~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
***
Waktu mengalir tenang menuntun hari demi hari di tanah Hulu Rawa. Usia kandungan Melani kini telah menginjak minggu keenam belas. Meski lonjakan hormon kehamilan yang dahsyat tak lagi setajam dulu, rasa mual, pusing yang mendadak menyerang, serta lemas yang menggelayuti tubuhnya masih sesekali menyapa.
Pagi itu, sebelum matahari menyembulkan ronanya secara utuh, Melani perlahan membuka mata. Tubuhnya terasa sedikit lebih segar. Menatap sisi peraduan yang sudah kosong, Melani teringat betapa hampir empat bulan lamanya ia terbaring lemas, tak sanggup melayani kebutuhan suaminya layaknya seorang istri sejati. Rasa bersalah menelusup halus ke dalam sanubarinya.
Saya sudah terlalu lama menyusahkan Mas Rangga... Pagi ini saya harus menyiapkan sarapan hangat untuknya, batin Melani mantap.
Dengan perlahan dan hati-hati, Melani menyibakkan selimut tenun, melangkahkan kaki ringannya menuju dapur kayu. Bidan muda itu menyalakan tungku, menyeduh cangkir kopi hitam manis favorit Rangga, serta memotong beberapa ubi kayu rebus hangat.
Namun, saat melangkah kembali melewati koridor menuju kamar utama untuk mengambil kain selendang, langkah kaki Melani terhenti mendadak di depan pintu bilik mandi kayu yang tertutup rapat.
Suara gemericik air yang samar tertutup oleh desahan napas berat yang begitu tertahan. Suara bariton yang amat ia kenal—dalam, serak, dan sarat akan gairah yang terpendam begitu dalam.
"Nngghh... Melani..."
Deg!
Melani membelalakkan matanya pelan, jemarinya meremas tepi kain sarungnya di depan dada. Melani tertegun di tempatnya. Dari balik celah pintu kayu yang sedikit renggang, ia bisa mendengar dengan jelas rintihan pekat dan hembusan napas suaminya yang sedang berusaha menuntaskan gairahnya sendiri. Pria tegap yang biasanya begitu perkasa dan dominan itu rela menahan gejolak hasratnya selama empat bulan terakhir, menuntaskannya secara sembunyi-sembunyi hanya demi menjaga keselamatan raga Melani dan calon buah hati mereka.
Airmata bening seketika menggenang di pelupuk mata Melani. Bukan karena marah, melainkan oleh gejolak rasa haru, cinta, dan bersalah yang membuncah begitu dahsyat. Suaminya yang seorang Ketua Adat yang ditakuti dan dihormati, rela bersabar dan menekan ego kejantanannya tanpa pernah mengeluh sepatah kata pun.
Melani menarik napas panjang, mengusap air matanya, dan membuang segala rasa canggungnya jauh-jauh. Dengan keteguhan hati seorang istri yang ingin memuliakan suaminya, Melani mendorong pintu kayu bilik mandi secara perlahan.
Kriet...
Rangga Wira tersentak kaget. Pria tegap berotot yang sedang berdiri bersandar di dinding kayu dengan tubuh bersimbah peluh dan mengucur air itu seketika menghentikan pergerakan tangannya. Manik mata hitamnya yang dipenuhi pendar gairah terperanjat menatap sosok istrinya yang berdiri di ambang pintu.
"D-Dinda...?" suara bariton Rangga terdengar amat serak dan terbata. Dengan tergesa-gesa, sang Ketua Adat mencoba menutupi tubuh bawahnya, raut wajahnya yang gahar mendadak dipenuhi rasa canggung dan bersalah yang luar biasa. "Maafkan saya... Maafkan suamimu ini, Dinda. Saya membuatmu terbangun... Saya tidak bermaksud—"
"Mas..." potong Melani lembut, suaranya parau menahan getaran emosi.
Melani melangkah masuk tanpa ragu, membiarkan gaun katun tipisnya agak basah oleh cipratan air di lantai kayu. Bidan muda itu mendekati Rangga, mengabaikan jarak yang biasanya tercipta, lalu meraih kedua telapak tangan kekar suaminya dan menggenggamnya erat di dadanya.
"Dinda, keluar dari sini... Nanti kamu dingin dan mual lagi," tutur Rangga cemas, mencoba menarik tangannya pelan demi melindungi Melani. "Kondisimu baru saja membaik."
Melani menggelengkan kepalanya pelan, menatap lurus ke dalam sepasang mata kelam suaminya dengan pendar cinta yang begitu pasrah dan penuh ketulusan.
"Mas Rangga... kenapa harus menyiksa diri seperti ini?" bisik Melani lirih, air matanya menetes manis di pipinya. "Kenapa tidak pernah bilang pada saya? Empat bulan Mas menahan semuanya sendiri... demi menjaga saya."
Rangga Wira menatap wajah ayu istrinya dengan pandangan yang teramat lembut. Pria tegap itu mengangkat satu tangannya, mengusap air mata di pipi Melani dengan jempol kekarnya.
"Kamu sedang berjuang mempertaruhkan nyawa dan ragamu membawa benih saya, Melani," pukas Rangga tulus dengan suara dalam yang menggetarkan dada. "Menahan gairah fisik tidak ada artinya dibanding pengorbananmu. Saya tidak ingin menyakitimu atau membahayakan kandunganmu hanya demi kepuasan saya."
