Vania anastasha terpaksa memberikan rahimnya untuk mengandung seorang anak CEO arogan yang ingin memiliki anak tanpa ikatan pernikahan karena masih terikat dengan cinta masa lalunya.sedangkan dirinya butuh biaya untuk operasi ibunya
"akan kulakukan apapun asal ibuku selamat termasuk harus menjual tubuh yang tak berharga ini" Vania anastasia
"lahirkan seorang anak untukku..akan kubayar harganya...uang bukan masalah buatku asal anakku lahir" Julius granger
akankah keadaan berjalan sesuai apa yang diinginkan keduanya atau malah kebalikannya...
jawabannya ada di tulisan receh ini
baru belajar menulis...mohon saran dan kritiknya selalu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Menjelang malam, Angel menemukan Vania tengah membuat segelas susu untuk dirinya sendiri. ia hanya bermaksud untuk meminum segelas air tetapi melihat Vania membuatnya kesal karena teringat akan pertarungan sengitnya dengan ibu Julian
" Kau sedang apa Vania?"
"Oo.. ini susu untuk ibu hamil" jawab Vania, terkejut melihat wanita itu ada didapur
"Ooh.. aku kedapur ingin membuatkan susu untuk Julian, kau pasti tahu dia selalu suka minum susu sebelum tidur"
"Iya.. aku tahu"
"Kau mau membantuku membuatnya? Aku harus menemani Rena tidur"
" Iya.. baiklah"
"Julian ada diruang kerjanya" Dengan senang hati Vania pun menyalakan kompor dan bersiap menghangatkan susu murni untuk Julian, sudah lama ia tidak melakukan ini, semenjak Angel datang kerumah itu
Angel yang melihat senyum bahagia itu sedikit terenyuh, sepertinya Vania terlihat sangat gembira melakukan itu untuk Julian. namun Angel menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh menyerahkan Julian kepada siapapun, ia tidak ingin kehilangan Julian lagi karena kebodohanya sendiri.
Angel melangkahkan kakinya kearah ruang kerja Julian, ia mengetuk sekali lalu masuk setelah mendengar suara Julian. Dengan tanpa menutup pintu itu lagi Angel masuk dan mendekati Julian yang sedang duduk dikursi kerjanya. Pria itu terlihat sangat elegan meski dengan memakai kemeja kebesaran dan celana kain biasa
" Ada apa..?" tanya Julian, bingung melihat Angel mendatanginya malam-malam begini
"Tidak, aku hanya ingin mengobrol, sudah lama kita tidak mengobrol santai" Angel berjalan memutari meja kerja Julian lalu menyandarkan p*ntatnya dimeja kerja Julian hingga berhadapan dengan pria itu
" Ibumu sepertinya benar-benar tidak menyukaiku"
" Tidak perlu dipedulikan,mama memang seperti itu"
" Iya.. tapi, itu menyakiti perasaanku"
"Maaf.." ujar Julian, meminta maaf karena sikap ibunya yang memang melampaui batas
"Bukan, aku tidak bisa mengeluh karena memang itu semua salahku, semua ibu pasti marah jika anaknya dibuat terluka oleh wanita sepertiku"
"Sudahlah Angel.. jangan diungkit-ungkit lagi"
"Tapi, ibumu kelihatannya begitu menyukai Vania" Julian mengalihkan matanya ketumpukan buku-buku didalam lemari, tidak ingin melihat Angel saat ini
"Kau masih tidak ingin menceritakannya kepadaku? Kenapa Vania bisa hamil?" Julian menggelengkan kepalanya
"Belum sekarang"
"Julian.." Angel tiba-tiba berdiri dan melangkah mendekati Julian, mendudukkan dirinya dipangkuan Julian. Julian cukup terkejut dengan ke agresifan Angel, sejak kemarin wanita ini terlihat sangat agresif, memintanya menciumnya dan sekarang menudukkan dirinya dipangkuan Julian
Julian membiarkan saja Angel melakukannya, karena ini pun menjadi menarik, entah kenapa Julian sudah merasa frustasi karena ia tidak lagi merasakan perasaan-perasaan gembira ketika berdekatan dengan Angel seperti ini
"Lian.. aku menyesali semua yang telah aku lakukan padamu, setelah aku menikah aku menyadarinya bahwa dia tidak bisa dibandingkan denganmu. Kaulah yang pertama untukku, dan aku merasakan kebahagiaan yang terdalam saat itu. dan ketika bersamanya kukira rasanya akan sama, tapi aku menangis karena aku tidak mendapatkan apa yang kau berikan padaku"
" Angel.." Julian mengusap wajah Angel dengan lembut
"Tidak perlu menyesal, semua sudah terjadi" Angel menganggukan kepalanya, lalu menunduk menyurukkan wajahnya keleher Julian, memberikan kecupan-kecupan ringan dileher itu
"Kau tahu, setiap aku bercinta dengannya yang terbayangkan olehku adalah dirimu, aku membayangkan kaulah yang menyentuhku, menciumku, membelaiku dan memasukiku. Lian, aku benar-benar merindukanmu" Angel mengusap tengkuk Julian dengan tangannya membelai telinga Julian
"Kau tahu kan, malam itu aku masih perawan?"
