NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Perjalanan pulang dari acara bisnis berlangsung hening, namun pikiran Lukas terus berputar tak henti. Bayangan wajah kaget dan takut Tuan serta Nyonya Chandra tadi sore perlahan berganti menjadi potongan-potongan kenangan lama yang selama ini tersimpan di sudut ingatannya hal-hal yang dulu dianggapnya sekadar kebiasaan aneh atau rahasia keluarga biasa, kini terasa seperti petunjuk yang sengaja dibiarkan terlihat sedikit namun tak pernah boleh dijamah.

Sesampainya di apartemen, Lukas langsung duduk di tepi jendela kaca yang menghadap ke arah perumahan tempat ia dulu tinggal. Ia memejamkan mata, berusaha menelusuri kembali jejak ingatan sejak pertama kali diadopsi ke sana.

“Ruang bawah tanah,” bisiknya pelan, seolah kata itu sendiri membawa udara dingin dari masa lalu.

Ia teringat betul: rumah besar keluarga Chandra memiliki satu ruangan di bawah tanah yang pintunya selalu tertutup rapat dengan gembok besar berwarna hitam. Selama sepuluh tahun tinggal di sana, ia tak pernah sekalipun melihat pintu itu terbuka lebar. Kadang-kadang, saat ia pulang lebih awal dari sekolah atau berjalan melewati lorong belakang, ia akan mendengar suara langkah kaki berat, gesekan kertas, atau suara orang berbicara dengan nada tergesa-gesa dari balik pintu itu. Namun begitu ia berhenti atau berniat mendekat, suara itu akan langsung berhenti seketika, seolah orang-orang di dalamnya tahu persis keberadaannya.

Suatu kali saat ia berusia sekitar sepuluh tahun, rasa penasaran membuatnya berani bertanya pada Nyonya Chandra. Wanita itu yang biasanya tenang tiba-tiba berbalik dengan wajah pucat, lalu memarahinya dengan sangat keras hingga matanya berkaca-kaca: “Jangan pernah berani mendekati ruangan itu! Itu tempat penyimpanan barang berharga yang berbahaya bagi anak kecil. Jika kamu ketahuan mengintip lagi, kamu tidak akan diizinkan keluar kamar sebulan penuh!”

Sejak hari itu, ia tidak pernah berani mendekat lagi. Namun kenangan tentang pintu yang terkunci itu tak pernah hilang begitu saja.

“Apa yang kamu ingat?” suara Kirana terdengar dari belakangnya. Ia membawa dua cangkir teh hangat, lalu duduk di samping Lukas.

Lukas menceritakan semuanya ruang bawah tanah yang selalu terkunci, suara yang tiba-tiba berhenti saat ia lewat, kemarahan berlebihan Nyonya Chandra saat ia bertanya. Ia juga menceritakan hal-hal kecil lain yang dulu tak ia perhatikan: bagaimana orang tua angkatnya selalu mematikan televisi atau menutup berkas dokumen begitu ia masuk ke ruangan, bagaimana mereka selalu berbicara dalam bisik-bisik saat mengira ia sudah tidur, bagaimana satu kali ia tak sengaja melihat Tuan Chandra menyembunyikan selembar kertas yang berlogo Grup Wijaya ke dalam laci terkunci tepat saat ia melintas di depan ruang kerjanya.

“Mereka tidak hanya menyembunyikan identitasmu,” ucap Kirana perlahan setelah mendengar semua cerita itu, matanya serius menatap ke arah kejauhan. “Mereka juga menyembunyikan bukti-bukti yang mungkin masih tertinggal di sana. Bukti yang bisa menghubungkan mereka dengan dalang sebenarnya.”

Lukas meneguk teh hangatnya, lalu berkata dengan suara mantap: “Saya harus kembali ke rumah itu. Sekali lagi.”

Rencana mereka disusun dengan hati-hati. Tiga hari kemudian, pada hari keluarga Chandra berencana pergi berlibur ke luar kota selama dua hari sebuah informasi yang didapat Kirana dari orang kepercayaan di lingkungan mereka mereka menyusun langkah untuk menyusup masuk ke rumah itu. Tidak ada pencurian paksa; Kirana memiliki salinan kunci cadangan yang didapat secara resmi dari catatan pemilik bangunan lama, serta izin akses sementara atas nama penyelidikan warisan yang sah.

Saat mobil berhenti di ujung jalan, Lukas menatap pagar besi tinggi yang dulu menjadi batas dunianya. Hati kecilnya berdebar campur aduk sedikit takut, namun lebih banyak rasa penasaran dan keinginan kuat untuk menemukan kebenaran. Mereka masuk lewat pintu samping yang jarang digunakan, berjalan perlahan menuju lorong belakang yang dulu sering ia lewati.

Pintu menuju ruang bawah tanah masih berdiri di tempatnya: pintu besi tebal berwarna abu-abu kusam, dengan gembok besar yang kini terlihat berkarat sedikit. Kirana membuka kuncinya dengan tenang, lalu mendorong pintu itu perlahan. Terdengar suara gesekan berat yang panjang, menyebarkan bau debu, kertas tua, dan kelembapan yang sudah bertahun-tahun terperangkap di dalam sana.

