Kisah petualangan seorang pemuda yang dipilih semesta untuk pergi bersama para roh pendampingnya ke dunia lain. Disana mereka akan membantu membereskan semua kekacauan yang di sebabkan oleh para pasukan Iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ya'purmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkitnya Kekuatan Sang Penyihir
Keesokan paginya, Ipul dan Erlang pun sudah siap untuk berangkat meninggalkan kota Dooms menuju ke desa yang akan dituju oleh mereka.
Mereka berdua berjalan menuju hutan terdekat terlebih dahulu, lalu setelah itu Ipul pun terbang menunggangi Erlang yang telah berubah wujud menjadi burung Elang besar untuk pergi menuju desa.
Di tengah perjalanannya dari kota menuju desa, mereka melihat sebuah rombongan yang sedang membawa banyak kereta kuda untuk mengangkut barang dengan berjalan kaki melewati hutan.
Rombongan tersebut terlihat berjumlah kurang lebih sebanyak 50 orang dan mereka semua terlihat membawa senjata. Rombongan itu memang terlihat mencurigakan karna mereka tidak berjalan melalui jalan yang seharusnya dilalui untuk menuju kota.
Namun Ipul dan Erlang tidak begitu menghiraukan rombongan tersebut. Mereka berdua yang sedang terbang di udara itu pun hanya melewati rombongan tersebut tanpa terlihat oleh mereka.
Dan setelah terbang cukup lama, mereka berdua pun sampai ke desa yang mereka tuju.
Sebelum mereka masuk ke desa, terlebih dahulu mereka singgah ke hutan di dekat desa untuk mengganti wujud Erlang lalu mereka lanjut menuju gerbang dengan berjalan kaki.
Dan sesampainya di gerbang desa yang mereka tuju, Ipul dan Erlang pun dibuat terkejut bukan main melihat desa tersebut hancur porak-poranda, serta terlihat banyak rumah warga yang sudah hangus terbakar.
Selain beberapa rumah yang sudah rata dengan tanah akibat terbakar, terlihat juga di sana beberapa warga desa yang telah menjadi korban tergeletak di tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Melihat semua pemandangan itu, Ipul dan Erlang pun bergegas berlari menuju rumah kepala desa untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana, serta memastikan seperti apa keadaan Ivie dan keluarga.
Sesampainya mereka berdua di depan rumah kepala desa, mereka melihat banyak warga yang sedang terluka di kumpulkan disana untuk di rawat.
Lalu Ipul pun segera masuk ke dalam rumah untuk mencari Ivie, sedang Erlang berkeliling desa untuk mengumpulkan semua jasad warga yang tewas untuk di kumpulkan di satu tempat agar nanti mudah untuk di makamkan.
Setelah Ipul sampai di dalam, ia tidak melihat Ivie di sana. Yang dilihat olehnya di sana hanya ayah Ivie yang sedang terbaring lemah dengan bekas luka sayatan pedang di tubuhnya yang sudah berbalut perban. Serta sang nenek yang sedang sibuk mengobati luka-luka para warga desa.
Ipul pun segera menghampiri ayah Ivie yang saat itu masih terbaring lemah di lantai dan bertanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini tuan Luis.?” Tanyanya dengan tubuh gemetar.
Lalu ayah Ivie pun bercerita
“Kemarin malam desa ini di serang oleh gerombolan para bandit bersenjata yang sangat ramai.”
“Mereka mencari mu untuk dibawa menghadap tuan bupati di kota yang sudah membayar mereka.”
“Karena mereka tidak menemukan mu di sini, mereka pun menjarah seluruh harta benda warga desa dan menculik anak-anak yang ada di desa ini sebagai ganti kerugian mereka karna tidak akan dapat bayaran jika tidak berhasil membawamu.”
“Lalu Kami semua mencoba melakukan perlawanan dan alhasil kami kalah, dan jadi seperti ini.”
“Semua yang ada di desa ini mereka ambil dan sebagian rumah yang ada di sini mereka bakar.”
