Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Prang.
Suara pecahan kaca kembali terdengar di ruang kerja Broto Sanjaya.
Pria paruh baya itu melempar gelas anggurnya ke perapian karena merasa sangat gelisah.
Jam dinding kuno di ruangannya sudah menunjukkan pukul tiga pagi.
Seharusnya Kobra sudah memberikan laporan tentang hancurnya konvoi Wijaya Group dua jam yang lalu.
Tok. Tok. Tok.
Pintu ruang kerjanya diketuk dengan sangat terburu-buru.
Dion Sanjaya masuk dengan wajah pucat pasi dan seluruh tubuh yang gemetar hebat.
"Ayah... ada... ada orang yang mengirim paket di depan gerbang mansion kita."
Broto mengerutkan keningnya melihat kepanikan putranya yang berlebihan itu.
"Paket apa malam-malam begini? Buka saja isinya!"
"Pengawal sudah membukanya Ayah, isinya... isinya adalah wakil komandan dari pasukan Kobra."
Mata Broto seketika melotot lebar mendengar laporan tidak masuk akal tersebut.
Dia langsung berlari keluar dari ruang kerjanya menuju pelataran depan mansion.
Di sana, sebuah truk bak terbuka terparkir dengan kondisi mesin menyala namun tanpa supir.
Di bagian belakang truk itu, puluhan tubuh pria berpakaian hitam tergeletak bertumpuk sambil merintih kesakitan.
Wakil komandan Kobra disandarkan di dekat ban truk dengan kedua kaki yang dibalut perban seadanya.
"A-apa yang terjadi?! Di mana Kobra?!"
Broto berteriak panik sambil mencengkeram kerah baju wakil komandan tersebut.
"Bos Kobra... dadanya hancur hanya dengan satu pukulan..."
Pria itu menjawab dengan suara bergetar dan air mata ketakutan yang menetes deras.
"Siapa yang melakukannya?! Apakah mereka menyewa tentara bayaran asing?!"
"T-tidak Tuan Broto, yang menghancurkan kami semua... hanyalah satu orang."
Wakil komandan itu menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Pemuda bernama Rizal itu menghabisi kami semua dengan tangan kosong dalam waktu kurang dari dua menit."
Bruk.
Broto melepaskan cengkeramannya hingga pria itu jatuh kembali ke tanah.
Kaki Broto terasa lemas seperti jeli mendengar fakta yang sangat mengerikan itu.
Kobra dan pasukannya adalah mesin pembunuh terbaik di Jakarta, namun mereka dihancurkan oleh seorang pemuda yang dianggapnya sebagai gembel.
"Tuan Rizal juga menitipkan pesan untuk Anda, Tuan Broto."
"P-pesan apa?"
"Dia bilang permainannya baru saja dimulai, dan dia sendiri yang akan datang menemui Anda di pesta perjamuan lusa."
Tubuh Broto Sanjaya menegang kaku seolah baru saja disiram air es di tengah malam.
Ancaman itu bukan sekadar gertakan kosong, melainkan janji kematian dari monster yang baru saja dia bangunkan.
"Ayah... kita harus lari ke luar negeri! Pria itu pasti akan membunuh kita!"
Dion menarik lengan ayahnya sambil menangis ketakutan.
"Diam kamu anak bodoh! Keluarga Sanjaya tidak akan pernah lari dari siapa pun!"
Broto menepis tangan Dion dengan kasar dan mencoba mengendalikan rasa paniknya.
"Dia pikir dia hebat karena jago berkelahi? Dunia elit Jakarta tidak diselesaikan dengan adu otot!"
Broto menatap puluhan tubuh pasukan Kobra itu dengan tatapan penuh kebencian.
"Kita akan menggunakan pesta perjamuan lusa untuk menjebaknya."
"Aku akan menghubungi seluruh konglomerat lama dan pejabat tinggi untuk mengisolasi Wijaya Group secara politik dan finansial."
"Kita lihat saja apakah ototnya bisa melawan kekuatan uang dan kekuasaan dari seluruh penguasa Jakarta."
Wush. Wush.
Suara mesin peleburan raksasa bergemuruh di dalam pabrik pengolahan Wijaya Group di pinggiran ibukota pada keesokan harinya.
