kecil. "Formal banget. Santai aja, Ga. Kita kan teman lama."

Teman lama.

Dulu di kampus, Bimo datang dengan mobil Alphard, traktiran kopi mahal, dan cerita liburan ke luar negeri. Rangga datang dengan jaket yang sama selama tiga semester, sering menahan lapar agar bisa membeli buku bekas. Nadia pernah berjalan di sampingnya, memegang payung yang sama saat hujan, berkata bahwa ia tidak butuh orang kaya.

Lalu suatu hari, ia berkata lelah.

Lelah menunggu hidup Rangga membaik.

Setelah itu, Bimo mulai menjemputnya.

"Nadia," kata Rangga pelan.

Nadia mengangkat wajah, bibirnya bergerak sedikit. "Rangga..."

Bimo langsung merangkul bahu Nadia, ringan tapi penuh tanda kepemilikan.

"Jangan bikin suasana canggung," katanya. "Nadia sekarang sama gue. Lo harusnya ikut senang. Setidaknya dia akhirnya sadar, hidup enggak bisa dibayar pakai idealisme kosong."

Beberapa orang di kursi tunggu melirik.

Rangga merasakan map cokelat di tangannya mulai tertekuk. Ia melonggarkan jari.

"Saya tidak punya urusan dengan kalian," katanya.

"Oh, punya." Bimo mendekat setengah langkah. Aroma parfum mahalnya menusuk hidung. "Lo tahu kenapa gue senang lihat lo di sini? Karena mulai hari ini, lo akan belajar posisi lo."

Ia menunjuk lantai aula dengan ujung sepatunya.

"Di bawah."

Nadia menarik napas pelan. "Bimo, sudah..."

"Kenapa? Gue salah?" Bimo menoleh ke Nadia, lalu kembali ke Rangga. "Lihat dia. Dokter muda miskin, saldo mungkin enggak cukup buat bayar makan sebulan, tapi gayanya masih sok punya harga diri."

Suara Bimo turun, tapi cukup jelas untuk mereka bertiga.

"Sampah tetap sampah, Ga. Mau pakai jas putih pun, baunya tetap sama."

Kata itu jatuh seperti tamparan.

Sampah.

Rangga tidak bergerak. Di dadanya, sesuatu mengejang panas. Tapi ia ingat wajah ibunya di layar panggilan video. Ia ingat ayahnya yang pulang kerja dengan tangan penuh oli, tetap tersenyum saat berkata, "Yang penting kamu jadi dokter yang baik, Nak."

Ia tidak boleh hancur di hari pertama.

"Kalau sudah selesai bicara," ujar Rangga, suaranya rendah, "saya mau menunggu panggilan."

Senyum Bimo mengeras. Ia tidak mendapatkan ledakan yang ia inginkan.

Sebelum ia bicara lagi, seorang pria berkacamata keluar dari koridor administrasi. Jas dokternya rapi, wajahnya dingin, langkahnya membuat beberapa pegawai langsung berdiri lebih tegak.

dr. Herman Gunawan, Sp.PD.

"Bimo," kata dr. Herman dengan senyum yang langsung berbeda dari wajahnya saat melihat antrean biasa. "Maaf menunggu. Pak Santoso sudah menghubungi saya tadi pagi."

Bimo menoleh ke Rangga dengan tatapan menang.

"Tidak apa-apa, Dokter Herman. Kami baru bertemu teman lama."

dr. Herman melirik Rangga. Hanya sekilas, seperti memeriksa noda kecil di lantai.

"Anda pegawai baru?"

"Rangga Aditya Wijaya, Dokter. Dokter muda untuk UGD."

"Hm." dr. Herman mengambil map dari tangan petugas, melihat namanya, lalu mengembalikannya tanpa minat. "Ikuti prosedur normal. Orientasi Anda menunggu jadwal dari bagian SDM."

Setelah itu ia berbalik kepada Bimo.

"Silakan lewat sini. Berkas Anda bisa kami proses langsung di ruang saya. Nadia juga ikut?"

Bimo tersenyum lebar. "Tentu, Dok."

Nadia sempat menatap Rangga sekali lagi.

Ada sesuatu di matanya. Rasa bersalah, mungkin. Atau takut. Tapi ia tetap melangkah mengikuti Bimo dan dr. Herman melewati pintu kaca yang tidak boleh dimasuki orang lain tanpa izin.

Rangga berdiri di depan loket.

Petugas administrasi berdeham canggung. "Mas Rangga, silakan tunggu dulu di kursi sana, ya."