“Setelah itu mereka pun pergi membawa hasil jarahan dan anak-anak desa ini yang mereka tangkap untuk nantinya mereka jual, termasuk anak ku Ivie.” Jelas tuan Luis bercerita tentang apa yang mereka alami.
Mendengar cerita tersebut, Ipul sangat merasa bersalah karna dialah desa yang tenteram itu menjadi seperti ini. Dan karna dia juga, Ivie dan anak-anak yang ada di desa ini di bawa oleh para bandit.
Lalu Nenek Ivie pun menghampirinya, melihat dia sangat terpukul karna peristiwa itu. Sang nenek pun mencoba untuk menenangkannya.
“Ini semua bukan salahmu nak, dan sudah jadi takdir kami harus mengalami semua ini.!“ Kata sang nenek mencoba menenangkan pemuda Yana ada di hadapanya itu.
Namun emosi yang saat itu tak sanggup lagi di tahannya, amarah yang meluap-luap bercampur rasa sedih serta rasa bersalah yang begitu besar membuatnya tidak dapat menyembunyikan semua rasa itu di depan sang nenek.
“Jadi cobalah untuk tenang terlebih dahulu nak.! Kata sang nenek kembali agar pemuda itu tenang.
Sembari menundukkan kepala, ia pun duduk menghadap sang nenek yang dari tadi mencoba menenangkannya.
Lalu Ia pun berkata kepada sang nenek dan ayah Ivie yang ada di hadapannya.
“Maafkan aku nek. Dan maafkan aku juga tuan Luis.!” Katanya dengan suara lirih sembari menangis sejadi-jadinya di pangkuan sang nenek.
Sang nenek yang hanya bisa diam terpaku melihat pemuda yang ada di pangkuannya itu meluapkan seluruh kesedihan yang ia rasakan hari itu. Sambil memegang dan mengusap-usap kepala Ipul, sang nenek masih terus mencoba untuk menenangkannya.
Dan setelah ia menumpahkan semua kesedihannya itu, tubuhnya pun terasa lemas. Lalu ia pun tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
Sang nenek yang melihatnya seperti itu pun terkejut dan ketakutan, karna melihat tubuh yang tergeletak di lantai tadi bergetar dengan sangat hebat.
Bahkan sang nenek yang ingin mencoba menyentuh tubuh itu pun, berniat ingin memeriksa keadaannya. Namun tangan sang nenek tidak dapat menyentuh tubuh tersebut, karna terhalang sesuatu. Seperti ada penghalang tak kasat mata yang menghalangi tangan sang nenek.
Lalu setelah itu sang nenek pun merasakan udara di sekitarnya berubah menjadi hangat, dan melihat tubuh tersebut mengeluarkan cahaya terang yang membungkus seluruh tubuhnya bercampur dengan aura hitam pekat yang mengelilingi cahaya tersebut.
Terlihat tubuh itu perlahan berdiri dan mulai melayang di udara, namun sang nenek hanya bisa melihatnya tanpa dapat berbuat apa-apa untuk mencegahnya.
Lalu tubuh tersebut pun perlahan melayang terbang ke luar dari rumah dan pergi melesat terbang secepat kilat ke arah kota.
Melihat tuannya terbang melesat menuju kota, Erlang pun dengan segera mengubah wujudnya untuk terbang menyusul tuannya.
Kemudian Erlang pun ikut melesat ke udara untuk mengejar tubuh tuannya yang terbang dengan kecepatan tinggi. Dan ia pun terlihat kesulitan untuk menyusul tuannya.
Begitu tubuh tuannya sampai ke tempat rombongan yang tadi ia lihat saat menuju desa, Erlang melihat tubuh tuannya berhenti tepat di atas rombongan tadi yang sedang berjalan menuju kota.
Lalu ia pun ikut berhenti untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh tuannya itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dengan selalu siaga menjaga tubuh tuannya itu dari serangan yang jika datang tiba-tiba dari mereka yang ada di bawah.