Rizal dan Clara berdiri di ruang observasi berkaca tebal di atas pabrik tersebut.
Mereka sedang mengawasi proses pencetakan perdana dari paduan Baja Hitam Titanium.
Hanya dalam waktu dua hari, pabrik ini telah diubah secara khusus untuk mengolah material dari tambang keajaiban tersebut.
Ting.
Lampu indikator mesin berubah menjadi hijau, menandakan proses pendinginan telah selesai.
Sebuah robot lengan raksasa mengangkat batangan logam persegi panjang yang baru saja dicetak.
Logam itu berwarna hitam pekat, namun memantulkan cahaya perak yang sangat menyilaukan mata saat terkena sinar lampu.
"Luar biasa, tingkat kemurniannya mencapai sembilan puluh sembilan koma sembilan persen."
Kepala insinyur pabrik memberikan laporannya melalui speaker interkom dengan suara penuh kekaguman.
"Kepadatannya tiga kali lipat dari titanium terbaik di pasaran, namun bobotnya jauh lebih ringan."
Clara tersenyum sangat lebar mendengar laporan teknis tersebut.
Dia menoleh ke arah Rizal yang sedang bersandar santai di dinding ruang observasi.
"Tuan Rizal, ini adalah keajaiban."
"Email saya tidak berhenti berbunyi sejak pagi tadi."
Clara menunjukkan layar tabletnya yang dipenuhi oleh ribuan email masuk.
"Perusahaan dirgantara Amerika, produsen mobil sport Eropa, hingga kontraktor militer dari seluruh dunia berebut untuk melakukan pra pemesanan."
"Berapa harga yang Anda patok untuk satu ton logam itu, Nona Clara?"
Rizal bertanya dengan nada tenang yang selalu menjadi ciri khasnya.
"Saya mematok harga sepuluh kali lipat dari harga pasaran titanium tertinggi saat ini."
Clara menjawab dengan sedikit ragu, takut bosnya menganggap harga itu terlalu tinggi.
"Tapi anehnya, mereka semua setuju tanpa menawar sedikit pun dan bersedia membayar uang muka lima puluh persen secara tunai."
Rizal tertawa kecil mendengar kepolosan CEO cantik di depannya itu.
"Barang monopoli tidak memiliki harga pasar, Nona Clara."
"Bahkan jika Anda menaikkannya menjadi dua puluh kali lipat, mereka tetap akan membelinya karena mereka tidak punya pilihan lain."
Mata Clara berbinar kagum mendengar pemikiran bisnis Rizal yang sangat tajam dan mendominasi.
"Anda benar Tuan Rizal, Wijaya Group kini bukan lagi sekadar raksasa di Indonesia, tapi kita akan menjadi pemain kunci di dunia."
"Dan itu semua berkat Anda."
Clara menundukkan kepalanya dengan sangat hormat dan tulus.
Rizal melangkah mendekati jendela kaca observasi dan menatap batangan logam hitam di bawah sana.
Kekayaan tunainya pasti akan membengkak hingga puluhan atau bahkan ratusan triliun dalam beberapa bulan ke depan.
"Nona Clara, apakah undangan untuk pesta perjamuan elit itu sudah Anda terima?"
Rizal mengalihkan pembicaraan ke topik utama yang sudah dia tunggu-tunggu sejak malam penyergapan.
Clara seketika mengubah ekspresinya menjadi sangat serius dan profesional.
"Ya Tuan Rizal, undangannya baru saja tiba pagi ini."
"Acara itu bertajuk Malam Emas, sebuah perjamuan tahunan yang diadakan oleh konsorsium lima keluarga konglomerat tertua di Jakarta."
Clara membuka dokumen elektronik dari tabletnya dan menunjukkannya kepada Rizal.
"Tahun ini, Broto Sanjaya bertindak sebagai ketua panitia penyelenggara."
"Sudah bisa dipastikan bahwa acara ini akan menjadi jebakan besar untuk mengintimidasi dan merendahkan kita di depan seluruh elit politik dan bisnis."
Rizal hanya tersenyum tipis membaca nama-nama tamu penting yang tertera di layar tablet tersebut.
Ada menteri, gubernur, jenderal, dan puluhan miliarder yang kekayaannya sudah mengakar selama puluhan tahun di Indonesia.
