WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Aneh tapi nyata, Tama yang ketahuan selingkuh tapi Winda yang di salahkan oleh Mawar dan kedua mertuanya. Berita kejadian di pusat perbelanjaan kemarin telah menyebar luas.
Semua orang menghujat Tama, membela Winda tapi nyatanya ia tetap di pandang bersalah dengan semua keluarga.
"Lihat ulah mu Win, akibat kau keluarga kita semua harus menanggung malu!" Anwar mengomeli anaknya.
"Seharusnya kau tidak mempermalukan Tama seperti ini. Sebagai seorang istri kau harus bisa menjaga nama baik suami mu!" Diana menimpali.
"Kalian ini aneh, Tama sendiri yang memulai tapi kenapa kalian malah menyalahkan anak ku hah?" Weni tidak terima anaknya di salahkan.
"Karena aku sudah muak dengan sikap Tama!" ucap Winda dengan nada tinggi, "dia,...!" Winda menunjuk wajah suaminya, "sejak dulu selalu menyakiti ku tapi kalian semua selalu membela kesalahannya. Di mana letak hati kalian hah?"
Air mata Winda mulai membasahi pipi, sedangkan suaminya yang pecundang itu hanya duduk diam saja.
"Ayo bicara Tama, mau sampai kapan kau seperti ini hah? tidur dengan wanita lain sesuka mu, aku yang kau sakiti tapi aku yang di hakimi. Ceraikan aku Tama....!" pinta Winda dengan lantangnya.
Anwar dengan keras berdiri, mengangkat tangan lalu melayangkannya ke wajah sang anak. Sungguh, hati Winda perih. Suaminya lagi-lagi hanya diam saja seperti lelaki bodoh.
Winda geram, pandangan mata dan hatinya sudah di penuhi kebencian. Wanita ini pergi, meninggalkan rumah orang tuanya.
Winda pulang ke rumah, mengemasi semua pakaian dirinya dan Azam.
"Mbak, mbak Winda mau kemana?" tanya bi Marni yang khawatir dengan keadaan Winda.
"Aku mau pergi saja bi, aku sudah tidak tahan dengan mereka. Hati ku sakit bi,....!" jawab Winda dengan sesegukan.
"Kalau mas Tama nyariin mbak Winda dan Azam bagaimana?"
"Biarkan saja bi, bajingan seperti mas Tama tidak pantas untuk menjadi suami dan ayah dari anakku."
Winda memasukan dua koper barang-barangnya dan Azam kedalam mobil setelah itu ia mengambil anaknya dari gendongan bi Marni.
Tanpa pamit lagi, Winda pergi dari rumah Tama. Entah kemana tujuannya, Winda tidak tahu juga. Hanya Huda tempat menuju sekarang.
Lima menit setelah Winda pergi, mobil Tama memasuki pekarangan rumah. Lelaki bodoh ini turun menghampiri bi Marni yang masih berdiri di pagar rumah.
"Mbak Winda pergi membawa Azam." Bi Marni memberitahu Tama.
"Kok bisa?" tanya lelaki bodoh tidak punya otak ini, "kenapa bibi gak tahan?"
"Mas, ya ampun mas, kalau jadi laki-laki itu jangan suka menyakiti istri dong. Mas Tama ini lemah, masa bisa membela istri di depan keluarga. Suami macam apa sih?"
Bi Marni geram sendiri dengan sikap Tama.
"Bi, gak usah bahas itu. Winda dan Azam pergi ke mana?"
"Ya gak tahu, cari aja sendiri...!" ketus bi Marni langsung masuk ke dalam rumah.
Tama masuk ke dalam mobil, pergi mencari anak dan istrinya. Entahlah, sudah berapa kali Tama memutari jalanan di kota ini, bahkan Tama sudah keluar masuk hotel untuk mencari mereka.
"Halah, gak usah di cari. Kalau lapar pasti pulang sendiri...!" ucap Diana yang tidak memiliki hati.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Tama terus menghubungi nomor ponsel Winda tapi tidak aktif. Tama juga melacak keberadaan Winda dan anaknya tapi tidak bisa juga.
