Siapkan tissue karena cerita mengandung bawang.
Apa jadinya jika sebuah pernikahan tanpa cinta harus terjadi atas unsur perjodohan?
Kiandra Anastasia seorang gadis yatim piatu berusia 17 tahun yang hidup bersama dua pembantu setianya yang menganggapnya seperti anak sendiri semenjak kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya karena sebuah kecelakaan, ternyata sejak kecil sudah dijodohkan oleh Almarhum kedua orangtuanya itu dengan seorang CEO perusahaan besar yang merupakan putra dari sahabat Almarhum Papanya, Aldo Wiryawan Prayoga nama sang CEO yang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tempramen.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara Kiandra bersama Aldo? Akankah ada benih-benih cinta diantara mereka nantinya? Yuk ikutin cerita ini dari awal sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sang surya sudah menunjukkan pesonanya, jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, Kia mulai membuka matanya yang masih sembab karena habis menangis semalaman.
Tok...tok...[bunyi suara ketukan pintu kamar Kia].
"Non Kia, apa Non Kia sudah bangun?" Tanya Bi Ratmi dari balik pintu.
"Sudah Bi, Kia sudah bangun," jawab Kia dengan suaranya yang lemah tak bergairah.
"Boleh Bibi masuk Non?" Tanya Bibi yang meminta izin kepada Kia untuk memasuki kamarnya.
"Iya masuk aja Bi, Kia gak kunci kok pintunya," jawab Kia yang mengizinkan Bi Ratmi untuk masuk kedalam kamarnya.
Ceklek... [Suara pintu terbuka].
Kia melihat Bi Ratmi muncul di muka pintu, dengan senyum tipis dan mata yang juga sembab seperti dirinya. Bi Ratmi melangkahkan kakinya menghampiri ranjang Kia. Ia duduk di tepi ranjang, menatap sedih wajah Kia yang terlihat begitu sembab.
"Non Kia," panggil Bi Ratmi dengan suara menahan tangis. Bi Ratmi terlihat menggigit bibirnya, agar tangisnya tak lagi pecah di depan anak mendingan majikannya itu.
"Iya Bi," jawab Kia dengan suara yang begitu pelan.
"Non, Bibi mau ngasih tahu, kalau Non masih diizinkan sekolah dengan Tuan Wiryawan sebelum hari pernikahan Non dan Den Aldo dilangsungkan," terang Bi Ratmi dengan air matanya yang tak dapat ia bendung.
Dini hari tadi Tuan Wiryawan sudah menghubungi dirinya juga dengan suaminya,Pak Ujang. Selain memberitahukan tentang dirinya yang masih mengizinkan Kia untuk bersekolah, Tuan Wiryawan juga mengutarakan kekecewaannya terhadap sikap Pak Ujang dan Bi Ratmi yang membohongi dan membodohi mereka, tentang kondisi Kia, di tambah lagi Aldo sudah membeberkan bahwa Pak Ujang mengizinkan Kia bermesraan dengan pria lain didalam kediaman mendiang Andara.
"Harus ya Bi, Kia nikah sama dia? Kia maunya nikah sama Mas Arka, Bi, bukan dia," tanya Kia dengan kelopak matanya yang menumpahkan air mata tanpa henti.
"Bibi tahu,Non maunya sama Pak Arka, tapi Tuan dan Nyonya sudah menjodohkan Non, sebelum mereka dipanggil sang Maha Kuasa. Bibi ini hanya seorang pelayan Non, Bibi gak bisa berbuat apa-apa," Jawab Bi Ratmi yang tak tega melihat kesedihan Kia.
"Kia gak sanggup Bi, Kia gak sanggup harus di pisahkan sama orang yang Kia cintai, Bi. Kenapa Tuhan seakan begitu kejam sama Kia,Bi? Kenapa juga Papi sama Mami pakai jodohin Kia dengan monster itu Bi? Bibi lihat sendiri bagaimana sikap kasarnya pada Kia, ini Kia belum nikah sama dia,Bi. Bagaimana kalau sudah?" Kia berkata begitu lirih dengan deraian air mata yang membuat Bi Ratmi terus menggelengkan kepalanya. Ia seakan tak ingin ikut larut dalam kesedihan Kia, namun apa daya Bi Ratmi terlalu menyayangi Kia seperti putrinya sendiri. Kesedihan Kia adalah kesedihannya.
Melihat Kia begitu rapuh, Bi Ratmi mendekatkan dirinya pada Kia, ia memeluk tubuh gadis itu, berusaha menenangkan tangis Kia yang begitu memilukan hatinya dan juga berusaha menguatkan hati Kia untuk tetap tegar menjalani jalan hidupnya yang sudah di gariskan sang pencipta.
"Pergilah ke sekolah Non! Katakan semua kejadian tadi malam pada Pak Arka, biarkan dia berjuang untuk melepaskan Non dari perjodohan ini, jika memang kalian di takdir untuk bersama, pasti akan ada cara untuk mempersatukan kalian," ucap Bi Ratmi yang tak terpikirkan sebelumnya oleh Kia.
Kia mengurai pelukan Bi Ratmi, ia terdiam sejenak untuk berfikir. Ia memikirkan semua ucapan Bi Ratmi yang ada benarnya. Namun masih ada yang mengganjal di pikirannya, yaitu tentang para Bodyguard yang dibayar Aldo untuk menjaga dan memata-matai dirinya.