Mereka semua pasti memandang Rizal sebagai anak baru yang tidak tahu aturan dan harus segera disingkirkan dari kolam mereka.
"Jebakan yang sangat mewah."
Rizal memberikan komentar singkat sambil menyerahkan kembali tablet itu kepada Clara.
"Apakah Anda yakin kita harus menghadirinya, Tuan Rizal?"
"Jika kita menolak, mereka akan menganggap kita pengecut dan menyebarkan rumor buruk lagi keesokan harinya."
Clara memang CEO yang cerdas, tapi dia masih terlalu berhati-hati dalam menghadapi politik kotor para elit lama.
"Tentu saja kita akan hadir, Nona Clara."
Rizal menatap lurus ke dalam mata wanita itu dengan aura sang dewa petarung yang sempat muncul malam sebelumnya.
"Mereka sudah menyiapkan panggung yang sangat besar, sangat tidak sopan jika bintang utamanya tidak datang."
Clara bisa merasakan jantungnya berdebar kencang melihat sorot mata pemuda di depannya itu.
Rasa takutnya pada aliansi konglomerat lama seketika menguap begitu saja digantikan oleh keyakinan mutlak.
"Kalau begitu, saya akan menyiapkan gaun dan pengamanan terbaik untuk malam besok, Tuan Rizal."
"Tidak perlu membawa pengawal, kita hanya akan datang berdua."
Keputusan Rizal itu membuat Clara sedikit terkejut namun dia langsung mengangguk patuh.
Dia sadar bahwa pemuda ini adalah pasukan pengawal terbaik yang pernah ada di muka bumi ini.
"Mari kita tunjukkan pada dinosaurus-dinosaurus tua itu bahwa zaman mereka sudah berakhir."
Malam perlahan turun menyelimuti kota Jakarta pada keesokan harinya.
Gemerlap lampu perkotaan menggantikan teriknya matahari, menandakan dimulainya kehidupan malam kaum jetset ibukota.
Di dalam Villa Garuda, Rizal sedang berdiri di depan cermin raksasa di ruang pakaiannya.
Dia baru saja menerima kiriman setelan jas yang dipesan khusus dari penjahit terbaik di Milan, Italia.
Jas itu berwarna hitam arang dengan potongan yang sangat presisi, membalut tubuh atletisnya yang kini sekeras baja.
Sebuah jam tangan Patek Philippe edisi terbatas melingkar sempurna di pergelangan tangan kirinya.
Penampilannya malam ini bukan lagi sekadar tampan, tapi memancarkan aura seorang kaisar yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun.
Rizal menyemprotkan sedikit parfum beraroma kayu cendana dan musk ke area lehernya.
"Sistem, sepertinya malam ini kau akan kembali kenyang dengan omong kosong."
Rizal bergumam pelan pada pantulan dirinya di cermin.
Ting!
[Sistem selalu siap melayani Anda Tuan. Siapkan diri Anda untuk panen raya kebohongan tingkat tinggi.]
Notifikasi singkat dari sistem itu menjadi penutup persiapannya.
Rizal melangkah keluar dari kamarnya dan turun ke lantai dasar.
Di pelataran depan villanya, Clara Wijaya sudah menunggu di dalam mobil sedan ultra-mewah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam.
Clara mengenakan gaun malam berwarna zamrud yang memamerkan leher jenjang dan lekuk tubuhnya yang sangat elegan.
Rizal masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Clara.
"Anda terlihat luar biasa malam ini, Nona Clara."
Pujian santai dari Rizal langsung membuat pipi CEO dingin itu memerah padam.
"Terima kasih Tuan Rizal, Anda juga terlihat sangat sempurna."
"Jalan, Pak Supir."
Rizal memberikan perintah kepada supir pribadi keluarga Wijaya yang berada di depan.
Mobil super mewah itu perlahan melaju meninggalkan pekarangan Villa Garuda.
Tujuan mereka adalah Hotel Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, tempat di mana puluhan serigala tua sedang menunggu untuk menerkam mereka.
Malam ini, sejarah dunia elit Jakarta akan ditulis ulang dengan darah, keringat, dan air mata dari kesombongan yang dihancurkan.
Sang Naga akan turun langsung ke sarang para serigala.