NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Naik Kelas / Paksaan Terbalik / Tamat
Popularitas:9.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Rositi

Fina terpaksa menikah dengan Bian, tetangga yang juga merupakan sahabatnya karena Lia calon istri Bian, tiba-tiba membatalkan pernikahan, tepat satu hari sebelum pernikahan digelar.

Fina pikir, meski ia hanya sebagai mempelai pengganti, ia bisa menjadi istri sekaligus wanita yang dicintai Bian, terlebih orang tua mereka juga sangat mendukung hubungan mereka. Namun siapa sangka, belum genap satu minggu usia pernikahan mereka, Bian yang menjadi bersikap dingin bahkan sama sekali tidak mau menyentuh Fina semenjak pernikahan mereka, justru menceraikan Fina.

Diceraikan oleh Bian membuat Fina menjadi janda tidak terhormat. Terlepas dari itu, semua beban moril yang Fina dapat juga membuat nama baik keluarga Fina hancur, bahkan Raswin ayah Fina menjadi sakit parah. Di tengah keterpurukannya, Fina justru bertemu dengan Rafael, pria kaya raya yang pernah Fina tolak cintanya.

Rafael yang sedang dihadapkan dengan perjodohan meminta Fina untuk bekerja menjadi istrinya. Rafael benar-benar melakukan segalanya demi meyakinkan Fina. Akankah hubungan mereka benar-benar hanya sebatas "saling membutuhkan" sedangkan benih-benih cinta juga mulai hadir mewarnai kebersamaan? (Tamat di NovelToon)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3 : Hari Pernikahan

Author : Yang sudah baca, tolong tinggalin jejak kalian, karena like dan komen termasuk vote dari kalian, sangat mempemgaruhi nasib cerita ini di Mangatoon atau Noveltoon. Terakhir, selamat membaca!

***

“Kalau kamu memang ragu, lebih baik enggak usah dilanjutkan. Apa pun hubungan kita, enggak seharusnya kita mempermainkan pernikahan!”

Episode 3 : Hari Pernikahan

Diam.

Bian benar-benar bungkam seribu bahasa. Fina yang sudah duduk di sebelahnya, di hadapan penghulu berikut orang-orang yang sudah menonton mereka, menjadi semakin risau.

Memilih konsep pernikahan adat Sunda yang identik dengan siger dan sanggul menawan, Fina tampil begitu cantik. Kebaya putih yang Fina kenakan dan menegaskan kesrakalan, dengan makeup yang fresh tapi natural, membuat wanita itu terlihat begitu anggun.

Fina benar-benar menjadi ratu sehari yang begitu menawan. Sayangnya, Bian yang telah mengenakan beskap putih dengan pattern keperakan yang memenuhi blangkon dan membuatnya bak raja sehari, masih saja diam.

Tidak ada semangat apalagi tanda-tanda Bian bahagia. Pria itu terlihat tidak baik-baik saja. Raganya memang ada di sebelah Fina, tetapi tidak pikiran bahkan sebagian nyawanya.

Pertanyaan Raswin berikut penghulu perihal kesiapan Bian, untuk memulai jalannya ijab qobul, juga tidak mengusik keadaan Bian. Pria itu tetap bungkam dan terlihat sangat tidak bahagia layaknya Fina.

Justru, orang lain selain keduanyalah yang terlihat menikmati pernikahan mereka. Dari orang tua berikut beberapa anggota keluarga yang mengenakan pakaian adat senada berwarna merah menyala, juga semua yang hadir di sana dan sebagian dari mereka sudah membidikkan kamera dari gawai masing-masing, ke arah Bian dan Fina.

Tak mau semakin diperbincangkan atas kenyataan Bian yang hanya diam, sebelah tangan Fina yang sudah berhenna, meraih dan menggenggam sebelah tangan Bian dengan hati-hati. Meski yang ada, Bian yang terlihat terkejut justru mengipratkan tangan Fina dengan cukup kasar.

Beberapa yang melihat tanggapan Bian pada Fina, juga tak kalah terkejut dari Fina. Padahal, selama ini keduanya dikenal sangat dekat. Bahkan terkadang, Bian tak segan meminta masakan atau malah disetrikakan baju pada Fina. Dan saking dekatnya, keduanya juga kerap menghabiskan waktu bersama, termasuk Bian yang kerap mengantar-jemput Fina di setiap kepergian wanita itu.

“Jangan-jangan benar, ya? Desas-desus yang beredar, ... kalau alasan Fina tiba-tiba menggantikan Lia, karena Fina hamil anak Bian?” bisik salah seorang di sudut barisan depan Fina.

