Arabella Qaseema, wanita dewasa berumur 24 tahun. Sesuai dengan namanya yang cantik, Arabella memiliki paras yang cantik dan imut. Tapi sayang, ia sulit mendapatkan pasangan. Setiap bulan yang berganti, bergulir disetiap harinya. Arabella, selalu berharap akan ada seorang pria yang akan datang untuk melamar.
"Hilal jodoh belum terlihat. Jadi nunggu hilal dulu. Nanti ya, kalau enggak Sabtu, ya Minggu,"
"Kalau diundang, aku gak mau ngasih kado. Hari minggu gini KUA-nya tutup,"
"Memang mau nyariin calon buat aku?"
"Besok ya, kalau enggak hujan. Aku cariin satu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revolusi Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abis Gajian
Setelah melepas rindu dan makan malam bersama dirumah makan sederhana dipinggir jalan, Haafizh mengantar Arabella pulang tapi sayang, niat Haafizh ingin menemui ayah Arabella gagal karena bundanya menyuruh Haafizh untuk segera pulang.
"Ara saya harus segera pulang, maaf tidak jadi menemui ayahmu" Sesal Haafizh dengan raut wajah bersalah, bahkan dalam hati Haafizh ingin sekali malam ini menemui ayah Arabella.
Arabella tersenyum, seraya menatap mata Haafizh dengan hangat.
"Tidak apa. kan besok kamu bisa kesini lagi"
Keduanya telah sampai didepan rumah. Haafizh dan Arabella telah turun dari mobil, berdiri didepan pagar besi rumah Pak Haidar. Dengan cahaya lampu dari depan rumah yang cukup terang, menerangi halaman hingga ke pinggir jalan.
Suasana di pinggir kota memang cukup ramai, apalagi malam ini hembusan angin cukup kencang. Biasanya ada orang yang terlihat berlalu lalang, tapi kali ini jalanan cukup sepi.
"Baiklah, kalau begitu tunggu saya besok untuk datang menemui ayahmu"
Senyum lebar tersungging diwajah Haafizh yang begitu tampan, bulu mata lentik yang panjang dengan sorot mata yang begitu tajam selalu membuat Arabella terpikat, belum lagi alis tebal hitam Haafizh dengan rahang tegas serta hidung mancung bak perosotan anak tk membuat wajah mewah milik Haafizh semakin tampan. Bibir tebal dengan cukup merah kehitaman itu menambah kesan seksi.
Arabella mengangguk seraya tersenyum.
Kaki panjang Haafizh melangkah ke depan satu langkah sengaja ingin mengikis jarak keduanya, tidak sampai disitu Haafizh membungkukkan badan agar sejajar dengan wajah Arabella.
Haafizh tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit. "Ra, kamu adalah Aamiin-ku yang paling serius"
Arabella hanya diam dengan kedua mata terpaku pada sosok Haafizh, dengan jarak yang begitu sangat dekat Arabella dapat mencium kembali wangi parfum Haafizh yang begitu maskulin.
Setelah berbincang cukup lama dan melepas kepulangan Haafizh, Arabella segera masuk kedalam rumah.
"Assalamu'alaikum" Ucap Arabella dengan tersenyum lebar.
Diruang tengah ada Pak Haidar yang tengah menonton TV dengan ditemani secangkir teh hangat, sementara Ana ia tengah rebahan disopa kedua tangannya sibuk mengetik dilayar gawai.
Pak Haidar menoleh saat mendengar suara salam dari Arabella. "Wa'alaikumussalam. Bagaimana pekerjaan kamu hari ini, Ara?" Tanya Pak Haidar seraya mengelus kepala Arabella saat Arabella mencium punggung tangannya.
"Alhamdulillah lancar yah" Jawab Arabella.
Ana yang sedari tadi sibuk dengan gawai kini ia bangkit dari rebahan, lalu mendekati Arabella seraya memperhatikan raut wajah Arabella yang kembali terlihat cerah. Biasanya wajah kakaknya itu selalu terlihat murung, tapi kali ini berbeda. Mungkin sudah gajian. Pikir Ana.
"Abis gajian ya kak?" Ucap Ana seraya menyikut tangan Arabella dengan kedua alis naik turun sengaja ingin menggoda kakaknya.
Kening Arabella berkerut, ia tidak mengerti apa maksud Ana tiba-tiba bertanya soal gajian. Padahal seminggu lalu Arabella habis mendapatkan uang gaji.
"Dasar anak ini, kakak kamu baru pulang kerja malah nanya soal gaji" Sahut Pak Haidar seraya geleng-geleng kepala.
"Soalnya wajah kak Ara beda banget, yang biasanya murung ini malah berseri-seri gitu" Cetus Ana seraya menatap Arabella dengan lekat.
Arabella terperanjat, ia terlalu menunjukkan perubahan ekspresinya. Mungkin karena saking senangnya bertemu kembali dengan Haafizh Arabella jadi tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya sendiri.
"Emm.. anu itu. Aku.. aku baru saja bertemu kembali dengan teman lama." Ucap Arabella dengan tergagap.
"Teman lama" Ucap Ana mengulangi perkataan Arabella dengan raut wajah tak percaya.
"Iya. Kami sudah lama tidak bertemu jadinya saat bertemu kami sangat senang"
Ana hanya diam seraya memikirkan sesuatu. Tempo hari lalu saat Ana tengah ingin berangkat kerumah teman, ada seorang tetangga yang mengajaknya berbincang, katanya ia pernah melihat Arabella diantar pulang oleh mobil mewah dan yang mengantar adalah seorang laki-laki. Kejadian ini sering terjadi beberapa bulan lalu. Kata seorang ibu-ibu itu.
Apa ini ada sangkutannya dengan kebahagiaan kakak nya sekarang? Apa kakaknya sudah mempunyai pasangan? Tapi kenapa kakaknya tidak pernah cerita? Ana hanya diam dengan penuh rasa keingin tahuan.
Sebaiknya Ana akan mencari tahu hal ini nanti. Bukannya kalau kakaknya memiliki pasangan itu bagus. Selama ini Arabella tidak pernah dekat dengan pria manapun.
***
Setelah berbincang cukup lama bersama Pak Haidar, Ana dan Arabella segera masuk kedalam kamar. Arabella langsung membersihkan diri sementara Ana ia langsung rebahan diatas ranjang seraya menunggu Arabella selesai berganti pakaian.
Tidak butuh waktu lama Arabella sudah berganti pakaian, memakai gaun tidur panjang berwarna navy. Ia segera naik keatas ranjang dan tidur disebelah Ana yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kamu belum tidur?" Tanya Arabella seraya menarik selimbut sampai ke atas dada.
Ana menggelengkan kepala, lalu tidur menyamping menghadap Arabella.
"Kak Ara udah punya pacar belum?" Tanya Ana.
Mendengar pertanyaan dari Ana mengenai pacar, kenapa pikirannya langsung terpusat pada Haafizh.
"Tidak punya. Lagi pula dalam islam kita dilarang untuk berpacaran, itu termasuk zina! Dalam Al-Isra' Ayat 32. Dan janganlah kamu mendekati zina (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk."
Seperti mendapat tamparan keras lewat perkataan Arabella. Ana langsung bungkam dengan tubuh kaku. Ia merasa telah melakukan dosa besar, selama ini mantanya banyak. Menyebar dimana-mana hingga Ana lupa, ada berapa total ekor mantannya sekarang?!
Pendekatan lalu jadian, terus pacaran diakhiri dengan putus. Seterusnya Ana mengalami hal itu hingga sekarang ia jomblo keluaran terbaru.
Ternyata jadi jomblo itu menyenangkan. Tidak ada beban pikiran kalau sang pacar takut selingkuh. Lebih banyak waktu dihabiskan sendiri dengan begitu ddamai
"Kalau gitu aku mau tobat" Ucap Ana dengan lirih.
Arabella menatap Ana dengan heran, pasalnya ia tidak tahu seberapa banyak mantan Ana yang sudah menyebar luas diluar sana. Bahkan berkeliaran dimana-mana.
"Iya harus! Kan kamu pernah pacaran" Cetus Arabella.
Ana hanya bisa mengangguk lemah.
Setelah beberapa menit menyesali kesalahan yang Ana perbuat selama ini. Kini keduanya berbincang kembali, Arabella menanyakan perihal tentang perjodohan Ana.
"Ana bagaimana dengan perjodohan kamu dengan teman anak Alm ibu?"
Sebelum menjawab Ana menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar. "Besok mereka akan kesini. Aku takut! Kenapa harus aku yang dijodohkan" Kesal Ana dengan sedih.
Arabella mengerti itu, tapi mau bagaimana lagi ini sudah menjadi wasiat dari mendiang ibunya dulu.
"Jika kamu tidak suka kamu boleh bicara, jika kamu menyukai pria itu kamu bisa menerimanya"
"Jodoh, rezeki, maut sudah ada yang mengatur. Kita hanya bisa berdo'a, meminta yang terbaik dari semua takdir Tuhan yang Allah SWT sudah tetapkan untuk kita."
"Jika dia adalah jodohmu pasti seberapa keras kamu menolaknya, pasti Allah akan tetap menyatukan kalian berdua. Jika tidak pasti Allah SWT sudah menyiapkan yang terbaik untukmu, Ana."
"Tapi kak Ara aku takut jika pria itu jelek" Rengek Ana dengan kedua pipi mengembung.
"Lalu kenapa kalau jelek? Amal perbuatan manusia tidak diukur dari tampan dan jeleknya seseorang. Pilihlah pria yang bertaqwa, taat pada perintah sang Maha Kuasa. Jika Allah saja ditinggalkan apalagi kamu Ana. Jadi pilihlah pria yang beriman"
Ana tertegun setelah mendengarkan nasihat dari Arabella. Jika pria pilihan mendiang ibunya adalah benar-benar jodohnya maka Ana siap dengan segala kelebihan serta kekurangan pria itu nanti.
"Tapi kak Ara kenapa ibu menjodohkan aku? Kenapa tidak kak Ara saja?"
Satu pertanyaan yang selama ini Arabella simpan didalam hati, kenapa ibunya memilih Ana dari Arabella? Kenapa ibu tidak memilih anak pertama sebelum anak kedua? Apa ibunya lebih menyayangi Ana dari Arabella? Selama ini Arabella selalu ingin merasakan kasih sayang dari seorang ibu.
Dari kecil sampai ibunya meninggal, Arabella selalu disayangi oleh ayah. Ayah selalu menjadi sosok pelindung dari amarah ibu. Ketika Arabella dimarahi ibu ayah selalu membelanya, ketika Arabella dipukul oleh ibu ayah juga selalu melindunginya.
Kenapa, kenapa ibu selalu marah kepadanya? Kenapa ibu tidak pernah mencurahkan kasih sayangnya pada Arabella? Semua pertanyaan itu membendung dihati kecil Arabella. Berharap untuk segera mengetahui semua alasan, kenapa ibu selalu acuh padanya.
"Mungkin ibu takut kamu salah memilih pasangan. Jadinya ibu memilih kamu untuk yang dijodohkan." Berusaha tersenyum agar selalu terlihat baik-baik saja. Padahal Arabella sangat sedih, rasanya ia ingin mengulang waktu.
Memutar waktu untuk kembali ke masa kecil hanya untuk bertanya kepada ibunya, kenapa ibu selalu marah padanya?
"Antara mencintai dan dicintai, Kak Ara memilih mana?"
"Aku lebih memilih dinikahi"
Lagi-lagi wajah tampan Haafizh kembali terlintas begitu saja dipikiran Arabella. Apalagi besok, Haafizh akan menemui ayahnya kesini.
"Kalau begitu akan ku terima perjodohan ini demi kak Ara"
"Kenapa demi kakak?"
"Karena kak Ara selalu tau yang terbaik untukku"
Arabella tersenyum hangat, kedua kakak beradik itu saling berpelukan dengan penuh kasih sayang. Senyum bahagia tergaris jelas dibibir keduanya.
"Aku jadi tidak sabar ingin cepat besok dan melihat pria pilihan ibu untukmu, Ana"
"Sama aku juga. Tapi kak Ara, jodoh itu kayak sekumpulan tempe, gak ada yang tahu"
tinggal menunggu prahara sang bunda nya hafiz lanjut....!
Masya Allah...
🤣