NovelToon NovelToon
Sistem Master Sekte

Sistem Master Sekte

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Ketika Jiang Chen terbangun di dunia kultivasi, ia mendapati dirinya mewarisi takhta Ketua Sekte Pedang Bintang—sebuah sekte yang dulunya agung namun kini berada di ambang kehancuran absolut. Pilar utama sekte, sang guru, telah tewas terbunuh. Para tetua berkhianat dan membawa lari seluruh harta benda, sementara musuh bebuyutan telah mendobrak gerbang depan untuk merampas wilayah mereka.
​Dengan tingkat kultivasi dasar yang sangat lemah dan hanya ditemani oleh satu adik seperguruan yang masih setia bertahan, ajal seolah sudah menanti Jiang Chen di depan mata.
​Namun, di saat maut dan keputusasaan memuncak, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di benaknya: [Sistem Pembangunan Sekte Abadi berhasil diikat!]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Terpisah di Gerbang Berdarah

​BZZZZZT! ROAAARR!

​Pusaran energi berwarna merah darah di tengah Hutan Kabut Hitam meledak, memancarkan pilar cahaya yang menembus awan. Suara robekan ruang terdengar begitu keras hingga membuat gendang telinga para kultivator di bawah Ranah Pembentukan Fondasi berdarah.

​Angin puyuh raksasa terbentuk, menyedot udara, bebatuan, dan pepohonan di sekitarnya.

​Penatua Mo dari Sekte Iblis Darah, yang pedangnya sudah berjarak kurang dari satu meter dari leher Jiang Chen, terpaksa menarik kembali serangannya. Tarikan spasial dari pintu Alam Rahasia itu terlalu kuat, dan jika dia tidak menstabilkan qi-nya, dia bisa tersedot masuk tanpa pelindung formasi yang tepat dan terkoyak oleh badai ruang angkasa.

​"Keberuntunganmu sangat bagus, Bocah!" Penatua Mo meraung di tengah gemuruh angin, mundur ke barisan murid-muridnya yang mulai mengaktifkan token masuk mereka. "Tapi di dalam sana tidak ada tempat untuk lari! Aku akan memburu kalian, memotong anggota tubuh kalian satu per satu, dan membuang kalian ke danau lintah berdarah!"

​Jiang Chen sama sekali tidak memedulikan ancaman receh itu. Dia menoleh ke arah Lin Mo dan Su Yue. Pakaian mereka berkibar liar akibat badai spasial.

​"Genggam token kalian erat-erat dan alirkan Qi ke dalamnya!" perintah Jiang Chen, suaranya menembus kebisingan berkat lapisan energi spiritual. "Alam Rahasia kuno biasanya memiliki formasi teleportasi acak. Kita kemungkinan besar akan terpisah saat masuk!"

​Mendengar itu, wajah Su Yue sedikit memucat, tetapi dia menggigit bibirnya dan mengangguk.

​"Lin Mo, Su Yue, dengarkan baik-baik," mata Jiang Chen memancarkan ketegasan mutlak. "Ini adalah ujian nyata kalian. Jika kalian bertemu musuh, jangan ragu. Jika kalian menemukan harta, ambil. Gunakan semua yang telah kalian pelajari. Aku tidak akan selalu berada di samping kalian untuk membersihkan jalan."

​"Murid mengerti!" Lin Mo mencengkeram Pedang Meteor Darah-nya, matanya justru menyala karena antisipasi pertempuran.

​Token giok merah di tangan mereka tiba-tiba memancarkan cahaya yang menyilaukan, membungkus tubuh ketiganya dalam kepompong energi.

​WUUUSH!

​Dalam sekejap mata, kelompok Jiang Chen, bersama ribuan kultivator dari berbagai faksi lainnya, tersedot ke dalam pusaran darah raksasa dan menghilang dari Hutan Kabut Hitam.

​Rawa Keputusasaan: Ujian Su Yue

​Bruk!

​Su Yue terhempas dengan keras ke atas tanah yang basah dan lembek. Bau busuk bangkai dan dedaunan membusuk langsung menusuk hidungnya, membuatnya nyaris muntah.

​Gadis itu segera bangkit dan mencabut Pedang Bulan Beku-nya, matanya waspada menyapu sekeliling.

​Dia berada di tengah-tengah rawa yang luas. Kabut kelabu setinggi lutut menutupi tanah, mengaburkan pandangan dan menyembunyikan bahaya apa pun yang mengintai di bawah air keruh. Langit di atasnya tidak berwarna biru, melainkan merah gelap layaknya darah yang mengering, memberikan pencahayaan yang suram dan mencekam.

​"T-Tempat apa ini? Udaranya sangat beracun," gumam Su Yue. Dia segera mengalirkan qi es miliknya untuk membentuk lapisan tipis di atas kulitnya, mencegah miasma beracun meresap masuk.

