Hutang budi membuat Aisyah terpaksa menerima permohonan majikan sang ayah. Dia bersedia meminjamkan rahimnya untuk melahirkan anak Satria dengan Zahra melalui proses bayi tabung.
Satria terpaksa melakukan hal itu karena dia tidak mau menceraikan Zahra, seperti yang Narandra minta.
Akhirnya Narandra pun setuju dengan cara tersebut, tapi dengan syarat jika kesempatan terakhir yang dia berikan ini gagal, maka Satria harus menikahi Gladis dan menceraikan Zahra.
Gladis adalah anak dari Herlina, adik tiri Narandra yang selalu berhasil menghasut dan sejak dulu ingin menguasai harta milik Narandra.
Apakah usaha Satria dan Zahra akan berhasil untuk mendapatkan anak dengan cara melakukan program bayi tabung?
Yuk ikuti terus ceritaku ya dan jangan lupa berkarya tidaklah mudah, jadi kami para penulis mohon dukungannya. Terimakasih 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. KABAR YANG PALING DINANTI
"Kalian sedang di rumah Papa ya Syah? memangnya ada acara apa di sana?"
"Nggak ada acara Mbak, cuma tadi Papa minta kami kesini karena Gladis."
"Ada apa dengan anak itu? Dia sedang tidak membuat masalah kan?"
"Justru itu Mbak, dia pulang dalam keadaan teler dan dokter bilang dia mengkonsumsi narkoba. Dokter nyaranin agar membawanya ke tempat rehabilitasi."
"Apa! Gladis pemakai? sejak kapan? Padahal selama ini tidak ada tanda-tandanya jika dia pemakai narkoba."
"Entahlah Mbak, mana mamanya nggak bisa di hubungi dan papanya besok baru datang."
"Sebenarnya kasihan sih melihat keadaannya, tapi dia jahat banget Mbak!"
"Apa dia mengganggu mu Syah?"
"Bukan aku Mbak, tapi Mas Satria."
Kemudian Aisyah pun menceritakan kejadian malam itu, disaat Gladis hendak menjebak Satria.
"Astaghfirullah, sampai segitunya Syah. Terimakasih ya Syah karena kamu telah menyelamatkan Mas Satria dari perbuatan dosa."
"Aku tidak menyangka jika Gladis senekad itu untuk memiliki Mas Satria, padahal dia masih bisa mencari pria lain yang belum beristri. Lagipula Mas Satria hanya menganggap dia adik."
"Iya Mbak, aku rasa dia terpengaruh oleh mamanya. Memang sih aku hanya kenal sekilas dengan Tante Herlina, tapi aku bisa melihat jika beliau memiliki niat yang tidak baik terhadap keluarga Mas Satria."
"Aku rasa juga begitu Syah, Papa saja yang tidak menyadari hal itu. Papa menyayangi mereka, jadi beliau selalu membela."
"Iya Mbak."
"Oh ya Syah, kamu terus awasi mereka, jangan biarkan Tante Herlina berbuat seenaknya di sana."
"Iya Mbak. Mbak Zahra kapan pulang?"
"Belum tahu Syah. Oh ya, sudah dulu ya, kamu harus tetap jaga kesehatan, minum vitamin untuk penyubur biar cepat hamil dan jangan lupa ajak Mas Satria untuk rutin melakukannya."
Walaupun terasa begitu berat, tapi Zahra harus mengatakan hal itu. Dia ingin melihat Aisyah cepat hamil.
Aisyah tidak menjawab, rasanya begitu sungkan membicarakan hal itu dengan Zahra. Lagipula, dia tidak ingin membuat Zahra sedih.
"Sudah dulu ya Syah, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam Mbak."
Zahra langsung meletakkan ponselnya, dia pergi membasuh wajahnya yang terasa menghangat. Meski sudah berusaha tegar tapi tetap saja dirinya ingin menangis.
Aisyah sudah kembali ke kamar Gladis, malam ini mereka berjaga-jaga untuk melihat perkembangan Gladis.
Satria mengantar Sang Papa ke kamarnya, dia tidak ingin Papanya sakit karena memikirkan Gladis.
Biarlah dia dan Aisyah saja yang begadang menjaga Gladis.
Namun Satria tidak tega melihat Aisyah, dia meminta Aisyah untuk tidur di sofa.
Aisyah tidak bisa tidur, dan merekapun akhirnya mengobrol hingga hampir pagi.
Setelah melaksanakan ibadah, Aisyah seperti biasa menyiapkan sarapan, lalu merekapun menikmati sarapan itu bersama Narandra, sedangkan Gladis di suapin oleh salah satu pembantu.
Pagi ini mereka bersiap hendak membawa Gladis ke tempat rehabilitasi, tapi belum sampai mereka ke mobil, Herlina pulang sembari berteriak saat melihat Satria dan Aisyah di sana.
