Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Menutup Lembaran Baru
Amanda mengusap sudut matanya yang basah, lalu mengulas senyum paling tulus yang pernah ia miliki dalam beberapa tahun terakhir. Kehangatan yang diberikan ibunda Arya benar-benar meruntuhkan seluruh keraguan dan rasa canggung yang sempat mengikis hatinya.
"Baiklah... jika itu mau Ibu," ucap Amanda pelan dengan suara yang sedikit bergetar karena haru. "Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih sudah menerima saya dengan begitu hangat."
Ibunda Arya tersenyum lebar, merengkuh Amanda ke dalam pelukan singkat yang sarat akan rasa sayang. "Nah, begitu dong. Mulai sekarang, tidak boleh ada kata 'merepotkan' atau 'menumpang' lagi di rumah ini, paham?"
"Iya, Bu," jawab Amanda seraya mengangguk patuh.
Arya yang menyaksikan momen tersebut menghela napas lega. Ketegangan yang sempat menyelimuti halaman rumah itu seketika sirna, berganti dengan suasana sore yang begitu menenangkan. Pria itu menyunggingkan senyum tipisnya yang khas.
"Nah, karena masalah tempat tinggal sudah selesai, sekarang saatnya menghabiskan teh dan pisang gorengnya sebelum dingin," goda Arya sembari melangkah menuju meja teras.
"Dasar kamu ini, Arya, kalau soal makanan selalu cepat," cibir ibunda Arya terkekeh, lalu menuntun Amanda untuk duduk bersama di teras.
Matahari sore perlahan tenggelam, menyisakan pendar jingga yang indah di langit malam. Di teras sederhana itu, diiringi gelak tawa dan cangkir teh yang mengepul, Amanda menyadari satu hal: ia tidak hanya menemukan perlindungan hukum, tetapi juga menemukan kembali arti dari sebuah keluarga yang sesungguhnya.
Aroma teh melati dan pisang goreng hangat menyeruak di dalam ruang tamu begitu mereka melangkah melewati ambang pintu. Angin malam yang mulai terasa dingin di luar seketika tergantikan oleh kehangatan rumah yang begitu menentramkan.
Ibunda Arya menuntun Amanda untuk duduk di sofa empuk berwarna krem, lalu menyodorkan cangkir teh yang masih mengepul. "Minum dulu tehnya, Amanda, supaya badanmu hangat," ucapnya penuh perhatian.
"Terima kasih, Bu," jawab Amanda seraya menerima cangkir tersebut dengan kedua tangannya. Pendar hangat dari cangkir keramik itu seolah merambat langsung ke dalam dadanya, meluruhkan sisa-sisa kegelisahan yang sempat bersarang.
Arya menyusul masuk setelah memastikan pintu depan terkunci rapat. Ia melepas jas resminya, melipat lengan kemejanya hingga ke siku, lalu duduk di kursi tunggal tak jauh dari Amanda. Menatap dua wanita yang paling berharga dalam hidupnya duduk bersama di ruang tamu membuat rasa lelah akibat rentetan persidangan menguap begitu saja.
"O ya, Arya," buka Ibunda Arya sembari menatap putranya. "Bagaimana perkembangan sidang putusan akhir perceraian Amanda minggu depan? Apakah semuanya berjalan sesuai rencana?"
Arya mengangguk mantap, menyandarkan punggungnya dengan penuh keyakinan. "Semua bukti sudah solid, Bu. Hakim sudah menandai seluruh aset gono-gini untuk disita, dan berkas perceraian resmi tinggal menunggu ketukan palu terakhir. Amanda akan benar-benar bebas secara hukum minggu depan."
Amanda menatap Arya dengan pendar mata yang dipenuhi rasa syukur. Di balik dinding rumah kayu yang tenang ini, ia akhirnya menyadari bahwa badai terhebat dalam hidupnya telah berlalu—dan esok hari hanya ada masa depan baru yang menunggunya dengan penuh harapan.
Suasana ruang tamu yang tadinya hangat perlahan berubah menjadi hening dan haru. Amanda meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas meja, jemarinya sedikit bergetar. Ia menunduk sebentar, lalu menatap Arya dan ibunya bergantian dengan tatapan mata yang jujur dan penuh ketetapan hati.
"Sepertinya aku tidak bisa tinggal di rumah itu meski nanti resmi menjadi hartaku, Arya," tutur Amanda lirih namun sangat mantap. "Aku tidak sanggup lagi mengingat kenangan pahit di sana."
Tiap sudut rumah yang dulu ia tinggali bersama Zidan hanya menyimpan rekam jejak kebohongan, pengkhianatan, dan rasa sakit. Mempertahankan rumah itu hanya akan terus mengikat jiwanya pada masa lalu yang kelam.
Arya menatap Amanda dengan pendar mata yang dipenuhi rasa pemahaman yang mendalam. Tak ada sedikit pun keraguan atau nada penghakiman di wajahnya. Ia tahu betul, penyembuhan trauma membutuhkan ruang yang bersih dari bayang-bayang masa lalu.
"Aku sangat paham, Amanda," jawab Arya lembut, menyandarkan tubuhnya maju mendekati meja. "Rumah seharusnya menjadi tempat yang memberi rasa damai, bukan tempat yang memanggil kembali kenangan buruk. Kamu tidak perlu memaksa dirimu untuk tinggal di sana."
Ibunda Arya mengusap lengan Amanda penuh kasih sayang. "Keputusan yang sangat bijak, Nak. Buat apa menyimpan benda yang hanya membuat hatimu sakit?"
Arya lalu melanjutkan dengan nada tenang dan solutif, khas seorang pria yang selalu siap menjadi pelindung. "Setelah putusan hakim resmi keluar dan aset rumah itu sah jatuh ke tanganmu, kita bisa langsung menjualnya. Hasil penjualannya bisa sepenuhnya kamu gunakan untuk membeli rumah baru yang lebih segar, atau menjadi modal untuk kamu memulai usaha dan hidup baru yang benar-benar bersih."
Amanda menghela napas lega, seolah beban seberat puluhan ton baru saja terangkat dari dadanya. "Terima kasih, Arya... Terima kasih karena selalu mengerti jalan pikiranku."
"Selalu, Amanda," pendar mata Arya menatapnya begitu hangat. "Kita akan tutup semua lembaran lama itu rapat-rapat, dan kita buka lembaran baru bersama-sama."