​Dia benar-benar sendirian. Tidak ada Lin Mo yang gila bertarung, dan tidak ada Ketua Sektenya yang serba bisa. Untuk pertama kalinya, Su Yue harus menghadapi hukum rimba dunia kultivasi dengan tangannya sendiri.

​Sresek... Sresek...

​Suara gesekan pelan terdengar dari balik semak belukar berduri di sebelah kanannya.

​Jantung Su Yue berdetak kencang. Ia memegang pedangnya erat-erat, energi Pemadatan Qi Tingkat 4 miliknya berputar hingga batas maksimal.

​SYUUUT!

​Sebuah bayangan panjang melesat dari dalam air keruh di bawah kabut dengan kecepatan peluru! Itu bukan manusia, melainkan seekor buaya raksasa dengan sisik berlapis lumpur keras dan deretan gigi sebesar belati.

​Buaya Rawa Lapis Baja (Binatang Iblis Tingkat 2)! Kekuatannya setara dengan kultivator Pemadatan Qi Tingkat 6!

​"Ah!" Su Yue menjerit kaget, secara refleks melompat mundur. Rahang buaya itu tertutup hanya beberapa inci dari kakinya, menghasilkan suara CLANG yang memekakkan telinga bak benturan baja.

​Jika Su Yue masihlah gadis lemah dari sebulan yang lalu, dia pasti sudah menjadi santapan buaya ini. Namun, gemblengan Jiang Chen dan pil berurat emas telah mengubah fondasinya.

​"Tebasan Teratai Es!"

​Su Yue memutar tubuhnya di udara dan menebaskan pedangnya ke bawah. Gelombang qi es berbentuk bulan sabit meluncur dan menghantam punggung buaya tersebut.

​KRAAAK!

​Sisik buaya itu retak, dan lapisan es menyebar di sekitarnya. Namun, perbedaan tingkat kultivasi membuat serangan itu tidak berakibat fatal. Buaya raksasa itu justru semakin marah. Ia mengayunkan ekornya yang dipenuhi duri tulang ke arah Su Yue.

​BAM!

​Su Yue menahan serangan itu dengan punggung pedangnya, tetapi kekuatan fisiknya kalah jauh. Tubuh mungilnya terhempas ke belakang, menabrak pohon mati yang lapuk hingga hancur.

​Darah segar menetes dari sudut bibirnya. Rasa sakit menjalar di sekujur lengan kanannya.

​Buaya itu perlahan merayap mendekat, rahangnya terbuka lebar siap menelan mangsanya bulat-bulat. Keputusasaan mulai merayap di hati Su Yue. Apakah aku harus menggunakan Jimat Pemindah Ruang sekarang?

​Namun, saat tangannya menyentuh jimat di balik bajunya, kata-kata Jiang Chen bergema di kepalanya.

"Aku tidak membesarkan murid yang lari pada rintangan pertama."

​Mata Su Yue menajam. Ketakutannya memudar, digantikan oleh tekad yang dingin.

​"Guru telah memberiku teknik tingkat surga, senjata tingkat bumi, dan pil legendaris. Jika aku mati oleh kadal lumpur ini, aku tidak pantas menjadi murid Sekte Pedang Bintang!"

​Alih-alih mundur, Su Yue menarik napas panjang. Dia menutup matanya sejenak, membiarkan energi Pedang Bulan Beku beresonansi dengan detak jantungnya. Suhu di sekitarnya anjlok seketika. Rawa di bawah kakinya mulai membeku.

​Buaya itu melesat maju untuk gigitan terakhir.

​Tepat pada saat rahang mematikan itu hendak menutup, Su Yue melesat ke depan, meluncur di atas es yang baru saja ia buat. Bukannya menghindar, dia menyeruduk masuk tepat ke bawah perut buaya—satu-satunya tempat yang tidak terlindungi sisik baja!

​"Seni Pedang: Bunga Es Bermekaran!"

​Su Yue menusukkan pedangnya ke atas dengan seluruh kekuatan qi-nya.

​CRAAATTT!!

​Pedang Tingkat Bumi itu menembus kulit lunak perut buaya tanpa hambatan, menancap hingga ke gagangnya. Su Yue memutar pedangnya, dan energi es meledak dari dalam tubuh binatang buas itu, membekukan organ internalnya dalam hitungan detik.

​Buaya raksasa itu meraung tertahan, tubuhnya kejang-kejang sebelum akhirnya membeku menjadi patung es dan ambruk dengan suara keras.

​Su Yue menarik pedangnya dan jatuh berlutut, terengah-engah hebat. Pakaiannya kotor oleh lumpur dan darah, tetapi ada senyum kemenangan yang menghiasi wajah pucatnya. Dia telah berhasil mengalahkan musuh yang dua tingkat di atasnya dengan kekuatan dan taktiknya sendiri.

