Harap Baca Suamiku Pria Lumpuh, supaya nyambung dengan kisah mereka, ya.
Bagaimana, jika orang yang kamu cintai, adalah seorang yang telah menjadi masa lalu terburukmu. Yang telah menjadi penyebab penderitaanmu dimasa lalu. Padahal, Ia telah memberikan semuanta untukmu.
Carolina Hermawan. Gadis yatim piatu itu baru saja mengenal sebuah cinta dan bahagia, sejak bertemu dengan Reza Edwardo. Salah satu pewaris Nugraha's company.
Mereka sepakat menikah usai Olin wisuda, dan telah merancang semuanya. Tapi, rupanya keluarga Nugraha atau Papa Edward memiliki masa lalu diantara keluarga Olin.
Apa masalah itu, dan bagaimana mereka menghadapinya? Berstu, atau justru memcari jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biarkan saja mengalir
"Bik, Bibiiik..."
"Ya, Non? Mau kemana, rapi bener?" Bi Darmi menghampiri Mami.
"Ifa pergi dulu, ya? Bentar aja. Pengen makan bakso Ibu."
"Farhan kan ada, kenapa ngga minta beliin Dia?"
"Ehmmm, Ifa pengennya kesana langsung. Ngga papa 'kan?"
"Udah bilang Aden?"
"Udah, tadi Ifa telepon. Dan katanya boleh."
"Yasudah, pergilah. Nanti kasih tahu Bibik, mau pulang sore apa nginep."
Mami hanya mengangguk, lalu keluar menghampiri Farhan yang memang sudah menunggu. Ia selalu tepat waktu, ketika Mami atau Papi membutuhkannya.
"Selamat siang, Non. Mau ke kedai bakso?"
"Iya, kesana langsung, ya? Pasti Ibu udah buka kedai."
"Baik...." Farhan membukakan pintu, lalu segera berlari ke kursi menyetirnya.
Sepanjang jalan, Mami hanya menggelendot lemah bersandar jedela. Sesekali Farhan memperingatkan, jika ada lubang atau polisi tidur yang akan mengguncangnya.
"Takut, terantuk kaca."
"Iya, terimakasih. Alana gimana, sehat?" tanya Mami, pada gadis kecil Farhan yang sedang gemas-gemasnya.
"Alhamdulillah, sehat. Abis batuk pilek, tapi sudah sembuh."
"Oh, syukurlah. Bu Yana, juga sehat 'kan?"
"Ya, seperti itulah." balas Farhan.
Sejak sebuah keributan besar antara Farhan dan Ibu mertuanya itu, Farhan memilih tinggal di tokonya beserta sang istri. Bukan benci, hanya ingin terus mendamaikan hati. Toh, sesekali tetap menjenguk dan bahkan menafkahi, meski masih saja dengan sikap tak enaknya.
"Ifa kangen Mama. Betah amat di luar negri? Berasa bulan madu kedua, apa ya? Ifa aja, sampai sekarang belum keturutan bulan madunya. Hikss, sedih." curahan hati Sang Mami, ketika bulan madunya harus tertunda akibat kehamilannya.
"Sabar, kalau kalian 'kan, kapan aja bisa berangkat. Uang ada, hanya waktu dan keadaan yang menunda."
"He' emh," angguk Mami, yang kembali bersandar di jendela kaca.
Mobil berhenti di kedai. Masih terlihat lengang, karena baru saja dibuka. Apalagi, belum waktunya makan siang, atau para mahasiswa pulang dari kampusnya. Mami turun, di sambut Bu Mariam dengan pelukan penuh rasa rindu untuk putrinya.
"Kok kesini? Harusnya Ibu aja yang kesana."
"Ngga papa, Ifa bosen dirumah. Makanya, Ifa kesini. Ayah mana?" Mami menggandeng Bu Mariam, masuk kedalam kedai.
Aroma kuah bakso begitu segar, membuat Mami begitu cepat kembali merasa lapar. Tapi sayang, semua belum siap sempurna.
"Sebentar lagi, ya?" bujuk Bu Mariam, mengelus perut putrinya yang masih rata itu. Menyapa sang calon cucu yang ada didalam sana.
"Bu, boleh curhat sedikit? Mengenai Reza."
Bu Mariam langsung berhenti dengan aktifitasnya. Lalu duduk, dan berusaha menjadi pendengar yang baik. Mami, kemudian menceritakan semua yang terjadi antara Reza dan Olin saat ini.
"Kamarin, ketika Dia minta tinggal disini, Ibu menolak. Kadang hanya, takut dia ngga engga betah. Apa Ibu salah?"
"Engga... Hanya mungkin, waktu sedang tak tepat kali ini."
"Mereka hanya perlu menyesuaikan diri, dan memahami satu sama lain. Biarkan saja mereka, dengan begitu adanya. Jangan terlalu mengekang, tapi kita wajib mengawasi. Toh, mereka sudah sama-sama dewasa. Tahu mana yang baik dan yang buruk." sahut Pak Abu, yang muncul dari belakang.
" Jadi, biarkan saja dulu?"
" Iya, Fa. Biarkan saja mengalir. Kamu dan Bagas beruntung, karena langsung menikah, jadi gampang sekali, untuk saling kenal karakter. Apalagi, keluarga masing-masing yang saling mendukung. Tapi Reza dan Olin? Bahkan Olin pun masih terus memikirkan kesenjangan status mereka. Hal yang sebenarnya tak perlu terlalu difikirkan, tapi memang selalu ada dalam fikiran."
Pak Abu berbicara panjang lebar kali ini. Mami pun mendengarkan dan mencerna dengan baik semua kata-kata yang Ia lontarkan. Mengerti, dan berusaha menerapkannya nanti. Meski, mungkin harus sedikit berselisih faham dengan Papi nantinya.
dan dijawab tinggal ditempat jauh dan butuh waktu untuk pembuktian