Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Mbah Inah Roboh
Pesan dari Girisari datang pada hari kelima latihan.
Bukan tentang Nala.
Mbah Inah roboh di dekat sumur saat menyiapkan bubur. Separuh tubuhnya tidak bisa digerakkan, dan sejak pagi ia tidak mampu bicara. Nala ditemukan menangis di sampingnya oleh tetangga.
Laras membaca pesan itu di dapur, lalu seluruh suara pisau dan wajan seolah menjauh.
“Saya harus pulang.”
Parjo sudah mengambil formulir izin sebelum ia menyelesaikan kalimat.
Bu Wati datang dari ruang Persit dan langsung menerima Satya. “Susu perah cukup sampai malam. Kalau terlambat, kirim kabar.”
Bima muncul dengan kunci jip.
“Iwan sedang membawa logistik ke kecamatan,” katanya. “Aku yang mengemudi.”
“Komandan punya rapat.”
“Dipindahkan ke sore.”
Surat perjalanan dibuat sebagai pemeriksaan lanjutan keluarga almarhum Sertu Wahyu sekaligus pengantaran bantuan bulanan pertama. Semua kotak bantuan sudah berada di belakang jip. Tidak ada celah untuk disebut perjalanan pribadi.
Mereka meninggalkan Magelang sebelum tengah hari. Bima mengemudi lebih cepat daripada Iwan, tetapi tetap memperlambat di setiap tikungan tajam. Laras duduk mencengkeram ujung kursi.
“Mbah pernah mengeluh pusing?” tanya Bima.
“Tekanan darahnya tinggi. Dia sering bilang hanya masuk angin.”
“dr. Sinta menghubungi bidan desa. Mereka menunggu.”
“Kalau Mbah tidak bisa merawat Nala lagi...”
“Kita bawa Nala pulang.”
Tidak ada keraguan dalam jawaban itu.
“Izin tinggalnya belum selesai.”
“Izin darurat anak terlantar bisa diberikan hari ini. Berkas tetap menyusul.”
Laras menoleh. “Komandan sudah memikirkan semuanya?”
“Tidak semuanya. Cukup untuk hari ini.”
Laras menunduk. Di pangkuannya ada selendang yang dulu dipakai Mbah Inah menggendong Nala. Kain itu ikut terbawa ke kota setelah kunjungan terakhir dan belum sempat dikembalikan.
Ia teringat perempuan tua itu berjalan belasan kilometer saat Laras melahirkan, membawa nasi hangat di dalam rantang. Setelah Wahyu gugur dan keluarga lain menjauh, Mbah Inah yang menerima Laras pulang tanpa pertanyaan. Ia menjual dua ekor ayam untuk membeli popok Nala, lalu selalu mengatakan ayam-ayam itu sudah terlalu tua.
“Saya belum sempat membalas apa pun,” kata Laras.
Bima tidak mengalihkan mata dari jalan. “Orang tua sering tidak menunggu balasan. Mereka hanya ingin melihat anaknya selamat.”
“Kalau kami terlambat?”
“Kita belum terlambat.”
Ia mengucapkannya seperti perintah kepada waktu, meski keduanya tahu tidak ada perwira yang bisa memerintah kematian.
Perjalanan yang biasanya lebih dari satu jam ditempuh dalam waktu lebih singkat. Ketika mereka tiba, halaman Mbah Inah penuh warga.
Bidan desa sedang memeriksa tekanan darah. Mbah Inah terbaring di dipan, wajahnya miring dan tangan kanannya kaku. Nala berada dalam pelukan tetangga, menangis dengan suara serak.
Laras mengangkat putrinya lebih dulu, lalu berlutut di sisi dipan.
“Mbah, saya pulang.”
Kelopak mata Mbah Inah bergerak. Bibirnya mencoba membentuk kata, tetapi hanya suara napas yang keluar.
Bidan menggeleng pelan. “Kemungkinan stroke berat. Seharusnya dibawa ke rumah sakit, tapi kondisinya sudah menurun sejak pagi.”
“Kita bawa sekarang,” kata Bima.
Mereka menyiapkan tandu dari kain dan bambu. Namun ketika tubuh Mbah Inah diangkat, napasnya memburu. Ia meraih dengan tangan kiri, mencari Laras.
“Tunggu,” kata Laras.
Ia mendekat. Mbah Inah memandang Nala, lalu memandang Laras. Dengan usaha besar, satu suara patah keluar.
“Bawa...”
“Saya bawa Nala, Mbah.”
Mata perempuan tua itu bergerak kepada Bima.
“Nikah...”