"Bibi benar, Kia harus ketemu Mas Arka. Tapi bagaimana dengan algojo - algojo itu Bi? Kia pasti gak punya kesempatan untuk ketemu Mas Arka kalau mereka selalu ada sama Kia nanti," Sahut Kia yang membenarkan ucapan Bi Ratmi, ia juga menanyakan mengenai Bodyguard yang akan terus mengekori dirinya nanti di sekolah.
"Terima saja keberadaan mereka Non, mereka pasti tidak diizinkan masuk ke sekolah oleh pihak sekolah nanti, karena kehadiran mereka pasti akan dianggap mengganggu murid-murid yang lain, dan Non Kia pasti bisa ketemu sama Pak Arka" Kata Bi Ratmi yang lagi-lagi benar.
Secercah harapan muncul di dalam benak Kia. Setelah obrolan mereka selesai, Kia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dimulai dari ritual mandinya, pagi ini Kia harus mandi bebek, karena terlalu lama mengobrol dengan Bi Ratmi.
"Pagi, Pak Ujang," sapa Kia pada Pak Ujang yang sedang, menyendokkan nasi goreng kesukaan Kia kedalam piring.
"Pagi Kia, sarapan ya? Pak Ujang suapin," tawar Pak Ujang yang menyodorkan sepiring nasi goreng kepada Kia.
"Mau Pak Ujang, Kia dua minggu ini mau manja-manjaan sama kalian sebelum Kia masuk kandang harimau," jawab Kia dengan suaranya yang sengaja di keraskan, agar para Bodyguard yang di bayar Aldo memdengarnya.
"Ya baiklah, sini Pak Ujang suapin." Timpal Pak Ujang yang mengambil kursi untuk duduk di samping Kia.
Dengan telaten Pak Ujang menyuapini Kia, hingga nasi goreng di dalam piring itu tandas, tak tersisa. Setelah melihat makanannya telah habis, Kia meminum susu coklat kesukaannya.
"Yuk, Pak Ujang kita berangkat!" Ajak Kia pada Pak Ujang, saat ia beranjak dari kursi duduknya.
"Maaf Non, mulai hari ini Non akan berangkat dan pulang bersama kami," ucap salah satu Bodyguard yang bernama Tarman itu. Ia menghadang langkah Pak Ujang yang hendak mengantar Kia ke sekolah seperti biasanya.
Kia dan Pak Ujang saling menatap satu sama lain, tak lama setelah itu, Pak Ujang memanggutkan kepalanya, meminta Kia tetap pergi ke sekolah dengan mereka.
Kia diantarkan oleh ke empat Bodyguard itu dengan sebuah mobil Alphard berwarna putih. Di dalam perjalanan menggunakan mobil yang di sediakan Aldo itu, Kia tak melakukan kegiatan apapun, ia hanya memandangi pemandangan yang disuguhkan dibalik jendela mobil, pemandangan apalagi selain kemacetan Ibu Kota yang Kia pandangi.
Kia sengaja tak memainkan ponselnya seperti biasanya, seperti saat dimana Pak Ujang mengantar dirinya, ia akan sibuk membalas pesan singkat dari kedua sahabatnya dan juga Arka, pria pujaan hatinya.
Jika ditanya kenapa Kia tak memainkan ponselnya, itu karena ponsel Kia sengaja ia matikan sejak semalam, karena ia begitu mengkhawatirkan Aldo yang pasti akan menyadap ponselnya, entah dengan cara apa, Kia pun tak mengerti.
Kia bisa berpikir seperti itu karena ia sering membaca cerita novel yang bernasib serupa dengannya. Ia tak ingin Aldo mengetahui seberapa jauh hubungan dirinya dan Arka.
Sedangkan disisi lain, kedua sahabatnya dibuat khawatir kembali dengan ponsel Kia yang tidak aktif, tak jauh berbeda dengan sang sahabat, Arka pun merasakan hal yang sama.
Bedanya Arka sudah merasa khawatir sejak semalam, perasaannya tak enak, hatinya begitu gelisah, dan pikiran buruk terus menghantui dirinya, karena tak biasanya Kia tak menghubungi dirinya setelah ia mengantarkan Kia pulang ke rumah.
Mobil yang mengantarkan Kia ke sekolah sudah berhenti tepat di depan pagar sekolah, setelah pintu mobil terbuka, Kia segera bergegas keluar dan masuk ke sekolah begitu saja, melewati Bodyguard yang sudah membukakan pintu untuknya, ia masuk tanpa memperdulikan keberadaan Bodyguard yang mengekori langkah kakinya, yang langsung mendapat penghadangan masuk dari guru piket yang berjaga di depan pintu gerbang masuk sekolah.
"Maaf, Bapak hanya di perkenankan mengantar sampai disini, tolong diingat Pak, ini Sekolah Menengah Atas bukan Taman Kanak-kanak," ucap Guru piket yang tak lain adalah Tomo, sang guru olahraga, sekaligus sepupu dari Arka.
Mendengar ucapan sindiran Tomo, Bodyguard yang ingin mengejar langkah Kia mendengus kesal. Ia segera melaporkan hal ini kepada Bos mereka, yaitu Aldo dan Tuan Wiryawan.