Herlina menyalahkan Aisyah atas kejadian itu, dan dia hendak menjambak rambut Aisyah untuk melampiaskan rasa kesal serta amarahnya.
"Tante apa-apaan! Jangan coba-coba menyentuh istri saya! Saya tidak akan segan menyakiti Tante jika sampai menyentuh Aisyah!" bentak Satria sembari berdiri di antara keduanya.
Aisyah sudah merunduk saat tangan Herlina hampir menyentuh rambutnya. Dia juga takut wanita sangar itu menyakitinya.
"Syah kamu di rumah saja dengan papa, biar aku dan Tante saja yang membawa Gladis ke tempat rehabilitasi."
"Aku tidak mau! Aku tidak mau ke panti rehabilitasi. Mama tolong aku, aku nggak mau Ma!" ucap Gladis sembari sembunyi di balik tubuh sang Mama.
"Kamu dengar itu Sat, jadi biarkan kami masuk. Aku pastikan putriku akan baik-baik saja."
"Tapi Tan!"
"Pokoknya tidak ada yang boleh membawa Gladis pergi. Ayo Nak kita masuk. Kamu jangan takut, tidak ada yang akan membawamu keluar dari rumah ini."
"Terserah Tante, jika Tante sayang anak, bukan begini harus bersikap Tan. Nanti Tante yang bakal menyesal."
Satria pergi meninggalkan Keduanya, dia akan mengajak Aisyah pulang, biar Aisyah bisa beristirahat di rumah.
Aisyah yang sedang tiduran merasa mual, lalu diapun berlari ke kamar mandi. Dia memuntahkan semua isi dalam perutnya.
Satria yang baru masuk ke terkejut mendengar suara Aisyah muntah, lalu diapun bergegas ke kamar mandi untuk melihat Aisyah.
"Kamu kenapa Syah?" tanya Satria cemas sembari mengurut leher belakang Aisyah.
Aisyah pun kembali muntah, tapi hanya air saja. Setelah keluar semuanya, barulah dia merasa sedikit lega.
Satria membersihkan muntahan Aisyah, lalu diapun memapah Aisyah yang tampak lemah.
Ketika Satria hendak memanggil dokter, Aisyah menolak, dia hanya minta agar Satria membawanya pulang.
Satria pun setuju, tapi dia pamit dulu ke sang papa.
Narandra pun mengizinkan Satria pulang, tapi sebelumnya dia berpesan agar membawa Aisyah ke dokter.
Satriapun setuju, mereka akan singgah ke klinik dulu sebelum pulang ke rumah.
Aisyah bergelayut di lengan Satria, dia takut limbung karena kepalanya yang masih pusing dan tubuhnya juga lemas.
Satria hendak menggendongnya tapi Aisyah menolak, dia tidak mau jadi bahan pembicaraan kedua wanita yang saat ini sedang mengintip mereka dari balik jendela kamar.
Kemudian Satria pun melajukan mobilnya menuju klinik terdekat dari rumah Narandra.
Dokter memeriksa Aisyah dan beliau tersenyum sembari mengulurkan tangan ke arah Satria.
"Selamat Pak, istri Anda sedang hamil. Saat ini kandungannya berusia 2 minggu."
Satria merasa tidak percaya, lalu dia menanyakan ulang, "Istri saya hamil Dok?"
"Iya Pak. Selamat ya!"
"Alhamdulillah," ucap Satria sembari sujud syukur.
Setelah itu, Satria pun memeluk Aisyah sembari membisikkan ucapan terima kasih dan memberikan beberapa ciuman di dahi Aisyah.
"Terimakasih Sayang," ucap Satria lagi.
"Papa pasti akan senang mendengar berita ini, sebentar ya Syah, aku telepon papa dulu."
Satria menelepon Narandra. Dan saat mendengar kabar tentang kehamilan Aisyah, Narandra pun tersenyum lebar, dia sangat senang, harapannya selama ini akhirnya terkabul.
Narandra meminta sopir untuk mengantarnya ke rumah Aisyah, saat ini juga.
Aisyah dan Satria pun pulang ke rumah dan mereka akan segera memberi tahu Zahra tentang berita baik ini.
Saat ini Satria meminta Aisyah untuk beristirahat, sementara dirinya menyiapkan makanan untuk makan siang nanti.
Satria mengerjakan semua pekerjaan dengan hati gembira, dia tak henti-hentinya mengucap rasa syukur karena telah diberi kesempatan untuk menjadi seorang calon ayah.
Selesai mengerjakan semuanya, Satria kembali ke kamar dan bertanya apa yang Aisyah ingin makan atau minum.
Aisyah menggeleng, dia belum ingin makan apapun, yang dia inginkan saat ini adalah tidur dalam pelukan Satria.
Satria pun memeluk, lalu menciumi puncak kepala Aisyah dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.
Bersambung....