Wajah Laras memanas sekaligus sakit. Bahkan di ambang hidupnya, Mbah Inah masih memikirkan siapa yang akan menjaga cucu dan cicitnya.
“Jangan pikirkan itu sekarang.”
Mbah Inah menggeleng lemah. Tangannya masuk ke bawah bantal dan mengeluarkan bungkusan kain kecil. Di dalamnya ada uang lusuh, beberapa lembar hasil menjual telur dan menyimpan pemberian Laras.
Ia mendorongnya ke tangan Nala.
“Untuk... anak.”
Laras menutup tangan tua itu kembali di atas bungkusan. “Mbah simpan. Kita ke rumah sakit.”
Mbah Inah tidak melepaskannya. Matanya terpaku pada Laras, menunggu janji.
“Saya akan bawa Nala. Saya akan merawatnya sendiri. Mbah tidak perlu takut.”
Baru setelah itu ketegangan di wajah Mbah Inah berkurang.
Bima berdiri di belakang Laras. “Saya pastikan mereka punya tempat,” katanya jelas. “Saya akan menjaga urusannya.”
Mbah Inah memandang seragamnya. Sudut bibir yang masih bisa bergerak terangkat sedikit.
Napas berikutnya keluar panjang.
Tidak ada napas sesudahnya.
“Mbah?”
Laras mengguncang bahunya. Bidan memeriksa nadi, lalu menutup mata Mbah Inah dengan ujung kain.
Tangis Laras pecah. Ia menunduk di sisi dipan sambil tetap menggendong Nala. Bayi itu ikut menangis karena terkejut, dua suara kehilangan bertumpuk di ruangan sempit.
Bima tidak menyentuh Laras. Ia berdiri cukup dekat agar perempuan itu tahu dirinya tidak sendiri, tetapi memberi ruang sampai tangis pertama mereda.
Setelah itu ia bergerak cepat. Pak Lurah dipanggil untuk pencatatan kematian. Pak RT mengatur kabar kepada keluarga jauh. Bima menyerahkan uang untuk kain kafan, konsumsi warga, dan keperluan pemakaman, semuanya dicatat di depan dua saksi.
Laras masih terlalu lemas untuk mengurus apa pun. Setiap kali seseorang bertanya kain mana yang dipakai atau siapa yang akan memandikan jenazah, suaranya hilang. Bima tidak mengambil alih keputusan keluarga. Ia meminta Bu Karti, tetangga tertua, duduk di samping Laras dan menjelaskan satu per satu.
“Mbah pernah bilang ingin dimakamkan dekat suaminya,” kata Laras akhirnya.
Pak Lurah langsung mengirim dua pemuda memeriksa liang di pemakaman desa. Seorang modin dipanggil untuk memimpin pengurusan jenazah. Para perempuan memanaskan air dan menutup ruang depan dengan kain panjang.
Bima berdiri di luar area perempuan. Ia mengatur hal-hal yang tidak sanggup dipikirkan Laras, tetapi tidak sekali pun melewati batas adat atau agama.
Ketika daftar kebutuhan selesai, ia meminta Pak RT membacanya keras-keras. Kain kafan, kapas, kapur barus, papan, konsumsi sederhana, dan ongkos penggali kubur. Tidak ada biaya berlebihan yang bisa menjadi beban setelah pemakaman.
Ia juga membuka kotak bantuan bulanan dan meminta beras serta gula dipakai untuk warga yang membantu.
“Ini seharusnya untuk Nala,” kata Laras dengan suara serak.
“Nala akan ikut kita. Di rumah masih ada persediaan.”
Menjelang sore, rumah dipenuhi bacaan doa. Nala tertidur kelelahan di dada Laras. Bungkusan tabungan Mbah Inah berada di dalam tasnya.
Laras memandang wajah Mbah Inah yang telah ditutup kain. Ia ingin meminta satu nasihat lagi, ingin mengeluh bahwa dua anak terlalu berat, ingin mendengar perempuan itu menyuruhnya makan lebih banyak. Tidak ada jawaban selain suara warga melafalkan doa.
Di sudut ruangan, selendang lama itu terlipat di samping Nala. Laras berjanji akan menyimpannya sampai putrinya cukup besar untuk mengetahui siapa yang pernah menggendongnya ketika ibunya tidak ada.
Pak Lurah mendekati Bima di halaman.
“Saya tidak menyangka Danyon datang sendiri untuk keluarga Wahyu.”
Bima melihat ke dalam rumah, kepada Laras yang duduk di sisi jenazah.
“Mereka bukan keluarga yang boleh dibiarkan sendiri.”