NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 005: Makan Malam di Restoran Rejeki Makmur

Pukul empat lewat tiga puluh, Bu Sri sudah berdiri di depan lemari dengan kerudung tipis di tangan, walau acara yang disebut Tante Lina baru mulai pukul lima.

"Jangan terlalu lama, nanti dikira kita sengaja telat," katanya untuk ketiga kalinya.

Pak Harto mengancingkan kemeja batik cokelat yang sudah disetrika sejak pagi. Kainnya sudah lama dan tetap bersih. Ia memandang Bima sebentar, lalu menunduk ke sandal kulit yang bagian ujungnya mulai kusam.

"Tante Lina bilang jam lima, kan?" tanya Ratna sambil memasukkan ponsel ke tas kecilnya.

Bima berdiri dekat meja makan. Ia masih ingat jelas bagaimana Tante Lina kemarin menekan suara saat menyebut jam acara. Terlalu manis. Terlalu ringan. Dan setelah itu, senyum Darmawan terlalu cepat muncul.

"Berangkat sekarang saja," kata Bima. "Kalau ternyata kita kepagian, lebih baik menunggu di restoran daripada memberi mereka bahan omongan."

Bu Sri menoleh cepat, seolah tidak menyangka Bima akan memikirkan hal seperti itu. Pak Harto hanya mengangguk pelan.

Mereka berangkat dengan ojek online dan angkot kecil yang berhenti dua gang dari Restoran Rejeki Makmur. Papan nama merah emas restoran itu berdiri mencolok di tepi jalan utama Waringin. Dari luar, kaca depannya sudah penuh pantulan mobil keluarga, motor, dan lampion hias Lebaran yang digantung berdampingan dengan ornamen merah khas rumah makan Tionghoa-Indonesia.

Begitu Bima membuka pintu kaca, aroma ayam mentega, capcay, sup kepiting, dan teh panas langsung menyergap. Suara sendok bertemu piring terdengar ramai dari ruang tengah.

Ratna berhenti satu langkah.

Meja panjang di ruang VIP sudah penuh.

Pak De Hartono duduk di kursi kepala meja dengan kemeja putih dan arloji besar. Bu De Sumiyati di sebelahnya. Bulik Tini duduk agak menepi bersama Mbak Dewi. Tante Lina tampak paling bersinar, memakai blus krem, tas kecil bermerek di pangkuan, dan senyum yang langsung melebar saat melihat keluarga Harto masuk.

"Lho, Mas Harto baru datang?" suara Lina naik satu tingkat, cukup keras untuk membuat semua kepala menoleh. "Kami sudah dari jam empat, lho. Makanan sampai hampir dingin."

Tangan Bu Sri yang memegang tas kain langsung kaku.

Pak Harto membuka mulut. "Lina, kemarin kamu bilang jam lima."

"Masa?" Lina menutup mulut dengan ujung jari. "Aduh, mungkin Mas Harto salah dengar. Di grup keluarga juga sudah saya tulis jam empat."

"Keluarga kita tidak masuk grup itu, Tante," Ratna menyahut pelan. Suaranya cukup tajam.

Siska yang duduk di samping Darmawan langsung tertawa kecil. "Makanya, Rat, keluarga zaman sekarang tuh harus update. Jangan semua dikasih tahu manual terus."

Bima melirik ponsel Lina yang tergeletak di dekat piring. Layar menyala sesaat karena notifikasi. Nama grup keluarga muncul. Ikon pesan kemarin belum terbaca oleh nomor Pak Harto. Jadi benar: undangan grup itu hanya alibi.

[Deteksi pemerasan moral keluarga.]

[Amunisi masuk: manipulasi waktu, sindiran keterlambatan, tekanan publik.]

[Poin +63]

Bima tidak bereaksi. Ia menarik kursi untuk Bu Sri lebih dulu.

"Duduk, Bu. Makan dulu."

Pak De Hartono mengetuk meja dengan jari. "Anak muda sekarang memang santai sekali. Datang terlambat, lalu duduk seolah tidak terjadi apa-apa. Bima, kamu sekarang kerja apa di Bandung? Masih pindah-pindah kerja?"

Belum ada piring di depan Bima, tetapi pertanyaan itu sudah dilempar seperti tulang ke tengah meja.

Pak Harto cepat menjawab, "Bima baru pulang, Mas. Biar dia istirahat dulu."

"Saya tanya anaknya," kata Pak De Hartono. Nada suaranya tetap kalem, tetapi semua orang mengerti kalimat itu berarti Harto diminta diam. "Laki-laki itu harus punya arah. Kalau umur segini masih bingung, nanti kasihan orang tua."

