NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Di kamar rumah sakit, Rani akhirnya tertidur lelap dalam dekapan Yudiz.

Napasnya mulai teratur, meski sesekali tubuhnya masih sedikit tersentak karena trauma yang membekas.

Yudiz terus memeluknya, tak membiarkan satu inci pun jarak memisahkan mereka.

Sementara itu, suasana di kediaman Kyai Abdullah di pondok pesantren terasa sangat sunyi dan tegang.

Nyai Salmah duduk di tepi tempat tidur, tangisnya belum reda sejak pulang dari rumah sakit.

Bahunya berguncang hebat. Sepanjang puluhan tahun pernikahan mereka, baru kali ini Kyai Abdullah membentaknya di depan orang lain, bahkan di depan besan dan menantunya sendiri.

Kyai Abdullah masuk ke kamar dengan langkah perlahan.

Beliau melihat istrinya yang hancur, namun kali ini beliau tidak ingin langsung luluh. Beliau duduk di kursi kayu di seberang tempat tidur.

"Salmah, istriku..." panggil Kyai Abdullah dengan suara yang kini lebih tenang namun sangat dalam.

"Berhentilah menangis hanya karena merasa harga dirimu terluka. Menangislah karena hampir saja kita menjadi penyebab hilangnya nyawa seseorang."

"Kenapa Abi begitu kasar tadi? Abi mempermalukan aku di depan mereka semua!" isak Nyai Salmah sambil menatap suaminya dengan mata sembap.

"Aku melakukannya untuk menyadarkanmu," jawab Kyai Abdullah tegas.

"Kamu salah membela Laila. Buka matamu, Salmah! Cinta dan obsesi Laila itu sudah menjadi penyakit. Dia meracuni makanan! Jika Rani sampai meninggal semalam, bukan hanya Yudiz yang hancur, tapi martabat pondok ini akan tamat di tangan polisi. Apa kamu mau melihat anakmu sendiri mendekam di penjara karena dianggap membiarkan pembunuhan di rumahnya?"

Nyai Salmah terdiam, isakannya tertahan.

"Laila itu anak sahabat kita, tapi Rani itu menantumu, pilihan anakmu sendiri. Kamu selalu menganggap Rani manja, tapi pernahkah kamu mencoba melihat ketulusannya? Dia bertahan di sini meski kamu menekannya terus-menerus. Dan puncaknya semalam, dia hampir mati!"

Kyai Abdullah berdiri dan mendekati istrinya.

"Jangan sampai kebencianmu pada latar belakang Rani membutakan mata hatimu. Jika kamu tidak berubah, kamu bukan hanya kehilangan Yudiz sebagai anak, tapi kamu juga akan kehilangan keberkahan dari ilmu yang selama ini kita ajarkan di pondok ini."

Nyai Salmah menunduk, kata-kata suaminya mulai meresap ke dalam hatinya, meski ego di dadanya masih terasa sangat sesak.

Nyai Salmah melangkah gontai keluar menuju teras samping yang menghadap langsung ke arah aula santri putri.

Udara disana itu terasa dingin, namun hatinya jauh lebih beku.

Ia duduk termenung di kursi kayu panjang, matanya menatap kosong ke arah deretan asrama.

Tiba-tiba, ingatannya terlempar pada suatu malam, beberapa bulan yang lalu.

Ia teringat saat melewati kamar Rani dan Yudiz. Sayup-sayup ia mendengar suara Rani yang sedang mengaji.

Suaranya tidak hanya merdu, tapi begitu kuat, penuh penekanan pada tiap tajwidnya, seolah ia sedang mengadukan seluruh isi hatinya kepada Sang Pencipta.

Saat itu, Nyai Salmah sempat tertegun, mengakui dalam hati bahwa gadis "balapan" itu ternyata punya kecintaan pada Al-Qur'an yang luar biasa.

"Umi..."

Suara lembut itu membuyarkan lamunannya. Lilis, putri bungsunya, datang membawa segelas teh hangat dan duduk perlahan di samping ibunya.

Lilis adalah sosok yang paling tenang di keluarga itu, yang selama ini lebih banyak diam memperhatikan.

"Umi, Lilis tahu kalau sebenarnya Umi sangat sayang kepada Mbak Rani," ucap Lilis pelan, sambil meletakkan gelas di meja.

Nyai Salmah menoleh, matanya kembali berkaca-kaca.

"Kenapa kamu bicara begitu? Kamu lihat sendiri tadi Umi hampir kehilangan Yudiz karena membela Laila."

Lilis tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan ibunya yang mulai keriput.

"Karena kalau Umi nggak sayang, Umi nggak akan sekecewa ini saat melihat Mbak Rani nggak sesuai dengan kriteria 'menantu kyai' yang Umi bayangkan. Umi menuntut banyak karena Umi ingin Mbak Rani sempurna. Tapi Umi, Mbak Rani itu tulus."

Nyai Salmah terdiam seribu bahasa. Kata-kata Lilis seperti cermin yang dipasang tepat di depan wajahnya.

"Laila memang pintar bicara dan terlihat penurut, tapi dia tega menyakiti Mas Yudiz dengan cara meracuni Mbak Rani. Apa Umi mau Mas Yudiz hidup dengan orang yang tangannya kotor?" lanjut Lilis lagi.

Nyai Salmah menunduk, air matanya jatuh satu per satu ke pangkuannya.

