NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HEMBUSAN NAPAS PERTAMA DI LUAR INKUBATOR DAN PELUKAN HANGAT SANG AYAH

Pagi hari di Rumah Sakit Islam Al-Hikmah Surabaya datang dengan sorotan cahaya matahari bulan November yang menembus tirai putih ruang perawatan khusus NICU. Udara di dalam ruangan steril itu terasa sejuk, diatur sedemikian rupa demi menjaga kenyamanan bayi-bayi prematur yang sedang berjuang meniti hari-hari awal kehidupan mereka.

Di sudut ruangan, inkubator nomor tiga tampak menjadi pusat perhatian utama. Sejak pagi buta, dr. Maya bersama dua orang perawat senior berdiri mengelilingi kotak transparan tersebut.

Di dalam sana, Altharion Zayyan Al-Gibran yang kini telah melewati dua pekan masa kritis pasca-kelahiran prematurnya di usia tujuh bulan tampak berbaring dengan tenang.

Selang bantu pernapasan utama yang selama ini menempel di hidung kecilnya telah resmi dilepas sejak semalam. Kini, bayi mungil itu hanya mengenakan nasal cannula kecil dengan pasokan oksigen minimal, membuktikan bahwa paru-parunya telah menunjukkan kematangan yang luar biasa pesat.

Revan Al-Gibran berdiri terpaku di balik kaca pembatas steril. Mengenakan jas lab hijau muda dan masker medis, kedua mata tajam pria itu tampak berkaca-kaca.

Setiap kali dada kecil Altharion naik turun secara mandiri tanpa bantuan mesin berat, ada rasa haru yang teramat dalam menghantam dada Revan.

Di sampingnya, Nayara Zayna Az-Zahra duduk di atas kursi roda dorong, didampingi oleh Mbak Siti yang membawa tas perlengkapan bayi. Air mata kebahagiaan menetes perlahan membasahi pipi Nayara.

Selama dua minggu terakhir, hari-hari mereka dipenuhi doa tanpa putus, rasa cemas yang mencekam, serta pompaan ASI setiap tiga jam sekali demi memastikan nutrisi sang buah hati tetap tercukupi.

"Alhamdulillah... lihat, Mas. Anak kita bernapas sendiri..." bisik Nayara pelan, suaranya bergetar hebat menahan keharuan yang membuncah di dalam dadanya.

Revan menunduk, mengecup puncak kepala istrinya penuh kasih sayang, lalu beralih merengkuh bahu Nayara. "Iya, Zawjati. Dia anak yang hebat. Darah daging kita adalah seorang pejuang sejati."

dr. Maya membuka pintu kecil inkubator, lalu menoleh ke arah pasangan muda tersebut dengan senyuman lebar terkembang di balik maskernya.

"Pak Revan, Ibu Nayara, silakan masuk ke dalam. Pagi ini kondisinya sangat stabil. Dan ada kabar baik... jika perkembangannya terus membaik seperti ini dalam tiga hari ke depan, Altharion sudah boleh dipindahkan ke ruang perawatan biasa dan bersiap untuk dibawa pulang ke Graha Famili."

Mendengar pengumuman tersebut, beban berat yang selama dua minggu menghimpit dada Revan seketika lenyap seketika. Senyuman paling tulus yang pernah menghiasi wajah pria berwibawa itu terbit dengan sempurna.

Satu jam kemudian, setelah melalui prosedur sterilisasi yang ketat, Revan diizinkan untuk pertama kalinya melakukan Kangaroo Mother Care atau dalam hal ini, Kangaroo Father Care yakni metode skin-to-skin contact di mana bayi diletakkan langsung di atas dada bidang sang ayah untuk menjaga suhu tubuh dan memperkuat ikatan emosional.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa gugup yang luar biasa, Revan duduk di kursi khusus di sebelah inkubator. Perawat senior dengan sangat hati-hati mengangkat tubuh mungil Altharion yang terasa begitu ringan, lalu memindahkannya perlahan ke atas dada Revan yang terbuka.

Revan langsung merapatkan kemejanya, memeluk erat tubuh mungil putranya yang hanya mengenakan popok kain kecil dan topi rajut biru muda.

Begitu kulit mereka bersentuhan, keajaiban kecil terjadi. Altharion yang tadinya sempat menggeliat kaget perlahan-lahan menenangkan diri. Napas hangat bayi itu berhembus tepat di atas jantung Revan, seolah mengenali detak ritme yang sama semasa ia berada di dalam kandungan.

Revan menunduk, air matanya tak lagi mampu ia bendung. Pria yang dulunya ditakuti di jalanan Surabaya itu kini menangis tersedu-sedu dalam diam, merasakan getaran kehidupan yang begitu rapuh namun sarat akan keagungan Sang Pencipta.

"Halo, jagoan Ayah..." bisik Revan sangat lirih tepat di telinga mungil putranya, suaranya serak sarat akan cinta yang teramat besar. "Terima kasih sudah bertahan... Terima kasih sudah memilih Ayah dan Bunda jadi orang tuamu. Mulai hari ini, tidak ada yang perlu ditakutkan lagi di dunia ini. Ayah akan pasang badan melindungi kamu sampai kapan pun."

Nayara yang memerhatikan dari kursi roda hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangan, membiarkan air mata kebahagiaannya mengalir deras. Pemandangan di hadapannya adalah lukisan terindah tentang cinta seorang ayah kepada putranya sebuah transformasi total dari masa lalu yang kelam menuju lembaran hidup baru yang dipenuhi berkah dan rida Ilahi.

Menjelang siang hari, suasana ruang perawatan khusus bayi di Rumah Sakit Islam Al-Hikmah berubah menjadi lebih hangat. Berita bahwa Altharion sudah stabil dan bisa bernapas mandiri menyebar ke keluarga besar di Sidoarjo.

