NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Selama dua bulan, Arka Surya Wijaya selalu terbangun di dunia yang sama setiap kali ia tidur: sebuah planet mati bernama Planet Biru.

Dr. Hasan di RSJ Bukit Hijau menyebutnya gejala skizofrenia. Viona menyebutnya lebih singkat, lebih kejam, dan lebih mudah diingat.

Gendut, miskin, dan gila.

Malam ini, Arka tidak punya tenaga untuk memikirkan kalimat itu. Begitu kesadarannya jatuh ke dalam gelap, udara dingin langsung menusuk paru-parunya.

Ia membuka mata di antara reruntuhan beton.

Langit Planet Biru menggantung rendah, kelabu dan sunyi. Hujan asam turun tipis di atas mobil-mobil yang lama ditinggalkan. Udara dingin membuat napasnya memutih, cukup untuk mengingatkan Arka bahwa tubuh di dunia ini bisa mati sungguhan.

Arka memeluk tubuhnya sendiri. Tubuhnya tinggi, tapi terlalu berat, hampir seratus kilo lebih. Di dunia nyata, tubuh itu membuatnya ditertawakan di kampus. Di sini, tubuh yang sama membuat langkahnya lambat dan cepat lelah.

Di sakunya hanya ada setengah botol air dan sepotong roti berjamur yang ia simpan sejak siklus sebelumnya.

Dua bulan.

Selama dua bulan, ia belajar satu hal: kalau ingin hidup sampai dua belas jam berikutnya, ia tidak boleh panik.

Arka mengangkat golok dapur yang sudah tumpul. Gagangnya dililit kain bekas agar tidak mudah lepas dari tangan. Senjata itu konyol, murah, bahkan mungkin tidak layak disebut senjata. Tetapi untuk saat ini, benda itu cukup membuatnya berani melangkah.

Di seberang jalan, papan nama sebuah bank roboh separuh. Huruf-hurufnya hangus, tapi pintu kaca di bawahnya masih menyisakan celah.

Bank.

Mata Arka menyipit.

Di dunia mati, uang kertas tidak lebih berguna daripada sampah basah. Tetapi brankas bank mungkin menyimpan sesuatu yang tidak ikut mati bersama peradaban.

Ia bergerak mendekat, berhenti beberapa kali untuk memastikan tidak ada zombi yang berkeliaran di sekitar pintu. Setelah dua bulan di sini, Arka belajar menghindari masalah lebih sering daripada menyelesaikannya dengan tenaga.

Aman.

Arka menyelinap masuk lewat pintu samping. Ruang utama bank gelap. Mesin antrean, kursi tunggu, dan meja pelayanan berserakan. Di belakang meja teller, ia menemukan pintu besi menuju ruang penyimpanan.

Kuncinya rusak. Separuh engsel meleleh. Mungkin ada orang yang mencoba membukanya saat bencana pertama terjadi.

Arka menendang sekali.

Tidak bergerak.

Ia menggertakkan gigi, mengangkat golok, lalu menghantam celah engsel berkali-kali.

KLANG!

KLANG!

KLANG!

Suara logam menggema terlalu keras.

Arka langsung berhenti.

Dari lorong belakang terdengar geraman.

Satu.

Tidak, dua?

Ia mundur setengah langkah. Dalam dua bulan, ia lebih sering lari daripada melawan. Tubuh seperti ini sulit dipakai menjadi pahlawan.

Namun pintu besi itu sudah terbuka sedikit.

Seekor zombi berseragam satpam bank muncul dari lorong. Gerakannya kaku, tapi cukup cepat untuk membuat Arka lupa bernapas.

Arka tidak menunggu sampai makhluk itu terlalu dekat. Ia menarik kursi tunggu yang roboh, mendorongnya ke depan, lalu menghantam kaki zombi itu dengan seluruh tenaga.

Makhluk itu jatuh menabrak meja teller.

Arka mengayunkan golok.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Pukulannya kacau dan jauh dari gagah. Tetapi pada hantaman terakhir, zombi itu berhenti bergerak.

Arka bersandar ke meja, napasnya putus-putus. Bahunya sakit. Tangannya gemetar. Ia tidak menang seperti pendekar dalam film. Ia hanya bertahan hidup.

Ketika hendak menarik goloknya, ujung bilah menyentuh sesuatu yang keras.

Tik.

Arka membeku.

Di dekat tubuh zombi itu, ada benda putih sebesar kelereng. Permukaannya seperti kristal susu, bersih, anehnya tidak tercemar apa pun. Yang paling mengejutkan, benda itu mengeluarkan aroma nasi hangat.

Perut Arka langsung berkeruyuk.

"Kristal..."

Ia pernah melihat benda seperti ini sekali, jauh dari genggaman, ketika sekelompok penyintas bersenjata membunuh zombi di jalan raya. Mereka berebut benda itu seolah-olah sedang berebut emas.

Arka mengangkat Kristal itu ke depan wajahnya.

Aroma nasi semakin kuat.

Dalam kondisi normal, ia tidak akan menelan benda asing dari dunia mati. Tetapi kondisi normal sudah lama tidak berlaku di Planet Biru. Ia hanya punya setengah botol air, roti berjamur, dan dua belas jam hidup yang belum tentu penuh.

Ia menelan Kristal itu.

Rasa dingin menyebar dari tenggorokannya.

Detik berikutnya, tubuhnya seperti dilempar ke dalam tungku.

"Argh!"

Arka jatuh berlutut. Panas menjalar di bawah kulitnya, membuat seluruh tubuhnya bergetar. Kepalanya berdengung, seakan ada pintu yang dipaksa terbuka dari dalam.

