"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
"Masuk."
Suara Clara terdengar sedingin es saat dia membuka pintu unit apartemen mereka. Tubuhnya basah kuyup, meneteskan air ke atas lantai granit yang bersih.
Elzio melangkah masuk mengekor di belakangnya bagaikan anak anjing yang ketakutan usai berbuat ulah. Pria tegap itu menunduk kaku, kemeja putihnya yang transparan karena basah melekat ketat di tubuhnya.
"Ganti baju kamu. Jangan sampai lantai berantakan," desis Clara tanpa menoleh sedikit pun. Dia melangkah lurus menuju kamar mandi tanpa memutus pandangan dinginnya.
"Clara..." panggil Elzio parau. Tangannya terulur meraih pergelangan tangan Clara, namun Clara menyentaknya pelan.
"Jangan sentuh aku sebelum kamu bersihin badan kamu, Elzio."
"Kamu... kamu masih marah?" suara Elzio terdengar memelas, sangat berlawanan dengan sosok pemilik AetherCorp yang baru saja mengguncang dunia bisnis.
"Menurut kamu?" Clara memutar badannya, melipat lengan di dada dengan mata menyipit tajam. "Kamu pikir setelah membohongi aku berbulan-bulan, berpura-pura miskin, dan menyembunyikan perusahaan triliunan... aku bakal langsung senyum dan meluk kamu?!"
"Saya tidak bermaksud begitu, sweetheart—"
"Ganti baju sekarang, Elzio Mahendra!" bentak Clara memotong kalimat Elzio. "Atau aku tidur di luar malam ini!"
Elzio langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Baik! Saya ganti baju sekarang! Tapi kamu jangan pergi!"
Dua puluh menit kemudian.
Clara melangkah keluar dari kamar mandi dengan pakaian kering dan handuk kecil di lehernya. Dia berjalan ke dapur untuk menyeduh teh hangat. Batinnya masih berkecamuk hebat—marah, kecewa, tapi di sisi lain ada kepasrahan gila karena melihat pria sekelas Elzio rela berlutut di bawah hujan demi dirinya.
Hatchiiiiw!
Suara bersin yang lumayan keras terdengar dari arah ruang tamu.
Clara menghentikan adukan sendoknya di cangkir. Dia melirik sinis ke arah sofa.
Di sana, Elzio sudah berganti kaus santai dan celana panjang, tapi tubuhnya dibungkus selimut tebal. Pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, matanya terpejam dengan bibir yang dibuat agak pucat dan sedikit bergetar.
Hatchiiiw! Uhuk... uhuk...
Elzio bersin lagi, kali ini sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar ke dapur. Dia merapatkan selimut ke lehernya, mencuri pandang ke arah Clara dari balik celah matanya.
Clara menghela napas panjang, memutar bolanya malas. Dasar pria drama! Pria berotot kaya dia kena hujan sebentar langsung mau mati?! Aktingnya jelek banget!
Meski menggerutu di dalam hati, kaki Clara tetap melangkah menghampiri sofa sambil membawa cangkir teh hangat dan kotak obat.
"Nih, minum," ujar Clara datar, meletakkan cangkir di atas meja kaca.
Elzio perlahan membuka matanya, menatap Clara dengan binar sayu yang sengaja dibuat-buat. "Kepala saya... pusing sekali, Clara. Dingin."
"Baguslah kalau pusing. Biar kapok," senggak Clara dingin. "Lagian siapa suruh hujan-hujanan di jalanan? Pura-pura berlutut segala lagi!"
"Saya tidak pura-pura berlutut, Clara," balas Elzio lirih, meraih jemari dingin Clara yang hendak menarik diri. "Saya beneran takut kamu tinggalkan. Kepala saya rasanya mau pecah..."
Clara mendesis pelan, namun tangannya terulur menempelkan punggung tangannya ke dahi Elzio. "Gak panas-panas amat! Cuma hangat dikit! Lu sengaja kan biar gue gak marah lagi?!"
