Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Kopi yang Hilang dan Surat Tanpa Tanggal
Pagi itu, Jakarta diselimuti mendung tebal. Hujan gerimis menyapu kaca jendela kamar utama dengan ritme yang monoton dan dingin.
Maya berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Gaun rumahannya terasa longgar, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, ada cemas yang tak bisa ia jelaskan menggelayut di dadanya. Bukan cuma karena ancaman Rendra tanaya lewat telepon semalam, melainkan ada perubahan halus—hampir tak terlihat—pada cara Kian menatapnya pagi ini.
Di meja makan, cangkir kopi hitam kesukaan Kian masih mengepulkan uap tipis. Namun, tempat duduk Kian kosong. Hanya ada koran pagi yang terlipat rapi dan Arka yang sedang sibuk mengoceh sambil memainkan sendok plastiknya di pangkuan Mbak Sum, pengasuhnya.
"Mas Kian sudah berangkat, Mbak?" tanya Maya pelan saat melangkah ke dapur.
"Sudah dari jam enam tadi, Ibu," jawab Mbak Sum canggung, menghindari tatapan mata Maya. "Bapak bilang ada rapat mendadak di kantor pusat. Bapak... pesan supaya Ibu tidak usah menyusul ke kantor hari ini."
Maya tertegun. Kian tidak pernah berangkat tanpa mencium dahi Arka, apalagi tanpa pamit padanya. Bahkan di hari-hari tersulit mereka dulu, Kian selalu memastikan Maya tahu ke mana ia pergi.
Genggaman tangan Maya pada tepi meja mengerat. Ada rasa hampa yang tiba-tiba menusuk—bukan kejutan yang romantis, melainkan firasat buruk yang mulai menjalar perlahan.
Siang harinya, Maya memilih menyibukkan diri di kantor yayasan. Suara riuh anak-anak sekolah tak sepenuhnya berhasil mengalihkan pikirannya. Ketika ia sedang merapikan beberapa berkas kurikulum, pintu ruangannya terbuka mendadak.
Hani masuk dengan napas terengah-engah, raut wajahnya pucat pasi.
"May..." suara Hani gemetar. Ia menutup pintu rapat-rapat dan melangkah cepat mendekati meja Maya. "Kamu... kamu sudah buka berita hari ini?"
"Berita apa, Han? Aku dari tadi nemenin anak-anak di kelas."
Hani meletakkan ponselnya di meja, menyodorkan sebuah artikel berita bisnis nasional dengan judul tebal yang membakar dada Maya:
"KONSORSIUM VANGUARD RESMI MENGAMBIL ALIH ASET YAYASAN UTAMA. KIAN TANDATANGANI SURAT PELEPASAN HAK ATAS NAMA MAYA ."
Maya merasa pasokan udara di paru-parunya tersedot habis seketika. "Tidak mungkin," bisiknya, suaranya parau. "Mas Kian tidak akan pernah menandatangani pelepasan hak yayasan ini tanpa aku. Ini aset yang kami bangun bersama dari nol!"
"May, bukan cuma itu..." Hani menelan ludah, menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. "Ada dokumen lampiran di badan hukum. Tanda tangan di surat itu... legal, May. Itu tanda tangan Kian. Dan pemberitahuan pengosongan lahan yayasan ini... berlakunya mulai besok pagi."
Serasa ada hantaman keras yang meremukkan dada Maya. Rasa percaya yang selama ini berdiri kokoh bak benteng, mendadak retak oleh keraguan mendalam. Apakah Kian sengaja mengorbankan yayasannya demi menyelamatkan bisnis utama dari serbuan Rendra? Apakah Kian menyembunyikan ini semalam karena ia memang bermuka dua?
Tanpa berpikir panjang, Maya meraih tas dan kunci mobilnya.
Gedung Tower menjulang tinggi di antara rintik hujan yang makin deras. Maya melangkah menerobos area lobi dengan langkah cepat, mengabaikan sapaan beberapa staf yang menatapnya dengan pandangan kasihan dan berbisik-bisik.
Saat pintu lift terbuka di lantai eksekutif, Maya langsung berjalan menuju ruang kerja utama Kian. Sekretaris Kian mencoba menahannya, "Bu Maya, maaf, Pak Kian sedang—"
Maya tidak peduli. Ia mendorong pintu ganda ruangan itu hingga terbuka lebar.
Namun, pemandangan di dalam ruang kerja itu membuat langkah Maya terhenti kaku.
Di balik meja kerja, Kian tidak sendiri. Seorang pria berjas kelabu mahal berdiri tegak di sampingnya—Rendra tanaya. Namun yang membuat jantung Maya seolah berhenti berdetak adalah sosok wanita bergaun hitam elegan yang berdiri sangat dekat di samping Kian, memegang jemari Kian yang tertumpang di atas meja.
Wanita itu... Sisca. Mantan tunangan Kian dari masa lalu yang dulu diasingkan ke luar negeri.