​"Ini baru permulaan," gumamnya, memotong kristal inti iblis dari mayat buaya itu lalu mulai berjalan menembus kabut, semakin dalam menuju pusat Alam Rahasia.

​Tebing Merah: Batasan Alam

​Di bagian lain dari Alam Rahasia Bulan Berdarah.

​Jiang Chen mendarat dengan mulus di atas sebuah dataran berbatu merah yang tandus. Di sampingnya, Hei Ming dalam wujud anjing hitamnya mengibaskan ekor, terlihat sama sekali tidak terpengaruh oleh teleportasi spasial.

​Jiang Chen mengedarkan pandangannya. Langit merah menyala, dan energi spiritual di sini dipenuhi oleh unsur pembantaian yang purba.

​"Tempat yang bagus untuk bertarung," batin Jiang Chen.

​Dia mencoba melepaskan Kesadaran Spiritual Inti Emas miliknya untuk memindai area sekitar, bermaksud mencari lokasi Teratai Darah Seribu Tahun dengan cepat.

​Namun, baru saja energi Inti Emas-nya beriak di Dantian...

​KRAAAK! RUMBLE!!

​Langit merah di atasnya mendadak bergejolak. Awan hitam tebal terbentuk seketika, dan kilat berwarna merah darah menyambar-nyambar dengan ancaman kiamat. Tekanan dari seluruh Alam Rahasia tiba-tiba menekan tubuh Jiang Chen, seolah-olah dunia itu sendiri ingin menghancurkannya.

​Jiang Chen segera menarik kembali energi Inti Emas-nya dan membiarkan Jubah Penyamar Aura menekan qi-nya kembali ke puncak Pembentukan Fondasi.

​Begitu auranya turun, awan hitam dan petir merah di langit perlahan menghilang.

​Jiang Chen mengangkat alisnya, tersenyum penuh minat.

​"Menarik. Jadi gosip itu benar. Alam Rahasia kuno ini memiliki hukum dunianya sendiri. Formasi penciptanya menolak kehadiran siapa pun yang melampaui Ranah Pembentukan Fondasi untuk masuk ke dalam."

​Jika Jiang Chen bersikeras menggunakan kekuatan Inti Emas atau memanggil Hei Ming dalam wujud naga Tingkat Langitnya, hukum dunia ini akan merespons dengan memicu Petir Hukuman Alam. Meskipun Jiang Chen mungkin bisa selamat, energi benturan itu kemungkinan besar akan menghancurkan Alam Rahasia ini dari dalam, membuatnya runtuh dan mengubur semua orang, termasuk kedua muridnya.

​"Sistem, sepertinya kau memberiku Jubah Penyamar Aura ini bukan hanya untuk bergaya, ya?" Jiang Chen bergumam santai. "Baiklah. Ini justru membuat segalanya tidak terlalu membosankan. Terlalu sering menggunakan meriam untuk menembak nyamuk bisa membuat insting bertarungku tumpul."

​Meski kekuatannya kini "dikunci" di puncak Pembentukan Fondasi, fondasi qi Jiang Chen yang semurni emas dan teknik tempurnya tetaplah milik seorang master mutlak. Di ranah yang sama, dia tidak terkalahkan.

​Jiang Chen memetik sekuntum rumput spiritual merah dari sela-sela bebatuan, melemparkannya ke mulut Hei Ming sebagai camilan, lalu menatap ke arah sebuah pegunungan menjulang di kejauhan yang memancarkan aura paling pekat.

​"Ayo, Hei Ming. Mari kita jalan-jalan sebagai manusia fana biasa. Aku ingin melihat sekte mana saja yang cukup beruntung untuk menjadi batu pijakan kita hari ini."

1
R.A.N
💪👍
R.A.N
perasaan blum -1.000 lebih udh VVIP?? harusnya pas beli bsar
R.A.N
hoow💪👍
R.A.N
semangat🔛🔥💪
R.A.N
episode 4,pertama💪🙏👍
R.A.N
semangat ⚡🔨Thor, lanjutkan
R.A.N
novel bagus ini baru ketemu💪👍
Arinto Ario Triharyanto
yoooiiiii
Hadi Hadi
semangat💪💪
Hadi Hadi
by💪💪
Hadi Hadi
up up up😄
Hadi Hadi
mantap🤭🤭
Hadi Hadi
is good💪💪💪
Hadi Hadi
sikat💪💪💪
Hadi Hadi
bantai💪💪
Hadi Hadi
semangat💪💪💪
Arinto Ario Triharyanto
mantaapppp
Arinto Ario Triharyanto
yoyoi😎
Arinto Ario Triharyanto
mantap betul dah😎
dewa pedang
wkwkwk mampus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!