Kin Rui, seorang putri petinggi mafia legendaris dari Doragonshadou di Jepang harus merubah identitasnya untuk sebuah balas dendam.
Dia meninggalkan Jepang untuk dan menjalani beberapa pelatihan yang begitu keras untuk menjadikannya wanita yang tangguh dan tak terkalahkan.
Hingga 18 tahun kemudian, Kin Rui kembali ke Jepang dengan identitas baru dan akan mulai melakukan aksi balas dendamnya.
Sebuah balas dendam yang akan berakhir begitu menyakitkan, karena dia harus melenyapkan ayah biologisnya sendiri.
Apakah Kin Rui bisa menyelesaikan misi balas dendamnya?
Ikuti kisahnya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kenangan
"Hhm. Aku tau apa yang kau rasakan. Tuan Buck sangat menyayangimu, namun begitulah dia melakukannya, Kin Rui ..." ucap Nickhun dengan pelan dan berhati-hati.
Ucapan dari Nickhun seketika membuat Viollete terdiam lalu perlahan mulai melepas pelukan pemuda itu, hingga keduanya kini saling berpandangan dan begitu dekat.
"Darimana kamu tau nama itu, Nick?" manik-manik indah itu menatap lekat Nickhun.
"Apakah benar itu adalah namamu yang sebenarnya, Vio?" tanya Nickhun mulai memelankan suaranya dan sangat berhati-hati, khawatir jika akan ada orang lain yang mendengarkan semua ini.
Tapi sebenarnya sudah ada beberapa anak buah dari Buck Karimova yang mengetahui nama asli dari Buck Karimova, namun belum ada satupun dari mereka yang mengetahui identitas dari Viollete maupun Cloud.
Setelah terdiam beberapa saat dalam pandangan yang begitu dalam, dan mempertimbangkan semuanya, akhirnya Viollete mulai memutuskan untuk menceritakan sedikit tentang jati dirinya yang sebenarnya.
"Nick ... sebenarnya Kin Rui adalah nama Jepangku saat aku masih kecil. Namun papa merubah namaku ketika sampai di desa Wang Nam Khiao ini. Dan semenjak itulah namaku berubah. Sebenarnya itu adalah yang sangat wajar kok. Setiap orang bahkan bisa memiliki dua atau lebih nama sepertiku." jawan Viollete dengan jujur.
"Benarkah itu? Mengapa harus seperti itu, Vio? Padahal nama Kin Rui juga sangat cantik. Aku suka!" sahut Nickhun dengan jujur.
"Iya, terima kasih, Nick. Dan bolehkah aku meminta satu hal darimu darimu?" Viollete menatap Nickhun dengan tatapan penuh dengan harap.
"Hhm. Katakan saja pada'ku, Vio."
"Tolong jangan pernah memanggilku dengan nama Kin Rui di hadapan papaku, Nick. Papa akan sangat murka jika sampai mendengar kau memanggilku dengan nama itu. Karena kami sudah memutuskan untuk membuka lembaran baru dengan identitas baru." pinta Viollete penuh harap.
Nickhun memutuskan tak banyak berkata-kata ataupun berniat untuk lebih menguak tentang masa lalu Viollete saat ini, dan membiarkan waktu yang akan menjawab semuanya, karena Nickhun sangat mengetahui kondisi Viollete saat ini yang masih begitu remuk dan bersedih.
Pemuda berdarah Thailand ini tersenyum hangat dan mengangguk. Begiti teduh dan menyejukkan, seakan melupakan rasa sakit si tubuhnya yang sudah dirasakan beberapa saat yang lalu. Dan sebernarnya rasa sakit itu seketika lenyap saat Viollete melindungi dirinya dari cambukan Buck Karimova.
"Aku akan tetap memanggilmu Vio." ucap Nickhun begitu hangat dan segera bangkit dari tempat duduknya dan lekas mencari sebuah pakaian di lemarinya yang sangat sederhana.
Sebuah T-shirt hitam milik Nickhun berukuran besar mulai dibawanya untulk diberikan Viollete.
"Vio, pakai ini ..." ucap Nickhun sambil mengulurkan pakaian tersebut untuk Viollete.
Viollete menerima pakaian itu dan segera memakainya. Cukup besar saat dipakai oleh Viollete, karena pakaian itu adalah ukuran Nickhun.
Wangi khas dari tubuh Nickhun bisa dirasakan oleh Viollete saat mengenakan T-shirt hitam berukuran over size itu.
"Nick, sekarang biarkan aku yang mengobati lukamu, lepas pakaianmu ..." ucap Viollete sambil menggeser sebuah baskom yang masih berisi dengan air hangat.
"Tidak perlu, Vio. Aku akan melakukannya sendiri nanti. Aku sudah terbiasa kok untuk mengobati lukaku sendiri. Jangan khawatir ..." tolak Nickhun karena tak ingin merepotkan Viollete.
"Luka itu sangat banyak, dan luka itu harus segera dibersihkan dan diobati. Jika tidak takut akan infeksi. Ayo cepat buka pakaianmu ... aku sama sekali tidak merasa direpotkan kok."
