Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kartu Emas dan Mata-Mata dari Gunung Bersalju
Di ruang tamu Kamar Dagang Baofeng, suasana terasa berat bagai awan sebelum badai.
Lin Qian berdiri dengan tangan di belakang punggung, sorot matanya tenang seperti danau tanpa riak. Tidak ada amarah, tidak ada kesombongan—hanya ketenangan seorang cultivator yang telah melampaui kekhawatiran duniawi. Ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah kartu dari batu giok merah tua, permukaannya terukir pola naga kecil yang hanya bisa dilihat bila terkena cahaya langsung.
Ia mengibaskannya tepat di depan wajah Han Bojin.
"Jika ini dulu, mungkin aku akan tunduk demi lima takaran beras. Tapi sekarang..." Lin Qian menatapnya dengan tatapan datar, "...sepuluh ribu koin emas yang kau tawarkan itu tidak lebih berharga dari debu di ujung sepatuku."
Wajah Han Bojin seketika pucat seperti kertas tua.
Ia sangat mengenali benda itu—kartu simpanan tingkat Naga Emas, yang hanya diterbitkan Kamar Dagang Baofeng untuk nasabah dengan simpanan di atas seratus ribu koin emas. Dalam seluruh Kota Yunzhou, tidak sampai sepuluh orang yang memilikinya.
Tenggorokannya tercekat. Kata-kata yang sudah ia persiapkan sejak tadi mendadak lenyap tanpa bekas. Ia hanya bisa mendengus pelan, lalu membalikkan badan dengan langkah gontai—membawa pergi harga dirinya yang sudah hancur berkeping-keping.
Lin Qian tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk mengejek. Ia tahu, penghinaan yang paling menyakitkan bukanlah cercaan—melainkan ketidakpedulian yang sempurna.
Sesampainya di kediaman pribadinya, Han Bojin duduk di kursi utama dengan wajah gelap seperti langit sebelum topan. Para pengurus Kamar Dagang Yunzhou sudah menunggu sejak lama, masing-masing membawa laporan yang semakin memburuk. Keuntungan mereka terus merosot, jauh tertinggal dari pesaing. Reputasi yang dibangun selama puluhan tahun kini di ambang kehancuran.
Namun Han Bojin belum menyerah.
Di dalam otaknya yang licik, masih tersimpan satu rencana terakhir,sebuah pedang yang lebih halus dari baja, namun lebih tajam dari racun.
Ia memanggil putrinya.
Han Yuner masuk dengan langkah ringan, rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde perak berbentuk bunga plum. Gadis itu mewarisi kecantikan ibunya,alis melengkung bagai rembulan sabit, mata jernih seperti embun pagi. Namun yang paling menonjol adalah tumpukan buku di tangannya: Mimpi Kamar Merah dan Harta Karun Tertinggi, dua karya yang dalam beberapa bulan terakhir membuat namanya selalu hadir di bibir para cendekiawan dan tuan putri di seluruh kota.
"Yuner," kata Han Bojin dengan suara yang tiba-tiba menjadi lembut, "Ayah sudah menemukan orang yang selama ini kau kagumi. Dialah penulis kedua buku agung itu—tinggal di kota kita sendiri."
Pipi Han Yuner memerah seketika. Jantungnya berdegup kencang. Selama berbulan-bulan ia membayangkan sosok sang penulis—pasti seorang pria berilmu tinggi, berjiwa penyair, dengan tulisan tangan yang indah dan senyum yang bijaksana.
"Ayah mendukungmu sepenuhnya," lanjut Han Bojin, suaranya kini turun menjadi bisikan. "Temuilah dia. Jalin hubungan yang baik. Dan ingat satu hal—" ia menatap putrinya dengan tatapan penuh perhitungan, "—berpakailah yang paling menarik. Gaun tertutup itu cocok untuk upacara, bukan untuk menaklukkan hati seorang cendekiawan. Pakailah sesuatu yang lebih ringan, yang memperlihatkan keanggunanmu yang sesungguhnya."
Han Yuner mengangguk, tidak menyadari bahwa dirinya baru saja dijadikan mata pedang dalam permainan sang ayah.
Jauh dari hiruk-pikuk Kota Yunzhou, di balik lapisan pegunungan yang diselimuti kabut abadi, berdiri sebuah kompleks bangunan kuno yang dingin dan sunyi.
Sekte Xuanwu.
Di aula utama yang berdinding batu hitam, seorang pria duduk di singgasana kayu cendana dengan lengan kiri yang tidak ada—hanya lengan kanan yang bertumpu di sandaran kursi, mengepal perlahan. Ning Xuanwu, Ketua Sekte Xuanwu, sosok yang bahkan angin pun enggan berhembus terlalu dekat dengannya.
Kekalahannya melawan pemimpin Sekte Lingxue bukan sekadar luka fisik. Itu adalah aib yang terus membara dalam dadanya setiap malam.
"Selidiki terus," suaranya berat seperti genderang perang, "Dari mana asal senjata terkutuk itu?"
Yao Linger,murid kesayangannya, seorang wanita cantik dengan dua pedang tipis menyilang di punggungnya,melangkah maju. Di belakangnya terseret seorang pemuda dengan jubah yang compang-camping, tangan terikat tali spiritual berwarna ungu.
Yu Wujie. Murid Sekte Lingxue yang berhasil mereka tangkap tiga hari lalu.
"Katakan." Ning Xuanwu bangkit dari singgasananya. Satu langkahnya saja sudah cukup membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat. "Di mana Lu Tianhe mendapatkan pisau itu?"
Yu Wujie awalnya menggertakkan gigi, berusaha keras mempertahankan sikapnya. Namun begitu tangan Ning Xuanwu mencengkeram bahunya—satu tangan, namun mengandung qi yang bisa menghancurkan batu gunung—nyalinya luluh seketika.
"Aku... aku mendengar dari Guruku," suaranya gemetar, "Pisau itu diperoleh dari seorang Ahli di Kota Yunzhou. Orang itu mengelola sasana bela diri kecil di sana. Itu yang aku tahu, sungguh!"
Keheningan menggantung di udara seperti pedang tanpa sarung.
Ning Xuanwu melepaskan cengkeramannya. Matanya menyipit, menatap jauh menembus dinding batu—seolah sudah bisa melihat langsung ke sudut terpencil Kota Yunzhou yang disebut itu.
Sasana bela diri kecil. Di kota biasa. Menghasilkan senjata yang bisa membuat seorang Patriark kehilangan lengannya.
Aneh. Mencurigakan. Dan justru karena itulah, berbahaya.
"Wuchen."
Seorang pemuda kurus melangkah keluar dari barisan. Wajahnya pucat bagai bulan musim dingin, matanya tajam seperti jarum, dan qi-nya tertekan rapat,hampir tidak terdeteksi sama sekali. Sosok yang sempurna untuk sebuah misi pengintaian.
"Pergi ke Kota Yunzhou. Selidiki siapa orang ini. Jangan tinggalkan satu pun celah yang terlewat."
"Mengerti, Guru."
Dalam satu kedipan mata, Wuchen sudah lenyap dari aula—bayangannya melebur ke dalam kabut gunung, menuruni lereng dengan langkah tanpa suara, membawa serta misi yang bila salah langkah, bisa memantik perang antara dua sekte besar.