“Ya ampun! Gila bener kalau itu yang terjadi! Kasihan Lia! Enggak nyangka aku, kalau Fina yang selama ini kita kenal kalem sopan, bahkan Fina juga guru dan seharusnya kasih contoh yang baik, justru sekeji itu!”

Rina sengaja maju dari balik punggung Fina dan Bian, lantaran ia akan mengabadikan kebersamaan keduanya melalui bidik kamera ponsel. Sayangnya, lantaran Rina tidak sengaja mendengar bisik-bisik orang di hadapan Fina, kebahagiaan dalam dirinya atas pernikahan sang kakak yang akan berlangsung pun sirna seketika.

Rina langsung balik badan, dan menatap kedua wanita muda yang tadi sempat membicarakan Fina. Wanita muda yang masih tetangganya dan seumur dengannya. Namanya Santi dan Ira.

“Maaf, ya, San, Ra ... kalian enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi jangan menyebarkan fitnah!” tegur Rina lirih berusaha memberikan kedua temannya pengertian.

Yang Rina herankan, kenapa Bian begitu tidak bersemangat? Tak ada tanda-tanda kedekatan di antara Bian dan Fina seperti apa yang selama ini terpampang. Kalaupun Bian tidak siap, seharusnya pria itu jujur dari kemarin. Bukan seperti sekarang dan bahkan membuat Raswin berikut penghulu sibuk mencoba mengajak Bian berkomunikasi.

Raswin dan penghulu sudah berulang kali mengajak Bian salaman, dan tak jarang, mereka juga melakukannya sambil menegur. Beruntung, setelah sang penghulu nyaris menyerah, akhirnya usaha Raswin mendapatkan hasil dibantu Fitri.

Bian sampai terkesiap setelah Fitri mendekati dan entah apa yang wanita itu katakan.

Dengan wajah yang jauh lebih tenang, Fina mendekatkan kepalanya ke bahu Bian. “Kalau kamu memang ragu, lebih baik enggak usah dilanjutkan. Apa pun hubungan kita, enggak seharusnya kita mempermainkan pernikahan!” lirihnya. Toh, jika ditanya siapa korban di pernikahan mereka, tentu saja Fina. Fina sebagai pihak korban yang justru sampai difitnah hanya karena menjadi pengantin pengganti.

Mendengar itu, dahi Bian menjadi berkerut. Pria itu terlihat menimang rasa, tetapi Fitri datang untuk ke dua kalinya mendekati Bian.

“Jangan bikin malu, Bi! Semua orang sudah menunggu!” bisik Fitri sambil mencengkeram tangan kanan Bian yang kemudian ia angkat, tuntun untuk bersiap menjabat tangan Raswin.

Setelah sampai menciptakan kerisauan orang-orang di sana, termasuk pihak keluarga apalagi Rina yang berdiri di hadapannya, Bian yang menghela napas pelan kemudian mengulurkan tangan kanannya. Memang masih ada keraguan dari Bian, tetapi kemudian, tangan kanannya yang sampai gemetaran itu dijabat oleh Raswin.

“Sudah bisa dimulai?” tanya penghulu sambil menatap Bian. Ia sengaja memastikan kesiapan Bian.

Mendengar itu, Fina menghela napas pelan sambil menunduk. “Ya Tuhan, aku mohon, ... tolong berikan jalan terbaik untukku!” batin Fina pasrah. Fina masih tidak yakin dengan pernikahan yang akan dijalani.

Dan yang membuat Fina merasa cukup aman, sebenarnya selain orang tua mereka sangat mendukung, Bian juga sahabatnya. Banyak yang bilang, menghadirkan cinta di antara hubungan sahabat bukan perkara sulit, dan Fina berharap itu juga terjadi padanya dan Biam.

Namun, jika Bian justru mendadak menjadi orang asing, apakah harapan itu masih mungkin? Justru, Fina malah berpikir, pernikahannya dengan Bian adalah nerka untuk kehidupannya.

Ketika Fina mengangkat wajah berikut tatapannya, ia berangsur menoleh. Ia mendapati Bian mengangguk. Kemudian ia mengalihkan tatapannya dan mendapati penghulu berikut Raswin balas mengangguk.

“Saudara Bian Purnama Wiguna bin Teguh Wiguna. Saya nikahkan dan saya kawinkan, Ananda dengan anak saya, yang bernama Fina Mega Dewi, dengan maskawin berupa seperangkat alat salat dan seratus gram perhiasan emas, dibayar tunai!” ucap Raswin tegas.

Bian menghela napas pelan. Sedangkan Fina yang di sebelahnya, masih mengamati pria itu dengan dada yang menjadi berdebar-debar. Fina banar-benar menjadi tegang bersamaan dengan jantungnya yang menjadi berdentam-dentam di atas batas normal.