Dada Melani berdesir hebat. Rasa cinta kepada pria di hadapannya meledak tak tertampung lagi. Melani menyunggingkan senyum paling manis, memajukan tubuhnya, dan menyadarkan kepalanya di dada bidang Rangga yang hangat dan basah.
"Saya sudah jauh lebih kuat, Mas..." pukas Melani berbisik lembut di dada suaminya. "Kandungan saya sudah empat bulan... sudah aman. Dan saya adalah istrimu... Saya ingin melayani suamiku."
"Dinda... tapi kamu—"
"Biar saya yang melayanimu pagi ini, Mas," potong Melani mantap.
Melani meraih jemari Rangga, menuntun pria tegap itu melangkah keluar dari bilik mandi menuju kamar utama mereka yang hangat. Di atas peraduan kayu yang bertabur ronce melati, Melani membimbing Rangga untuk duduk di tepi tempat tidur.
Dengan jemari yang lentik dan kelembutan seorang wanita yang seutuhnya mencintai suaminya, Melani berlutut pelan di hadapan Rangga Wira. Bidan muda itu menanggalkan canggungnya, membiarkan naluri keistriannya mengambil alih secara utuh. Melani memberikan pelayanan yang amat manis, memanjakan suaminya lewat cara-cara yang aman dan lembut tanpa membebani fisiknya atau membahayakan janin di rahimnya.
Rangga Wira menahan napasnya, dadanya naik turun dengan napas yang makin memburu. Pria yang biasanya amat tangguh dan mengendalikan segalanya itu kini terkulai pasrah dalam kehangatan dan kelembutan tak terbatas dari istrinya. Sentuhan dan kecupan tulus Melani bagaikan penawar dahaga dari rasa haus yang menumpuk selama berbulan-bulan.
"Nngghh... Dinda..." erang Rangga Wira dengan suara bariton yang serak pekat. Jemari kekarnya meremas lembut helai rambut hitam Melani, menikmati setiap sensasi nikmat yang memabukkan jiwa dan raganya. "Melani-ku... ahh... sungguh nikmat, Istriku..."
Mendengar erangan kepuasan dan desahan nikmat dari bibir suaminya, hati Melani membuncah oleh rasa bahagia yang tiada tara. Ia merasa utuh kembali sebagai seorang wanita dan istri.
Namun, Rangga Wira yang tak tega melihat istrinya terus berlutut, tak lagi dapat membendung gelombang cintanya. Dengan gerakan yang amat cekatan namun sangat hati-hati, Rangga membungkuk, merengkuh tubuh molek Melani dan mengangkatnya ke atas peraduan empuk.
"Mas...?" bisik Melani kaget pelan saat raga mereka kini berhadapan erat di atas selimut tenun.
Rangga Wira menatap Melani dengan pendar gairah dan kasih sayang yang beradu indah. Pria tegap itu mengecup dahi, pipi, dan bibir Melani secara bertubi-tubi dengan kelembutan yang tiada tandingannya.
"Terima kasih, Dinda... Terima kasih atas ketulusanmu," bisik Rangga mesra di atas bibir Melani. "Tapi saya ingin meraskannya bersamamu... dengan sangat pelan dan aman."
Melani mengangguk tulus, melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh sang Ketua Adat. "Iya, Mas... Pelan-pelan..."
Rangga Wira memposisikan tubuhnya dengan amat protektif. Mengingat perut Melani yang sudah mulai menonjol halus membawa buah hati mereka, Rangga memilih posisi miring dari samping—merangkul Melani dari belakang dalam dekapan hangat yang aman, memastikan tidak ada tekanan sedikit pun pada perut sang istri.
Saat penyatuan sakral itu kembali terjadi setelah empat bulan lamanya berjarak, desahan nikmat dan haru seketika lolos dari tenggorokan keduanya.
"Aaghh... Mas Rangga..." rintih Melani pelan dengan napas memburu, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Rangga saat kehangatan penyatuan itu menyapu seluruh jiwanya.
"Nngghh... Dinda... Ahh, nikmat sekali, Sayang..." balas Rangga berbisik serak di leher Melani, mengayunkan pinggulnya dengan tempo yang amat lembut, berirama, dan penuh kehati-hatian mutlak.
Di dalam kamar kayu yang hangat oleh pendar fajar pagi, penyatuan raga itu tidak lagi didorong oleh hawa nafsu semata, melainkan lebur dalam gelombang keharuan, rasa syukur, dan cinta sejati yang tak terukur. Desahan nikmat yang saling sahut-menyahut beradu merdu dengan detak jantung mereka yang menyatu sempurna.
Saat puncaknya tiba, Rangga merengkuh tubuh istrinya makin erat, meluapkan seluruh rasa cintanya dalam kecupan mesra di bahu Melani.
"Saya mencintaimu, Melani... Sangat mencintaimu," bisik Rangga Wira dengan suara serak yang paling tulus di puncak kehangatan mereka.
Melani memutar kepalanya sedikit, menyentuh pipi tegas suaminya seraya tersenyum paling bahagia. "Saya juga sangat mencintaimu, Mas Rangga..."
Di atas pembaruan yang hangat itu, dua jiwa yang saling mengerti dan memuliakan itu terkulai lelap dalam pelukan abadi—siap menyongsong hari-hari baru membawa calon penerus Suku Hulu Rawa dalam kedamaian cinta mereka.
****
Bersambung
dr. (dokter)
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
🤲