Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Gerbang Hijau: Bab 32
Sore itu, rumah Arjun menjadi saksi bisu perubahan peran Valaria. Di ruang tamu, meja kayu panjang yang tadi pagi berantakan oleh piring dan mangkuk sisa nasi uduk, kini telah berganti fungsi menjadi meja sekolah darurat. Cahaya matahari senja menyelinap melalui celah jendela, menerangi debu-debu halus yang tampak menari di udara.
Valaria duduk di kursi utama. Sehelai kertas besar terbentang di hadapannya, dipenuhi coretan angka dan bagan. Ia baru saja merampungkan rencana bisnis cokelat kecil-kecilannya, dan kini saatnya mencurahkan waktu untuk investasi jangka panjang yang paling berharga: pendidikan.
Di sampingnya, Raka yang baru menginjak usia sembilan tahun duduk tegak dengan pensil di tangan. Raka adalah murid paling rajin dan tanggap sekalikus adiknya yang tampan dan baik. Ia mencondongkan tubuh, menunjukkan buku latihannya kepada Valaria dengan wajah penuh harap.
"Kak Valaria, lihat! Semua soal penjumlahan yang Kakak berikan sudah selesai. Lima belas dikurangi tujuh sama dengan delapan, kan?" tanya Raka antusias sembari menyodorkan buku tulis lusuhnya.
Valaria merespons dengan senyum cerah. Ia mengusap puncak kepala Raka dengan bangga. "Tepat sekali, Raka! Tidak ada yang salah. Luar biasa! Kemarin kau masih bingung dengan pengurangan sistem pinjam, sekarang sudah lancar. Kau belajar sendiri di rumah, ya?"
Raka mengangguk bangga. "Iya! Bapak bilang, kalau mau jadi orang sukses seperti insinyur di Jakarta, harus pintar hitung-hitungan."
"Bagus! Kalau begitu, kita tidak boleh berhenti di angka dan membaca saja," ujar Valaria seraya mengambil kertas baru. "Sekarang kita naikkan tingkatannya. Kita akan mulai belajar tentang pengetahuan alam dan sosial. Ilmu itu seperti jalan, Raka. Semakin banyak yang kau ketahui, semakin banyak pilihan jalan yang bisa kau tempuh!"
Tiba-tiba, dari ambang pintu belakang, muncul Eko. Bocah yang usianya sedikit di atas Raka itu berjalan canggung. Ia memeluk sebuah buku pelajaran bersampul terkelupas, mencoba menyembunyikan rasa malu yang tersamar di wajahnya. Eko berhenti sejenak, mengamati keseriusan Valaria dan Raka.
"Permisi, Kak Valaria. Apa... aku boleh ikut belajar juga?" bisik Eko pelan, hampir tak terdengar.
Valaria menoleh, matanya bersinar ramah. "Tentu saja, Eko! Ruangan ini milik siapa saja yang mau belajar. Ayo sini, duduk! Buku apa yang kau bawa itu? Tampaknya serius sekali."
Eko melangkah masuk dan duduk di kursi seberang Raka. Wajahnya tampak sedikit tegang. "Ini buku Bahasa Inggris milikku. Aku dengar, di kota besar bahasa Inggris itu penting sekali untuk berdagang dengan orang asing, Kak. Aku ingin Kakak mengajariku."
Valaria tertawa kecil. Suara tawanya ringan, membawa semangat yang menular. "Ide yang cemerlang, Eko! Bahasa Inggris adalah jendela dunia. Tentu saja aku akan bantu. Kita mulai dari yang paling dasar, ya? Kata-kata yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari."
Valaria membalik kertasnya, mulai menulis dengan huruf besar yang rapi dan jelas. Raka dan Eko mendekat, mata mereka terpaku pada tulisan tangan Valaria yang indah. Suasana belajar menjadi hidup. Valaria mengucapkan setiap kata dengan artikulasi jelas, lalu Raka dan Eko menirukannya dengan lidah yang terkadang masih kaku.
"Kita mulai dari lingkungan terdekat," kata Valaria menunjuk tulisannya satu per satu.
• Family (dibaca: fèm-e-li): Keluarga.
• Mother (dibaca: me-der): Ibu.
• Father (dibaca: fa-der): Ayah.
• Brother (dibaca: bra-der): Saudara laki-laki.
• Sister (dibaca: sis-ter): Saudara perempuan.
"Kalau Kakak berarti Sister!" seru Raka spontan.
"Pintar! Lalu, aku ini profesinya apa?" tanya Valaria memancing.
"Kalau Kak Valar, sekarang... Teacher! Guru!" jawab Eko cepat.
Valaria tertawa lagi. "Benar! Bagus, Eko, kau cepat tanggap!"
