NovelToon NovelToon
Magang Di Hati Bos Muda

Magang Di Hati Bos Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Keluarga / Teen School/College / CEO / Romansa
Popularitas:209
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Satu kesalahan di lantai lima puluh memaksa Kirana menyerahkan kebebasannya. Demi menyelamatkan pekerjaan ayahnya, gadis berseragam putih-abu-abu itu harus tunduk pada perintah Arkan, sang pemimpin perusahaan yang sangat angkuh.
​"Mulai malam ini, kamu adalah milik saya," bisik Arkan dengan nada yang dingin.
​Terjebak dalam kontrak pelayan pribadi, Kirana perlahan menemukan rahasia gelap tentang utang nyawa yang mengikat keluarga mereka. Di balik kemewahan menara tinggi, sebuah permainan takdir yang berbahaya baru saja dimulai. Antara benci yang mendalam dan getaran yang tak terduga, Kirana harus memilih antara harga diri atau mengikuti kata hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Seragam Sekolah dan Jas Mewah

Asap tebal yang keluar dari kertas perjanjian hitam itu tiba-tiba berubah menjadi kobaran api biru yang sangat panas dan membakar telapak tangan Kirana. Ia menjerit kesakitan sambil melemparkan gulungan kertas tersebut ke atas lantai beton yang dingin, namun api itu justru merambat cepat ke arah kabel peledak. Arkananta dengan sigap menarik Kirana menjauh, sementara cahaya merah dari sensor bahan peledak mulai berkedip-kedip semakin gila di seluruh dinding lorong.

"Lari ke arah pintu darurat sekarang juga, Kirana! Jangan pernah menoleh ke belakang jika kamu masih ingin melihat matahari esok pagi!" teriak Arkananta sambil mendorong tubuh gadis itu dengan sekuat tenaga.

Kirana berlari menembus kegelapan, seragam sekolahnya yang sudah sobek dan penuh lumpur terasa sangat berat karena basah oleh air limbah. Di belakangnya, Arkananta masih mencoba memapah Indra yang sudah tidak sadarkan diri akibat racun anak panah yang mulai melumpuhkan kerja jantungnya. Suara ledakan pertama mulai meruntuhkan langit-langit lorong bawah tanah, menciptakan debu semen yang sangat pekat dan menyesakkan setiap inci pernapasan mereka.

"Tuan Arkananta! Cepatlah, pintu ini mulai tertutup secara otomatis karena sistem keamanan gedung!" jerit Kirana sambil menahan daun pintu besi dengan pundaknya yang mungil.

Arkananta melompat masuk ke dalam celah pintu tepat sebelum lempengan baja seberat satu ton itu tertutup rapat dengan suara dentuman yang sangat keras. Mereka jatuh tersungkur di atas lantai marmer lobi belakang yang sangat mewah, menciptakan kontras yang sangat menyedihkan dengan kondisi tubuh mereka. Kirana terengah-engah, ia menatap jas mewah milik Arkananta yang kini sudah hancur berantakan, sama seperti harapan yang ia bangun selama ini.

"Kita sudah sampai di kaki menara tinggi, namun perjuangan yang sebenarnya baru saja akan dimulai dari titik ini," ujar Arkananta sambil mencoba mengatur napasnya.

Kirana bangkit berdiri dan merapikan seragam sekolahnya yang kini sudah kehilangan bentuk aslinya, meninggalkan kesan seorang siswi magang yang lugu. Ia mengambil sebuah jas hitam cadangan yang tergantung di lemari darurat lobi, kemudian mengenakannya di atas seragamnya sebagai simbol pertahanan dirinya. Arkananta menatap Kirana dengan pandangan yang sangat dalam, menyadari bahwa gadis di depannya ini telah bertransformasi menjadi sosok yang sangat berani.

"Kenapa Anda menatap saya seperti itu, Tuan? Apakah ada sesuatu yang salah dengan penampilan saya yang sangat kacau ini?" tanya Kirana dengan nada bicara yang mulai mendingin.

Arkananta menggeleng pelan, ia mendekati Kirana dan membantu membenarkan kerah jas mewah yang dikenakan gadis itu agar terlihat lebih rapi dan berwibawa. Ia menjelaskan bahwa menara tinggi ini memiliki sistem pengenalan wajah yang sangat ketat, dan mereka harus terlihat seperti pemilik perusahaan yang sesungguhnya. Tanpa identitas yang meyakinkan, mereka hanya akan dianggap sebagai penyusup dan akan langsung ditembak oleh senapan mesin otomatis yang tersembunyi.