Abah kakek Altharion dari pihak Nayara bahkan menelepon langsung melalui sambungan video call, melantunkan kalimat syukur dan doa panjang dengan suara serak penuh keharuan.

"Alhamdulillah... cucu Abah anak yang kuat. Sampaikan salam sayang Abah buat dia, Revan. Besok kalau sudah di rumah Graha Famili, Abah dan Ummi pasti langsung berkunjung ke Surabaya," ucap Abah di seberang layar ponsel.

"Baik, Abah. Insyaallah minggu depan kalau dokter sudah beri izin pulang, rumah kami sudah siap menyambut kedatangan Abah," jawab Revan sopan dengan senyuman cerah terpancar di wajahnya.

Setelah panggilan video usai, Revan kembali fokus mendampingi Nayara yang sedang belajar menyusui secara langsung (direct breastfeeding) di ruang laktasi khusus rumah sakit. Meskipun proses tersebut memerlukan kesabaran ekstra mengingat ukuran tubuh Altharion yang masih kecil, tekad kuat Nayara sebagai seorang ibu membuat setiap sesi latihan berjalan penuh makna.

Sore harinya, ketika matahari perlahan mulai turun ke ufuk barat, memancarkan bias jingga keemasan yang menembus kaca jendela rumah sakit, Revan memutuskan untuk keluar sejenak ke area taman rumah sakit untuk menghirup udara segar sekaligus merapikan beberapa urusan kantor yang tertunda lewat ponsel pintarnya.

Meskipun fokus utamanya seratus persen berada pada istri dan anaknya, roda bisnis properti Revan di Surabaya Utara tetap harus berjalan. Namun, berbeda dari masa lalunya yang gila kerja hingga mengabaikan segalanya, kini Revan menetapkan batasan yang sangat tegas: keluarga adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar oleh apa pun.

Saat ia sedang berdiri di dekat air mancur taman sambil merapikan dokumen digital di layarnya, sebuah sapaan ramah menghentikan gerakannya.

"Revan?"

Revan mendongak. Di hadapannya berdiri dr. Rian, dokter spesialis anak rekan sejawat dr. Maya yang sempat ikut memantau kondisi awal Altharion di malam persalinan darurat dua pekan lalu.

Revan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jas, lalu mengangguk sopan sambil tersenyum. "Eh, Dok Rian. Selamat sore."

dr. Rian tersenyum lebar, menepuk pelan bahu Revan. "Sore, Pak Revan. Saya dengar dari dr. Maya, perkembangan si kecil Altharion luar biasa pesat ya? Paru-parunya merespons terapi dengan sangat baik, padahal lahir di usia tujuh bulan."

Revan menghela napas lega, senyum bangganya kembali mengembang. "Alhamdulillah, Dok. Semua berkat pertolongan Allah dan kerja keras tim medis di sini. Anak itu memang punya semangat hidup yang besar."

"Itu juga karena mental orang tuanya yang tenang dan suportif," puji dr. Rian tulus. "Saya ingat betul malam pertama dia masuk NICU dalam keadaan panik luar biasa. Tapi sekarang, bapaknya sudah jadi salah satu contoh ayah paling siaga di rumah sakit ini. Setiap jam berkunjung, pasti ada di samping inkubator."

Revan tertawa kecil, merendah. "Namanya juga anak pertama, Dok. Masih belajar jadi ayah yang baik."

"Belajar terbaik adalah dengan ketulusan, Pak Revan. Dan saya lihat itu ada pada diri Anda," tukas dr. Rian sebelum pamit melanjutkan jadwal jaga malamnya.

Menjelang magrib, Revan kembali ke kamar perawatan tempat Nayara dan Altharion berada. Bayi mungil itu kini sudah dipindahkan ke baby cot transparan khusus di samping ranjang Nayara, menandakan bahwa masa-masa kritis di ruang NICU telah resmi terlewati dan mereka kini bersiap menatap babak baru kehidupan di rumah.

Malam itu, azan magrib berkumandang merdu dari musala rumah sakit. Revan berdiri di sudut ruangan, membentangkan sajadah, lalu menunaikan salat magrib berjemaah dengan Nayara di mana Nayara salat dalam posisi duduk di atas ranjang.

Suara bariton Revan melantunkan surah-surah pendek Al-Qur'an dengan penuh penghayatan, menciptakan getaran spiritual yang menenangkan seluruh isi ruangan. Selepas salam, Revan memutar tubuhnya, mendekati ranjang sang istri, lalu mengangkat kedua tangan mereka untuk berdoa bersama memanjatkan rasa syukur yang tiada tara.

"Ya Allah... jadikanlah anak kami ini anak yang salih, sehat, penyejuk mata dan hati bagi kedua orang tuanya, serta pembawa keberkahan di setiap langkah hidup kami," bisik Revan khusyuk diamini dengan isak tangis haru oleh Nayara.

Selepas doa, Revan membungkuk, mencium kening Nayara lama-lama, lalu beralih mencium pipi mulus Altharion yang sedang terlelap pulas di baby cot.

Di bawah cahaya lampu tidur ruangan yang temaram, keluarga kecil di Graha Famili itu menyongsong malam dengan kedamaian yang sempurna membuktikan bahwa sekelam apa pun masa lalu seseorang, rahmat dan ampunan Allah selalu mampu merajut kembali masa depan yang jauh lebih indah dan mulia.

1
Alex
sepertinya ini rumah tangga impian setiap org Thor, termasuk aku juga, semua berjalan seimbang atas ridho Allah, apapun slalu ada Allah, insyaallah semua akan berakhir baik,
bawangnya kebanyakan thor
Alex
bahagianya nembus sampai sini thor🥰
Alex
sweet bgtss
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!