Valaria melanjutkan daftar kosakatanya dengan benda-benda yang sering mereka temui di desa: Friend (teman), Student (siswa), Cat (kucing), Dog (anjing), Bird (burung), Fish (ikan), Cow (sapi), dan Chicken (ayam).
"Lalu ini: Elephant (dibaca: e-le-fen), artinya gajah," tambah Valaria.
"Tapi di desa kita tidak ada Elephant, Kak!" protes Raka.
"Itulah gunanya pengetahuan umum, Raka. Di luar desa kita, di Sumatra atau di Jawa, ada kebun binatang tempat Elephant tinggal. Nah, sekarang coba ulangi semua kata ini tanpa melihat tulisanku!"
Keduanya mencoba dengan gigih. Mereka saling meralat pelafalan satu sama lain. Wajah-wajah mungil itu tampak serius namun penuh kegembiraan saat menemukan hal baru.
Setelah sesi bahasa, Valaria beralih ke materi yang lebih fundamental: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ia ingin menanamkan cara berpikir logis dan analitis. Valaria meletakkan tiga benda di atas meja: sebuah batu kecil, segelas air, dan sebuah balon yang sedikit kempis.
1. Benda Padat Valaria mengangkat pensilnya. "Coba lihat pensil ini. Jika Kakak pindahkan dari meja ke tangan\, apakah bentuknya berubah menjadi sendok?"
"Tidak!" jawab Raka dan Eko serempak.
"Bagus. Itulah Benda Padat. Sifatnya: bentuk dan volumenya tetap. Tidak berubah-ubah meskipun dipindahkan ke mana pun. Kalian bisa memegang dan merasakannya. Contoh lainnya apa?"
"Meja! Buku! Dan... uang koin!" jawab Eko mantap.
2. Benda Cair Valaria mengambil segelas air. "Air ini ada di dalam gelas\, bentuknya seperti apa?"
"Seperti gelas!" jawab Raka.
Valaria kemudian menuangkan air tersebut ke dalam botol kecil. Bentuk air segera menyesuaikan wadahnya. "Sekarang bentuknya seperti botol. Itulah Benda Cair. Bentuknya selalu berubah mengikuti wadahnya, tapi volumenya tetap. Jumlah airnya tidak berkurang, hanya bentuknya yang berganti."
Valaria membiarkan setetes air jatuh dari ujung jarinya. "Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Contoh lainnya?"
"Susu! Dan minyak goreng Ibu!" seru Eko.
3. Benda Gas Valaria menunjuk balon. "Kalau ini\, apa isinya?"
"Udara! Tapi tidak kelihatan," jawab Raka.
"Tepat! Itulah Benda Gas. Tidak bisa kita lihat, tapi bisa kita rasakan dan ia menempati seluruh ruangan. Jika balon ini meletus, udaranya akan menyebar ke seluruh penjuru ruangan ini." Valaria meniup wajah Eko dengan lembut, membuat bocah itu tertawa geli.
Terakhir, Valaria memberikan penjelasan yang sedikit lebih dalam materi yang sebenarnya setara dengan tingkat SMP tentang partikel penyusun benda. Ia menggambar tiga diagram sederhana.
• Padat (The Fighters): "Lihat titik-titik yang sangat rapat ini. Pada benda padat, partikelnya saling berpegangan sangat kuat. Mereka tidak bisa lari, hanya bisa bergetar di tempat. Itulah sebabnya pensil tidak tiba-tiba berubah jadi air."
• Cair (The Dancers): "Pada air, partikelnya agak renggang. Mereka seperti penari yang bisa bergeser dan berpindah tempat. Itulah mengapa air bisa mengalir dan berubah wujud menjadi es jika didinginkan, atau menjadi uap jika dipanaskan."
• Gas (The Sprinters): "Terakhir, gas. Partikelnya sangat berjauhan dan gaya tarik-menariknya hampir tidak ada. Mereka seperti pelari cepat yang bergerak bebas ke segala arah, mengisi seluruh ruangan."
Eko dan Raka terdiam, mencoba mencerna informasi tersebut. Suasana yang tadinya ceria berubah menjadi khusyuk.
"Jadi," Eko menarik napas dalam, "karena air di botol itu partikelnya renggang, makanya dia bisa mengikuti bentuk botol. Dan karena meja partikelnya sangat rapat, makanya dia keras?"
Valaria terpana. "Tepat, Eko! Kau sudah menangkap inti dari ilmu pengetahuan hari ini."
Valaria mulai mengemasi buku dan kertasnya dengan perasaan puas. Ia mungkin belum bisa mengubah nasib bangsanya dengan revolusi besar, namun ia tahu pasti: ia sedang menanam benih perubahan di benak anak-anak desa ini satu partikel ilmu pada satu waktu.