"Saya beneran sakit, sweetheart..." bisik Elzio rendah, tiba-tiba menarik tangan Clara hingga wanita itu hilang keseimbangan dan jatuh tepat di atas dadanya.
"Elzio! Lepas!" seru Clara kaget, berusaha mendorong dada Elzio.
Tapi Elzio justru menyatukan kedua lengannya melingkari pinggang Clara, menguncinya dengan erat. Pria itu menyembunyikan wajahnya di leher Clara, menghirup dalam-dalam aroma sabun yang menenangkan dari kulit wanita itu.
"Jangan galak-galak, Clara..." gumam Elzio, suaranya teredam di leher Clara. "Saya ini pasien kamu sekarang."
"Pasien kepala batu!" omel Clara, walau dorongan tangannya di dada Elzio makin melemah. "Kamu tuh kebiasaan banget! Setiap ada masalah, ujung-ujungnya nempel begini! Ngerayu pakai fisik!"
"Karena cuma ini cara agar kamu tidak kabur," Elzio menengadah sedikit, menatap bibir Clara yang cemberut. Binar di matanya mendadak berubah—bukan lagi binar pria sakit yang memelas, melainkan binar obsesi pekat seorang pria yang mendambakan hak miliknya.
"Elzio... jangan mulai ya—"
Sebelum Clara menyelesaikan kalimatnya, Elzio sudah memotongnya dengan ciuman yang dalam dan intens. Pria itu menekan belakang kepala Clara, menangkup pipinya dengan telapak tangan tegapnya yang hangat.
Ciuman itu tidak lagi lembut seperti biasanya. Ciuman Elzio kali ini penuh dengan rasa lapar, kecemasan, dan obsesi yang selama ini dia tahan di balik topeng kepura-puraannya. Dia mencium sudut bibir Clara, melumatnya perlahan, lalu berpindah mengecup rahang hingga leher jenjang wanita itu dengan napas yang memburu.
"El... hmpph... Elzio..." cicit Clara di sela-sela pasrahnya. Tubuhnya melemah, getaran aneh menjalar dari leher hingga ke ujung kakinya. "Katanya... katanya sakit..."
"Melihat kamu marah jauh lebih menyakitkan, Clara," bisik Elzio parau di depan bibir Clara yang kini merona basah. Pria itu kembali mengecup bibir Clara berulang kali, seolah ingin menanamkan rasanya ke dalam jiwa Clara. "Bilang sama saya... kamu tidak akan pernah pergi dari saya."
Clara menatap mata Elzio yang membara oleh gairah dan rasa takut yang campur aduk. Benteng pertahanannya benar-benar hancur tak berbekas.
"Aku... aku gak bakal pergi, El," bisik Clara akhirnya, menyerah pada perasaan dalam di dadanya. "Tapi janji... jangan pernah bohong lagi."
Elzio menyunggingkan senyum kemenangan yang amat tampan. Dia kembali mengecup jidat, kedua mata, pipi, dan bibir Clara secara bertubi-tubi—membuat Clara kegelian sekaligus tersipu malu.
"Saya janji, sweetheart. Seluruh hidup saya, AetherCorp, dan napas saya milik kamu," desis Elzio rendah, lalu menggendong tubuh mungil Clara ke dalam pelukannya tanpa melepaskan dekapannya sedikit pun.
"Eh! Mau dibawa ke mana?!" seru Clara panik sambil mengalungkan tangannya di leher Elzio.
"Ke kamar," jawab Elzio santai dengan binar jahil di matanya. "Katanya mau ngurus pasien sakit? Di kamar tidur jauh lebih nyaman untuk dirawat."
"Elzio Mahendra! Kamu beneran bohong soal sakit kan?!"
"Tidak bohong, Clara. Saya memang sakit... sakit gila karena kamu."