"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewi
Di luar, suara pertengkaran mulut masih berlanjut. Baik Dewi ataupun Niken, keduanya saling menatap dengan bibir terkunci.
Suara anak tangga itu terdengar dituruni, sepasang suami istri yang terlihat sempurna, ternyata menyimpan ke tidak akuran yang mungkin sudah cukup lama.
"Ken, nyesel aku datang kemari." setelah tiga puluh menit keduanya diam.
"Sudahlah Mbak, sepertinya pertengkaran mereka bukan karena Mbak Dewi datang. Tapi sudah ada penyulutnya sejak lama." jawab Niken.
"Sebenarnya, aku memang tak pernah niat tinggal di sini. Tapi, demi sang pujaan hati, apa boleh buat." kata Dewi.
"Pujaan hati Mbak?" tanya Niken, penasaran.
Dewi mengangguk. "Kangen. Kalau jauh-jauhan bikin tak tenang. Terkadang cuek gak balas pesan, aku jadi curiga setiap waktu. Lama-lama, kurus badanku." ucap Dewi.
Niken mengangguk, apa yang di katakan Dewi ada benarnya. Tentang Alang yang pergi merantau, Niken tinggal di kampung artinya sama dengan di gantung.
Diajak kemari pun, malah semakin membuat ragu. Kalau saja hubungan mereka tak sejauh itu, pastinya Niken tak perlu galau memikirkan Alang.
"Sepertinya perang di luar sudah mereda." kata Dewi, ia melongok membuka pintu. "Kamu tau tidak, kamar Mas Alang ada dimana?"
Kening Niken jadi berkerut. "Tidak tahu Mbak." jawab Niken.
"Ya sudah, ayo kita cari!" ajak Dewi.
Tak menunggu jawaban, Dewi menyeret tangan Niken keluar kamar.
"Mbak, kita mau kemana?" tanya Niken, melewati beberapa ruangan luas, ia jadi bingung dan sedikit takut, sunyi senyap bagai kuburan.
"Mau cari Mas Alang, biasanya kamar sopir ada di belakang." kata Dewi.
Melihat Dewi yang demikian, Niken jadi berpikir bahwa Dewi dan Alang cukup dekat. Ya, mungkin karena Alang lama bekerja di rumah Kepala desa.
"Nah! Itu sandalnya!" tunjuk Dewi.
"Sandal?" tanya Niken, melihat sandal jepit, bermerek ada di luar pintu.
"Iya, sandal itu aku yang membeli buat mas Alang. Mana mungkin aku tidak tahu."
Tok-tok-tok!
Dewi mengetuk pintu.
Sudahlah hati di selimuti rasa heran, sekitar kamar Alang pun begitu menyeramkan. Pohon durian dan mangga rimbun menutupi remang cahaya matahari tenggelam, kini sudah Maghrib.
Sekelebat bayangan melintas di samping mereka, tapi ketika dilihat malah tak ada apa-apa.
Pohon yang rimbun itu seolah menyembunyikan puluhan makhluk tak kasat mata, sedang mengamati gerak-gerik mereka.
Pintu di buka, Niken terkejut karena takut.
"Dewi?" Alang terkejut.
"Mas Alang." Dewi tersenyum sumringah, mendongak wajah Alang yang baru saja selesai mandi.
"Niken?" Alang menatap dua wajah di hadapannya bergantian.
Tanpa di persilahkan, Dewi masuk ke dalam kamar Alang, melihat ke dalam dan mengamati segala sesuatu. Pun dengan Niken, ini kali pertama ia tahu Alang tinggal di kamar itu.
"Bersih banget kamar mu Mas?" tanya Dewi, duduk di ranjang Alang.
"I-iya, Wik." jawab Alang, melirik Niken, gadis lugu itu hanya diam saja.
"Dek, kamu tumben keluar malam-malam?" tanya Alang, kepada Niken.
"Nemenin Mbak Dewi Mas." jawab Niken. Dasarnya memang lugu sehingga terkadang jadi terkesan bodoh.
"Maghrib begini harusnya kamu di kamar. Di sini, kamu belum terbiasa." kata Alang, mengusap rambut Niken.
"Aku gak di perhatikan Mas?" kata Dewi cemberut.
Alang terkekeh, tak menjawab dan tak meladeni. Alang menutup pintunya.
Mereka terlibat obrolan yang seru, tapi Niken lebih banyak diam. Sepertinya, Alang dan Dewi memang benar-benar dekat, sehingga rasa cemburu datang mengganggu melihatnya.
"Sudah, kalian aku antar ke kamar." kata Alang.
