"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Identifikasi Korban Pertama — Siska
Pagi hari kedua kasus dimulai dengan meja forensik dan kopi pahit.
Raka tiba di Kantor Satreskrim pukul tujuh lewat sedikit. Dimas sudah lebih dulu di sana, kemejanya kusut, mata bawahnya gelap. Di layar besar, foto kantong hitam dari Jalan Pahlawan masih terbuka, kali ini disandingkan dengan daftar orang hilang.
Andi duduk di depan komputer, jari-jarinya bergerak cepat.
"Tidak ada sidik jari," kata Andi tanpa menoleh. "Jari yang ditemukan rusak. Kerusakannya tidak total, cukup untuk membuat pencocokan database lambat. DNA sedang diproses di RS Distrik Surya."
Dimas meletakkan gelas kopi di depan Raka. TSelamat datang di kasus yang tidak peduli jam tidur.T
Raka menerima kopi itu. TTerima kasih.T
TJangan senang. Rasanya buruk.T
Benar.
Rasanya buruk.
Menjelang siang, rumah sakit mengirim hasil awal. DNA belum cocok dengan database kriminal, tapi estimasi korban mulai jelas: perempuan, usia dua puluh sampai dua puluh lima tahun, tinggi sekitar seratus enam puluh sentimeter, kondisi tubuh menunjukkan korban masih muda dan relatif sehat sebelum meninggal.
Tidak ada kepala.
Tidak ada wajah.
Identitas harus dicari lewat orang yang kehilangan, bukan lewat tubuh yang sengaja dibuat bisu.
Andi menyaring laporan orang hilang tiga minggu terakhir. Kota Elang Biru terlalu besar untuk daftar pendek, tapi parameter usia, tinggi, jenis kelamin, dan area terakhir terlihat mempersempit hasil.
TAda satu yang cocok,T kata Andi akhirnya.
Layar berubah.
Foto seorang perempuan muda muncul. Rambut panjang, lipstik merah tipis, senyum yang tampak dipaksakan untuk kamera murah.
Nama: Siska.
Usia: 23 tahun.
Dilaporkan hilang oleh seorang teman lima hari lalu. Pekerjaan tidak ditulis jelas di laporan, tetapi lokasi terakhir mengarah ke area lokalisasi Distrik Surya.
Dimas menghela napas. TKalau benar dia pekerja seks, saksi akan susah bicara. Mereka tidak percaya polisi.T
TMungkin mereka punya alasan,T kata Raka.
Dimas menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. TMungkin.T
Yudha sedang rapat dengan atasan, jadi ia memberi izin lewat telepon. TRaka, ikut Dimas. Jangan ceramah moral di sana. Dengarkan dulu. Andi, terus cari asal plastik dan supplier. Kribo boleh bantu data publik, tapi jangan sentuh server internal.T
TSiap, Komandan,T jawab Dimas.
Area lokalisasi Distrik Surya berada di belakang deretan toko karaoke tua dan warung remang. Siang hari, tempat itu terlihat lelah. Lampu neon mati, kursi plastik terbalik, bau parfum murah bercampur rokok lama. Orang-orang melihat mobil polisi seperti melihat hujan mendadak di jemuran.
Begitu Dimas turun, beberapa pintu langsung tertutup.
TSelalu begini,T gumam Dimas.
Raka tidak langsung bertanya. Ia memperhatikan wajah orang-orang. Ketakutan mereka bukan takut pelaku saja. Ada takut pada razia, takut dipermalukan, takut nama mereka masuk laporan, takut orang yang seharusnya melindungi justru menjadikan hidup mereka lebih sulit.
Mata Dosa menampilkan angka-angka kecil. 8. 11. 17. Tidak bersih sempurna, tapi bukan orang-orang yang ia cari.
Seorang perempuan kurus berdiri di ujung lorong, memeluk tas kecil di dada. Matanya merah. Ketika melihat foto Siska di tangan Dimas, wajahnya berubah.
Raka melangkah lebih dulu sebelum Dimas membuka suara terlalu formal.
TKamu yang melapor Siska hilang?T tanya Raka lembut.
Perempuan itu menatapnya curiga. TKalau iya, saya ditangkap?T
"Tidak. Kami mencari Siska. Kami tidak sedang mencari alasan untuk menangkap kamu."
Dimas diam di belakangnya. Untuk sekali ini, ia membiarkan Raka memimpin.
Perempuan itu menelan ludah. TNama saya Rini. Siska teman saya. Dia tidak pulang lima hari. Biasanya kalau pergi lama, dia tetap kirim pesan. Kali ini tidak.T
TKapan terakhir kamu melihatnya?T
TMalam Jumat. Dia bilang ada pelanggan tetap. Bayar lebih. Dia tidak mau sebut nama.T
TKenapa?T
Rini menunduk. TPelanggan itu tidak suka disebut. Dia selalu datang bersih. Pakai kemeja biasa. Umur mungkin empat puluhan. Tidak kasar di depan orang. Tapi Siska bilang ada yang aneh.T
Raka menajamkan perhatian. TAneh bagaimana?T
Rini mengusap lengannya. TBau rempah. Kuat sekali. Bukan parfum. Kayak bumbu dapur, bawang, merica, daging rebus. Siska bercanda, katanya kalau dekat dia, rasanya lapar dan mual bersamaan.T
Dimas dan Raka saling pandang.
Plastik industri makanan.
Residu bumbu.
Bau rempah.
Garis itu mulai terhubung.
Rini membawa mereka ke kamar kecil tempat Siska terakhir bersiap. Ruangan itu sempit, kasurnya tipis, sprei bermotif bunga sudah pudar. Ada cermin retak, bedak murah, sisir, dan satu gelang plastik hijau di dekat bantal.
Raka meminta izin sebelum masuk lebih jauh.
TBoleh saya lihat?T
Rini mengangguk.
Mata Dosa aktif.
Di kamar itu, aura Siska terasa tipis, ringan, seperti orang yang sering takut tapi masih memaksa diri tertawa. Namun di bantal, ada noda gelap yang tidak terlihat mata biasa. Bukan darah. Bukan cairan. Sisa dosa.
Aura itu berat, lengket, dan dingin.
Pelaku pernah duduk di sini.
Mungkin menyentuh bantal.
Mungkin menunggu Siska selesai berdandan.
Raka merasakan perutnya mengeras.
【Aura dosa target: terdeteksi.】
【Kecocokan dengan aura TKP pembuangan: sebagian.】
【Pelaku pernah berada di lokasi ini.】
TDia pernah ke kamar ini,T kata Raka.
Dimas menatapnya. TSi pelanggan tetap?T
TKemungkinan besar.T
TDari apa?T
Raka menunjuk benda-benda yang lebih aman dijelaskan. TRini bilang pelanggan tetap. Bau rempah menempel kuat sampai jadi ciri. Kalau dia menjemput Siska langsung dari sini, mungkin ada jejak di kain. Kita bisa minta lab periksa sprei dan bantal untuk residu rempah atau partikel minyak.T
Dimas mengangguk. TMasuk akal.T
Rini menggenggam tasnya makin kuat. TSiska... itu dia? Yang di berita?T
Tidak ada cara lembut untuk kebenaran seperti ini. Tapi ada cara kasar yang bisa dihindari.
Raka berkata pelan, TKami belum bisa mengatakan seratus persen sebelum konfirmasi penuh. Tapi kemungkinan besar, ya. Kami akan memastikan dia punya nama di berkas. Bukan cuma 'mayat tanpa identitas'.T
Rini menutup mulutnya dan menangis.
Dimas menunggu. Tidak mendesak. Raka mencatat itu.
Kembali ke kantor, Kribo sudah mengirim daftar usaha makanan dalam radius lima kilometer dari titik pembuangan dan area lokalisasi.
— 47 usaha. Dari warung bakso sampai pabrik kerupuk rumahan. Kalau pelakunya bau rempah, kota ini terlalu suka makan.
Andi menambahkan data supplier plastik.
TJenis plastik di TKP bukan umum. Dipakai untuk bahan basah skala usaha. Aku sedang cari distributor. Kalau cocok, daftar 47 bisa turun drastis.T
Yudha menelepon dari luar kantor. Suaranya langsung ke inti. TFokuskan ke usaha yang menggunakan plastik industri jenis sama. Andi, cari supplier. Dimas, lindungi saksi dari area lokalisasi. Raka, susun profil awal pelaku.T
TSiap, Pak,T kata Raka.
Ia menatap foto Siska di layar.
Dua puluh tiga tahun. Dilaporkan hilang oleh teman, bukan keluarga. Dikenal dari bau rempah yang ditinggalkan orang yang mungkin membunuhnya.
Di atas meja, daftar 47 usaha makanan menunggu.
Di kepala Raka, timer sistem terus berjalan.
Hari kedua dari dua puluh.
Dan untuk pertama kali dalam kasus ini, korban tanpa wajah punya nama.
Siska.