Darmawan mengangkat gelas teh. "Betul, Pak De. Anak muda harus cepat belajar cari uang. Jangan hanya pintar menjawab orang tua."

Siska menatap Bima dari ujung meja, senyumnya miring.

Bima mengambil piring kosong, meletakkannya di depan Ratna yang belum bergerak. "Saya masih cari posisi terbaik, Pak De. Yang jelas, saya tidak akan menjadikan rasa malu keluarga sebagai alat mencari tepuk tangan."

Ruangan mendadak lebih sunyi setengah detik.

Lina tersenyum lebih lebar. "Aduh, Bima sekarang bahasanya berat sekali. Tante cuma senang kamu pulang. Kasihan Papa kamu, selama ini kerja keras di warung kecil."

Kata "kasihan" keluar begitu lembut, tetapi menusuk ke wajah Pak Harto.

Bu Sri menunduk dan mulai mengambil sayur ke piring, padahal tangannya gemetar. Ratna menggigit bibir. Bima melihat semuanya. Setiap reaksi jatuh ke matanya seperti tanda pada papan strategi.

[Amunisi masuk: mempermalukan kondisi ekonomi orang tua.]

[Poin +81]

Pelayan datang membawa ikan gurame asam manis. Lina langsung mengambil alih suasana.

"Ayo, makan. Ini tempatnya lumayan mahal, Mas Harto. Tapi tidak apa-apa, sesekali keluarga harus merasakan yang enak. Jangan tiap hari cuma warung sendiri."

Bu De Sumiyati tertawa pendek. "Lina ini memang perhatian."

Bulik Tini menatap piringnya. Mbak Dewi sempat melihat ke arah Bu Sri, tetapi tidak berkata apa-apa.

Pak Harto mencoba tersenyum. "Terima kasih sudah pesan tempat."

"Mas Harto jangan sungkan." Lina membuka tas kecilnya, lalu mengeluarkan amplop merah tipis. Ia tidak menyerahkannya diam-diam. Ia berdiri sedikit, membuat gerakannya terlihat semua orang. "Ini dari kami untuk keluarga Mas Harto. Tidak banyak, tapi semoga membantu. Anggap saja rezeki Lebaran."

Amplop itu diletakkan di tengah meja, tepat di depan Pak Harto. Tidak tebal. Bahkan dari bentuknya, Bima bisa menebak isinya tidak lebih dari beberapa lembar uang.

Darmawan bersandar, menambahkan dengan suara santai, "Lima ratus ribu memang kecil untuk kami, tapi untuk kebutuhan warung mungkin lumayan. Beli stok gula atau minyak."

Ratna hampir berdiri. Bima menekan lutut adiknya dari bawah meja tanpa menoleh.

Pak Harto memandang amplop itu lama. Wajahnya tidak marah. Justru itulah yang membuat dada Bu Sri naik turun. Seorang ayah yang terbiasa dihina tidak akan langsung membentak. Ia akan menghitung dulu apakah bantahan itu membuat istrinya makin malu.

Bima mengambil sumpit, menjepit potongan mentimun dari piring, lalu meletakkannya di piring kecil. Gerakannya tenang.

[Amunisi masuk: hadiah penghinaan publik.]

[Poin +137]

[Combo tekanan keluarga: 6]

Pak De Hartono menghela napas seolah sedang menjadi hakim keluarga. "Harto, Lina ini niatnya baik. Jangan sensitif. Memang saudara yang mampu harus membantu saudara yang kurang. Kamu juga jangan gengsi."

"Betul," Lina menyambung cepat. "Kami ini keluarga. Kalau bukan keluarga sendiri yang mengingatkan, siapa lagi? Bima juga harus tahu, hidup itu jangan keras kepala. Orang miskin kalau terlalu gengsi, susah majunya."

Siska menunduk ke ponsel, mungkin mengetik sesuatu, lalu menunjukkan layar pada ibunya. Lina membaca, tertawa kecil, lalu mengangkat gelas.

"Ayo," katanya. "Kita doakan tahun depan keluarga Mas Harto bisa sedikit lebih... berkecukupan."

Kata terakhir sengaja diberi jeda. Cukup halus untuk disebut doa, cukup jahat untuk membuat semua orang mengerti hinaannya.

Bu Sri menutup tangan di pangkuan. Pak Harto menatap air teh di gelasnya. Ratna sudah memerah matanya.

Bima meletakkan sumpitnya.

Bunyi kecil itu memotong ruangan lebih tajam daripada teriakan.

Ia tersenyum kepada Tante Lina.

"Tante Lina," katanya, sopan sekali. "Boleh saya bicara sebentar?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!