NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Persiapan di Sirkuit

"BANG! REM! REM!"

Teriakan Fajar dari balik pagar nyaris kalah oleh raungan Lamborghini saat Raka melewati tikungan ketiga Sirkuit Surabaya terlalu lebar. Ban belakang menjerit, mobil kuning itu hampir menyentuh gravel, lalu kembali ke aspal dengan goyangan kasar.

Raka mengendurkan gas dan menarik napas panjang di balik helm.

Jantungnya memukul dada. Tangan yang sudah kuat karena ramuan tetap terasa kecil di depan mesin V12 yang bisa menghukum kesalahan sepersekian detik.

[Mimpi: adaptasi kendaraan belum stabil. Disarankan konsumsi Refleks Tingkat Menengah sebelum sesi berikutnya.]

"Gunakan."

Botol perak muncul di Pocket Space. Raka menepi di pit, membuka helm, dan menenggak cairan dingin itu. Efeknya datang seperti dunia tiba-tiba diberi jarak. Suara burung di luar pagar terpisah jelas dari mesin jauh. Debu kecil di dashboard terlihat bergerak lambat. Bahkan denyut nadinya terasa bisa dihitung.

[Refleks Tingkat Menengah aktif. Durasi 48 jam. Kecepatan reaksi meningkat tiga kali.]

Fajar berlari menghampiri sambil membawa air.

"Lu tadi hampir bikin aku yatim mental, Bang. Hidup gue cuma satu."

"Kamu tidak di dalam mobil."

"Tapi jantungku ikut naik penumpang."

Raka minum, lalu memakai helm lagi. "Putaran kedua."

Putaran kedua berbeda. Mobil itu tetap buas, tetapi Raka akhirnya bisa membaca amarahnya. Di titik pengereman pertama, ia menekan pedal sedikit lebih awal. Di tikungan kedua, ia membiarkan roda depan menggigit aspal sebelum membuka gas. Di tikungan ketiga yang tadi hampir membunuh egonya, ia masuk dari sisi luar, potong dalam, keluar bersih.

Fajar berhenti berteriak.

Putaran ketiga, waktunya turun drastis.

Putaran keempat, Raka mulai menikmati suara mesin sebagai bahasa.

Di sisi lain sirkuit, Reno berlatih dengan tim lengkap. Tenda putih, mekanik, pelatih, ban cadangan, pendingin minuman, bahkan dua orang yang tugasnya hanya merekam. Salah satu pengikutnya menunjuk ke arah Raka.

"Bos, dia cuma berdua. Tidak punya mekanik. Besok pasti kacau."

Reno melepas sarung tangan. Wajahnya tidak sesantai kemarin.

"Jangan remehkan. Putaran terakhirnya bersih. Tapi pengalaman tidak bisa dibeli dalam sehari."

Pelatih Reno mengangguk. "Tekan dia sejak lap pertama. Kalau dia panik, Lamborghini itu jadi musuhnya sendiri."

Raka melihat mereka dari jauh melalui visor helm. Mimpi menampilkan garis racing line di penglihatannya sebagai pembanding. Ia terus berlatih sampai bahunya panas dan telapak tangannya mulai pegal.

Saat sesi selesai, Fajar menyerahkan handuk.

"Bang, aku harus akui. Tadi sudah tidak seperti orang mau bunuh diri."

"Pujianmu mengharukan."

"Aku serius. Tapi mereka punya tim lengkap. Kita cuma berdua, dan aku bahkan tidak bisa ganti ban."

"Kamu bisa rekam bukti. Bisa jaga orang tidak menyabotase mobil. Bisa memastikan aku minum air. Itu cukup untuk hari pertama."

Fajar tampak tersentuh, lalu langsung menutupinya. "Kalau aku jadi manajer balap, gajiku naik?"

"Menang dulu."

Mereka memeriksa mobil bersama teknisi sirkuit independen yang dibayar Raka untuk satu hari. Tidak ada mekanik pribadi, tetapi tidak berarti ceroboh. Tekanan ban, rem, oli, dan sistem pendingin dicatat. Raka meminta laporan tertulis. Fajar mengambil foto segel ban dan odometer.

"Belajar dari Bayu?" tanya Raka.

"Iya. Semua yang bisa jadi masalah, foto dulu sebelum jadi alasan."