Lukas menyalakan senter di ponselnya, cahayanya menyapu ruangan yang luas namun penuh tumpukan kotak dan lemari kayu tua. Di sini tidak ada hiasan, tidak ada jendela—hanya rak-rak tinggi yang berjejer rapi, sebagian besar berisi berkas-berkas tertutup debu tebal.

“Mari kita cari,” ucap Kirana pelan, berjalan menuju rak paling dekat dengan pintu. “Kita cari apa pun yang berhubungan dengan nama Wijaya, tahun kejadian kecelakaan orang tuamu, atau nama orang asing yang sering datang berkunjung.”

Mereka membagi tugas: Lukas memeriksa kotak-kotak di bagian bawah, sementara Kirana memeriksa berkas di rak atas. Jari-jarinya yang teliti menyentuh sampul berkas satu per satu, menyapu debu yang menutupi tulisan di atasnya. Sebagian besar berisi dokumen pembelian tanah, laporan pajak, dan surat-menyurat biasa milik keluarga Chandra. Namun semakin lama ia mencari, semakin ia yakin bahwa ada bagian yang sengaja diambil atau disembunyikan banyak tempat kosong di rak, seolah berkas penting sudah dipindahkan sebelum mereka pergi berlibur.

Setelah hampir dua jam mencari tanpa hasil yang berarti, Lukas berhenti di depan sebuah lemari besi kecil yang tersembunyi di balik tumpukan karpet tua di sudut ruangan. Lemari itu tidak memiliki kunci digital, hanya lubang kunci tradisional yang sederhana. Ia mencoba memutar gagangnya terkunci.

“Kirana, coba lihat ini,” panggilnya pelan.

Kirana segera mendekat. Ia memeriksa kunci itu sebentar, lalu mengeluarkan seperangkat alat kecil dari tasnya. Dalam waktu singkat, terdengar bunyi klik halus, dan pintu lemari besi itu terbuka perlahan.

Di dalamnya tidak ada tumpukan uang atau perhiasan seperti yang mungkin diduga orang. Hanya ada tiga berkas tebal yang diikat tali rami, sebuah buku harian bersampul kulit cokelat, dan sebuah amplop tertutup rapat dengan segel lilin berwarna merah.

Lukas mengambil berkas paling atas. Saat ia menyapu debu di sampulnya, matanya terbelalak tertulis dengan jelas di sana: Laporan Aset Grup Wijaya Tahun 2015. Tahun yang sama dengan tahun terjadinya kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.

Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Di dalamnya tercatat rincian aset perusahaan, daftar mitra kerja sama, hingga catatan pembagian saham yang menyebutkan bahwa sebagian besar saham diserahkan kepada pengurus sementara jika pemilik utama meninggal dunia tanpa pewaris dewasa. Namun di bagian bawah halaman terakhir, terdapat tanda tangan saksi yang tidak lain adalah Tuan Chandra—bersama nama lain yang belum pernah ia dengar sebelumnya: Bima Surya Atmaja.

“Bima…” bisik Lukas.

“Nama itu mulai muncul lagi,” kata Kirana, matanya serius menatap nama itu. “Ini kemungkinan besar adalah dalang yang selama ini kita cari.”

Berkas kedua berisi surat perjanjian kerahasiaan antara keluarga Chandra dengan pihak yang tidak disebutkan namanya secara jelas, namun tertulis kalimat: “Pihak kedua berjanji menjaga keberadaan anak kandung pemilik aset agar tidak mengetahui hak warisnya hingga waktu yang ditentukan.”

Berkas ketiga adalah catatan pembayaran besar-besaran yang masuk ke rekening pribadi keluarga Chandra dalam kurun waktu satu tahun setelah kecelakaan itu. Angkanya sangat besar, jauh melebihi kekayaan yang mereka miliki sebelumnya.

Lukas kemudian mengambil buku harian itu. Tulisan tangan di dalamnya milik Nyonya Chandra. Sebagian besar berisi keluhan dan ketakutan-ketakutan akan ancaman jika mereka tidak menuruti perintah, rasa bersalah yang terus menghantui setiap kali melihat Lukas tumbuh besar, hingga kalimat terakhir yang ditulis dua hari sebelum ia diusir: “Mereka bilang harus membuangnya agar aman. Tapi aku takut… takut kami baru saja menyerahkannya ke mulut harimau yang sebenarnya.”

Terakhir, amplop bersegel itu. Saat Lukas membukanya, hanya ada selembar peta sketsa tangan dengan tanda silang merah di sebuah lokasi di pinggiran kota, dan satu kalimat pendek: “Di sana ada sisa kebenaran yang belum sempat diambil.”

Mereka keluar dari ruang bawah tanah itu dengan hati berdebar, membawa semua bukti yang berhasil ditemukan. Cahaya matahari sore yang menyambut mereka di luar terasa berbeda lebih terang, lebih menjanjikan. Lukas tahu bahwa apa yang mereka temukan hanyalah sebagian kecil dari segalanya, namun ini adalah bukti nyata bahwa dugaan mereka benar: keluarga Chandra bukan sekadar orang tua angkat yang kejam, melainkan alat yang digunakan untuk menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih besar.

Dan nama Bima yang tertulis di atas kertas itu kini membekas tajam di ingatannya. Ia tahu suatu hari nanti, ia harus berhadapan langsung dengan orang yang namanya kini terhubung erat dengan kehancuran keluarganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!