Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 - KEPONAKAN BAGINDA
Bawono merasa sedikit menyesal karena tadi ia sempat memukul istrinya. Tangannya masih terasa hangat oleh bekas tamparan itu, dan rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya.
Ratih menangis, dan berkata dengan penuh kecewa, "Bawono, katakan padaku dengan tamparan ini, apakah aku salah? Baiklah, kau tunggu kabar perceraian dariku!" Ucapannya bergetar, dan setiap kata terasa seperti pisau yang menikam.
Ia menutup wajahnya, berbalik dan berlari pergi. Air matanya jatuh tanpa henti, dan ia tidak ingin dilihat siapa pun dalam keadaan seperti itu.
Tidak jauh dari sana, datang dua orang pemuda. Yang satu berambut hitam dan berperawakan tenang adalah Pandhu, anak tertua, dan yang satunya lagi ceria dengan rambut cokelat keemasan adalah Pradipta, anak kedua. Keduanya baru saja kembali dari urusan masing-masing.
Ini pertama kalinya dua bersaudara itu melihat orang tua mereka bertengkar. Pradipta buru-buru mengejar ibunya, sementara Pandhu datang menenangkan ayahnya, karena para tamu di luar belum semuanya pergi dan masih ada urusan yang harus dibereskan.
Setelah lewat pukul dua belas, rekaman gaun pengantin di layar-layar jalanan diganti dengan berbagai pengumuman dagang. Tidak ada yang tersisa dari malam itu, kecuali kenangan yang berantakan.
Pernikahan yang ramai namun tampak kacau ini akhirnya berakhir dalam suasana yang aneh.
Namun, beberapa orang sudah mulai mengirim kabar di jaringan Gema, sambil bercanda membuat beberapa versi cerita tentang pergantian mempelai kali ini. Ada yang mengatakan mempelai pria itu kabur, ada pula yang mengarang cerita tentang cinta segitiga yang rumit.
Bawono yang sudah tenang, menemani Ki Ageng, dan tengah mengantar dua pejabat tinggi dari Provinsi Kedaton, ketika salah satu dari mereka tiba-tiba bertanya, "Mempelai pria itu berasal dari Provinsi Serunimu?"
Darah Bawono langsung naik ke ubun-ubun. Bagaimana mungkin ia tahu pemuda itu berasal dari provinsi mana? Ia bahkan belum sempat bertukar kata dengan pemuda itu secara langsung.
Tetapi menghadapi tatapan pejabat besar itu, ia tersenyum, "Ya."
"Kalau yang lainnya bagaimana?" Pejabat itu masih bertanya, seolah ingin menggali lebih dalam tentang asal-usul pemuda misterius itu.
"Hmm, kedua mempelai sudah pergi beristirahat. Bagaimana kalau kuutus seseorang untuk memanggil mereka ke sini?" Bawono berusaha terdengar setenang mungkin, menutupi kegugupannya.
"Tidak perlu." Lanang menggeleng, berbalik dan berjalan menuju kapal terbang.
Para pria berseragam militer biru tua naik ke kapal terbang satu per satu, menutup pintu dan mulai bersiap mengudara. Dalam beberapa saat, kapal itu meninggalkan Provinsi Seruni.
Adrian yang berambut pirang dan bermata biru tersenyum, "Pernikahan hari ini cukup seru. Lanang, kenapa kau bertanya soal mempelai pria itu?" Ia menyandarkan bahunya di dinding kapal terbang, tampak santai.
"Aku merasa dia terlihat akrab." Lanang mengingat-ingat sosok pemuda itu, selalu merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Ada sesuatu di balik wajah polos itu yang mengusik ingatannya.
Adrian mengelus dagunya, "Kalau kau bilang begitu, aku juga merasa dia sedikit akrab, seperti... hei, bukankah dia mirip Baginda?!" Matanya membelalak begitu gagasan itu muncul di kepalanya.
Lanang mengerutkan kening, "Jangan bicara sembarangan! Tetapi pihak lain adalah manusia naga, dan manusia naga memiliki kekuatan spiritual yang kuat, seharusnya tidak akan tenggelam begitu saja. Dia masih muda, mungkin kita akan bertemu lagi di Akademi Militer Kekaisaran." Kata-kata itu keluar dengan tenang, tetapi matanya masih menatap jauh ke arah puing-puing di kejauhan.
"Benar juga."