"Umi Umi cuma takut harga diri pondok ini jatuh kalau punya menantu yang latar belakangnya seperti itu, Lis. Tapi Umi nggak nyangka kalau Laila bisa sejahat itu."

"Sekarang Mbak Rani sedang berjuang untuk sembuh, Mi. Dan dia sedang ketakutan karena kita. Apa Umi nggak mau memperbaiki semuanya sebelum Mas Yudiz benar-benar menjauh?"

Nyai Salmah mendengus pelan, sebuah tawa getir terselip di antara isaknya yang mulai mereda.

Ia melepaskan genggaman tangan Lilis dengan perlahan, lalu memalingkan wajahnya kembali ke arah halaman pondok.

"Kamu ini sama saja seperti abimu, Lis," gumam Nyai Salmah dengan nada bicara yang masih menyisakan sedikit rasa pahit.

"Kalian semua pintar sekali menyudutkan Umi. Nggak ada satu pun anak Umi yang mau berdiri di pihak ibunya sendiri."

Lilis hanya terdiam, ia tahu ibunya sedang dalam fase defensif karena merasa harga dirinya terkoyak.

Ia tidak ingin membantah lagi karena itu hanya akan memperkeruh suasana.

Nyai Salmah menghapus sisa air mata di pipinya dengan ujung kerudungnya, lalu ia menarik napas panjang seolah mencoba membuang sesak yang menggelayuti dadanya.

Ia berdiri, mencoba kembali tegap meski hatinya sedang berkecamuk.

"Sudah, nggak usah dibahas lagi. Umi pusing," ujar Nyai Salmah, suaranya kembali datar.

"Sana, masuk ke dapur. Gorengkan pisang raja yang tadi pagi dibawa santri dari desa. Abimu pasti butuh teman minum teh setelah marah-marah tadi."

Lilis menatap ibunya dengan tatapan prihatin, namun ia patuh.

"Inggih, Umi. Lilis buatkan sekarang. Umi jangan terlalu banyak pikiran, nanti darah tingginya kumat."

Begitu Lilis melangkah masuk ke dalam rumah, Nyai Salmah kembali duduk sendirian di teras. Aroma tanah basah setelah hujan sore itu masuk ke indra penciumannya, namun ingatannya tetap tertuju pada bayangan Rani yang tadi berteriak "Cukup!" di rumah sakit.

Ada rasa perih yang aneh di hati Nyai Salmah. Ia teringat bagaimana Rani, meskipun sedang sakit dan terancam, justru meminta Yudiz untuk rujuk dengan Laila hanya karena tidak ingin hubungan ibu dan anak terputus.

"Anak itu, kenapa dia malah membelaku di depan Yudiz?" bisik Nyai Salmah pada diri sendiri.

Hatinya mulai berperang hebat antara ego seorang Nyai besar dan nurani seorang ibu yang mulai tersentuh oleh ketulusan menantu yang selama ini ia benci.

Aroma manis dari pisang raja dan ubi madu yang digoreng Lilis memenuhi ruang dapur, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan ketegangan sejak pagi tadi.

Kyai Abdullah melangkah masuk dengan jubah yang masih tersampir di bahunya, mencoba mengulas senyum tipis saat mencium bau sedap itu.

"Harum sekali. Sepertinya ada yang sedang menghibur diri di dapur," goda Kyai Abdullah sambil mendekat.

Lilis tertawa kecil sambil meniriskan potongan ubi yang berwarna keemasan.

"Bukan menghibur diri, Abi. Ini buat teman Abi minum teh. Tapi..." Lilis melirik ke arah pintu, memastikan ibunya tidak mendengar.

"Abi, Lilis punya rencana. Lilis mau ke rumah sakit, mau antar pisang dan ubi goreng ini untuk Mas Yudiz dan Mbak Rani. Lilis juga mau mengajak Umi ikut. Siapa tahu dengan membawa makanan kesukaan Mas Yudiz, suasana hati Umi dan Mas Yudiz bisa sedikit mencair."

Kyai Abdullah terdiam sejenak, menatap putrinya dengan bangga.

Ia tahu Lilis sedang mencoba menjadi jembatan perdamaian.

"Ide yang bagus, Lis," jawab Kyai Abdullah mantap.

"Abi ikut. Kita berangkat sama-sama. Biar Abi yang bicara pada Umimu. Kita tidak bisa membiarkan keretakan ini makin lebar. Menantumu sedang sakit, dan anakmu sedang marah, itu bukan hal yang baik untuk keberkahan rumah kita."

Lilis mengangguk semangat. Ia segera menata pisang dan ubi goreng itu ke dalam wadah cantik yang dilapisi kertas resap minyak.

Kyai Abdullah kemudian melangkah ke teras depan, menghampiri Nyai Salmah yang masih termenung.

"Nyai, ayo ikut Abi dan Lilis ke rumah sakit. Lilis sudah buatkan camilan untuk Yudiz. Tidak baik menyimpan marah sampai matahari terbenam. Mari kita tunjukkan kalau kita masih satu keluarga."

Nyai Salmah menoleh, wajahnya masih tampak kaku. Namun, melihat sorot mata suaminya yang tidak lagi marah, melainkan penuh ajakan damai, pertahanannya sedikit goyah.

"Umi ikut ya, Mi? Mas Yudiz dari kemarin belum makan enak, pasti dia kangen masakan rumah," bujuk Lilis yang tiba-tiba muncul di ambang pintu sambil membawa wadah makanan.

1
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!