“Saya terima, nikah dan kawinnya Fina Mega Dewi binti Raswin Mustofa, dengan maskawin tersebut, dibayar tunai!” ucap Bian tegas meski masih terlihat tidak bersemangat.

“Sah?” tanya penghulu sambil mengamati orang-orang di sana.

Semua yang di sana kompak berseru, “sah!” disertai sorak-sorai sarat kebahagiaan.

Seperti ada beban yang seketika itu terangkat dari dada Fina. Wanita itu segera menyambut tangan Bian yang telah resmi menjadi suaminya. Fina tak hanya menyalami, melainkan turut mencium punggung tangan kanan Bian.

Deretan kilat cahaya kamera tak hentinya mewarnai kebersmaan khususnya pada Fina dan Bian. Dan baik Bian maupun Fina, kemudian sungkem pada orang tua mereka secara bergantian, sebelum akhirnya menyalami orang-orang di sana yang memberikan mereka ucapan selamat.

Fina benar-benar merasa lega sekaligus bahagia. Hanya saja, ketika mereka akan berganti pakaian di kamar Bian, tiba-tiba saja Bian mengunci pintu kamarnya dan menatap Fina penuh kebencian.

“Kamu kenapa?” tanya Fina terheran-heran. Ia mendekati Bian yang kiranya hanya dua meter darinya.

Ketika sebelah tangan Fina telah meraih sebelah tangan Bian, sedangkan sebelah tangannya lagi meraih wajah pria itu, Bian justru mengenyahkannya dengan kasar. Bian mundur sambil menatap Fina dengan tatapan tajam penuh kebencian.

“Bi ...?” lirih Fina yang tiba-tiba saja merasa begitu sakit.

Bian menepis tatapan Fina, kendati mata Fina sudah sampai merah dan berkaca-kaca. Bian menemukan banyak kekecewaan di mata wanita yang sudah resmi menjadi istrinya, dan itu untuknya.

“Meski kita sudah menikah, tetapi aku enggak mungkin mencintaimu, Na!” tegas Bian.

Jantung Fina seolah melesak. Bian tidak serius dengan ucapannya, kan? Pria itu hanya belum bisa menerima kenyataan, kan? Atau jangan-jangan, benar, jika pernikahan mereka justru menjadi neraka untuk Fina?

Bersambung ....

1
Sandisalbiah
emang ya.. polos ama o'on itu beda tipis ya... sarjana tp kok gak faham kode keras beserta petunjuk akurat yg di berikan Rafael.. Fina.. Fina... hah..
Sandisalbiah
kok jd cape sendiri lihat kesulitan dan nasib buruk yg menimpa si Fina ini... bertubi² tanpa bedah lho... benar kalau Allah itu menguji manusia tdk melebihi kemampuannya tp utuk Fina itu bukan sekedar ujian tp lebih tepatnya seperti kutukan... dr awal lho..
Sandisalbiah
oalah bu Fitri.. itu tuh dolar bukan mainan buuu.. dasar ndeso.. 🤦‍♀️🤦‍♀️
Catur Rini
gak masuk akal,jadi males bacanya, gak ada keluarga yg percaya gitu aja ma omongan oranglain dibanding anaknya sendiri, pa lagi anak kandung,posisi lagi kesusahan lagi.....
Catur Rini
sedikit tidak masuk akal
Omah Tien
pusing lihat nya fina ko sarja na ko bodoh ya meding kawin aja sm ipul g ribet ke jkt segala kalu bikinorang pusing
Omah Tien
jd cewe jg begagu kaku kan mau minta tolong apa lg jg sia2.kan kebaik orang
Dewa Nara
nanti nyesal loh bian oon...
Dewa Nara
emang kamar mandinya diluar ya
Dewa Nara
gak kebayang rasanya jadi fina, dipaksa nikah dan jadi pengantin pengganti...
Nurwana
kok Fina oon banget ya... padahal sarjana lho... kok kesannya kayak orang nda pernah duduk dibangku sekolahan...
Greiche Dian
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Greiche Dian
gapapa deh thor ga ada ipul timbang pembaca pada darting wkwkw
Greiche Dian
bwahahahahahahaha
Greiche Dian
ini jadi kayak semacam hewan yg ngeluarin bau ga enak gitu deh 🤣🤣
Greiche Dian
pengen tabok ipul pake penggorengan..
Susanti Susanti
Luar biasa
Nining Moo
ko fina kayak orng oon sih🤔
Nining Moo
terlalui labil sibian
Amrih Wiludjeng
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!