Tak bisa menolaknya lagi, akhirnya Nickhun mulai melepaskan T-shirt hitam yang sudah terkena darah karena luka di tubuhnya, "Hhm ... baiklah ..."
Rasanya ngilu sekali saat Viollete melihat semua luka itu. Cambukan-cambukan dari cemeti itu meninggalkan cukup banyak luka yang cukup nyata. Bahkan ada sebagian yang sampai membuat kulit Nickhun terkelupas.
Dan semua luka itu adalah karena perbuatan dari sang papa. Sakit dan sesak sekali dada Viollete saat ini. Hingga tak sadar matanya sudah kembali berkaca-kaca dan mengusap lembut punggung Nickhun.
Nickhun yang menyadari semua itu kini sedikit memiringkan wajahnya untuk menoleh Viollete yang sedang duduk di belakangnya.
"Ada apa, Vio?" ucap Nickhun membuyarkan angan Viollete.
"Hhm ... tidak kok ..." ucap Viollete lalu segera membersihkan dan mengobati luka itu.
Gadis cantik ini segera mengambil sebuah kain yang sudah dicelupkan ke dalam air hangat dan memerasnya. Kemudian segera menyeka dan membersihkan darah di punggung Nickhun. Setelah itu Viollete mulai memberikan obat merah pada setiap luka itu. Viollete melakukannya dengan begitu lembut dan hati-hati.
"Nick, sekarang berbaliklah. Aku akan mengobati bagian depan ..."
"Hhm." sahut Nickhun pendek lalu berbalik menghadap Viollete.
Luka pada pagian depan tubuh Nickhun, tidak sebanyak luka pada punggungnya. Viollete mulai membersihkannya dan mengolesinya dengan obat merah. Sementara Nickhun hanya memandangi gadis di hadapannya itu.
Lima belas tahun mereka sudah saling mengenal, mereka berdua sangat dekat. Menjalin ikatan persahabatan dan sudah seperti saudara sendiri. Namun apakah benar adakah hubungan persahabatan yang murni dari seorang pria dan gadis? Tentu saja tidak ...
Karena sebenarnya Nickhun memang merasakan ada sesuatu yang berbeda dan lebih dari itu. Sebuah perasaan yang melebihi batas persahabatan.
"Vio ... pernahkan kau menyukai seseorang?"
Pertanyaan dari Nickhun sempat membuat Viollete tersenyum tipis, namun jemarinya masih tetap melakukan aktifitasnya yang sedang mengoleskan obat merah pada perut Nickhun.
"Suka? Aku selalu menyukai semua orang, Nick!" jawab Viollete.
"Maksudku ... seorang pria. Apa kamu pernah menyukai seorang pria?"
"Kalau hanya sekadar suka, pernah. Tapi hanya sebatas suka ... karena bersamanya aku merasa begitu nyaman. Dan orang itu adalah kamu." jawab Viollete dengan jujur.
"Lalu bolehkah aku juga menyukaimu?"
"Tentu saja, Nick. Bukankah selama ini kita memang sudah seperti ini?" ucap Viollete dengan senyum tipis, meskipun wajahnya masih cukup pucat.
"Maksudku bukan seperti itu, Vio. Maksudku adalah ..."
"Ya?"
"Maksudku ... uhm ..."
"Ada apa, Nick? Mengapa kamu tiba-tiba seperti ini?"
"Sudahlah, Vio. Tidak perlu dibahas lagi."
"Hhm. Ya sudah. Pakai kembali pakaianmu, Nick! Aku akan memasak sesuatu." ucap Viollete lalu bangkit dan berniat untuk segera ke dapur. Namun dengan cepat, Nickhun menahan lengannya.
"Mengapa tiba-tiba mau memasak?"
"Meskipun aku tidak terlalu pandai dalam hal memasak, namun aku akan mencoba membuat sesuatu untuk kita makan bersama."
"Oh ... baiklah ... aku akan membantumu." ucap Nickhun yang juga mulai bangkit dan berdiri.
"Baiklah ... ayo!"
Mereka berdua mulai melenggang bersama ke dapur untuk mulai memasak sesuatu. Sebenarnya ini sangat membuat mereka begitu bersedih dan terpukul karena mengingat bibi Anne yang sudah tiada. Karena biasanya di dapur inilah biasanya bibi Anne memasak sesuatu untuk Nickhun, Viollete dan Cloud.
Bayangan bibi Anne kembali hadir dan membuat keduanya saling terdiam dan termenung dengan kenangan masing-masing.
...⚜⚜⚜...
pelukan hangat dan tutur kata yuna yg penuh kasih makin membuat rui terharu dan meraaa bersalah ya walau hanya dalam hati saja , selamat y rui kini kamu telah berkumpul kembalk dengan keluarga asli mu maka belajarlah untuk menjadi lebih baik lagi dan mengikis dendam yg telah tertanam dengan cinta dan kasih sayang untuk keluargamu 🤗🤗