Panas itu berputar menuju pusat kesadarannya.

Di pusat kesadarannya, sebuah ruang kosong terbuka.

Sunyi. Seluas kira-kira satu meter kubik.

Arka terengah-engah. Keringatnya langsung membeku di leher, tetapi rasa lapar yang tadi mengikat perutnya menghilang. Tubuhnya masih berat, tapi ada tenaga baru mengalir di bawah kulit.

Ia menatap pecahan kursi di dekat kakinya.

Masuk.

Begitu pikiran itu muncul, pecahan kursi lenyap.

Arka nyaris lupa bernapas.

Keluar.

Pecahan kursi itu jatuh kembali ke lantai.

Sunyi.

Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.

Kekuatan Dimensi.

Ia tidak tahu dari mana nama itu datang. Mungkin dari nalurinya. Mungkin dari perubahan di pusat kesadarannya. Tetapi ia mengerti fungsinya: ruang penyimpanan. Satu meter kubik. Tidak besar, tapi cukup untuk mengubah hidup.

Cukup untuk mengambil apa pun yang selama ini tidak bisa ia bawa.

Arka menoleh ke pintu besi.

Kali ini, ia tidak menendangnya sembarangan. Ia mengambil batang logam dari meja keamanan, menyelipkannya ke celah engsel, lalu menggunakan seluruh berat badannya untuk menekan.

KRAK!

Engsel terakhir patah.

Pintu ruang penyimpanan terbuka.

Di dalamnya, sebagian besar laci sudah kosong. Uang kertas berserakan, dimakan lembap dan jamur. Arka tidak peduli. Ia menyisir rak demi rak, matanya dingin, napasnya tertahan.

Di sudut terdalam, di balik kotak arsip yang roboh, ia menemukan peti logam kecil.

Kuncinya macet. Goloknya menyelesaikan sisanya.

Begitu penutup peti terbuka, cahaya kuning redup memantul di mata Arka.

Emas.

Tiga puluh batang Emas Batangan, masing-masing tercetak angka 500g. Tertata rapi, seolah-olah dunia belum hancur di luar sana.

Di sampingnya ada kotak beludru yang sudah lembap. Arka membukanya dan melihat sepasang Gelang Giok Imperial, hijau pekat seperti air danau yang tidak pernah tersentuh debu.

Untuk beberapa detik, Arka hanya diam.

Kemarin, di dunia nyata, ia menghitung sisa uang di dompet dan memutuskan tidak membeli lauk tambahan.

Kemarin, Viona bisa membuangnya hanya dengan satu kalimat, karena ia tidak punya masa depan.

Sekarang, di hadapannya, ada masa depan yang bisa ditimbang dengan kilogram.

"Emas... tiga puluh batang," gumam Arka. Bibirnya kering, tapi matanya menyala. "Di dunia nyata, ini bernilai miliaran."

Ia menyentuh satu batang emas.

Masuk.

Emas itu lenyap.

Satu demi satu, tiga puluh batang emas masuk ke ruang Dimensi. Gelang Giok Imperial menyusul. Ruang satu meter kubik itu hampir penuh, tapi cukup. Sangat cukup.

Dari luar bank, terdengar suara langkah terseret.

Arka melirik jam tangan retak di pergelangan kirinya.

Sebelas jam lima puluh tujuh menit.

Hampir waktunya.

Ia tidak boleh meninggalkan tubuh ini di tempat terbuka.

Arka menarik pintu besi ruang penyimpanan dan menahan gagangnya dengan batang logam. Dua lemari arsip ia geser ke belakang pintu. Tidak sempurna, tapi cukup untuk menyembunyikan tubuhnya beberapa jam.

Sesuatu bergerak di ruang utama bank. Arka duduk di sudut, memeluk golok di dada, memaksa napasnya tetap pelan.

Pandangannya mulai gelap. Ia mengenal tarikan itu; tubuhnya tidak sedang pingsan.

Pergantian dua belas jam.

Saat sosok zombi lewat di balik celah pintu, dunia runtuh ke dalam kegelapan.

Arka tersentak bangun.

Kipas angin tua di langit-langit kost-kostan berputar lambat. Udara Depok yang lembap menempel di kulitnya. Suara motor lewat dari gang sempit di luar jendela. Tidak ada hujan asam, es, atau aroma kematian Planet Biru.

Tangannya masih gemetar.

Ia duduk di tepi kasur, menatap telapak tangannya.

Kalau semua itu hanya mimpi, ruang Dimensi tidak akan ada.

Kalau Dr. Hasan benar, ia hanya pasien yang semakin parah.

Kalau Viona benar, ia memang hanya pria gendut, miskin, dan gila.

Arka menutup mata.

Keluar.

Benda berat jatuh ke telapak tangannya.

Kuning. Padat. Dingin.

Satu batang Emas Batangan, 500 gram, berbaring nyata di antara jari-jarinya. Sudutnya menekan kulit sampai sakit.

Arka menatapnya lama sekali.

Lalu ia tertawa pelan.

Tidak keras. Tidak gila. Hanya satu tawa pendek dari seseorang yang baru melihat pintu takdir terbuka di depannya.

"Ini..." suaranya nyaris tidak terdengar, "nyata."

Tiga puluh batang emas. Masing-masing 500 gram.

Dengan harga pasar hari ini, nilainya setidaknya Rp 10 Miliar.

Kemarin, ia masih pria yang ditinggalkan karena tidak punya masa depan.

Hari ini, Arka menggenggam masa depan itu di tangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!