Mereka tidak menyadari bahwa mereka sudah melewati jawaban yang sesungguhnya.
---
Pada saat yang sama, beberapa kapal terbang bertanda keluarga kerajaan juga telah tiba di Provinsi Seruni dan mulai melakukan pencarian di berbagai penjuru, dari pasar hingga ke gang-gang sempit.
Kirana tidak tahu bahwa begitu banyak hal telah terjadi sementara ia tertidur. Semua itu terjadi di luar kesadarannya, seperti badai yang melintas di malam hari.
Ia terbangun karena rasa lapar.
Ketika ia terbangun, perutnya berbunyi keroncongan, dan Kirana baru ingat bahwa tadi ia menunggu Danendra kembali, lalu begitu banyak hal terjadi berturut-turut, sehingga ia belum makan apa pun. Dari tadi pagi, ia belum menyentuh makanan sama sekali.
Ketika Kirana menunduk, lengan Rangga masih melingkar di pinggangnya, dan ekor naga besarnya masih melilit erat pergelangan kakinya. Pemuda itu tidur begitu pulas, seolah tidak ada beban apa pun di pikirannya.
Kirana hendak memindahkan lengan pemuda itu, tetapi karena keduanya sudah sah menjadi pasangan, ia tidak sengaja mengaktifkan Gelang Lentera Rangga yang sedang dalam keadaan siaga. Satu kesalahan kecil yang berubah menjadi hal besar.
Informasi yang tak terhitung jumlahnya tiba-tiba membanjiri cermin gema!
Kirana tidak ingin membacanya, tetapi karena Gelang Lentera itu belum diatur pengunciannya oleh Rangga, semua pesan itu otomatis tampil begitu gelang tersebut mengenali pemiliknya. Tidak ada cara untuk menghindarinya saat itu juga.
Orang yang paling banyak mengirim pesan kepada Rangga bernama Bagaskara. Daftar pesan itu berjajar panjang, seolah dua orang itu memang memiliki hubungan yang sangat dekat.
Pesan terbaru dari Bagaskara berbunyi, "Paman, di mana kau? Kau baik-baik saja?!" Pesan itu dikirim hanya beberapa menit yang lalu, seolah pengirimnya menunggu jawaban setiap saat.
"Paman?" Apa senioritas Rangga sudah setua itu? Kirana mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna kata yang baru saja dibacanya.
Saat Gelang Lentera itu aktif, tiba-tiba terdengar bunyi peringatan, yang seolah mengirimkan lokasi kepada Bagaskara. Kirana terkejut dan nyaris jatuh dari tempat tidur!
Bagaskara? Mengapa nama ini terdengar begitu familiar? Kirana mengerutkan kening, berusaha mengingat di mana ia pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Kirana buru-buru ingin mengatur Gelang Lentera miliknya untuk memeriksa, tetapi ia mendengar suara yang keluar dari dalam Gelang Lentera Rangga.
"Lapor, Nyonya. Bagaskara adalah nama Baginda, penguasa Kekaisaran Cakrawala. Secara aturan, orang biasa tidak diizinkan memanggilnya langsung dengan nama itu, tetapi Nyonya boleh." Suara itu terdengar formal, tetapi penuh kehati-hatian.
"Kenapa, kenapa?" Kirana hanya bisa mengulangi pertanyaan itu dengan suara yang nyaris tidak keluar.
"Karena ia sekarang keponakanmu, Nyonya. Halo, Nyonya, namaku Guruh, roh pendamping milik Panglima. Panggil saja aku Guruh." Ucapan itu diakhiri dengan nada yang ramah, seolah tidak menyadari betapa terkejutnya Kirana.
Kali ini, otak Kirana yang nyaris berhenti bekerja!
Setiap informasi yang ia terima bernilai seribu Keping Surya, dan membuatnya pusing tujuh keliling!
Rangga adalah Panglima Pertama Kekaisaran?!
Rangga adalah paman dari Baginda yang berkuasa saat ini?!
Ia baru saja mengajak bos besar seperti itu untuk menjadi suami sementaranya! Kirana masih tidak bisa percaya dengan seluruh kejadian malam itu.
Hore!
Kirana segera melompat dari tempat tidur, mengenakan pakaian, mengambil barang-barang pribadinya, dan berlari keluar dengan penuh tekad! Ia tidak berani berlama-lama di tempat yang bisa membuat ia semakin terperangkap dalam kekacauan ini.