[Misi aktif: Kecepatan dan Kehormatan. Objektif: kalahkan Reno di Sirkuit Surabaya. Hadiah: 8.000 poin dan Manual Mengemudi Ahli.]

Malam turun di sirkuit. Raka duduk sendirian di tribun kosong. Mimpi memproyeksikan model 3D lintasan di penglihatannya: dua belas tikungan, titik pengereman, sudut masuk, potensi overtaking. Ia mengulang semuanya sampai bisa melihatnya dengan mata tertutup.

Ponsel bergetar.

Reno: Besok jangan lupa datang. Kalau mundur, aku ngerti. Tidak semua orang lahir untuk kecepatan.

Raka membalas: Sampai jumpa.

Mimpi berkata di kepalanya, [Dengan refleks saat ini, reaksi host melampaui pembalap profesional. Variabel tersisa: kontrol emosi, stamina, dan keberanian mengambil celah.]

"Kekuatan Mental-ku 12, kan?"

[Benar. Cukup untuk tidak panik, belum cukup untuk menjadi abadi.]

Sore harinya, Raka memaksa dirinya melakukan simulasi start sebanyak dua puluh kali. Bagian itu jauh dari glamor, justru di sana Reno punya keunggulan pengalaman. Mesin Lamborghini meronta setiap kali pedal dilepas terlalu cepat. Dua kali mobil melompat kasar. Satu kali hampir mati. Fajar menertawakan dari pagar sampai Raka menunjuknya dan menyuruh ia mencatat waktu.

"Aku asisten. Jangan jadikan aku stopwatch."

"Hari ini kamu stopwatch."

Setelah sepuluh kali, start Raka mulai stabil. Setelah lima belas kali, ia bisa menjaga roda tidak berputar liar. Setelah dua puluh kali, teknisi sirkuit mengangkat alis dan berkata, "Pak, kalau Bapak bilang baru pertama kali latihan, saya agak tersinggung sebagai manusia biasa."

Raka tidak menjelaskan sistem. Ia hanya membayar teknisi itu tambahan dan meminta semua catatan mobil disegel. Jika Reno kalah besok, pasti ada orang mencari alasan. Ban ilegal, mesin dimodifikasi, tekanan tidak standar. Raka tidak akan memberi lubang murah.

Menjelang malam, Fajar melihat dua orang dari tim Reno mencoba mendekati pit Lamborghini. Ia tidak membuat keributan. Ia hanya berdiri di depan pintu pit, memotret wajah mereka, dan berkata, "Salah garasi, Mas." Mereka pergi sambil tertawa kaku. Laporan itu membuat Raka makin yakin bahwa persiapan juga berarti menutup alasan kotor sebelum lomba.

Raka juga melatih keluar pit dan masuk pit. Hal kecil, tetapi balapan amatir sering kacau karena pengemudi terlalu bersemangat sebelum ban siap. Ia memaksa dirinya menahan gas pada saat yang justru paling ingin ia injak. Tai Chi Dasar yang dulu terasa lambat ternyata berguna; ia belajar memindahkan tegang dari tangan ke napas.

Di jeda terakhir, ia menelepon Bibi. Tidak bercerita soal hampir keluar lintasan. Ia hanya bilang besok ada acara mobil dan mungkin pulang agak malam. Bibi mengingatkan makan, Bintang berteriak dari belakang agar Raka menang. Suara rumah itu membuat Raka menutup mata sebentar. Ia tidak boleh kalah karena panik. Ia juga tidak boleh menang dengan cara yang membuat keluarga menunggu kabar buruk.

Ketika latihan selesai, ia menyentuh kap Lamborghini yang masih hangat. Mesin itu bisa membunuh orang yang sok jago. Reno benar soal itu. Tetapi benda berbahaya bisa menjadi alat jika penggunanya cukup tenang.

Fajar menambahkan satu aturan terakhir: sebelum start besok, tidak ada orang selain teknisi independen yang boleh menyentuh Lamborghini. Ia menempelkan stiker kecil di kap dan pintu, lalu memotret posisinya. Raka membiarkan. Kadang loyalitas terlihat dari stiker kecil yang mencegah kecurangan. Foto itu masuk folder bukti bersama catatan teknisi.

Raka tertawa pelan. "Aku tidak perlu abadi. Besok aku hanya perlu setengah lap di depan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!