Kian mendongak. Wajahnya keras, dingin, dan sama sekali tidak memancarkan kehangatan pria yang semalam memeluknya di balik gorden ruang kerja. Tidak ada lagi Kian yang penuh tatapan pengabdian. Pria di hadapannya saat ini kembali menjadi sosok Kian yang kaku, asing, dan tak tersentuh—seperti hari pertama mereka bertemu di kelas privat bertahun-tahun lalu.
"Mas..." suara Maya bergetar, tertahan di tenggorokan. "Apa... apa arti dari semua berita hari ini? Kenapa Sisca ada di sini?"
Kian perlahan berdiri. Ia melepaskan pegangan tangan Sisca, namun tidak melangkah mendekati Maya. Pandangan matanya lurus, dingin seperti es.
"Maya, kamu tidak seharusnya datang ke sini," ucap Kian datar. Suaranya begitu asing hingga membuat bulu kuduk Maya merinding.
"Aku harus datang!" jerit Maya, air mata yang ia tahan sejak siang akhirnya menetes membasahi pipinya. "Kamu menjual lahan yayasan itu, Mas? Lahan tempat anak-anak kurang mampu belajar? Dan kamu menyerahkannya pada Rendra tanpa bicara sepatah kata pun padaku?"
Rendra tertawa kecil, suara tawa yang penuh ejekan dari sudut ruangan. "Tanyakan pada suamimu, Maya. Kadang-kadang, seorang tanaya harus memilih antara kelangsungan takhta keluarga... atau sekadar kepedulian sosial yang sentimentil."
Maya tidak menghiraukan Rendra. Matanya hanya menatap Kian, memohon sebuah bantahan, sebuah pelukan, atau sekadar bisikan bahwa ini semua hanyalah sandiwara.
"Jawab aku, Kian!" pekik Maya dengan suara pecah. "Katakan kalau berita itu bohong! Katakan kalau kamu tidak mengkhianati kepercayaan kita!"
Kian menghela napas panjang. Ia mengambil sebuah map hitam dari mejanya dan berjalan pelan mendekati Maya. Namun, ia berhenti berjarak dua langkah dari istrinya.
"Dunia bisnis tidak se-sederhana matematika di kelas privatmu dulu, Maya," kata Kian pelan, namun setiap kata terasa seperti sembilu yang menyayat hati Maya. "Ada harga yang harus dibayar untuk mempertahankan nama besar tanaya. Dan yayasanmu... adalah harga yang paling kecil yang bisa kubayar."
Maya tersentak mundur. Kata-kata itu begitu tajam, meremukkan seluruh harga diri dan cinta yang ia tanam selama ini.
"Harga yang paling kecil?" ulang Maya seraya tertawa sumbang di tengah tangisnya. Tangannya gemetar hebat. "Jadi selama ini... aku dan impianku cuma aset kecil yang bisa kamu korbankan kapan saja saat keluargamu terdesak?"
Kian diam. Tatapannya sama sekali tidak goyah, meski jika dilihat lebih dekat, ada rahang yang mengeras ketat dan urat di lehernya yang menegang hebat.
Sambil menahan sesak yang membakar dadanya, Maya menyapu air matanya kasar. Ia menatap Kian lurus-lurus, dengan sisa keberanian yang ia miliki.
"Dulu aku mengajarimu bagaimana cara menjadi manusia yang punya hati, Kian," bisik Maya dengan nada dingin yang menyayat hati. "Tapi ternyata... nilai hidupmu hari ini bukan lagi tak terhingga. Nilaimu... NOL besar."
Maya berbalik dan berlari meninggalkan ruangan itu. Suara langkah kakinya bergema keras di koridor gedung, beradu dengan suara hujan yang menghantam kaca luar.
Di dalam ruangan, Sisca tersenyum puas sambil menyentuh bahu Kian. "Pilihan yang bijak, Kian. Sekarang Rendra tidak punya alasan lagi untuk—"
Brak!
Kian menghempaskan tangan Sisca secara kasar. Meja kaca di sampingnya dihantam dengan tinjunya hingga retak. Buku-buku jarinya berdarah, namun Kian tidak merasakan sakit fisik itu sedikit pun.
Matanya yang tadinya dingin kini memerah penuh amarah dan kesakitan yang membuncah. Ia menatap Rendra dengan tatapan membunuh.
"Jangan pernah berani menyentuh namaku atau nama istriku lagi, Rendra," desis Kian dengan suara seperti monster yang terbangun dari tidur. "Permainanmu baru saja dimulai... dan aku pastikan kamu akan kehilangan segalanya sebelum kamu sempat menyentuh sehelai rambut Maya lagi."
Di balik kehancuran hatinya yang ditinggalkan Maya, Kian berdiri menahan beban derita seorang diri—sebuah pengorbanan berdarah yang terpaksa ia jalankan demi melindungi nyawa anak dan istrinya dari ancaman nyata yang tersembunyi di balik cengkeraman Rendra.