"Heum.." jawab Julian
"Aku menyerahkannya padamu karena aku ingin kaulah jadi yang pertama sebelum aku menikahinya, dan aku tidak pernah menyesalinya karena itu adalah malam yang selalu kuingat selama ini" Angel menemukan bibir Julian dan wanita itu langsung ******* bibir itu dalam
Julian teringat akan malam itu, malam dimana ia mencari Angel setelah ia tahu wanita itu akan menikah dengan pria lain. Julian marah dan berusaha menaklukan gadis itu dengan menciumnya, ciuman itupun berlanjut kearah yang sudah jelas. Julian dan Angel bercinta malam itu juga, merasa bahwa Angel sudah menjadi miliknya pun Julian tertidur sampai siang, dan terlambat menyadari bahwa Angel telah pergi dan menikah dengan pria lain
Sama seperti Angel, Julian pun menjadikan malam itu sebagai malam yang paling indah dan mengenangkan selama ini. Julian menekan pinggul Angel agar menempel dengan pangkal kakinya, tangannya meraup ****dara Angel dengan keras, membuat gadis itu mengerang nikmat dibibirnya
Julian melepaskan tautan bibirnya memandangi wajah Angel yang sudah memerah karena gairah. Julian memang selalu mengingat jelas rasa ketika mencium Angel, tapi entah kenapa sekarang rasanya berbeda dengan kali terakhir yang diingatnya dan sekarang yang terus masuk kedalam pikirannya adalah rasa bibir Vania. Apa mungkin rasa Vania begitu kuat hingga memudarkan rasa Angel?.
"Kenapa..?" tanya Angel sambil mengerutkan alisnya, ia sadar, Julian tidak bereaksi seperti yang ia ingat. Pria itu terlihat dingin dan sulit untuk dibangkitkan. Angel memberanikan dirinya menyentuhkan tangannya keselangkangan Julian, dan menemukan benda tumpul itu disana
"Angel.." Julian menangkap pergelangan tangan Angel. Mencegah wanita itu
"Kenapa…?" tanya Angel lagi, wanita itu mengigit bibirnya yang bergetar, ia takut karena menyadari Julian mungkin sudah tidak benar-benar mencintainya lagi
"Aku ingin membuatmu menginginkan aku. Biarkan aku, jika kau tetap tidak menginginkanku maka aku akan berhenti, eoh..?" Angel berusaha melepaskan tangannya dan mencoba menyentuh Julian lagi
"Tidak.. jangan. Sudahlah" tolak Julian. mencegah lagi gerakan tangan Angel
"Apa kau mencintai gadis itu?" tanya Angel panik
"Tidak" jawab Julian tegas
"Kau akan menikahinya?"
" Ya Tuhan, tidak" jawabnya lagi. Meskipun begitu ada sedikit perasaan aneh ketika ia mengatakan kata tidak itu.
"Aku akan menerima anak itu, meskipun ia bukan anakku, aku akan merawatnya dengan baik Julian.."
"Aku tahu kau pasti bisa merawatnya" Angel tersenyum
"Tapi.." Angel menghentikan kalimat Julian dengan sekali lagi mencium pria itu. Julian diam saja ketika Angel menciumnya, dan tangan itu bergerak menyentuh titik sensitifnya, ia juga penasaran sejauh mana tubuhnya bertahan dari sentuhan Angel
"Kau tahu, aku benar-benar pernah berharap Rena adalah anakmu, seandainya saja aku hamil anakmu malam itu. tapi sayangnya itu tidak terjadi"
" Jika itu terjadi aku tidak akan mengizinkanmu menikah dan membawa anakku bersamamu"
" Dan aku berharap dia memang anakmu" Angel menarik kancing celana Julian dan berusaha menurunkan risleting celana Julian. dengan mulut yang masih saling menjelajah Angel terus melanjutkan aksinya membuka celana itu. Julian memegang tangan Angel dan menariknya
"Julian.." bisik Angel, berusaha untuk mencium Julian lagi, tetapi pria itu memalingkan wajahnya. Pria itu merasakan kehadiran seseorang, berada dibelakang tembok pintu yang terbuka lebar itu. Julian menelan salivanya, entah kenapa ia sadar kehadiran siapa itu. bukan Pak Norman bukan juga ibunya
"Julian..?"
"Turunlah Angel, kumohon"
"Tapi.." Julian menurunkan paksa Angel dari pangkuannya, ia berdiri mengancingkan lagi celananya dan berjalan secara perlahan kearah pintu. Setelah melewati pintu Julian tidak melihat siapapun dilorong itu. Matanya mencari-cari sosok seseorang dan berhenti ke sebuah meja yang berada dilorong, ada segelas susu yang masih mengepulkan uap panas. Seseorang baru saja pergi dan meninggalkan susu itu disana.
"Julian" panggil Angel
"Sudah malam Angel.. aku akan tidur, selamat malam"
"Julian….???" Julian melangkahkan kakinya kearah kamar yang akhir-akhir ini jarang ia kunjungi, mengetuk pelan pintu itu lalu membukanya cepat.
.
.
.
.
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏
enggak lht dia bos yg anhkuh dingin kalau sdh bucin enggak jln logika dllnya/Angry/
tpi nma aktornya kyuhyun
🙏🙏