"Baik, Bu."

Ia berjalan ke bangku panjang di dekat lorong UGD. Di ujung lain, seorang dokter muda lain bersandar pada dinding sambil membuka tablet. Nama di kartu identitasnya terbaca: dr. Yoga Pratama.

dr. Yoga memandang Rangga dari ujung kepala sampai kaki.

"Hari pertama?" tanyanya singkat.

"Iya."

"UGD bukan tempat buat cari panggung." Nada dr. Yoga datar. "Kalau belum bisa apa-apa, jangan menghalangi."

Rangga menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Saya mengerti."

dr. Yoga kembali melihat tabletnya, seolah percakapan selesai.

Rangga duduk.

Bangku plastik itu keras. Lampu lorong terlalu putih. Dari balik pintu UGD, terdengar suara roda brankar, perawat memanggil dokter, dan anak kecil menangis. Hidup dan mati lewat hanya beberapa meter dari tempat ia duduk, tetapi hari itu ia belum punya kuasa apa pun. Ia hanya nama baru di daftar orientasi.

Ponselnya bergetar.

Dedi.

Rangga mengangkat panggilan. "Ded."

"Bro! Hari pertama jadi penghuni neraka UGD gimana?" suara Dedi terdengar riang, terlalu riang untuk lorong yang dingin itu.

"Baru duduk."

"Lho, kok nadanya kayak orang kalah judi?"

Rangga menatap pintu kaca tempat Bimo menghilang. "Ketemu Bimo."

Di seberang sana, Dedi langsung diam.

"Sama Nadia?"

"Iya."

"Dia ngapain?"

"Bimo biasa. Nadia diam."

Dedi menghela napas panjang. "Ga, dengar. Lo enggak perlu buktiin apa-apa ke orang kayak dia."

Rangga tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "Aku tahu."

"Saldo masih aman?"

Pertanyaan itu membuat Rangga menunduk ke ponselnya.

"Cukup."

"Cukup versi lo itu bahaya. Kalau butuh pinjam..."

"Jangan." Jawaban Rangga cepat. Lalu ia melembutkan suara. "Terima kasih. Aku masih bisa atur."

"Pak Slamet sama Bu Suryani tahu lo mulai hari ini?"

"Tahu. Ibu kirim pesan tadi pagi. Katanya jangan lupa sarapan."

"Lo sarapan?"

Rangga diam.

Dedi mendengus. "Dasar. Nanti gue bawain nasi padang kalau sempat."

"Jangan berlebihan."

"Berlebihan apanya? Dokter muda kalau tumbang di hari pertama, pasiennya siapa yang nolong?"

Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, dada Rangga sedikit menghangat.

Ia baru hendak menjawab ketika lorong UGD tiba-tiba berubah gaduh.

Seorang perawat berlari keluar. Di belakangnya, dua petugas mendorong brankar kosong. Telepon meja di pos perawat berdering bertubi-tubi. dr. Yoga yang tadi tampak acuh langsung menegakkan badan.

Lalu pengeras suara rumah sakit menyala dengan bunyi berderak.

"Perhatian. Panggilan darurat untuk seluruh tenaga medis UGD. Terjadi insiden penyanderaan di Jalan Cahaya Bangsa. Korban luka banyak, satu pasien anak dilaporkan mengalami perdarahan berat. Seluruh tenaga medis yang tersedia segera berkumpul di UGD."

Suara itu berulang.

Lorong yang tadi dingin mendadak mendidih.

Rangga berdiri.

Di telepon, Dedi berseru, "Ga? Itu apa? Lo di UGD?"

Rangga menutup panggilan tanpa sadar. Jarinya masih menggenggam ponsel, tapi matanya sudah tertuju pada pintu UGD yang terbuka lebar.

dr. Yoga melewatinya cepat. "Kamu dokter muda baru? Jangan bengong. Kalau disuruh bantu, bantu. Kalau tidak, minggir."

Rangga memasukkan ponsel ke saku. Map cokelatnya ia letakkan di kursi.

Kata Bimo masih berdengung di kepalanya.

Sampah.

Tapi dari arah UGD, suara lain lebih keras: roda brankar, alarm monitor, langkah perawat, dan panggilan hidup yang tidak peduli siapa miskin, siapa kaya, siapa punya koneksi.

Rangga menarik napas.

Lalu ia berlari.

Ia berlari ke arah UGD, sementara kata sampah yang barusan dilemparkan Bimo masih terbakar di dadanya.

1
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
Amiera Syaqilla
hello author🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!