Keduanya pun kembali ke kamar bersama Alang. "Besok kamu antar kita berdua kan Mas?" ucap Dewi, memeluk bahu Niken.
"Iya, terserah Tuan Saga mau bagaimana besok." jawab Alang.
Dari arah depan, muncullah Tuan Saga.
"Darimana?" tanyanya.
"Melihat kamar Alang, Paman." jawab Dewi.
"Oh." Saga mengangguk, melirik Niken sekilas lalu menjauh, masuk ke kamar yang lain.
Malam mulai merayap, tidur di kamar luas dan mewah, mereka berdua malah sulit untuk tertidur pulas. Suara berisik di atas plafon seperti menggelitik pendengaran. Setelah hampir terlelap malah suara-suara aneh ikut mengganggu. Ada orang seperti bicara di ambang telinga, jika di dengarkan maka seperti jauh di luar rumah.
Pada akhirnya, Niken tertidur juga setelah udara berubah dingin sekali. Mendukung kelopak mata yang sudah tak kuat berkedip, lelap tak di sadari.
Suara alarm membangunkan Niken yang tertidur lelap. Matanya segera terbuka meskipun tubuh menolak. Ingat hari ini ia akan memulai pekerjaan.
"Mbak?" Niken bergumam, memanggil pelan gadis putih semampai yang semalam tidur di sampingnya.
Kamarnya sunyi, tak ada siapapun di sana. Niken segera beranjak dari kasur king size itu, lalu keluar melewati arah belakang seperti yang di tunjukkan Alang semalam. Lebih dekat ke kamarnya dibandingkan lewat halaman utama.
"Niken?"
Niken menoleh, ternyata Mak Puah yang menyapa.
"Mak." Niken menghampiri sejenak. Tampak pembantu yang sudah sepuh itu sedang menata makanan.
"Mau sarapan di sini? Apa di dapur sana?" tanya Mak Puah.
"Di belakang saja Mak." kata Niken.
"Ya sudah, sana mandi! Siap-siap." titah Mak Puah.
Niken mengangguk, melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar. Sekalian mau membangunkan Alang, barangkali laki-laki itu belum bangun jam lima pagi.
Apalagi di kejauhan lampu kamar Alang terlihat redup, artinya ia belum bangun sama sekali.
Mengingat kemarin Alang dan Dewi begitu dekat, rasa cemburu pasti ada. Merasa rendah diri, tak sepadan, karena Niken sebatang kara. Tak punya uang, tak punya orang tua.
Lebih baik memperbaiki hubungan yang sempat memburuk. Bisa jadi, karena sudah sekian lama mereka tak saling memberi. Niken jadi merindukan masa itu.
"Puas nggak?" suara Alang. Tangan Niken menggantung di udara, urung mengetuk.
Suara berisik yang tak jelas terdengar di balik pintu, membuat Niken menerka-nerka.
Niken menempelkan telinganya di sana, dadanya berdegup kencang. Siapakah teman Alang di dalam sana?
"Mas!" Niken menggedor pintu beberapa kali, sudah tak tahan harus diam dengan segala kecurigaan.
"Mas Alang, buka!" kata Niken.
Seketika tak ada suara apapun, hening bagaikan tak berpenghuni.
"Mas Alang, buka. Aku mau bicara!" kata Niken.
"Hem! Siapa?" sahutan dari dalam dengan suara serak.
"Buka Mas!" ucap Niken lagi.
Tak lama kemudian, pintu terbuka memperlihatkan wajah Alang yang kusut, hanya memakai celana pendek tanpa baju.
"Niken, ada apa?" tanya Alang. Ia mengusap matanya, khas bangun tidur.
"Siapa di dalam?" tanya Niken, menyingkirkan tubuh Alang di ambang pintu.
"Siapa apa Dek?" tanya Alang, membiarkan Niken masuk.
"Tadi, kamu bicara sama siapa Mas?" selidik Niken.
"Bicara apa? Aku baru bangun Niken."
Alang mendekati Niken hingga menempel tubuhnya. "Memangnya, Mas bicara apa?" tanya Alang, tangannya mulai memeluk pinggang Niken.
Buru-buru Niken melepaskan tangan Alang, meskipun terkadang ingin melakukannya lagi, tapi entah mengapa merasa risih saat seperti ini.
"Udah siang." ucap Niken, kemudian berjalan keluar meninggalkan kamar Alang.
Tapi, dia yakin sekali, tadi itu benar-benar mendengar suara Alang. Dua tahun siang dan malam bersama, suara dan pertanyaan seperti itu, sudah pasti Niken mengerti.
"Apakah Mbak Dewi?"
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis