Di usia yang tak dikatakan muda, Amaira Husna selalu didesak untuk segera menikah. Alih-alih berkeluh-kesah kepada sahabatnya, Reynand. Menceritakan kegalauannya tentang bagaimana cara mengambil sikap sebab orangtuanya telah mencarikan jodoh untuknya, justru dia mendapati hal yang tak pernah dia sangka.
Salahnya yang bercerita atau inilah solusi satu-satunya untuk menolak jodoh dari orangtua. Sebab Reynand datang di hari yang sama bertepatan disaat tamu orangtuanya tiba. Reynand datang mengutarakan niat untuk melamarnya.
Akankah Amaira menerima tindakan konyol Reynand, yang notabenenya berstatus sahabat dengan hubungan yang jelas tanpa dilingkupi adanya cinta.
Atau terpaksa menerima dan menganggapnya sebatas solusi yang malah berbuntut frustasi akibat keputusannya?
Tpe-
20-09-2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
"Gila ya Ra, gak ada hujan gak angin tiba-tiba kamu bawa kabar layaknya badai, bikin seisi kantor gempar. Kapan pacarannya? Ini tiba-tiba ngasih undangan!" Omel Dewi disertai melempar undangan penikahanku tepat di tengah meja kantin.
"Udah aku duga, dua orang ini memang gak beres!" Seru Farida dengan nada menyindir.
"Iya, kapan Mbak pacarannya, kok kita gak tau?" Eka pun ikut menyahuti.
"Reynand Adhitama, bukankah dia arsitek yang waktu itu bareng meeting proyek pembangunan mall di Bandung. Bener gak mbak Ra?" kalau ini pertanyaan dari Fanya.
"Apa kamu hamil duluan, kenapa nikahnya dadakan?" Pertanyaan macam apa ini.
"Wah patah hati berjamaah kita!" ini pernyataan dari beberapa karyawan di perusahaan tempatku bekerja.
Dan masih banyak lagi serentetan pertanyaan lainnya. Ada juga yang memberi selamat maupun doa, semoga, semoga dan semoga. Dan inikah yang dirasakan orang yang akan menikah. Ternyata ribet bin repot juga, hufffff.
~
"Ra, ini udah di ACC sama pak Hendro begitupun pihak HRD," ucap Dewi sambil menyerahkan ijin cutiku.
"Gimana tadi, kena semprot Pak Hendro?" Farida kini mendekat ke arahku.
"Ya jelaslah, minta ijin dadakan apalagi yang buat aku heran nikahnya juga dadakan. Tapi bagaimanapun aku tetep seneng. Akhirnya temenku laku juga... Ha ha ha," ujar Dewi di iringi dengan kepuasaannya menertawakanku.
Aku cuma nyimak dan membaca surat cuti yang berada ditangan. Disana tertera sepuluh hari off. Tapi tenang, walau gak masuk kerja perusahaan masih tetep ngegaji. Soalnya yang aku ambil adalah cuti nikah plus ambil beberapa hari dari cuti tahunan.
"Ngumpul yuk! Mulai besokkan yang ini udah gak masuk," ucap Farida sambil menunjuk ke arahku.
"Iyalah, kita rampok dia dulu. Buat pembalasan!" seru Dewi dengan nada marah disertai gaya bercandanya.
"Tempat biasa, sepulang kerja. Gimana?" Lanjut Dewi, lalu dia melenggang pergi dan masuk ke ruangannya.
~
Cheerzzz
"Akhirnya laku juga teman kita yang satu ini," ujar Dewi sambil menyesap minumannya.
"Yesss, setelah sekian lama hubungan yang hanya mereka bilang sahabat, tapi nyatanya sahabat jadi juga menikah," sahut Farida.
"Tapi gimanapun kita juga ikut seneng, semoga ke depannya rumah tangga yang kalian jalani selalu langgeng dan walaupun ada masalah kalian tetap bisa menyelesaikannya, karena gak ada rumah tangga yang hidupnya damai-damai saja. Jalan yang terlewati pasti ada kerikil maupun duri. Tapi jika duri itu menancap pada pijakan langkahmu, cabut duri itu. Memang terasa sakit walaupun membekas, tapi yakinlah saat duri itu sudah tercabut kamu bisa melanjutkan langkah kedepan. Tapi jika duri itu kamu biarkan dan ikut menyertai langkahmu, maka bersiaplah, akan ada rasa sakit yang akan menggerogoti sepanjang hidupmu. Hasilnya langkahmu akan terhambat atau mungkin berhenti di tengah jalan. Duri yang aku maksud adalah masalah." Nasehat Dewi panjang lebar disertai deraian air mata. Kalau sudah begini dipastikan dia juga sedang menghadapi suatu permasalahan.
"Iya Wi, terimakasih atas nasehat kamu," sahutku seraya aku memegangi tangannya.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan Wi?" tanya Farida seraya memegang tangan yang satunya.
"Masih sama, masalah mertua." ujar Dewi dengan nada lesu.
"Dan kamu Da, gimana dengan sidang perceraian kamu. Apa sudah selesai?" kini Dewi menanyakan pertanyaan pada Farida.
"Tinggal satu kali sidang," jawab Farida.
"Heran juga, gimana bisa kamu ketemu lelaki kardus semacam calon mantan suamimu?" tanya Dewi dengan nada heran.
"Udah nasib!" sahut Farida singkat.
Kami hanya tertawa kecil menyahutinya.
Dan ternyata tiap makhluk yang bernyawa pasti dihadapkan dengan suatu permasalahan. Begitu pula denganku, yang pasti dibalik permasalahan akan ada hikmah di dalamnya.
Readers Siapkan Amplop terbaik mu , besok kita berangkat ke kondangan.
To be Continue
Banyak Typo bertebaran 😘😘