"Makanya mas, kalau jadi suami itu ya mbok punya otak sedikit. Seandainya mas Tama di posisi mbak Winda bagaimana?" Cindy kesal pada kakaknya, "sudah nikah sama lelaki bodoh, goblok gak punya otak. Dapat mertua seperti singa, punya orang tua seperti macan!"
"Diam kau Cindy....!" bentak Diana tidak terima dengan ucapan anaknya.
"Masuk ke kamar mu dan belajar sana!" Herman yang pusing mengusir anak perempuannya masuk ke kamar.
"Amit-amit jika aku mendapatkan suami dan mertua seperti kalian," ucap Cindy benar-benar muak dengan keluarganya sendiri.
Cindy masuk ke kamar sambil mengoceh, Tama hanya diam saja dengan cibiran adiknya itu. Entah kenapa Tama sangat bodoh sekali.
Sementara itu, Winda dan anaknya saat ini sedang berada di kota S, butuh waktu empat jam perjalanan menuju ke sana.
"Ini salah satu rumah ku, kau dan anak mu bebas tinggal di sini. Tenangkan pikiran mu Win, kau sedang hamil sekarang!"
Winda menatap wajah anaknya yang terlelap tidur. Sungguh hatinya semakin hancur dengan keadaan seperti ini.
"Aku sangat ingin membalas perbuatan Tama, dia dan keluarganya sudah terlampau jauh menyakiti ku,"
"Jangan pikirkan itu dulu, pikiran anak mu dan kandungan mu. Istirahat lah, kau terlihat sangat lelah!"
"Terimakasih Huda,...!" ucap Winda.
"Hem,...malam ini aku harus pulang karena besok pagi ada pekerjaan penting. Jika kau butuh sesuatu hubungi saja aku. Tidak apa-apa kan jika kau dan anak mu tinggal di sini sementara waktu?"
"Tidak apa-apa, aku malah bersyukur. Terimakasih untuk semuanya!"
Huda pamit pulang, meskipun sudah larut tapi tetap saja pria ini harus kembali ke kota J malam ini juga.
Winda merebahkan diri di samping anaknya, tubuh dan hati yang lelah membuatnya terlelap begitu saja.
Sedangkan Tama, semalaman pria ini tidak bisa tidur memikirkan keadaan Winda dan anaknya. Terlebih lagi Winda saat ini sedang hamil.
Malam berganti pagi, hari juga telah berganti hari tak terasa sudah satu minggu Winda pergi dari rumah tanpa kabar apa pun.
Tama semakin khawatir, begitu juga dengan Anwar. Bukan Winda yang mereka khawatirkan, tapi Azam yang di bawa Winda.
"Kita harus lapor polisi...!" ucap Anwar semakin geram dengan tingkah anaknya.
"Untuk apa?" Weni bertanya dengan ketusnya, "tidak usah melapor atau pun mencari Winda. Dia sudah mengirim pesan pada ku jika dia dan Azam baik-baik saja!"
"Mah, katakan pada ku di mana mereka?" desak Tama.
"Aku saja tidak tahu, Winda menghubungi ku dengan nomor baru yang sekarang sudah tidak aktif lagi. Untuk apa kau mencari anak ku jika untuk kau sakiti?"
"Mah,....!" lirih lelaki bodoh itu.
"Aku sebagai ibu yang melahirkannya sangat sakit atas semua perlakuan mu pada anakku. Kalian sebagai lelaki hanya memikirkan keegoisan saja tanpa memikirkan Perasaan Winda. Jangan cari dia, biarkan Winda menenangkan pikirannya!" tutur Weni kemudian berlalu pergi saking muaknya melihat Tama.
"Cari Winda, jangan sampai berita kaburnya Winda sampai membuat malu keluarga kita lagi," titah Anwar pada menantunya. Anwar juga masih sama, keras dan hanya mementingkan nama baik dirinya saja.
Huft,....
Tama menghembuskan nafas kasar, entah apa yang di mau pra ini sekarang. Meskipun Winda juga main serong, tapi sampai saat ini Tama belum pernah memergoki istrinya dengan pria lain. Entahlah, Tama yang terlalu bodoh atau Winda yang terlalu pintar menyembunyikannya.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi