NovelToon NovelToon
Danke, Häschen !!!

Danke, Häschen !!!

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Mafia / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Mei Shin Manalu

Erie, seorang gadis berusia 19 tahun yang mempunyai nasib malang, secara tiba-tiba dinikahkan oleh bibi angkatnya dengan pria bernama Elden. Tidak hanya bersikap dingin, pria tampan nan kaya raya itu juga terkesan misterius seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Erie. Kira-kira bagaimana cara Erie bertahan di dalam pernikahannya? Apakah Erie bisa merebut hati sang suami ketika ia tahu ternyata ada wanita lain yang menempati posisi istimewa di dalam hidup suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meet An Old Friend

Para pelayan mengemasi barang-barang Erie, sedangkan Marline memeriksa semua keperluan sang nyonya sudah terlengkapi dengan baik. Ia memastikan itu semua berulang kali. Jujur saja, ia merasa resah dan tegang ketika mengetahui Erie lah yang pergi ke kapal putih dan bukannya Jessie.

Erie berjalan ke luar dari rumah, tempat di mana Dicken sedang menunggu. Perempuan itu pergi tanpa berpamitan pada Elden. Kata Marline, malam itu Elden sedang keluar mengantarkan Jessie ke bandara. Wanita itu akan berlibur ke luar kota untuk beberapa hari. Erie menyimpan kekesalan untuk dirinya sendiri. Ia tidak bisa mengeluarkannya sekarang karena itu justru akan merusak harinya.

Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir setengah hari, Erie dan Dicken akhirnya tiba di tempat tujuan. Independence of the Seas, kapal pesiar mewah dan besar ini memiliki banyak fasilitas. Fasilitas hiburan seperti olahraga, perbelanjaan, kafe, kolam renang dan fasilitas-fasilitas lain tersedia di kapal ini. Kapal yang panjangnya 339 meter ini juga mampu mengangkut lebih dari 5000 orang. Namun saat ini, kapal pesiar ini hanya mengangkut 500 para bangsawan wanita dan istri para pengusahan, termasuk Erie. Tak luput juga mereka membawa pengawal pribadi mereka masing-masing.

Di dalam kapal itu benar-benar terjadi perbedaan kasta. Kaum bangsawan yang berderajat tinggi mengelompokkan dirinya dan terpisah dari yang lain. Bahkan dari letak tempat duduk pun orang bisa tahu siapa yang paling berkuasa dan paling kaya di negara ini.

Erie melihat kartu undangannya. Kursi nomor 468. Ternyata keluarga Eduard hanya menempati urutan 468 dalam daftar kekayaan di negara ini. Padahal dulu, saat di panti asuhan, Erie berpikir bahwa ayahnya adalah orang yang paling kaya di negeri itu.

Dicken mencari tempat duduk yang disiapkan untuk nyonyanya. Dan akhirnya mereka menemukannya. Kursi mewah yang letaknya nyaris paling akhir yang bertuliskan namanya. Urutan 468 dari 500 kursi.

Erie memandangi sekitarnya. Para wanita di sana menggunakan gaun-gaun dan perhiasan yang terbaik yang mereka miliki. Berbeda dengan dirinya. Ia hanya menggunakan gaun sederhana tetapi terlihat begitu elegan.

"Apakah anda yakin tidak dengan tindakan anda, nyonya?" tanya Dicken menghawatirkan kenyamanan Erie.

"Tidak apa Dicken. Aku sangat yakin dengan keputusanku."

"Tapi nyonya, anda seharusnya duduk di kursi nomor dua di sana, di samping putri presiden."

Erie melihat kursi nomor dua yang jauh berada di depan mereka. Di kursi kosong itu tertulis nama Jessica Felora Alvaro. Ternyata wanita itu sudah menyematkan nama keluarga Alvaro dalam namanya. Jelas-jelas ini adalah sebuah penghinaan untuk Erie yang merupakan istri sah Elden.

"Tidak apa Dicken. Kau boleh pergi," ucap Erie. Dicken menunduk hormat dan berjalan ke belakang ruangan. Memang aturan di tempat ini tidak memperbolehkan pengawal berada dekat dengan majikan mereka kecuali khusus untuk bangsawan tinggi dan orang paling kaya yang dikhawatirkan keselamatannya.

Erie sadar ternyata apa yang sering dikeluhkan Bibi Betty benar. Baru beberapa jam Erie berada di kapal pesiar itu, ia telah merasa bosan. Ia mengeluarkan ponselnya dan memainkannya.

Erie baru mengangkat kepalanya ketika mendengar salah satu putri bangsawan ditantang untuk menunjukkan bakat di depan mereka semua. Putri itu duduk di kursi nomor terakhir, nomor 500. Ia yang merupakan putri yang memiliki darah asli bangsawan dari kerajaan terdahulu, harus mengalami perundungan dari para wanita yang hanya dari kelas bawah. Hanya saja, keluarga mereka memiliki harta lebih banyak dari sang putri.

Erie memperhatikan sekelilingnya. Tak ada satu pun wanita yang ingin membantu putri itu. Padahal acara ini akan disiarkan di salah satu stasiun tv dan di beberapa media cetak dan online ke seluruh penjuru negeri. Para awak media massa yang hadir di sana juga terlihat begitu santai. Mereka justru memanfaatkan situasi itu sebagai bahan berita yang akan mereka laporkan.

Namun, dari semua awak media yang ada di sana, ada satu juru kamera yang tidak mengambil gambar kejadian perundungan sang putri. Jika dilihat-lihat, gelagat orang itu justru tampak seperti mengambil gambar Erie secara terang-terangan. Awalnya Erie berpikir mungkin itu dilakukan untuk membuat profilnya di dalam pemberitaan. Tapi, juru kamera itu tidak hanya membidik kamera ke arahnya sekali dua kali. Bahkan ia mengambil gambar Erie setiap saat, di setiap kesempatan.

Bukan hanya itu yang dirasa aneh oleh Erie. Sebuah kamera CCTV yang menempel di dinding, di depan Erie juga terlihat mencurigakan. Kamera pengawas itu seolah-olah hanya memindainya. Kamera itu bisa bergerak dan Erie mengetahui hal itu. Perempuan itu mencoba untuk membuktikan bahwa persepsinya berlebihan terhadap kamera itu. Ia berjalan ke meja belakang, berpura-pura ingin mengambil minuman. Erie melirik ke arah kamera di dinding itu dan benar saja, kamera itu mengikuti pergerakan Erie. Seketika ia bergidik. Ia merasa tertekan, seperti ia tengah diawasi oleh seseorang. Itu benar-benar membuat Erie tak nyaman.

Erie berjalan lagi ke mejanya. Saat duduk di kursinya, seorang pelayan laki-laki mendekat ke mejanya. "Anda ingin minum nona?" kata pelayan itu kepadanya.

"Tidak," jawab Erie.

"Anda yakin?" tanyanya lagi. Erie hanya mengangguk. Memang saat ini ia tidak tertarik untuk meminum apapun.

Tiba-tiba pelayan itu meletakkan minuman di atas meja dan duduk di samping Erie. Perempuan itu terkejut. Ia melayangkan kalimat protesnya kepada sang pelayan. "Kau! Berani sekali kau duduk di sini! Ehh kak Stefan?" kata Erie terkejut melihat pria yang ada di sampingnya. Erie sangat mengenal pria itu karena ia menghabiskan masa kecilnya dengan pria itu.

"Wah ternyata benar kau adalah Erieku," ujar pria itu antusias. Ia menggerakan tangannya untuk mencubit pipi Erie dengan gemas.

"Aww!" Erie meringis kesakitan.

Interaksi kedua orang itu mendapatkan perhatian ketat dari pengawal pribadi Erie. Saat perempuan itu menjerit, ia langsung menghampiri majikannya. "Nyonya, anda tidak apa-apa?" tanya Dicken panik.

Erie melihat wajah Dicken yang khawatir. Ia selalu melupakan bahwa setiap gerak-geriknya selalu dipantau oleh pria itu sehingga ia seharusnya tidak melakukan sesuatu yang mengkhawatirkan seperti itu. "Tidak apa Dicken. Dia adalah temanku. Kau boleh kembali," ucap Erie menenangkan Dicken. Pria itu mengangguk hormat dan kembali ke tempatnya semula.

Erie kembali memperhatikan laki-laki bernama Stefan yang duduk di sebelahnya. Ia sungguh tak menyangka bisa bertemu dengan laki-laki yang mengisi masa kecilnya itu di sini. "Bagaimana kau bisa berada di tempat ini kak?"

Stefan menatap Erie dengan lembut. "Aku adalah anak angkat dari nahkoda kapal ini. Jadi aku bekerja sebagai pelayan di kapal ini."

Erie mengangguk mengerti. "Aku sangat merindukanmu kak," ungkapnya tidak bisa menyembunyikan perasaan hatinya yang merindukan temannya di panti asuhan itu.

Stefan memperhatikan Erie dengan seksama. "Aku juga merindukanmu, tuan putri. Sekarang kau terlihat semakin cantik. Bagaimana keadaan di panti asuhan? Semenjak orang tuaku membawaku dari panti aku tak pernah bisa mengunjunginya lagi."

Mendengar kata panti asuhan membuat air muka Erie berubah menjadi sedih. "Panti asuhan itu sudah ditutup kak. Aku juga tidak tahu di mana teman-teman kita yang lain berada."

Stefan tersentak. Kebahagiannya melihat Erie berubah ketika ia mendengar keadaan panti yang sudah tutup. Tadi ia berpikir akan pergi ke sana segera saat kapal ini mendarat. Sudah delapan tahun ia tidak mengunjungi panti asuhan itu. Pria itu juga jarang mendengar kabar apapun karena aktivitasnya yang berlayar ke beberapa negara. "Padahal aku ingin bertemu dengan mereka. Aku sangat merindukan Ibu Tere, kau dan Syela."

Erie tertunduk. Syela. Nama itu begitu pedih saat didengar oleh Erie. Seketika ia meneteskan air mata. Kesedihan yang mendalam menyerbu hatinya saat ini. "Syela sudah meninggal tiga hari setelah kepergianmu kak. Dia meninggal karena kebakaran di gudang panti asuhan," katanya dengan nada gemetar.

"Apa?" Pria itu memandang Erie dengan terkejut. Rasanya ia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar itu. Padahal dulu, saat Stefan meninggalkan panti asuhan, semua terlihat baik-baik saja. Meskipun diiringi air mata dari Erie, namun Stefan bisa meninggalkan gadis itu karena masih ada Syela yang akan menemani Erie. Jika memang benar Syela juga ikut meninggalkan Erie, lantas bagaimana perempuan itu menjalani kehidupannya selama ini di panti asuhan?

Stefan melihat air mata yang menetes dari pelupuk mata Erie. Ingin rasanya ia memeluk perempuan itu, namun ia tidak bisa melakukan itu karena statusnya yang sangat rendah dibandingkan Erie. Ia juga harus segera menghentikan perempuan itu sebelum diperhatikan oleh para wanita lain, karena dapat dimanfaatkan oleh mereka untuk menjatuhkan Erie.

"Sudah Erie. Kau tidak boleh menangis di tempat ini. Kalau kau menangis, kau akan menunjukkan kelemahanmu dan para wanita di sini akan menyerang kelemahanmu itu," kata Stefan menjelaskan pada Erie. Ia lalu menyerahkan sapu tangannya. "Aku pergi dulu. Kalau aku terlalu lama di sini, kau akan mendapat masalah," ujarnya lagi sembari berdiri. Ia meninggalkan Erie yang masih menenangkan hatinya.

Erie memperhatikan sekitarnya. Perkataan kakaknya itu benar. Ia tidak boleh lemah di tempat itu. Erie menghapus air matanya dengan sapu tangan yang diberikan Stefan kepadanya.

Dicken menghampiri Erie. Ia bertanya tentang keadaan Erie karena ia juga memperhatikan perempuan itu yang menangis meskipun tidak mendengar isi pembicaraan antara Erie dan Stefan. "Ada apa nyonya?" tanyanya pada Erie. Perempuan itu menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedih karena mengingat masa lalu."

Dicken mengerti. Namun, beberapa detik kemudian matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan. Dengan cepat ia berdiri untuk menutupi tubuh Erie.

Tindakan pria itu membuat Erie terkejut. "Ada apa Dicken?" tanya Erie panik. Ia memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan apa yang terjadi.

Dicken merendahkan tubuhnya untuk berbicara kepada nyonyanya secara pelan. "Sepertinya ada orang yang sedang mengintai anda, nyonya," katanya sambil tidak melepaskan pandangannya pada sekitar Erie.

"Benar, sejak tadi aku juga merasa ada yang memperhatikanku secara khusus. Bahkan CCTV di atas itu juga sangat mencurigakan," ucap Erie sambil menunjuk ke arah kamera pengawas yang menempel di dinding.

Dicken melirik ke arah kamera itu dengan seksama. Ketika tengah memperhatikan, instingnya kembali seperti menangkap sesuatu yang aneh di antara para wartawan yang datang. Ia menoleh. Ia melihat salah satu juru kamera yang memiliki gelagat aneh.

Dicne berbisik kepada Erie. "Nyonya, saya akan mencari tahu apa yang terjadi. Saya mohon agar anda menunggu saya di sini sampai saya kembali."

"Baiklah."

"Jika terjadi sesuatu, anda harus segera menghubungi saya."

"Iya."

Dicken meninggalkan Erie untuk mendekati juru foto itu. Namun, ketika melihat Dicken bergerak ke arahnya, tiba-tiba saja orang itu berlari. Hal itu sontak membuat Dicken ikut berlari. Cukup banyak orang di ruangan itu dan membuat Dicken tak bisa bergerak dengan leluasa. Ia tak bisa terang-terangan mengejar orang itu. Ia hanya bergerak cepat tanpa membuat keributan di sana.

Dicken mengikuti orang itu hingga ke ruangan perjamuan makan malam. Di sana terdapat banyak pelayan yang sedang mempersiapkan makan malam untuk para tamu yang datang. Ia melihat orang itu masuk ke dalam dapur. Namun, ketika Dicken masuk ke dalam, orang itu menghilang. Dicken yakin orang itu pasti bersembunyi di sana.

Saat hendak masuk ke sana, seorang kepala koki menghentikan langkah Dicken. "Tuan, anda tidak boleh masuk ke dalam. Tempat ini adalah tempat terlarang," kata kepala koki itu menjelaskan.

"Maafkan saya," ucap Dicken sambil melangkah menjauh dari pintu dapur. Ia tak bisa menentang kebijakan di tempat itu seenaknya.

"Ada apa Dicken?" ucap seorang koki dari arah belakang Dicken hingga membuat sang empunya nama terkejut. "Siapa kau?" tanya Dicken kepada koki itu. Ia dalam posisi siaga untuk menyerang orang yang mengetahui mengenai informasi pribadinya itu, karena Dicken tidak pernah memperkenalkan diri selama di dalam kapal itu.

Sang koki mendekatkan kepala ke telinga Dicken dan berbisik. "Habisi semua dengan cara yang benar," katanya menyebutkan sebuah sandi.

"Sebutkan nomormu!" ucap Dicken lagi

"B31."

