Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Taktik Menanam Tomat Unggul
"Lihat bagian bawah denah ini, Pakde. Kakek menggambar jalur aliran air di bawah tanah kapur kita."
Seroja membentangkan selembar kertas tua di atas meja bambu. Pakde Prasetyo mendekat, lalu menyipitkan mata membaca garis-garis tinta yang mulai pudar. Aroma kertas tua bercampur minyak cengkih masih samar tercium di dalam gubuk.
"Kalau tidak salah, ini letaknya di belakang rumpun bambu," gumam Prasetyo sambil mengikuti garis pada denah dengan ujung jarinya. "Bapak dulu pernah bilang ada mata air di bawah tanah sini. Tapi Pakde tidak pernah percaya. Tanah kapur ini selalu kering setiap musim kemarau."
"Kakek tidak pernah asal bicara, Pakde," kata Seroja. Ia menggulung kembali denah itu dengan hati-hati, lalu menyimpannya ke dalam saku kebayanya. "Kakek meninggalkan petunjuk ini supaya kita tetap bisa bertahan hidup di sini. Pagi ini kita gali sumur dangkal di titik itu."
Danu mengangguk mantap sambil mengangkat cangkulnya. "Biar Mas yang menggali. Kalau kita benar-benar menemukan sumber air, kita tidak perlu lagi mengambil air payau dari tempat yang jauh."
Sinar matahari pagi menembus sela-sela daun jati. Danu dan Prasetyo bergantian mengayunkan cangkul di sudut pekarangan belakang. Lapisan batu kapur yang keras perlahan mulai pecah. Bunyi besi beradu dengan batu terus terdengar. Keringat membasahi baju mereka, tetapi keduanya tetap bekerja tanpa mengeluh.
Seroja berdiri di dekat mereka sambil membawa kendi berisi air minum. Dadanya terasa hangat melihat paman dan sepupunya bekerja sekeras itu. Dulu, ia terbiasa memimpin rapat di ruangan berpendingin udara. Sekarang, ia memimpin keluarganya menggali tanah demi mendapatkan sumber air.
"Tanahnya mulai lunak, Nduk!" seru Prasetyo dari dalam lubang yang sudah sedalam dua meter.
Danu segera turun sambil membawa linggis. Ia menghunjamkan ujung besi itu ke dasar galian yang mulai lembap.
Retak.
Air bening langsung menyembur dari celah tanah liat. Mula-mula hanya sedikit, lalu alirannya semakin deras hingga mengisi dasar lubang.
Siti yang menyaksikan dari atas spontan menutup mulutnya. Air mata mengalir di pipinya.
"Alhamdulillah. Bapak benar-benar meninggalkan sumber air untuk kita."
Seroja mengembuskan napas lega. Air bersih adalah nyawa bagi setiap lahan pertanian. Dengan sumber air ini, peluang mereka untuk bertahan hidup dan mengembangkan kebun menjadi jauh lebih besar.
Suara derit rantai sepeda memecah kebahagiaan mereka. Bagas mengayuh kencang memasuki halaman, lalu mengerem mendadak hingga ban depannya tergelincir di tanah berdebu. Wajahnya panik. Napasnya terengah-engah.
"Ada apa, Gas? Sepedamu rusak lagi?" tanya Danu sambil naik dari dalam sumur.
"Bukan sepeda, Mas! Sawah di desa utama hancur!" Bagas menunjuk ke arah pusat desa dengan tangan gemetar. "Sejak subuh, hama wereng cokelat menyerang. Ribuan wereng memenuhi sawah warga. Padi yang sudah mulai menguning habis dimakan."
Siti langsung pucat. Gagal panen berarti bencana bagi seluruh desa.
"Sawah milik pamanmu Haris juga kena, Gas?"
"Kena semua, Bibi. Tapi yang paling parah sawah Kang Supri sama Pak Hardiman," jawab Bagas. Ia mengambil kendi dari tangan Seroja lalu minum beberapa teguk. "Sawah mereka paling luas. Tadi pagi Supri ngamuk di balai desa karena rugi besar. Wereng itu melahap padi mereka sampai nyaris tidak ada yang tersisa."
Prasetyo mengembuskan napas panjang. Meski Supri adalah musuh mereka, pria itu masih merasa iba melihat sawah warga yang hancur.
Seroja tetap tenang. Pikirannya langsung menghitung peluang. Jika sawah di desa utama gagal panen, pasokan sayur dan bahan pangan ke pasar kecamatan pasti berkurang. Dalam beberapa minggu, harga hasil panen yang tersisa akan naik. Ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.
"Kita tidak punya waktu memikirkan Supri. Kita tanam benih tomat itu sekarang," kata Seroja mantap.
Ia berjalan ke tumpukan daun jati kering dan kotoran sapi yang dikumpulkan Nenek Warni dua hari lalu. Kompos itu belum matang. Kalau langsung dipakai, panas dari proses pembusukan bisa merusak akar tomat. Ia harus mempercepat proses fermentasinya.
Seroja memusatkan pikiran. Layar transparan biru muda kembali muncul di depan matanya.
LADANGKU, Level 2
XP: 150/300
Coin: 350
Ia membuka menu Dapur Jamu, lalu memilih kategori penyubur tanah.
Starter Bakteri Kompos Fermentasi | Waktu: 5 menit | Botol Ragi Pertanian
Seroja langsung memulai riset. Sambil menunggu lima menit, ia meminta Danu mengambil seember air dari sumur yang baru mereka gali.
Tak lama kemudian, dering pelan terdengar di kepalanya. Riset selesai.
Saat Danu membelakangi dirinya, Seroja mengeluarkan botol ragi pertanian dari Gudang virtual. Ia menuangkan cairan cokelat kental itu ke dalam ember. Aroma asam manis khas ragi langsung tercium.
"Mas Danu, siramkan air ini ke tumpukan kotoran sapi dan daun kering," kata Seroja sambil menyerahkan ember.
Danu mengerutkan dahi.
"Air apa ini, Nduk? Baunya manis seperti tape."
"Air cucian beras yang sudah Seroja endapkan dari kemarin," jawab Seroja tanpa ragu. "Air ini bikin kotoran hewan lebih cepat matang. Besok pupuknya sudah aman dipakai. Mas tinggal aduk rata, lalu kita masukkan ke lubang tanam."
Danu mengangguk. Ia segera mengaduk tumpukan kompos dengan cangkul. Dalam hati, ia kembali kagum. Sepengetahuannya, tidak ada mantri pertanian di kecamatan yang memiliki pengetahuan bertani selengkap Seroja.
Mereka pun bekerja hingga sore di lahan baru dekat batas hutan. Seroja memasukkan lima puluh benih tomat ke setiap lubang tanam dengan jarak yang sudah diukur Doni. Danu menutupnya dengan kompos hasil fermentasi, lalu menyiramnya menggunakan air jernih dari sumur peninggalan Kakek Hadi.
Seroja memandangi bedeng tanah hitam itu. Benih tomat unggul dari sistem memiliki ketahanan terhadap serangan wereng. Ditambah kompos organik yang kaya nutrisi, tanaman itu menjadi harapan baru bagi masa depan keluarganya.
Hari demi hari berlalu. Setiap pagi, kabar buruk terus datang dari desa. Serangan wereng semakin meluas, menghabiskan sawah, ladang jagung, hingga kebun singkong milik warga. Tangis dan keluhan terdengar di mana-mana saat tanaman mengering di bawah terik matahari.
Di tengah bencana itu, kebun di belakang gubuk Seroja justru tumbuh subur.