"Gunakan wibawamu sebagai ahli waris Sekar, Kirana, karena hanya kamu yang bisa menembus gerbang terakhir di puncak menara ini," bisik Arkananta dengan suara yang sangat lembut.

Mereka melangkah menuju lift pribadi yang dilapisi emas murni, namun tiba-tiba suara tawa Clarissa kembali bergema dari arah pengeras suara di sudut ruangan. Clarissa muncul dari balik pilar besar dengan mengenakan gaun merah yang sangat elegan, seolah ia sedang bersiap untuk merayakan kemenangan besarnya. Di tangannya, ia memegang sebuah pengendali jarak jauh yang bisa meledakkan seluruh menara tinggi ini hanya dengan satu tekanan jari saja.

"Kalian berdua terlihat sangat serasi dengan pakaian yang hancur itu, seperti sepasang kekasih yang baru saja keluar dari liang kubur!" ejek Clarissa dengan sorot mata penuh kebencian.

Kirana melangkah maju dengan sangat mantap, ia tidak lagi merasa takut meskipun maut sedang berada tepat di hadapan matanya yang sembap. Ia menunjukkan kalung perak pemberian Arkananta yang kini ia kenakan, membiarkan cahaya lampu lobi memantulkan kilauan dari liontin penyimpan data tersebut. Clarissa tampak terperanjat melihat kalung itu, karena ia tahu bahwa benda tersebut adalah kunci utama untuk mengendalikan seluruh aset perusahaan Dirgantara.

"Berikan kalung itu kepada saya, Kirana, dan saya berjanji akan membiarkan Arkananta tetap hidup sebagai budak di perkebunan sawit saya!" tawar Clarissa dengan sangat licik.

Kirana tersenyum sinis, ia menggenggam liontin itu dengan sangat kuat hingga telapak tangannya kembali mengeluarkan darah karena luka bakar yang tadi. Ia menyatakan bahwa ia lebih baik mati bersama Arkananta daripada harus menyerahkan warisan ibunya kepada seorang pengkhianat seperti Clarissa. Arkananta menatap Kirana dengan rasa bangga yang luar biasa, ia merasa bahwa segala pengorbanannya selama ini tidak menjadi sia-sia sedikit pun.

"Jika kamu ingin meledakkan tempat ini, lakukanlah sekarang juga, karena kami tidak akan pernah mundur satu langkah pun!" tantang Kirana dengan suara yang sangat menggelegar.

Clarissa yang merasa terdesak mulai kehilangan akal sehatnya, ia menekan tombol pada pengendali jarak jauh tersebut dengan penuh amarah yang meluap-luap. Namun, bukannya ledakan yang terjadi, melainkan suara alarm kebakaran yang sangat nyaring dan semprotan air dari langit-langit yang langsung membasahi seluruh ruangan. Arkananta tertawa pelan, ia mengungkapkan bahwa Indra sebenarnya sudah berhasil meretas sistem peledak tersebut sesaat sebelum ia jatuh pingsan di lorong tadi.

"Kamu kalah, Clarissa, karena keserakahanmu telah membuatmu buta terhadap kesetiaan orang-orang kecil yang kamu remehkan selama ini," tegas Arkananta sambil memberi tanda kepada petugas keamanan asli.

Para petugas keamanan yang setia kepada Arkananta segera mengepung Clarissa dan memborgol tangannya dengan sangat kencang hingga wanita itu menjerit kesakitan. Kirana terduduk lemas di atas lantai, ia merasa seluruh energinya telah terkuras habis setelah melewati rangkaian peristiwa yang sangat gila malam ini. Arkananta berlutut di sampingnya, ia melepas jas mewahnya sendiri dan menyelimutkannya ke bahu Kirana yang sedang menggigil kedinginan.

"Apakah semuanya sudah benar-benar berakhir sekarang, Tuan Arkananta?" tanya Kirana dengan suara yang nyaris hilang ditelan keheningan.

Arkananta menatap ke arah jendela besar menara tinggi, melihat fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur dengan cahaya yang berwarna keemasan. Ia memegang tangan Kirana dan mencium keningnya dengan sangat lembut, sebuah kecupan yang penuh dengan janji untuk masa depan yang lebih baik. Namun, di tengah kedamaian sesaat itu, sebuah bayangan helikopter tanpa identitas kembali terlihat mendekat ke arah puncak menara dengan membawa senjata penghancur yang sangat besar.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!