Dicken menurunkan kesiagaannya. Koki yang berada di belakangnya adalah orang yang berada di dalam organisasi yang sama dengan Dicken. Artinya koki itu adalah orang suruhan dari Elden. Identitasnya adalah B31. Itu merupakan nomor untuk menunjukkan kelas anggota di dalam organisasi Elden. A adalah kelas untuk para bodyguard berbakat yang ditugaskan untuk melindungi keluarga inti Alvaro. Mario mendapatkan nomor A1, sedangkan Dicken sendiri bernomor A5. B adalah kelas untuk para penjaga yang disewakan untuk orang penting lain. Jadi, B31 adalah orang terhebat ke 31 di dalam kelas B.

"Apakah sendirian di sini?" kata Dicken kepada sang koki.

"Tidak, B16, B20 dan B35 juga ada di sini dan menyebar di beberapa tempat. Kau bisa menggunakan ini untuk menghubungi mereka," kata koki itu sembari menyerahkan sebuah alat komunikasi yang dilengkapi dengan earpiece.

Dicken menerima alat itu dan langsung memakainya. "Seseorang yang mencurigakan masuk ke dalam dapur. Sepertinya orang itu adalah mata-mata," ujar Dicken menjelaskan tujuannya.

"Baiklah, ikuti aku."

Dicken mengikuti koki itu ke sebuah tempat yang tak jauh di sana. Koki itu membuka sebuah pintu gudang penyimpanan makanan yang terhubung dengan dapur. Setelah melihat Dicken masuk, ia langsung mengunci pintu itu lagi dan berjalan menuju pintu depan dapur. Ia berjaga di sana sambil memperhatikan gerak gerik orang-orang yang ada di sana dengan seksama.

Dicken masuk dengan mengendap-endap. Ia merogoh sebuah pistol yang ada saku jasnya dan mengeluarkannya. Sambil memegang senjata apinya, Dicken mencari di setiap sudut dari gudang penyimpanan hingga ke arah dapur. Meskipun Dicken sudah mencari dengan teliti, namun ia tidak bisa menemukan orang itu.

*XXXXX

Dukung novel ini dengan tinggalkan like, comment dan vote*...

Danke ♥️

By: Mei Shin Manalu**

1
sakura
...
Virgo Girl
Baru mampir Kak. Awal yg cukup menarik ❤❤
refi Tanjungpinang
amazing proud off u
Youleannaa
bagus
Rieenee
ini tahun 2020 skrg aku datang lagi di tahun 2024 tuk baca kembali novel ini
Rieenee
terima kasih mei sudah membuat novel yg bagus ini aku mampir lagi k sini setelah cukup lama ga buka aplikasi ini
Aerik_chan
Kak aku tunggu karya kakak di platform ini
Almeera
elden juga suka nyelup sm jessi padahal sudh ada istri nya si eri
katanya bucin
Mina Rasi
aku kalau punya tante macam betty tu, udah ku kasih racun dia 😭😭
Ibu Endang
keren thor dr awal baca sampai akhir cerita sangat menarik, banyak rasa greget dihati dlm setiap babnya. menarik dan untuk mu thor semangat dalam menulis novel💪💪💪
Ibu Endang
membaca sampai bab ini sungguh menguras air mata thor,
Aba Bidol
💐
Sekar Nur Noviyanti
woooow keren
Sekar Nur Noviyanti
woooow keren
Liliana
Mereka bersaudara
Idasesoega
jika suatu saat kau tdk... pistolku dst

apa BAWA ya...
Allessha Nayyaka
Mantap karyamu othor
Kl diangkat ke layar lebar pasti penonton nya kyk semut antrinya
Allessha Nayyaka
satu kata untuk karyamu thoor

kereeen
Fawas Aficieanna
penggambaran yg sangat menyentuh untuk cinta elden yg luar biasa ke erie😍
Fawas Aficieanna
bagus banget ceritanya menyentuh hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!